CINTA SEJATI.

CINTA SEJATI.
PENYESALAN BIMO


__ADS_3

Sebenarnya Riska kasihan melihat Bimo sedih, tapi dia harus tekankan, agar tidak selalu main ke rumah Ruhi bagaimana pun Riska harus menjaga perasaan Reno, Riska sadar bahwa Tara juga menaruh hati padanya, dan Reno pun tahu.


Riska meniggalkan Bimo yang lagi sedih di halaman seorang diri, tampa dia ajak masuk rumah.


Dengan lesu Bimo masuk menyusul kakaknya, mengedarkan pandangan ke setiap ruangan tapi kakaknya tak terlihat, yang ada hanya bundanya yang lagi duduk merajut.


Buk salmah yang melihat Bimo tengok kanan kiri langsung bertanya.


"Kau mencari apa dek? kenapa baru pulang? sana cepat mandi, baru makan" titah bundanya.


Bimo pun masuk kamarnya dengan langkah gontai, bundanya yang melihat dia seperti itu, semakin heran.


"Anak itu ada saja tingkahnya, kayaknya dia habis di marahi kakaknya" tebak buk salmah, sambil melanjutkan merajut, sedangkan suaminya sibuk di ruang kerjanya.


Selesai mandi dan sudah wangi, Bimo keluar mencari kakaknya lagi ke kamarnya, dengan perasaan takut mengetuk pintu kamar kakaknya.


Tok tok tok..


"Masuk" sahut Riska dari dalam, dengan langkah pelan, masuk ke kamar kakaknya langsung duduk di kursi belajarnya, sedangkan Riska rebahan sambil memainkan ponselnya.


Menyadari itu adalah Bimo, Riska tetap cuek, sengaja biar adiknya itu mengerti.


"Kak, maafkan adek ya? adek janji tidak akan ke rumah Ruhi lagi, tolong maafkan adek" mohonnya sambil menyatukan kedua tangannya.


Tapi sengaja Riska tak merespon, dia sengaja sibuk dengan ponselnya, dan sengaja menelpon.


Sedangkan Bimo sudah tertunduk lesu, sesekali sesenggukan.


"Kak, adek menyesalinya, adek janji tidak akan kesana lagi, adek tidak mau ke pesantren" mohonnya dengan suara seraknya karena menahan tangis.


"Berisik! ganggu saja! adek keluar sana, pergi lagi ke rumah Ruhi, mau janji atau nyesel juga paling bohong, kakak larang kamu karena malu juga, masak bertamu ke rumah orang tiap hari, sekarang mau pergi atau tidak terserah kamu, kakak nggak perduli!" semburnya.


Marahnya Riska membuat Bimo makin sedih, hanya isakan tangis yang terdengar.


Hiks hiks hiks..


Riska mengintip Bimo menangis, cukup kasihan tapi di biarkan agar Bimo mengerti.


Sambil mengusap air matanya Bimo keluar dari kamar kakaknya, langsung masuk ke kamarnya.

__ADS_1


"Kak Riska benar-benar marah, lebih baik dia mengomel dari pada mendiami ku, itu membuat ku sangat sedih, aku tidak akan ke rumah Ruhi lagi" gumamnya pelan sambil tidur di kasurnya.


Setelah waktu makan malam, baru Bimo keluar kamarnya, dengan mata yang sedikit sembab, buk salmah yang melihatnya jadi penasaran.


"Dek, matamu kenapa? seperti habis menangis?"


Ayahnya pun langsung menoleh memperhatikan Bimo.


"Tidak bunda, mataku hanya kelilipan, kan baru bangun tidur" kilahnya.


"Tadi siang ayah ketemu ilham dia nyariin kamu, katanya kenapa tidak pernah keluar main lagi, padahal setiap hari kamu pergi main, bahkan sampai sore, kamu main kemana dek?" tanya pak Arif.


Deg..


"Ma main ke rumah Ana ayah" ucap Bimo gugup.


"Hah, tapi kan tadi, ilham sama Ana!" pak Arif sambil memicing kan matanya, memandang Bimo penuh selidiki.


Bimo gugup tak bisa menjawab, melirik kakaknya, tapi masih acuh, dan santai makan.


Bimo pun melirik bundanya, tapi bundanya hanya mengangkat kedua bahunya.


