CINTA SEJATI.

CINTA SEJATI.
RESAH.


__ADS_3

Pulangnya Beny dari rumah Rani, membuat dia resah sepanjang jalan, memikirkan tantangan apa yang akan di berikan agar bisa mendapatkan Rani.


"Ya Tuhan, tolong lah, luluh kan hati calon mertuaku itu" gumamnya, dengan perasaan tak menentu.


Sampainya di rumahnya, terlihat ayahnya duduk nonton berita, tampa melihat ke arah anaknya pak Hanif langsung menegurnya.


"Dari mana saja kamu malam-malam begini? bukannya belajar, malah kelayapan" tegurnya.


"Biasa pah habis nemuin calon mantu papa" ujarnya, sambil menghempaskan diri di dekat papanya.


Pak Hanif langsung menoleh, sambil memicing kan matanya, dengan kesal.


"Papa suruh kamu belajar yang giat, dan olahraga yang lebih extra, agar nanti kau bisa menjadi prajurit yang handal" tegur papanya.


"Tentu pah, aku memikirkannya sepanjang jalan, tadi aku seperti mau menangis, tapi akau malu, entah tantangan apa yang akan di berikan oleh calon mertuaku, dia juga seorang prajurit pah, katakan aku harus belajar dari mana?" tanya Beny dengan frustasi.


lalu tawa pak Hanif pecah begitu saja.


"Hahaha! rasain kamu, papa harap ayahnya gadis itu tidak akan menerima mu"guraunya, dengan masih tertawa.


Sedangkan Beny terlihat sangat kesal.


"Belajarlah bersungguh-sungguh, jagan karena alasan, jika kau gagal, maka kau akan merasa menyesal nak" sahut mamanya yang baru ikut bergabung, setelah mendengar tawa suaminya.


"Betul itu apa yang di katakan mama mu, apa pun itu harus datang dari hati, katakan siapa nama ayahnya, mungkin saja papa kenal"


"Pak Ridho Pratama, pah" ujarnya lesu.


"Hah! sungguh!" teriaknya begitu kaget, dengan nama orang yang dia kenal.


"Parah kamu, Beny, kalau memang benar nama itu sama dengan orang yang papa kenal, kau harus extra belajar militer dari sekarang, kalau tak sanggup, mending kau mundur dari sekarang" nasehat papanya, membuat Beny semakin resah.


"Pah, bukannya nenangin perasaan ku, malah buat aku semakin takut" kesalnya.


"Kau belum tahu tantangannya kan?" tanya pak Hanif serius dan di jawab gelengan oleh Beny.


"Beliau hanya bilang, kau datang saat kau sudah lulus sekolah, aku ingin lihat kemampuan mu sejauh apa, karena aku tak ingin pelajaran anakku terganggu, hanya itu beliau bilang, pah" ceritanya.

__ADS_1


"Benar-benar! pasti dia" gumamnya, sambil menepuk bahu anaknya.


"Papa katakan! sebenarnya beliau siapa?" desak Beny, lalu di bisikkan oleh papanya, sehingga membuat dia tercengang.


"Betul kalau tak salah, coba kau lihat sosial media anaknya, pasti ada saja poto bersama keluarganya dia unggah" usul papanya, langsung di carinya poto keluarga Rani, dan benar saja apa yang di katakan papanya.


"Haha! sayang lihat wajah anakmu, perjuangannya akan di mulai dari sekarang, tantangan terbesarnya adalah calon ayah mertuanya dan kakak iparnya" cibirnya pada Beny, sehingga membuat hati Beny makin gundah gulana.


"Apa sedikit saja tak ada niat membantu ku pah?"


"Tidak, ayah tak mau ikut campur, itu urusan hatimu, kau harus berjuang segenap jiwa dan ragamu" ujarnya sambil memberi semangat, dengan mengepalkan tangan kanannya ke atas.


"Kau benar-benar tega pada anakmu pah" sindirnya lesu, papa dan mamanya hanya tersenyum, menanggapi keresahan anak semata wayangnya.


Sedangkan Rani langsung di sidang oleh ayahnya.


