
Sungguh aku tidak menduga, sahabat ya aku anggap baik bahkan seperti saudara, tega menusukku dari belakang, bahkan sampai aku hancur.
Ternyata baik hanya di depan tapi penuh dengan ke pura-pura.
aku selalu mencoba memahami mereka, tapi apa? saat aku terjatuh tak ada sama sekali yang mau mengulurkan tangannya.
Saat aku berjalan ke luar dari supermarket untuk membeli kebutuhan sehari-hari, aku melihat seseorang yang aku kenal, orang yang sudah menghancurkan hidupku, ya aku melihatnya terlantar sepertiku beberapa minggu lalu, aku benci ya, tentu saja, tapi aku bahagia melihat mereka menderita juga, Tuhan memang adil bukan?.
Aku berjalan pura-pura tidak lihat sambil menenteng belanjaan dan memakan es krim kesukaanku.
"Jessica! Jessica! ya Tuhan aku seneng banget bertemu kamu di sini, kamu apa kabar? kamu tinggal dimana?" pertanyaan yang bertubi-tubi, buat aku merasa geli dan lucu, melihat mukanya yang lusuh, keringatnya bercucuran karena panas matahari, aku cuek saja sambil menjilat es krim ku.
"Kenapa penampilan mu kayak gini? tak seperti Sherly yang aku kenal, kamu mau kemana bawa koper? oh, panasnya, aku duluan ya" ujarku, sengaja.
"Jessica! tunggu, boleh kah aku ikut dengan mu?"ucapnya.
"Tidak! maaf tempat ku kumuh, kau tau kan aku di usir oleh orang tuaku? aku minta bantuan kalian semua, tapi sama sekali tak ada yang perduli, saat aku masih jadi anak emas, kalian aku puaskan, benar tidak?" cibir ku, sinis.
"Maafkan aku jess, maaf, kau pun tau hidupku saja sudah susah" ucapnya, menunduk lesu, pura-pura biar di kasihani, karena aku tau wataknya.
"Ya tentu saja, kamu orang susah dan miskin! hingga kamu halal kan segala cara, buat porot uang ku bersama kekasih brengsek mu itu, dan bodohnya aku, tidak tahu bahwa aku di manfaatkan"
cibir ku, tersenyum sinis, dan wajahnya terlihat kaget.
Deg..
"Dari mana dia tahu?" batin sherly.
"Kau kaget aku tau ya? haha, aku sungguh senang, kita akhirnya sama-sama menderita, pacarmu palingan numpang di selingkuhannya" cibir ku menghina.
"Oh ya, jangan bilang, kalian terusir dari kos elit itu karena tidak ada uang dariku kan? haha! ya waktu itu aku lupa kasi pacar tercinta mu uang, untuk bayaran karena sudah puaskan aku, aku tau kalian hidup nyaman hasil menjadi budakku! desis ku pelan di telinganya.
Terlihat wajahnya merah padam dan kedua tangannya terkepal kuat, tetapi dia tetap diam.
__ADS_1
"Maafkan aku Jess, aku menyesal, aku akan menebus kesalahan ku padamu, tolong terima aku kembali" ucapnya menyatukan kedua tangannya.
"Tapi aku tidak perduli sekali pun kau mati di hadapan ku" cibir ku mengejek.
"Kenapa kau tak ikut kemana pun perginya kekasihmu? kau kira aku sudi menerima sampah menjijikan seperti mu, Luna pun sudah tak mau berteman dengan mu kan? pulang lah ke rumah nerakamu itu, siksaan ibu tiri mu menanti.
Hahaha! aku memang terusir, tinggal di kos sederhana, tapi setidaknya aku punya uang untuk bertahan, pergi lah jangan tampak kan wajahmu di depanku lagi, kalo tidak, aku bisa membalas mu dengan kejam!" ujarku, geram menahan amarahku.
"Lebih baik aku pergi dari pada aku berbuat nekat, pada akhirnya akan merugikan diriku sendiri, yang sudah terjadi biarlah terjadi" batinku.
"Jessica! Jessica! maafkan aku! aku mohon tolong aku jessica!" tampa aku menoleh sedikit pun, tak ada lagi rasa iba seperti dulu saat dia menangis, menderita dengan siksaan keluarganya.
Sekarang aku sudah tak butuh teman lagi dan tidak akan percaya lagi dengan siapapun.
