CINTA SEJATI.

CINTA SEJATI.
SEMAKIN SAYANG.


__ADS_3

makin di larang Bimo semakin berani, tidak bisa mengendalikan dirinya yang playboy.


"Ayo, bangun lah, kamu duduk di sini sendiri kayak orang stres" ejek Anton, dengan wajah datarnya.


"Kamu!"


"Ya, ya kalau kau tak mau, tetaplah diam di sini, bay!" Anton pun pergi meninggalkan Bimo sendiri, tampa menengok ke belakang lagi.


Anton tahu Bimo mengikutinya, tapi dia tetap cuek, tidak menengok atau pun basa basi lagi, Anton tetap berjalan menuju lapangan di sana banyak teman-teman seusianya bermain.


Anton langsung duduk di area lapangan basket khusus anak-anak seusianya, karena sekolah ini sekolah favorit yang sangat besar dan bergensi di kota itu, jadi lapangan di bagi menjadi dua, khusus untuk kelas satu sampai Kelas tiga, dan kelas empat sampai Kelas enam.


setelah Anton duduk Bimo pun mengikutinya, tampa melihat kearah Bimo Anton bicara.


"Sana ikutlah bermain, jika kau hebat nanti, tampa kamu kejar cewek, dia lebih dulu yang akan mendekat, jadi laki-laki harus punya skill dan kemampuan yang luar biasa, begitu kata papa ku, itu baru terlihat keren, jangan cuma tampan dan pintar merayu saja!" sindir Anton, membuat Bimo mendelik ke arah Anton.


"kenapa? apa kau gak percaya ucapan ku? baiklah, sepulang mu nanti, tanya kan tentang ini pada ayahmu"


"Hem, kau sok pintar!" balas Bimo.


"Memang, aku memang pintar, dan kau hanya pintar merayu saja!" ejek Anton, tersenyum culas.


"Ayo masuk, bel masuk sebentar lagi bunyi, besok kita coba ikut main basket, aku mau lihat kemampuan mu" cibir nya langsung berdiri langsung berjalan meniggalkan Bimo.


Bimo yang mendengar ucapan Anton membuatnya makin geram, "Dasar sombong, apakah dia benar-benar bisa main basket juga? oh Tuhan, gawat nih, aku hanya bisa main sepeda saja" gumamnya, makin gusar.


Anton yang menyadari Bimo tak mengikutinya berjalan langsung menoleh.


"Hey Bimo! ayo! kok malah bengong sih? tenang saja, aku juga belum bisa main basket, kita bisa belajar sama-sama sampai menjadi hebat, dan bisa ikut lomba sampai ke luar negeri" ujarnya menenangkan, Bimo langsung tersenyum sambil mengangguk, dan langsung berlari menghampiri Anton dan jalan bersama menuju kelas.


"Benar kata Anton, dan kata ayah, aku harus fokus belajar dan menjadi cowok yang membanggakan seperti kak Reno juga, aku tidak mau pacaran lagi" batinnya.

__ADS_1


Sepanjang pelajaran Bimo dan Anton tetap fokus belajar, sampai bel pulang pun berbunyi, tak lupa menandai di bukunya, pekerjaan rumah yang di berikan gurunya.


Setelah Bimo dan Anton selesai merapikan buku dan alat tulisnya ke dalam tas, mereka pun jalan beriringan, tak lupa bersalaman dulu pada sang guru, lalu keluar dari kelasnya.


Terlihat dari jauh, orang tua mereka sudah menunggu, semuanya siswa siswi berhamburan menuju orang tua masing-masing.


Sementara Bimo dan anton berjalan biasa saja, dan Anton hanya di jemput oleh supir suruhan orang tuanya.


Sampainya Bimo dekat bundanya, dia langsung mengenalkan Anton, teman barunya dan sekali gus teman sebangkunya.


"Bunda, kenal kan ini teman baruku namanya Anton" ujarnya sumringah.


Sedangkan Anton begitu iri Bimo di jemput bundanya, sementara dia, dari taman kanak-kanak, hanya di jemput supir kepercayaan keluarganya saja.


