CINTA SEJATI.

CINTA SEJATI.
PERUBAHAN BENY.


__ADS_3

Keesokan paginya Riska berangkat sekolah seperti biasa dan selalu di tunggu di persimpangan jalan oleh kedua sahabatnya, Riska langsung mendelik ke arah Mia, dengan cepat Mia menyatukan kedua tangannya untuk meminta maaf sambil tersenyum, tapi Riska pura-pura melengos, memalingkan wajahnya ke arah lain.


"Ayo lah kalian maafkan lah aku, aku juga tak tahu bahwa kami di jodohkan dari masih bayi" terang Mia, tapi Riska tetap cemberut, begitu pun dengan Rani masih dengan wajah yang biasa saja.


"Tapi setidaknya kau terima telpon kami berdua atau balas pesan kami, dan sepertinya kita tak di anggap lagi Ran.." sungut Riska, " Hem, benar" sahut Rani.


Dengan wajah sedih Mia terus menunduk dan berkaca-kaca, tak menyangka karena iseng, kedua sahabatnya menjadi marah, "Maafkan aku" lirihnya, Rani dan Riska yang melihat Mia menangis langsung menenangkan, "Sudah lah, ayo berangkat, kami sudah memaafkan mu kok, walau masih sedikit kesal" hibur Rani.


"Ya lain kali jangan di ulang lagi, kami semalaman tak bisa tidur, berharap kamu telpon atau balas pesan kami" sahut Riska.


Dengan perlahan Mia mengangkat kepalanya, mengucapkan maaf lagi, kedua sahabatnya langsung memeluknya, dan langsung jalan bersama, sampainya di sekolah terlihat dari jauh Reno dan sahabatnya menunggu di parkiran, tapi anehnya saat Rani dan sahabatnya datang Beny langsung pergi, "Maaf bro aku duluan ya, ada yang mau aku cari" kilah Beny


Rani dan semua sahabatnya tercengang melihat Beny pergi, biasanya dia akan terus menggombal dulu dengan puas pada Rani, baru masuk kelas bersama-sama.


Rani menunduk sedih, merasa tak ada salahnya, tapi melihat perubahan Beny membuatnya sedih, semua sahabatnya melihat Rani sedih jadi tak enak hati, Mia dan Riska pun merangkulnya dengan sayang menuju kelas.


Riko dan Reno pun menyusul Beny kedalam kelas, tibanya mereka, terlihat Beny yang sibuk dengan bukunya, seakan tak perduli sahabatnya yang datang.


Riko dan Reno pun menghampirinya, Riko langsung merebut buku yang di pegang Beny, lalu duduk di dekatnya langsung bertanya pada intinya. "Kamu kenapa bro?" tanya Riko, membuat Beny langsung menoleh.


"Maksud mu?" tanya Beny heran.


Reno menghempaskan diri di bangkunya, sambil melihat ke arah Beny, "Kamu tak seperti biasanya bro, kau tahu? saat kau pergi, Rani begitu sedih, kau seakan menghindarinya" dengus Reno.


Beny lalu merebut bukunya dari tangan Riko.

__ADS_1


"Tidak ada, biar kita terbiasa saja, aku tidak mau membual terus, karena hal yang tak pasti, dan memberikan Rani harapan, dan belum tentu aku bisa meluluhkan hati orang tuanya, karena aku sadar, bukan tipe mereka!" ucap Beny sambil membolak balikan bukunya, tampa melihat sahabatnya.


Riko dan Reno kaget mendengar ucapan Beny, "Apa itu artinya kamu menyerah?" tanya Reno.


Tapi Beny diam tak menjawab, Riko mengusap wajahnya dengan kasar, karena sikap Beny yang tiba-tiba berubah.


Mereka pun mengikuti pelajaran dengan khusuk, tampa ada yang ribut, sedangkan Rani terus murung tidak mau bicara apa pun pada sahabatnya.


Pas keluar main Rani maupun Beny tidak mau keluar kelas, mereka terus murung, sampai pulang sekolah pun Beny tetap cuek dan bersikap biasa saja pada Rani, tampa ada rayuan atau gombalan lagi, sikap Beny membuat Rani benar-benar sedih, Rani terus melihat punggung Beny sampai menghilang, dan isak tangisnya pun pecah.


