
Saat para siswa siswi begitu antusias saat masuk sekolah setelah libur, saling berjabat tangan, bertanya kabar dan sebagainya.
saat seseorang yang aku dambakan dari dulu, ternyata sudah di miliki. Dengan langkah pasti aku mendekatinya, tapi kenyataan yang aku terima, dia begitu menghindari ku.
Dengan mengepalkan kedua tangan, aku memandang balik sainganku dengan bengis, "Ada hak apa kau menghalangi ku? aku yakin, kalian juga belum resmi pacaran, kau tahu juga kan? sudah lama aku mengincarnya, aku tak akan menyerah" bisikku balik dengan geram, pada lawanku.
Reno pun tak kalah sengitnya memandang balik, sambil tersenyum mengejek. "Kau menantang ku? silahkan, jika kau ingin mencobanya"
Dengan geramnya Tara pun mengiyakan "Tentu, dengan senang hati!"
Reno makin tersenyum tidak ingin menampakkan ketakutan pada lawannya.
"Kami memang belum resmi pacaran seperti yang kamu ketahui, karena aturan ayahnya, tapi aku cukup percaya diri aku lah pemenangnya, kau tahu, pertama kali aku melihatnya sejak kelulusan taman kanak-kanaknya, lalu aku mengikutinya di mana pun dia sekolah, bahkan sampai saat ini, dan aku pun menyimpan semua fotonya sejak dia kecil, sampai sekarang, tampa dia tahu, dan aku perlihatkan ke dia beberapa minggu lalu, dan kau tahu, betapa kagetnya, galeri ku penuh dengan fotonya, apa kau mau melihatnya?" sengaja Reno ingin menunjukkan, tapi dengan cepat Tara mengangkat tangannya, "Tidak perlu!" tolaknya kasar, langsung meniggalkan Reno dengan penuh kekesalannya.
Dengan tersenyum penuh kemenangan, Reno melihat kepergian Tara, tapi masih dengan rasa takut, bahwa Tara bisa saja menghalalkan segala cara untuk memenangkan Riska.
"Huh.. semoga saja cantik tidak akan pernah tergoda" gumamnya dengan frustasi sambil mengacak rambutnya.
Riko dan Beny pun menghampiri Reno yang terlihat kesal. "katakan ada apa? kami lihat dari jauh, kau sedang perang dengan si Tara itu!" tunjuk Riko pada Tara yang semakin menjauh.
Reno menghela napas kasarnya, dan bicara.
"Dia bilang tidak akan menyerah untuk mendapatkan Riska" keluhnya dengan lesu.
Membuat Riko dan Beny terkekeh, "Untuk apa kau risau? bukan kah Riska sudah sepenuhnya milikmu? apa lagi, om dan tante, dan kedua orang tua Riska sudah merestui kalian, semakin kau meladeni Tara, kau akan semakin emosi dan tak akan percaya pada perasaan mu dan Riska, cukup kau tetap menjaganya saja, dari hal yang mungkin saja kita tidak ketahui" nasehat Beny, dan di iya kan juga oleh Riko.
"Kau tahu bro? saat aku mengantarkan Rani pulang, aku kira, aku hanya akan tinggal nama saja, papanya Rani sungguh menakutkan" kenang Beny sambil bercerita.
__ADS_1
Riko yang merasa penasaran, mendesak nya untuk melanjutkan ceritanya.
"lanjutkan dodol, jangan cerita setengah-setengah dong!" selanya sambil menepuk keras bahu Beny, membuat dia meringis.
"Sialan, sakit tauk" geramnya, sambil mengusap bahunya yang terasa kebas.
yang di maki, hanya cengengesan sedangkan Reno masih penasaran juga, dan masih memikirkan Riska.
"Beliau bilang, datang lah saat kamu lulus sekolah, aku ingin melihat sejauh mana kamu bertahan dalam menjalani tantangan ku, jagan pacari anakku dulu, aku tidak mau pelajarannya terganggu" sambil bergidik ngeri Riko dan Reno membayangkan, betapa menakutkan nasib Beny.
