
Pulangnya Reno dari rumah Riska, membuat dia makin bahagia, sepanjang jalan senyuman tak pernah luntur dari bibir tipisnya.
"Ya Tuhan tolong satukan kami dalam ikatan suci, jauhkan kami dari rintangan besar, jagan kau ambil perasaan bahagia ini" mohonnya, dengan tulus dari hati.
sampai rumah Reno mencari mama dan papanya untuk memberikan kue titipan bundanya Riska.
"Mah, ini titipan dari calon besan mama" godanya, sambil di sodorkan toples kuenya. sambil duduk di ruang keluarga buk Rima mencicipinya bersama sang suami sambil minum teh.
"Pintar sekali bundanya Riska buat kue, pantesan Riska jago buat kue dan masak, ternyata didikannya benar-benar bagus" puji buk Rima.
"Beruntung sekali kamu nanti Ren.. punya istri paket komplit, tak apa bukan wanita karir, malah itu akan membuat kamu selalu ingin pulang, ada anak istri yang akan menunggu mu di rumah" buk Rima mendelik.
"Papa menyindir? mama tahu mama selalu mementingkan karir sampai lupa kewajiban ku sebagi istri dan sebagai ibu" lirihnya sedih.
"Hem, mau kembali ke masa lalu juga tak bisa mah, sekarang yah, kita nikmati saja masa tua kita, aku pun ingin Reno cepat menggantikan ku, tak apa kamu nikah muda Reno, tugasmu hanya bekerja istrimu biarkan menghabiskan waktu di rumah, belanja dan sesekali jalan bersama"
Reno hanya mendengar pembicaraan kedua orang tuanya, dari kecil Reno memang merasakan
kesepian, hari-harinya hanya di temani pembantu, sampai dia menghabiskan waktu bersama teman-temannya di luar, "sungguh aku tidak mau anakku nanti merasakan seperti yang aku rasakan dulu" batinnya.
Reno pun pamit untuk istirahat, membiarkan orang tuanya bicara berdua.
membersihkan diri dan berganti pakaian Reno pun merebahkan diri, sambil membuka ponselnya, melihat foto-foto Riska.
"Aku merindukan mu cantik" gumamnya.
Reno pun menghubungi Riska, tapi hanya sekedar chat.
Reno ( Sayang, apakah sudah tidur).
tak selang beberapa menit, Riska pun membalas.
Riska ( Ini baru mau tidur).
Reno (Aku merindukan mu, andai kau ada di sini ingin ku peluk sayang, ku jadikan guling ku) gombalnya.
Riska ( jangan menghayal yang tidak-tidak, tidurlah)
__ADS_1
Reno (Cium aku dari jauh, sekali saja) Rayunya.
Riska ( Mau aku adukan pada ayah?) gertaknya.
Reno (Ti tidak! baiklah, aku tidak minta lagi) keluhnya pasrah.
Riska di sebrang sana terkikik gelii, lalu dia ingat bahwa Reno akan bekerja.
Riska (Tidur lah lebih awal, jaga kesehatan m, besok kan kamu harus kerja) Riska mengingatkan.
Reno (Terima kasih sayang atas perhatiannya, tolong panggil aku sayang sekali saja, untuk obat rinduku agar nyeyak tidur)
Beberapa menit tak ada balasan, Reno uring-ueingan menunggu.
Riska (Selamat tidur sayang, semoga mimpi indah, i love you).
Riska disebrang sana, begitu gugup menulis kata terakhir itu, sambil mengigit bibirnya, mencolek lambang kirim, lalu mematikan ponselnya.
Reno yang membaca pesan Riska yang terakhir begitu bahagia, membuat hatinya berbunga-bunga, diapun membalas, meski Riska sudah tak terlihat online lagi.
Reno (I love you too, Riska Cantika, permata hatiku).
***
Keesokan paginya Reno bangun dengan begitu bugar dan ceria, tampa paksaan dan tekanan, dia berangkat kerja, tak lupa juga mengirimkan pesan pada sang pemilik hatinya bahwa dia mau berangkat kerja.
Duniaku terasa begitu indah, apa pun yang kujalani tersa begitu ringan, ternyata begini rasanya mempunyai hidup dengan tujuan pasti, ada yang di perjuangkan, ada yang di rindukan, ada pula yang merindukan ku.
