CINTA SEJATI.

CINTA SEJATI.
PERTEMUAN TAK TERDUGA.


__ADS_3

Seperti yang sudah di rencana kan, Reno dan Riska, serta semua sahabatnya bersepeda ke taman, Bimo yang tahu kakaknya dan semua teman-temannya ke taman, akhirnya heboh mengajak ayah dan bundanya juga, mau tak mau, pak Arif dan buk Salmah pun ikut, dengan membawa banyak bekal dan minuman, untuk di makan bersama.


Para cewek ikut dengan rombongan pak Arif, sedangkan rombongan Reno sudah menuju ke taman, akan menunggu di sana.


Sedangkan Anton dan papanya, seperti janji mereka, pagi-pagi sudah menuju taman bersepeda, bertiga bersama pak budi juga.


"Kakak cepat, kenapa lama sekali sih? adik nggak sabar mau ketemu kak Reno, kak Riko dan kak Beny!" teriak Bimo dengan kencang.


Sementara Riska dan teman-temannya, di dalam masih mempersiapkan bekal bersama bundanya, karena membawa banyak, sampainya Riska di halaman rumah langsung mendelik ke arah Bimo, sedangkan Bimo pura-pura tak melihat.


ayahnya yang melihat tingkah anak-anaknya hanya geleng-geleng kepala.


"Bawel, nggak sabaran banget sih"


sambil menata bekal di keranjang sepedanya, dan sepeda bundanya, serta sepeda teman-temannya sedangkan ayahnya dan Bimo membawa sebagian minuman.


"Sekalian saja bawa kompor bunda, banyak banget makanan yang di bawa, kita pergi olahraga atau pergi makan sih?" gerutu Bimo.


"Diam lah Bimo, jagan cerewet dah, biasanya kamu saja yang paling banyak makan, sampai orang nggak kebagian" cibir bundanya, sehingga membuat Bimo langsung diam.


"Hihihi, nanti kalau tak habis biar kakak saja yang makan, Bim.." sahut Mia, terkikik geli.


"Betul banget tuh, kak Rani juga kuat kok nanti makan banyak, apa lagi papa sama mama lagi keluar kota, nggak selera makan tanpa masakan mama, masakan bunda juga enak banget kayak masakan mamaku" puji Rani.


"Halo.. bilang saja mau gratisan!" cibir Riska, Rani langsung nyengir dengan ledekan sahabatnya.


"Ayo, sudah dong, nanti teman kalian lama menunggu kita" lerai buk Salmah. Lalu mereka berangkat bersama-sama.


Beberapa menit menuju taman kota, mereka pun sampai, terlihat Reno dan teman-temannya, dan bergabung bersama mereka mengelilingi lapangan yang khusus untuk pesepeda.


Para anak muda begitu antusias dan enerjik, sementara pak Arif dan buk Salmah sudah istirahat lebih dulu, menggelar tikar lipatnya dan menata semua makanan, di bawah pohon besar dan rindang, setelah semuanya beres buk Salmah pun memanggil mereka.


"Anak-anak! ayo istirahat, kita sarapan dulu" teriak buk Salmah.


Anton yang spontan menengok karena panggilan seorang wanita yang menurutnya tak asing di telinganya, dan sangat merdu, dia langsung menoleh, karena duduk mereka tak jauh dari tempat buk Salmah, "Hah, itu kan tante Salmah!" batinnya.

__ADS_1


"Tante Salmah! tante Salmah!" teriak Anton begitu ceria, sambil melambaikan tangannya.


Buk Salmah yang mengenalnya langsung melambaikan tangannya juga.


"Itu anak siapa dek?" tanya pak Arif dengan heran.


Buk Salmah langsung menoleh dan menjelaskan, "Teman baru Bimo di sekolahnya, sekali gus teman sebangkunya yang sering dia ceritakan itu bang" ujarnya.


Hati Pak Bagas bergetar, saat anaknya memanggil nama Salmah, dan ikut menoleh ke arah pandang anaknya.


Wanita yang tiga puluhan ke atas itu masih terlihat sangat muda, dan cantik.


"Kau masih cantik seperti dulu" gumamnya pelan, tampa berkedip.


Pak budi yang di sampingnya begitu kaget, tapi cukup dalam hatinya.


"Pantas saja pak Bara tak sabar ingin melihat bundanya Bimo" batin pak Budi.


Anton pun berlari ke arah buk Salmah dan langsung memeluknya, Bimo yang melihat Anton dari jauh pun berteriak bahagia.


