CINTA SEJATI.

CINTA SEJATI.
PEMBALASAN ISTRI CANTIKMU.


__ADS_3

Bertemunya Bara dengan kakaknya membuatnya tak bisa pulang bersama Anton, akhirnya dia di tahan di rumah kakaknya menunggu istrinya datang, karena takut dia akan kabur.


"kak, ayolah! aku tidak akan kemana-mana kok, besok aku akan datang bersama istri ku" mohonnya sambil memeluk kakaknya.


"Diam lah, kau masuk mandi sana, bau keringat mu itu seharian di luar" sindir kakaknya, membuat dia manyun.


Buk Rima turun dari tangga melihat suaminya di peluk begitu dan sama-sama akur membuatnya tersenyum.


"Dek, sana mandi, kakak sudah siapkan beberapa pakaian baru milik abangmu"


Sambil menoleh Bara hanya tersenyum, "Terima kasih kak, aku pulang saja sama Anton ya? besok aku kesini, sekalian sama selena" mohonnya.


"Tidak, kau tetap di sini! jagan buat kami marah, sana bersihkan dirimu, Anton sudah mandi dari tadi, memakai baju kakaknya, yang sedikit mengecil, nanti baju kalian di bawakan oleh pak budi, kakak sudah menelpon mereka" sela buk Rima, tak bisa di tawar lagi.


"Ya, ya" gumamnya langsung melepaskan pelukannya dari kakaknya, dengan langkah gontai menaiki tangga menuju kamarnya di atas.


Kakaknya menatapnya dengan lega, karena dia menurut.


"Aku akan membuat perhitungan pada mami, saat dia pulang besok" ujarnya sambil berpikir.


Sedangkan istrinya hanya tersenyum miring mendengar ucapan suaminya, "Seperti kau mampu saja menahan mami" cibirnya pada suaminya.


"Oh.. kamu meremehkan aku sayang?" tuduhnya tak terima.


"Tidak! aku butuh bukti nyata saja mas, ok! aku lihat hasilnya saja, mampu atau tidak dirimu itu!" tantang buk Rima, membuat pak Josep mendengus.


"Kau tak mau membantu ku?"


Dengan tatapan sedih buk Rima membuat dirinya seakan tak berdaya, "Maafkan aku sayang, aku tidak mau menjadi menantu durhaka, ku serahkan semuanya padamu" ujarnya menunduk pura-pura sedih, dan menyembunyikan tawanya.


Pak Josep memicingkan mata pada istrinya, karena tingkahnya yang konyol itu.


"Kau pintar berakting, apa kau berguru pada adikmu itu?" ujarnya lalu bangkit sambil memegang tangan istrinya.


Buk Rima yang penasaran langsung menatap suaminya dengan pandangan bertanya.

__ADS_1


"Ayo bangun, ikut aku!" ajak pak Josep, lalu menggandeng istrinya, ke kamarnya, lalu mengunci pintu.


Buk Rima yang penasaran dengan suaminya haya mengikuti saja, tidak tahu modus suaminya, yang ingin bermesraan, dengan perlahan berbisik di telinga istrinya, "Hukuman mu karena tak memihak ku, sayang" bisiknya langsung menerkam istrinya.


Beberapa jam berlangsung pertempuran, mereka pun keluar dengan wajah yang terlihat segar, apalagi sehabis mandi bersama, hal yang sering mereka lakukan bersama.


Pak Josep melihat istrinya tersenyum malu membuatnya semakin gemas, dia langsung merangkul istrinya, sambil mengecup rambut harum istrinya yang setengah kering itu.


"Aku masih perkasa kan sayang?" bisiknya, membuat pipi buk Rima memerah bak kepiting rebus.


Tampa mereka sadari, Reno dan pamannya berdiri di tengah tangga menyaksikan kemesraan dua sejoli yang masih kasmaran itu.


Dengan tersenyum jahil Bara merusak momen kakaknya, yang sering dia lakukan dari dia masih remaja dulu.


"Hay Romeo dan Juliet! bukan hanya kalian saja di dunia ini! jadi, jangan coba-coba ingin menguasainya sendiri!" sindir Bara sambil menuruni tangga, sedangkan Reno lari bersembunyi di ujung tangga, Bara yang melihat tingkah Reno hanya tersenyum geli.


"Tenang saja! paman tak akan melibatkan mu, hal ini sudah biasa paman lakukan sejak paman masih remaja, menjadi pengacau keromantisan mereka yang tak tahu tempat" terangnya, membuat Reno melongo.


"Ayo cepat turun! tuh ajak adikmu juga" ajaknya, Reno hanya mengangguk di ujung tangga sambil memegang tangan Anton yang sudah berdiri di dekatnya.