Sambil mengusap dada penuh syukur bahwa ayahnya Mia tak seperti itu. "Minta tolong papa mu saja" usul Riko dan di jawab gelengan oleh Beny.
"Papa ku katanya tak mau ikut campur, dalam tantangan ku, dan papa tahu bahwa beliau, cukup.. ah, sudahlah, lama-lama aku stress, dengan tantangan yang belum aku tahu itu, dan aku sekarang menyetujui, aku akan masuk militer"
"Hah! sungguh! bukan kah kau benci dengan keinginan papa mu itu?" Reno sambil mendelik tak percaya akan pengakuan sahabatnya.
Reno dan Riko yang mendengar Beny bicara begitu, langsung merangkul Beny, "Kami akan selalu mendukung mu, apa pun yang terjadi, kita akan saling mendukung" hibur Reno memberi semangat kepada sahabatnya, sehingga membuat Beny tersenyum.
"Ayo guys, jangan kita pikiran dulu ya! kita selesaikan dulu belajar kita yang tinggal satu tahap ini, sebenarnya aku ingin loncat kelas dari dulu, tapi aku takut meniggalkan pujaan hati ku, dan kehilangan momen perkembangannya dari hari ke hari" lirihnya pelan, dengan sedih.
Riko yang melihat dua sahabatnya yang lagi galau, berusaha mencairkan suasana bahagia.
"Sudah! sudah! pagi-pagi kalian malah jadi melow gitu sih! ayo semangat dong, ayo kita masuk ke kelas, sebentar lagi bel berbunyi" ajak Riko, merangkul kedua sahabatnya.
Mereka pun jalan sambil saling rangkul, sehingga beberapa temannya iri dengan persahabatan mereka, Tara yang melihat Reno masuk kelas dengan sahabatnya, meliriknya sekilas dengan permusuhan, tapi Reno pura-pura tak tahu, dan tak mau ambil pusing "Yang jelas, Riska juga mencintaiku, bagiku sudah cukup" batin Reno, sambil duduk di bangkunya.
***
__ADS_1
Sedangkan Bimo di sekolah baru, begitu tercengang, dan antusias, karena di sekolahnya begitu banyak cewek cantik, tapi karena sudah berjanji pada ayahnya untuk menghindari mereka semua.
Dan mengingat pesan ayahnya, "Tak perlu kau kejar, jika memang cewek itu adalah takdir mu, dia pasti akan menjadi milikmu" nasehatnya.
Berjalan menyusuri koridor sekolah mencari kelas dan nomor bangku untuk Bimo, buk Salmah mengingatkan. "Ingat jangan kau pacaran, atau pun mendekati mereka, ingat kesempatan yang ayah berikan, jika kau langgar, bunda tidak bisa menolong lagi'
Bimo yang mendengar pesan bundanya, merasa harapannya sudah berakhir, untuk mendekati, anak kecil yang dia lirik di pintu masuk gerbang tadi, dengan samar, temanya memanggil gadis itu dengan panggilan Mella.
Buk Salmah, yang menyadari anaknya melamun, akhirnya mengingat kan satu kali lagi.
"Dek, kau dengar kan? bunda bicara dari tadi?"
Dengan menghela napas panjangnya, Bimo mengangguk,
"Tidak boleh melirik cewek atau pacaran" jawabnya, dan di beri senyuman oleh bundanya.
"Hebatnya anak bunda" puji nya sambil mengelus kepala Bimo.
Beberapa anak cewek yang melihat Bimo di elus jadi tersenyum, dan membuat Bimo malu.
"Bunda jangan elus kepalaku, lihat mereka mentertawakan ku" rajuk nya, membuat bundanya makin gemas semakin mengelus kepala Bimo.
Tadinya Buk Salmah tidak akan buru-buru ke sekolah Bimo, tapi karena mengingat ini adalah pertama kali Bimo di sekolah baru, belum tahu letak kelas dan nomer bangkunya, buk Salmah menelpon suaminya suruh tunggu, setelah itu langung menyusul suami dan anaknya.
Setelah buk Salmah sampai, barulah suaminya pergi, dan buk Salmah sendiri yang mendampingi Bimo mencari kelas dan bangku duduknya.
BERSAMBUNG...
__ADS_1