"Hay nak Anton, apa kabar? perkenalkan nama ku, tante Salmah, mana mama mu sayang?" tanya buk Salmah dengan sopan, karena melihat Anton sedikit murung.


"Mama papa ku sibuk kerja tante, dari sejak taman kanak-kanak bahkan di rumah pun, Anton hanya di temani pengasuh, dan di antar jemput supir saja, itu supir ku ada di sebelah sana" tunjuk Anton, pada pak supirnya, yang selalu di panggil paman.


Buk Salmah berusaha menghibur, tahu bahwa anak kecil itu lagi sedih,


"Jangan sedih ya! papa mama mu sibuk bekerja, agar Anton bisa sekolah dan belajar yang rajin, sampai menjadi sukses nanti, setelah Anton besar mereka sudah tidak bisa kerja lagi, dan giliran mu saat besar nanti bekerja untuk mereka" ujarnya buk Salmah berusaha menjelaskan pada Anton, karena tak tahu seluk beluk keluarga Anton.


Beberapa menit berbincang pak supir pun menghampiri Anton, dan tak lupa mengucapkan permisi pada buk Salmah dan Bimo.


"Tuan muda, ayo kita pulang, Tuan besar sudah menanyakan, apa tuan muda sudah sampai di rumah" lapornya pada bos kecilnya.


Anton mendengus, merasa kesal karena harus pulang tepat waktu, buk Salmah san Bimo tertegun mendengar sang supir bicara begitu sopan pada Anton, apalagi dia masih kecil.


"Pasti ini anak orang kaya" batin buk Salmah, merasa anaknya salah bergaul, karena mereka dari keluarga sederhana.


"Baiklah, Anton kami pulang dulu, besok kita berjumpa lagi, ingat besok kita belajar main basket" Bimo mengingatkan begitu sumringah, dan membuat Anton tersenyum, supirnya pun merasa heran melihat, bos kecilnya mau berteman, karena dari dulu selalu membatasi diri dari kecil.

__ADS_1


Bimo pergi sambil melambaikan tangannya bersama bundanya. Anton pun hanya membalas dengan senyuman.


setelah itu dia pun berjalan dan di ikuti oleh sang supir dari belakang.


***


Sampai Bimo di rumah, langsung masuk kamar dan membersihkan diri, baru keluar untuk makan, dan di meja makan hanya di temani bundanya saja, yang sambil sibuk membuka ponsel.


Bimo terus melirik bundanya, mau bertanya tentang Anton, tapi dia tako menganggu bundanya, akhirnya dia hanya diam sambil menghabiskan makan siangnya.


Terdengar suara kakaknya pulang, Bimo pun langu berlari keluar, mau bercerita, tapi anehnya Bimo melihat kakaknya tersenyum sendiri, sambil menangkup pipinya yang bersemu merah.


Bimo langsung menghampirinya dan langsung bertanya.


"Kakak kenapa? apa kakak sakit?"


tapi di jawab gelengan kepala, dengan senyum malu.


Lalu kenapa kakak begitu?" tanya Bimo makin penasaran.


"Begitu bagaimana? kakak biasa saja kok, oh ya, bagaimana di sekolah baru mu? apa sudah dapat temu baru?" sengaja Riska mengalihkan pertanyaan Bimo.


"Hem, ya Kak, aku ada teman baru, namanya Anton, dia juga teman sebangku ku, dia terlihat cuek dan kaku, dan tidak tertarik dengan cewek, katanya laki-laki itu harus menjadi hebat, tampa di cari pun semua cewek akan mendekat, begitu katanya, dan ajaran papanya, besok kami akan belajar basket, biar bisa ikut lomba sampai ke luar negeri" cerita Bimo antusias.


"Nah, itu baru namanya cowok keren, kamu harus contoh Anton, ingat jangan lirik cewek lagi, belajarlah sama Anton biar lebih keren dan hebat.


Kalau gini kan kakak makin sayang sama adek" puji Riska dengan tulus.


Bimo tersenyum melihat kakaknya senang, sementara buk Salmah tersenyum mendengar percakapan ke dua anaknya, bahwa Riska sebagai kakak bisa membimbing adiknya menjadi pribadi yang lebih baik.


BERSAMBUNG..

__ADS_1


__ADS_2