Sepanjang jalan menuju kantornya senyum manisnya tak pernah luntur, sampai-sampai semua karyawati yang melihatnya di lobby kantor, terpana melihat senyumnya, biasanya Reno akan memasang wajah datarnya, tapi sekarang, dia begitu memukau semua gadis di kantor papanya.
Ada seorang gadis anak rekan bisnis papanya yang lagi menunggu Reno membicarakan pekerjaan, begitu terpesona pertama kali melihat Reno.
sambil memainkan ujung rambutnya dia memandang Reno dari atas sampai bawah.
"Kau sungguh tampan, benar-benar sempurna ciptaan Tuhan, kau harus jadi milikku" gumamnya tersenyum manis.
Dia adalah Tasya Smith, gadis blesteran, papanya berasal dari Eropa, memiliki perusahaan besar di negaranya.
__ADS_1
Reno langsung di informasikan bahwa ada tamu yang menunggunya dari pagi, dan dia pun mempersilahkan masuk ke ruangannya.
sambil menunggu sang tamu, Reno mengerjakan pekerjaannya yang sudah menumpuk, tapi berhubung hatinya begitu bahagia, semuanya terasa mudah, disetai senyum indahnya tak pudar dari bibir seksinya.
Tok tok tok..
Sambil mengetuk pintu sang asisten membuka pintu sambil mempersilahkan Tasya Smith masuk.
Muncullah gadis cantik berpakaian seksi tapi di lapisi jas cantik dari luar, setelah masuk ke ruangan Reno dia membuka kancing jasnya, hingga memperlihatkan belahan gunung besarnya dan paha mulusnya, berjalan dengan gaya gemulai begitu menggoda, tapi Reno
tetap dengan wajah datarnya.
"Wau, wnita ini benar-benar sangat menggoda bagi laki-laki hidung belang, tapi tidak dengan ku, apakah bekerja harus seseksi ini?" batin Reno dengan wajah datarnya, tidak lagi memperlihatkan senyumannya.
"Selamat pagi Nona Tasya Smith, senang berkenalan dengan mu, saya kira tuan Smith yang akan datang, karena terakhir pertemuan dan tanda tangan kontrak kerja kita bersama ayah anda" ucapnya formal dan sopan.
Reno langsung mempersilahkan duduk,di sebuah sopa husus untuk tamu.Tasya terus melihat Reno dengan senyum menggoda, semakin dia melihat wajah tampan Reno,Tasya makin merasa tertantang, ingin rasanya dia miliki, dan membawanya bermain di atas ranjang.
"Ya Tuhan, aku sungguh gila, ingin sekali aku rasakan ******* bibir seksinya itu, dan mencium setiap inci tubuhku, kau membuat ku gila Reno" batin liarnya menjerit.
Reno yang menyadari dirinya di tatap, membuatnya begitu risih, Reno mengangkat sebelah alisnya dengan heran.
"Maaf, nona Tasya Smith, apa tidak ada hal yang penting? sepertinya anda tidak fokus dalam bekerja" tegurnya sopan.
Tasya yang melamun dengan pikiran liarnya jadi salah tingkah, dengan menarik nafas panjang menetralkan pikiran dan nafsunya yang bergejolak hebat.
"Ah, maafkan saya, Tuan Reno, aku sungguh terpesona oleh mu, apa kamu sudah punya kekasih?" ucapnya blak-blakan.
Reno mengerutkan keningnya semakin heran, dan tersenyum kecil, "Pasti nih cewek setiap melihat lelaki tampan akan menjadi santapannya" batin Reno.
"Sudah ada, bahkan sejak kecil, oh ya, kita akan membahas tentang pekerjaan, nona, bukan masalah pribadi" Reno mengingatkan.
"Oh, maafkan saya, sungguh beruntung wanita itu" dengan salah tingkah, merapikan rambutnya, dan sedikit kesal dengan ucapan Reno.
Mereka pun menyelesaikan pekerjaan mereka dengan rinci dan cepat, Tasya pun pergi dengan perasaan penuh penasaran, siapa gerangan wanita yang mampu meluluhkan hati Reno.
"Aku akan meminta bantuan papa saja untuk menjodohkan kami, hanya itu cara satu-satunya, dengan ikatan bisnis semua pasti akan berjalan mulus" gumamnya tersenyum licik.
__ADS_1
BERSAMBUNG..
^^^ ^^^