
Riska dan sahabatnya pulang beriringan naik sepeda seperti biasanya, tapi kali ini, Riska sangat gelisah, sepanjang jalan hatinya tak tenang karena akan bertemu neneknya Reno.
Mia dan Rani yang menyadari Riska pendiam tak seperti biasanya, langsung menegurnya, "Ris.. jagan khawatir berlebihan dong, nanti kamu sakit kepala" nasehat Mia.
"Benar Ris.. tenang kan dirimu, agar pas bertemu neneknya Reno nant kamu tidak melakukan kesalahan" nasehat Rani.
"Hem.. entahlah guys, aku gugup banget hingga membuat jantung ku berdetak lebih cepat dari biasanya" keluhnya, benar-benar terlihat gelisah.
"Tarik nafas dalam-dalam dan buang dengan perlahan, tenangkan dirimu" sahut Mia terus menasehati.
Sampainya di persimpangan, mereka berpisah seperti biasanya, dengan laju Riska mengayuh sepedanya agar cepat sampai rumahnya.
Sampainya rumah langsung ucap salam dan mencium tangan bundanya, langsung duduk di dekat bundanya, sedangkan Bimo bermain mobil-mobilan sendiri.
Bundanya yang melihatnya ngos-ngosan dan terlihat resah langsung bertanya, "kak, ada apa? kenapa terlihat resah begitu? apa ada masalah?"
"Bunda, katakan aku harus bagaimana? neneknya Reno mengundang ku ke rumahnya, Reno akan datang menjemput ku bersama Bimo" ceritanya dengan resah.
"Hah.. bunda tidak tahu nak, tapi tidak baik kamu menolak undangan orang tua, kau tenangkan dirimu, sekarang masuklah mandi, solat terus makan, habis itu bersiap-siap lah, pakai baju yang sopan, bunda akan menyiapkan buah tanganmu, tidak enak bertamu tapi tidak ada buah tangan" ulasnya dengan senyum.
"Bimo! ayo bersiaplah sebentar lagi kak Reno akan datang menjemput kalian" teriak buk Salmah.
"Apa? benarkah bunda!" sahutnya kegirangan.
"Ya cepat mandi sana, pakai baju yang bersih!"
Tampa bicara panjang lebar Bimo langsung masuk kamarnya untuk mandi.
"Bunda.. tapi ayah belum pulang" keluhnya dengan resah.
Dengan sabar buk Salmah menenangkan anaknya, "Sudahlah jagan panik begitu, sebentar lagi ayahmu pulang, sana kamu masuk membersihkan diri dan bersiap-siap, nanti Reno keburu datang"nasihatnya.
lalu mereka pun sama-sama masuk rumah, dan buk salamah menyiapkan beberapa kue kering buatannya yang baru matang.
Sebenernya buk Salmah menjual berbagai macam kue, yang dia pasarkan sendiri bersama suaminya, yang lumayan laris, dan beberapa usaha kecil lainnya yang orang tak tahu.
Terdengar suara motor pak Arif yang pulang langsung masuk mengucapkan salam, sambil menenteng buah-buahan yang dia beli di pinggir jalan.
Buk Salmah pun langsung menyambut suaminya, mencium tangannya sambil membawakan segelas air minum.
"Ayah beli buah di mana? terlihat sangat manis" puji buk Salmah.
bukannya menjawab pak Arif malah bertanya untuk apa kue sebanyak itu, sudah tersusun cantik.
__ADS_1
"Bun.. apa ada pesanan?" tanya pak Arif dengan heran, karena pesanan semua sudah di antar dan habis.
"Hehe! tidak ayah, itu untuk keluarga calon besan, neneknya Reno mengundang Riska ke rumahnya, tidak enak membiarkannya pergi tampa buah tangan" jelasnya sambil menyiapkan makan siang.
"Hem.. ayah merasa khawatir, apa neneknya Reno nanti bisa menerima anak kita? bagaimana kalau beliau menentangnya, Riska pasti akan terluka" keluhnya resah.
"Ayah! jagan berpikir yang tidak-tidak duluan, intinya niat saja silaturahmi, kalau memang tak jodoh, mau di apakan? putri kita wanita baik-baik, tak ada yang perlu kita khawatir kan" sahut istrinya menasehati.
Terdengar suara mobil di depan rumah dan buk Salmah yakin itu adalah Reno. Terlihat pak Arif begitu resah, dan istrinya menghampirinya, memeluk bahunya untuk menenangkan. "Sana ayah temui Reno, sepertinya dia mau minta izin sama ayah" ulasnya dengan senyum.
Setelah menjawab salam Reno, pak Arif pun langsung menemui Reno di teras rumah, dan mengajaknya duduk di kursi yang sudah tersedia setelah bersalaman.
"Hem.. ada perlu apa nak Reno?" ujarnya basa basi.
Dengan gugup Reno meminta izin, "Begini om, nenek mau bertemu dengan Riska, beliau memintaku membawanya ke rumah, bolehkah saya membawanya? beserta Bimo, om" ujarnya.
Pak Arif terlihat berpikir barulah dia bicara lagi, "Jika nenekmu menolaknya, usahakan jangan bicara langsung pada Riska, bicara lah padaku saja, biar om sendiri yang menyuruhnya mundur!" pesannya dengan tegas.
Reno begitu terkejut mendengar pesan pak Arif, yang takut putrinya akan terluka, "Aku pastikan om, kami tidak akan menyakiti hati Riska" jawabnya dengan tulus.