***
Di sebuah taman indah di tengah kota, Riska, Reno dan teman-temannya asik bersepeda, saling mengejar, tertawa lepas penuh dengan keceriaan.para remaja yang benar-benar bahagia.
"Kak Bimo! kak Bimo!"
Bimo, yang merasa dirinya di panggil langsung menoleh ke arah suara itu, aktivitas kejar mengejar pun terhenti, para remaja pun heran, dan mereka fokus ke arah pandang Bimo.
Reno menepuk jidatnya, frustasi, baru saja kelar, kakak adik itu ngambek, dan sudah berjanji akan mengatasi Bimo, namun sekarang dia paham apa yang di pikirkan Riska dan ayahnya.
"Kak Bimo, masih ingat aku? aku Ruhi, kakak ingat nggak?" hihi, ucap sambil mengedip kan mata bulatnya yang indah.
Bimo bagai di atas awan,dia menoleh ke arah kakaknya, mereka seolah bicara lewat tatapan.
"Please! kak bukan aku yang mencarinya,tapi dia yang datang padaku" Riska memutuskan kontak mata dengan Bimo, lalu mencebik kan bibirnya.
Reno yang melihat Riska begitu jadi, gemas.
"Tentu saja aku ingat, kamu tidak akan pernah aku lupakan" gombal bimo.
__ADS_1
"Hihi, kak Bimo manis sekali, aku suka, kemarin aku datang main kesini loh, Ruhi sama kakak Tara, kakak ku ganteng kayak kamu" ujarnya.
'Kak Tara! ayo ke sini, ini loh, cowok yang aku maksud, ayo kenalkan sini!"
datang lah laki-laki seusia mereka, dengan wajah tampan dan tegap, di sekolah pun banyak cewek-cewek yang mengidolakan Tara selain Reno.
Reno terkejut dengan kehadiran Tara, kedua sahabatnya memandang Reno penuh arti.
"Hay, apa kabar kalian semua, ternyata kalian sering main sepedaan ke sini juga" sapanya dengan senyuman yang manis, Mia dan Rani saling sikut, dan salah tingkah, sedangkan Riska biasa saja.
"Kak kenalkan, aku Bimo" Bimo langsung menjabat tangan Tara, dan mulai tebar pesona.
"Kemarin kakak ku janji mau ajak aku main ke rumah Ruhi, tapi harus telpon kak Tara dulu untuk minta izin, tapi sampai sekarang kak Riska nggak jadi-jadi" Reno dan teman-temannya bengong.
sedangkan Riska ingin rasanya membelah otak adiknya yang bodoh itu, dia merasa jadi tersangka, saat Reno menatapnya dengan sinis dan tanda tanya.
"Ma maksudku untuk mengelabuinya saja tidak sungguh-sungguh kok, lagi pula mana aku punya nomormu" jelasnya malu.
"Oh, jadi Bimo adalah adikmu, kebetulan sekali, kalo kau mau menyimpan nomor ku juga boleh, agar kedua adik kita sering main bareng-bareng" Reno yang mendengar begitu marah tapi di tahan.
"Tidak, terima kasih, aku hanya membohonginya agar dia menurut, soalnya dia tidak di bolehkan main sama anak perempuan sama ayah kami" jawab Riska panjang lebar, dan membuat amarah Reno sedikit berkurang.
"Oh, begitu? sayang sekali, aku kira boleh, jadi akan sering kita bertemu dan kedua adik kita" ujarnya sambil tersenyum manis ke arah Riska, dan membuat Reno makin geram.
"Bener kak Tara, kalo aku genit sama cewek, ayah akan mengirim ku ke pesantren paling pelosok, biar tidak bertemu Ruhi lagi, kakakku juga tidak boleh pacaran sebelum lulus sekolah, sama kayak aku" jelasnya polos, membuat Tara melongo.
"Ayo kita pulang, kita sudah lama main, ayo cantik" sela Reno, dan membuat,Tara tambah bengong, melihat kedekatan Riska dan para sahabatnya dan juga Reno, dan sadar bahwa dia sudah kalah jauh.
Reno paham dari tatapan Tara bahwa dia sudah lama menyukai Riska, tapi Reno merasa beruntung bahwa dia sudah memenangkan hati Riska, dengan cepat dia membawa Riska dan teman-temannya pergi.
Mereka semua pun berpisah, begitu pun Bimo, berjanji akan bertemu dengan Ruhi lain kali.
BERSAMBUNG..
__ADS_1