"Ya Bimo, kau tahu? ini pertama kalinya aku main sepeda keluar, ternyata sangat menyenangkan" ucap Anton antusias.


Bimo sangat heran mendengar Anton bilang pertama kalinya.


"Sungguh!"


"Ya, Papa dan mama ku sangat sibuk" ujarnya sedih.Bimo yang melihat raut wajah Anton sedih langsung menghiburnya.


"Kami sering menghabiskan waktu liburan di sini, lain kali jika papa mama mu sibuk ikutlah bersama kami, anggap saja kami keluarga mu juga" tawar Bimo, membuat Anton senang.


"Ayo aku kenalin sama mereka semuanya, yang cantik seperti bundaku itu, kakak ku satu-satunya, namanya kak Riska, dan yang lainnya adalah sahabat kak Riska, yang aku anggap kakak ku juga, kau juga boleh" ujarnya membuat Anton ceria lagi.


"Hai, apakah adik kami akan bertambah lagi?" goda Reno.


"Kecuali Anton saja kak, kasihan dia tak punya saudara lagi, sama seperti kak Reno dan kak Beny" mohonnya.

__ADS_1


"Baiklah, selamat bergabung Anton" ujarnya langsung ber tos sesama laki-laki, dan bersalaman bersama kakak perempuan.


Pak Bagas yang melihatnya sungguh terharu sambil menunduk, lalu menatap pak budi.


"Lain kali jika aku tak ada waktu, tolong antar kan Anton ke sini bila mereka ada janji bersepeda bersama, terlihat semua teman anaknya Salmah dari keluarga baik, dan anak baik-baik, aku mengenal pemuda bernama Reno itu juga" tunjuk pak Bara.


"Pak maaf sebelumnya, boleh saya bertanya?"


"Tentu, apa yang ingin kau tanyakan? tak usah apa terlalu formal kalau di luar, kayak sama siapa saja sih kamu!" sungutnya kesal.


"Hehe, maaf, sudah kebiasaan ku, apa sebelumnya anda mengenal, buk Salmah?" tanya pak Budi dengan sopan, membuat pak Bara tersenyum kecil.


"Sebelum aku pindah keluar negeri, aku satu sekolah dengannya, dia wanita paling cantik di antara mereka, tapi.. aku tak berani mendekatinya karena ayahnya sangat ketat, dia tak boleh pacaran, aku hanya bisa mengagumi dan memandangnya dari jauh" ujarnya malu-malu, dengan wajah yang merona, membuat pak budi gemas pada tingkah pak Bara.


Pak Bara bos yang sangat baik, suka curhat dan minta pendapat pada pak Budi yang lebih tua, yang sudah di anggap sebagai saudara, karena dari ayah dan ibunya sudah lama bekerja pada keluarga Bara, sejak mendiang papanya masih kecil.


"Astaga..sungguh? rahasia mu yang ini tak pernah kau ceritakan pak" goda pak Budi.


"Sst.. ingat ini rahasia kita berdua" pesannya.


"Apa anda masih menyukainya pak?" tanya pak Budi, tapi membuat pak Bara tersenyum kikuk dan menggeleng.


"Lihatlah dia sangat bahagia, melihat orang yang pernah di hati kita baik-baik saja, membuatku lega, rasa memang tak bisa hilang, dia cinta pertama ku, wanita yang mampu menggetarkan hatiku, dia wanita yang sangat baik dan sopan" ujarnya sambil melihat senyuman buk Salmah.


"Pertemuan tak terduga ini sangat mengesankan bagiku" gumamnya dengan senyum.


"Ayo pak kita samperin, Anton memanggil kita, ingat, kendalikan hati anda, yang ingin melompat keluar ini" gurau pak Budi sambil memegang dada pak Bara.


"Sialan kamu, kalau pun Salmah melihat ku, dia tidak pernah tahu aku menyukainya, melirik ku daja tidak pernah, dia selalu menundukkan wajahnya setiap bertemu laki-laki" ujarnya menepis tangan pak Budi dari dadanya.


"Ok saya tahu, maksudku, yang harus di kendalikan itu, diri anda sendiri, siapa tahu..anda langsung nyosor memeluknya" ledeknya makin gencar membuat pak Bara makin kesal.


"Sialan, aku masih waras, kau mau aku di hajar suaminya hah! kau juga mau aku di cakar istriku juga, ayo cepat" ajaknya dengan kesal, dan hati yang berdebar.


BERSAMBUNG..

__ADS_1


__ADS_2