Lama berbincang akirnya mereka jalan menuju rumahnya Reno bersama Bimo, tak lupa dengan oleh-oleh yang Riska bawa.
***
"Sabar sayang, tenang ya? kakak akan buat kan kamu kue itu" hibur bagas pada istrinya yang menangis sesenggukan.
"Hah! aku..?" tunjuk buk Rima dengan suara kecil, dan isyarat tangan, menunjuk dirinya sendiri.
Bagas mendelik ke arah kakak iparnya karena tidak mengiyakan, sedangkan Selena tak juga berhenti menangis.
"Ya, ya diam lah, kakak akan membuat kue itu" sahutnya dengan terpaksa.
Dan benar saja Selena langsung berhenti menangis.
"Sungguh? asyik.. aku akan makan kue" soraknya tepuk tangan persis anak kecil yang dapat permen.
Dengan lesu buk Rima menuju dapurnya, menyediakan bahan-bahan kue itu, tapi dengan bingung apa saja yang di gunakan, karena dia tak ahli dalam memasak dan membuat kue. Dalam gentingnya buk Rima mengingat bahwa Riska jago dalam membuat kue, dia langsung menelpon Reno.
Deringan pertama tak juga di jawab, deringan kedua pun tetap sama, "Ah.. udah sampai mana ini anak, kenapa belum sampai juga, padahal aku sangat membutuhkan bantuan Riska" gumamnya, sambil sesekali melirik Selena yang menunggu kue buatannya dengan wajah yang berbinar.
Sedangkan Reno di jalan tak sempat melihat ponselnya, karena lagi menyetir, setelah sampai di depan rumahnya baru dia melihat ponselnya, penasaran siapa yang menghubunginya dengan berulang kali.
"Untuk apa mama nelpon?" gumamnya.
__ADS_1
Riska yang melihat Reno heran pun bertanya, "Ada apa Ren..?"
"Ah.. bukan apa-apa, ini ternyata yang menelpon dari tadi adalah mama" ujarnya, sambil memperlihatkan layar ponselnya.
"Ayo masuk, nenek pasti di halaman belakang" ajaknya, sambil menggandeng tangan Bimo, sedangkan Riska menenteng kue dari bundanya, dengan perasaan tak menentu.
Buk Rima yang kelimpungan saat mendengar Reno dan Riska mengucap salam, langsung berlari menyambutnya.
"Kenapa tak menjawab telpon mama sih Ren!" semburnya, tapi tangannya langsung menggandeng Riska langsung ke dapur.
Dengan heran Reno melihat tingkah mamanya, sampai-sampai mematung di tempat bersama Bimo saling lirik, dengan masih bergandengan tangan. "Sabar kak, pasti kalau kak Riska tetap di sini, kak Reno menjadi anak tiri" sindir Bimo, membuat Reno mencebikkan bibirnya.
"Memang benar, aku tak di anggap kalau sudah ada kakak mu disini" ujarnya lesu.
Anton yang melihat Bimo datang langsung berlari bahagia, langsung menarik tangan Bimo di ajak bermain, dengan kesal Reno berkacak pinggang, "Hey! aku kalian tinggal! semuanya kalian rampas dari ku!" teriaknya.
"Hehe! sabar kak, sana ikut kak Riska ke dapur saja" saran Anton, dan langsung membawa Bimo kabur.
"Ah.. sial banget aku" keluhnya sambil mengacak rambutnya.
Sedangkan di dapur Riska langsung menjelaskan cara membuat kuenya, seperti yang di gambar dengan cekatan, "Tunggu! bukankah ini kue buatan bunda? kan aku juga bawa kuenya" gumam Riska.
"Tante coba kita periksa dulu kue yang aku bawa, sambil menunggu kue-kue ini matang, sepertinya kue-kue ini ada semua kok aku bawa, baru matang juga!" terangnya, membuat buk Rima berbinar.
"Benarkah sayang!"
Dengan tak sabar dia langsung membuka bungkusan kue yang Riska bawa, dan benar saja masih terasa sedikit hangat dan wangi, "Selena! ayo sini cepat, semua kue yang kamu mau sudah ada" teriaknya kegirangan.
Dengan cepat Selena berjalan dan di jaga suaminya, mami mertuanya juga muncul dari halaman belakang di papah oleh Reno, begitu heran melihat dua menantunya heboh.
"Wah.. ini sangat lezat, sayang kamu beli di toko mana? tadi kami semua berpencar mencari kue ini, tapi semuanya habis" terangnya buk Rima, juga ikut mencicipi.
"Bunda sendiri yang buat, dan itu kemasan milik bundaku" tunjuknya pada kue-kue itu.
"Apa? jadi buk Salmah yang produksi kue-kue yang lagi viral dan enak ini" tanya Selena dan buk Rima bersamaan, dan di anggukkan oleh Riska sambil tersenyum.
Sementara neneknya Reno yang melihat Riska dari jauh ikut tersenyum, "Apa dia gadis itu" tunjuknya.
"Iya nek, dan kami belum pacaran, masih berteman kok, ayahnya tidak membolehkan pacaran sebelum lulus sekolah, jadi.. jika nenek tak menyukainya, tolong jagan menyinggungnya" pesan Reno dengan cemas.
"Dasar anak bodoh" cibir neneknya lalu menuju para anak dan menantunya yang lagi asyik mencicipi kue yang di bawa Riska.
BERSAMBUNG..
__ADS_1