"Haha! kakak ku tersayang, bukan adikmu namanya kalau bisa berubah" sindirnya, sementara buk Rima menatapnya makin sinis.


"Haha! kenapa menatap ku seperti itu, kakak iparku" guraunya sambil tertawa.


Lalu sambil tersenyum miring buk Rima langsung membalasnya.


"Tidak apa-apa, aku akan menunggu momen pembalasan istri cantikmu, besok!" sekak nya membuat Bara langsung terdiam.


***


Seperti rencana Selena, dia meninggal kan pekerjaannya, menyelesaikan sebagian dan sebagian bisa dia kerjakan dari rumah, mertuanya pun bisa dia ajak pulang, karena Selena memberi tahu, bahwa kakak suaminya sudah tahu Bara menikah, dan marah besar. Dengan perasaan takut, maminya pun ikut pulang.


sorenya semua keluarga pergi menjemput Selena dan mami mereka, selama menunggu, Bara sudah merasa was-was dengan kemarahan istrinya nanti, karena tahu wataknya kalau sudah marah susah di bujuk.


Setelah mendekat, istrinya dengan senyum sinis, terus melihat kearahnya tapi sekilas. lalu berpaling mencium anaknya dan mencium memeluk kakak iparnya dengan sayang, hati Bara langsung sedih, lalu memandang maminya meminta bantuan, tapi di acuh kan juga.

__ADS_1


Sedangkan pak Josep memandang maminya dengan tatapan bertanya, lalu mencium tangan sang mami dan memeluknya dengan sayang, lalu maminya dengan tatapan datar ke arah Bara minta bantuan, tapi Bara melihat ke arah lain.


Pak Josep yang melihatnya hanya terkekeh geli, "Ayo mamiku sayang, kejutan besar akan menantimu" godanya tersenyum.


Dengan tatapan heran, sambil memicingkan matanya ke arah anak pertamanya.


"Haha! mami kenapa?" tanya pak Josep, tapi di jawab gelengan saja oleh maminya.


"Reno, Anton kemari lah?" panggilnya pada kedua cucunya.


Dengan senyuman merekah Reno dan Anton mendekat, sambil memeluk dan mencium tangan neneknya, "Bagaimana kabar nenek? apa mau Reno gendong?" tawarnya tulus tapi di balas gelengan sambil tersenyum. "Apa kau lihat nenek tak bisa berjalan, hah?" guraunya.


Dengan sayang Reno dan Anton menggandeng tangan nenek mereka, meninggalkan para orang tuanya, bercerita dan bercanda ria sepanjang jalan bersama neneknya.


Bara baru saja ingin memeluk istrinya, tapi langsung di tepis. "Jangan peluk-peluk, aku tidak mau di peluk oleh pembohong" ketusnya, lalu Selena lebih memilih menggandeng kakak iparnya, buk Rima lalu memandang Bara dengan senyum mengejek.


"Haha! tentunya aku sangat merindukan istriku, apalagi lama tak bertemu" sindir pak Josep, lalu meninggalkan adiknya yang begitu frustasi karena istrinya.


"Sayang ku! maaf kan aku" rengeknya, tapi tak di hiraukan. dengan langkah gontai Bara pasrah hanya bisa mengikuti langkah istrinya sambil menggeret koper istrinya, sedangkan pak Josep membawa koper maminya.


Lalu mereka di bawa langsung ke rumah pak Josep, Selena yang begitu bahagia bertemu keluarga suaminya tak henti bercerita sepanjang jalan dengan buk Rima, sampai-sampai mereka berjanji akan pergi shoping dan nyalon bersama-sama.


Tatapan Bara terus tertuju ke arah istrinya, karena begitu merindukannya, ingin sekali Bara memeluknya.


Selena yang sadar di tatap oleh suaminya, malah sengaja tak melihatnya, dengan sedih Bara hanya bisa menghembuskan nafas kasarnya, pasrah dengan kemarahan istrinya.


Tibanya di rumah, para pelayan langsung menyiapkan hidangan kesukaan mami dan adiknya, dan beberapa makan lezat lainnya, mereka pun makan dengan tenang tampa bicara, setelah selesai barulah mereka berkumpul di ruang keluarga yang cukup luas.


"Mami! tolong jelaskan!" langsung pak Josep bicara pada intinya.


Dengan kaget buk Laras menatap anak pertamanya, "Kau tanyakan saja pada adikmu, dia sampai membajak semua milik mami!" ketusnya, sambil mendelik ke arah anak keduanya.


Bara hanya menunduk menerima kemarahan keluarganya, tanpa ada dukungan dari siapapun.


"istriku!" rengeknya, tapi tetap di acuh kan.

__ADS_1


BERSAMBUNG..


__ADS_2