
Bimo uring-uringan di taman belakang rumahnya, terus berputar-putar naik sepeda sendiri karena tak di kasih keluar main oleh bundanya.
Bimo lalu tiduran karena capek di gazebo yang ada di tamannya, sambil memandang langit sore.
"Huh.. betapa bosannya aku, bunda begitu pelit sih? padahal ini sore hari yang indah, biasanya akhir pekan begini naik sepeda keliling komplek bersama ilham dan yang lainnya, sangat menyenangkan, apa lagi sambil lihat cewek-cewek cantik" gumamnya sendiri.
"Dan betapa indahnya melihat yang segar-segar, ah.. kapan aku besar seperti kak Reno ya? biar aku bisa punya cewek sesungguhnya, aku mau punya cewek banyak nantinya" gumamnya terus berkhayal, tampa dia sadari ayahnya berdiri di samping gazebo mendengar semua khayalannya.
"Tunggu tunggu! tapi ayah dan bunda tidak akan mengizinkan hal itu terjadi, ya setidaknya aku harus mandiri dan sukses, kayak kak Reno, masih sekolah tapi sudah bekerja, dan punya uang sendiri, tampa minta lagi sama orang tua, wah.. pasti cewek-cewek cantik akan klepek-klepek sama aku, haha.. hebatnya aku" ujarnya terus berkhayal sambil tertawa.
Sedang kan ayahnya sudah merasa kesal dengan semua ucapan anaknya, ingin keluar menegurnya takut Bimo akan semakin menjadi dan semakin berani.
"Ya Tuhan! anak ku masih sangat kecil, tapi kenapa otaknya malah di penuhi dengan pikiran orang dewasa, aku sungguh tak mau itu terjadi, menurun pada siapa anak ku ini, aku benar-benar geram dengan sikapnya" batin pak Arif terus bersembunyi.
Dengan rasa senang bahkan senyum-senyum sendiri, Bimo sambil berguling-guling kiri kanan terus berbicara sendiri, berharap sesuatu yang dia inginkan terjadi di masa depannya.
"Haha! aku ini bicara sama siapa sih? aku kayak orang gila saja" keluhnya. "Andai Anton bisa di ajak bicara tentang cewek, terdengar sangat seru, apalagi kan dia juga tampan seperti ku, saat kami jalan berdua, para gadis langsung terpesona pada kami" ucapnya dengan bangga.
__ADS_1
"Apa aku menelpon Anton saja ya! tapi.. Anton tak ada ponsel, aku juga tak punya, hanya bisa meminjam ponsel bunda, seharusnya kami juga harus punya ponsel, jadi bisa saling menelpon satu sama lain, atau bisa juga menelpon Ruhi, ah.. apa kabar dia sekarang ya?" gumamnya.
"Hehe! aku kangen dengan Ruhi, ingin bermain sepeda bersama!"
Dengan tak tahan pak Arif lalu keluar dari persembunyiannya, karena semakin lama Bimo bicara makin ngelantur.
Dengan tiba-tiba pak Arif duduk di belakang Bimo yang asyik berkhayal sambil guling-guling dan terus tersenyum.
Saat Bimo menengok dan betapa kagetnya karena ayahnya duduk tiba-tiba tampa dia ketahui, Bimo langsung bangun dari duduknya dan duduk, pura-pura tak bicara apa-apa.
"Apa tadi ayah mendengar ucapan ku ya?" batinnya dengan rasa takut.
"kenapa kamu sendiri di sini?" tanya ayahnya, tapi Bimo pura-pura capek baru selesai naik sepeda.
"Tadi aku kecapean keliling naik sepeda ayah, makanya Bimo tiduran di sini" kilahnya.
"Oh ya! tapi sepertinya kamu tak ada rupa kelelahan tuh" pancing ayahnya.
__ADS_1
"Bimo! ayah mau tanya, apa kamu merasa sudah besar?" tanya pak Arif.
"Tidak ayah, kan Bimo masih kecil"
"Apa kamu mau cepat besar?" tanya pak Arif.
"Apa menyenangkan menjadi orang dewasa?" tanya Bimo.
"Entahlah! yang jelas, saat kamu dewasa nanti, dunia tak akan seindah masa kecil mu, kamu akan meminta menjadi kecil lagi saat kamu sudah dewasa nanti" ucap pak Arif sambil melihat Bimo.
"Hah! apa semua itu sangat menakutkan ayah?" tanya Bimo dengan penasaran.
"Yang jelas saran ayah, nikmati lah masa kecil mu yang indah, dengan bermain dan belajar, jangan terus berpikir seperti orang dewasa, karena saat kamu dewasa nanti, kamu akan makin pusing memikirkannya" ucap pak Arif dengan sabar.
"Dan lupakan tentang kekonyolan mu, tentang membicarakan gadis cantik yang belum saatnya kamu bicarakan, tadi ayah dengar semua yang kamu bicarakan tadi" tambah pak Arif langsung berdiri melenggang masuk ke dalam rumah.
Bimo melongo mendengar ucapan terakhir ayahnya, dan merasa benar-benar takut dan malu.
__ADS_1
BERSAMBUNG..