"Hiks hiks! apa salah ku? kenapa dia begitu padaku!" lirihnya di sela tangisnya. Riska dan Mia pun langsung memeluknya, Riko dan Reno pun ikut sedih dengan perubahan sahabatnya. tampa banyak bicara, Reno langsung pamit dan menuju kantornya karena tak tahu harus membujuk sahabatnya seperti apa.


sepanjang jalan Rani murung sambil mengayuh sepedanya, bahkan saat di persimpangan pun dia tak berhenti seperti Mia dan Riska, Rani terus mengayuh sepedanya, dengan sedih Riska dan Mia diam tak memanggil atau pun menahan Rani.


***


Rani berhenti dan menoleh ke arah mamanya memaksa kan senyum.


"Tidak apa-apa ma, capek karena pelajaran saja" kilahnya, buk Hani memperhatikan putrinya dengan seksama dan tahu bahwa anaknya bohong.


Sambil menghela nafas dengan kasar dan geleng-geleng kepala ke arah anak perempuan satu-satunya. "Itu sebabnya mama sama papa bilang jangan pacaran atau jatuh cinta dulu sebelum lulus sekolah, kau sendiri yang repot kan? apa sedih dan patah hati itu enak?" sindirnya.


Rani mendengus sambil menyadarkan punggungnya di tangga, "Mama sok tahu" ujarnya cemberut. "Tentu saja mama tahu" cibir buk Hani.


"Anak itu sepertinya menyerah berjuang, tak usah kamu harapkan lagi jika dia tidak mampu membuktikan kemampuannya" nasehat buk Hani.

__ADS_1


"Mama kayak cenayang saja, papa dan kakak terlalu keras padanya" dengusnya tak percaya.


"Tentu saja mama harus pintar baca masa depanmu, karena mama dan papa mu tidak mau melepaskan mu pada sembarangan lelaki, apa kau tahu anak buk Rima? dia teman arisan mama, anaknya baik dan pintar dalam bekerja, bagaimana kalau mama jodohkan kamu dengannya, kalau nggak salah namanya Reno" terangnya, membuat Rani kaget bukan main.


"Mama ngaco deh, Reno anak pak Joseph dan buk Rima itu sahabat ku dan pacaran juga dengan Riska sahabat ku, bahkan Riska sudah di setujui sama keluarga Reno" terang Rani, membuat buk Hani kaget.


"Hah! benarkah? mama telat dong, tipe seperti itu cocok buatmu, keluarga juga baik semua, pepet lah terus selama janur kuning belum melengkung masih ada kesempatan untuk maju" guraunya.


Rani mendelik ke arah mamanya, "Mama mau mengajari aku menjadi wanita jahat pada sahabat ku? begitu kah maksud mama? aku baru tahu jalan pikiran mama, aku kecewa pada mama" geramnya langsung menaiki tangga menuju kamarnya.


"Hey tunggu! sensi banget sih sama mama, di ajak bercanda malah di masuki ke hati" teriaknya.


Rani berhenti menaiki tangga lalu berbalik melihat mamanya dengan kesal.


"Tuh.. lihat calon kedua mertuamu, bilang sama Beny besok datang latihan di rumah sama papamu" tunjuknya pada tamu suaminya.


Rani langsung terkejut dengan ucapan mamanya, dan tak berani bertanya walau hatinya masih ragu,


buk Hani yang melihat anaknya bengong malah tersenyum.


"Mama dan papa pernah muda, tahu rasanya jatuh cinta saat remaja, apalagi seusai kamu! sebenarnya papa dan mama merestui mu dengan Beny, tapi papa mu ingin melihat kemampuannya, sejauh ini dia cukup baik dan banyak kemajuan, terlebih lagi dia dari keluarga yang baik pula" terang buk Hani sambil menata makanan, untuk makan siang bersama tamunya, di bantu oleh asisten rumah tangganya.


Rani langsung turun, berlari memeluk mamanya dengan senyum merekah, "Terima kasih ma" ujarnya, buk Hani tersenyum melihat anaknya ceria lagi.


"Telpon Beny sana, bilang sama dia orang tuamu ada di sini, dan cepat kamu membersihkan diri pakai baju yang bersih kita maka siang bersama" sela buk Hani, sedangkan Rani senyum malu.

__ADS_1


BERSAMBUNG..


__ADS_2