"Ayah sudah bilang, jangan bergaul dengan laki-laki, apa larangan papa selama ini tak berarti bagimu?" marahnya.


"Aku tak pacaran pah, percayalah kami hanya teman" ujarnya dengan jujur.


***


Paginya habis beberes rumah dan buat sarapan bantu sang bunda, sedangkan Bimo dengan tugasnya seperti biasa, setelah selesai Riska duduk di teras sambil membuka sosial medianya, dan betapa terkejutnya, melihat postingan sahabatnya, yang lagi makan bersama di kafe, Riska lany menelpon Mia dan Rani.


Riska menelpon Rani, beberapa kali tak di angkat, tak menyerah dia langsung menelpon Mia, deringan pertama langsung di jawab.


"Wooi! jelasin tentang poto kalian bersama di instagram itu! tega kalian bersenang-senang tampa ku hah!" teriaknya, sampai Mia menjauhkan ponselnya dari telinganya.


"Buset! gendang telinga ku samapi mau pecah mendengar mu teriak!" dengusnya Mia.


"Bodo amat!"


"Sabar buk, kami juga merana tampa kehadiran kamu dan Reno, tapi coba pikir kalau aku ajak kamu, memangnya ayah dan bunda bakal ngizinin? terus, kalau kamu seorang yang ikut tampa Reno, apakah kamu tak kasihan padanya? kamu asyik nongkrong sama kami, sementara dia sibuk bekerja?" jelasnya Mia panjang lebar.


"Hem, benar aku tidak akan di izinkan dan kasihan Reno, maafkan aku yang sudah marah" sesal ku.


"Sabar buk, besok kita masuk sekolah, sampai ketemu ya, aku rindu suasana sekolah, besok kita berangkat bersama ya!" ajak Mia.

__ADS_1


"Ok, beb, tunggu aku di simpang komplek, akan menjadi hari perdana kita, pulangnya, mampir di kedai, kita makan bakso" sip sahut Mia di sebrang sana.


"kemana ibu satu itu, aku telpon beberapa kali tapi tak di jawab" keluh ku.


"Haha! itu jurus andalannya, dia tahu pasti bahwa kamu akan ngamuk beb"


"Huh, awas besok pagi, teganya abaikan aku" dengus ku kesal.


"Ya sudah, akau mau mandi dulu, aku habis beberes, aku gerah" curhat ku, dan percakapan kami pun terputus.


Di rumahnya Rani, dia begitu lega, "Akhirnya dia berhenti menelpon, dia pasti akan marah-marah dengan postingan makan malam kita semalam, aku nggak tahu harus menjelaskan seperti apa, aku tidak pintar merangkai kata seperti Mia, haha!" gumamnya, Rani terkekeh geli membayangkan Riska yang murka.


Begitu juga dengan Reno, dia begitu marah karena tidak di ajak, tapi dengan pintar Riko menjelaskan pada Reno.


Kedua pasangan itu benar-benar murka karena tidak di ikut sertakan.


tapi lama-lama mereka luluh, bahwa besok mereka akan masuk sekolah.


Berbeda dengan keadaan keluarga Tasya, setelah kehebohan yang dia perbuat, dia pun sungguh-sungguh terusir dari keluarganya, dia langung di kirim ke negara asalnya.


bahkan pertemuan kedua, Tuan Smith di wakil kan oleh asistennya.


Reno pun merasa paham, dengan apa yang terjadi, setelah selesai pertemuan, Reno langsung keluar kantor menemuinya sahabatnya yang lagi menunggunya di resto dekat perusahaan papa Reno.


"Lihat bos sudah datang, bersiaplah, kamu akan di marahi" cibir Beny,


Riko mendelik mendengarnya.


"Kita kali, bukankah ide makan malam itu dari kamu?" ujarnya membalikkan kata.


"Hehehe! maaf, aku lupa bro, selanya, salah tingkah, sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


Tibanya Reno membuat keduanya tegang dan saling sikut, sambil tersenyum manis.


"Siapa yang bisa menjelaskan!" ujarnya setelah duduk di hadapan kedua sahabatnya.


BERSAMBUNG..

__ADS_1


__ADS_2