"Kenapa adik tidak jawab pertanyaan ayah? pergi main kemana saja kamu, sampai teman-teman mu bertanya?"


"Ke ke rumahnya Ruhi, teman baruku ayah" jawabnya gagap.


Terlihat ayahnya hanya manggut-manggut saja, sambil berpikir.


"Sekarang kamu sudah lulus di taman kanak-kanak, sebelum ayah daftar kan adik ke sekolah dasar, ayah akan cariin pondok pesantren yang pendidikannya dari sekolah dasar, biar sampai sekolah menengah, dan perguruan tinggi kamu di pondok pesantren" saran ayahnya.


Bimo langsung tercengang mendengar ucapan ayahnya, buk salmah juga jadi sedih membayangkan anaknya masih kecil di pondok pesantren.


"Adik mohon ayah, jagan masukkan ke pondok pesantren, adik nggak mau" ujarnya sambil menangis.


"keputusan ayah sudah bulat, ini untuk kebaikan mu ke depan"


Selesai makan pak Arif langsung masuk ke kamarnya di susul istrinya, tinggal lah Riska dan Bimo di meja makan.


Riska hanya melihat Bimo tampa berkata-kata.

__ADS_1


"Kak, adik mohon, bantu adik, adik mohon kak" hiks hiks.


"Sudah kakak ingatkan dari awal kan, tapi kamu bandel, masih kecil sudah genit, bahkan bertamu ke rumah orang tiap hari, sekarang kalau ayah sudah marah, siapa yang berani bicara? bunda pun belum tentu, berdoa saja semoga bunda berhasil, selamat masuk pondok pesantren adik ku yang paling ganteng, pulangnya kamu nanti akan menjadi ustad kondang" khayal Riska, membuat Bimo makin sedih.


"Adik masuk tidur sana, kakak mau membersihkan meja makan"


"kakak!" teriaknya.


"Sudah, masuk! siapa suruh bandel, sekarang kalau ayah sudah marah, baru kamu menyesal kan?" cibirnya.


Bimo berlari menuju kamarnya dan menangis sendiri, bundanya pun masuk menemuinya ke kamarnya, setelah selesai bicara dengan suaminya.


***


Di vila mewah kediaman Tuan Smith terjadi keributan yang di sebabkan tasya.


Semua orang sudah melihat semua video itu, termasuk Reno dan papa mamanya. dan tuan Smith pun malu.


Sampai vila mewahnya Tuan Smith lalu mencari keberadaan anaknya, mamanya yang lebih dulu tahu langsung memarahi anaknya, Tuan Smit masuk ke kamar anaknya, melihat wajah Tasya banyak lebam dan membiru di tubuh lainnya, tuan Smith makin murka langsung menampar anaknya dengan begitu kerasnya.


"Aku sudah memperingati mu agar jangan mempermalukan keluarga ku, tapi kau anggap aku cuma main-main, sekalinya salah akan selamanya begitu, kamu sudah besar sekarang terlalu enak hidup bersama kami dengan bergelimang harta, mulai sekarang aku akan mengeluarkan kamu dari kartu keluarga ku.


"Tidak! papa bohong!" teriaknya histeris.


Sekali menatap ke arah asistennya, Tuan Smith langsung di sodorkan berkas penemuan Tasya dulu.


"Kau tak percaya? baiklah akan aku tunjukkan buktinya" sesalnya. setelah berkas itu ada di tangan Tuan Smith, langsung di lemparnya ke wajah Tasya.


"Aku kecewa padamu, aku malu, semua menatapku jijik, aku gagal mendidik mu, pergilah berbuatlah sesuka mu" lirih nya sedih.


"Tolong hubungi pengacara ku untuk ubah kartu keluarga ku, dan keluarkan nama Tasya dan hapus nama belakangnya, setelah selesai akan aku umumkan" titah Tuan Smith.


Anaknya yang menyuruh orang menyebar kan semua video itu, hanya tersenyum bahagia.


"Akhirnya penghalang di keluarga ku musnah, kalau kau juga ingin menghancurkan Alex untuk adikmu, bicara saja akan aku bantu!" gumamnya.


Temanya Alex yang di perintahkan menyebarkan vidio itu tersenyum, dan hanya mengangguk.


"Terima kasih Tuan muda" ujarnya menunduk hormat.

__ADS_1


BERSAMBUNG..


__ADS_2