
Kintan dan orang tuanya sudah sampai di apartemen ,tetapi mereka tidak lama karena Kintan akan memberi kejutan kepada keduanya.
"Bunda dan ayah simpan dulu barangnya di kamar,Taxi nya sudah Kintan suruh menunggu."
"Emangnya mau kemana lagi sih sayang."
"Surprise bun,kalau Kintan ngasih tahu sekarang bukan surprise lagi donk."
"Bentar ya nduk (panggilan kepada anak perempuan Jawa) ayah mau mandi ,gerah."
"iya yah,ga pakai lama ya."
Setelah selesai bersiap,akhirnya mereka meluncur ke lokasi.
Kintan memberi kejutan berupa rumah dari hasil jerih payahnya bekerja.
Rumah tergolong kelas menengah,terletak di pusat keramaian terdiri 2 lantai ,lantai bawah berupa ruko yang memiliki ukuran lebih luas daripada toko yang dimiliki ayah di Malang,sedangkan lantai 2 berupa bangunan rumah minimalis yang mirip seperti villa dalam sisi sederhananya.Halaman rumahnya cukup luas dan masih belum terlalu banyak tanaman.
"Ayo bunda ayah turun."
"Sayang ini rumah siapa?
bukannya Kintan menjawab malah langsung berjalan membukakan pintu.
"Surpriseeee ,,,, ayah bunda ini rumah baru kalian,,ini surat tanah dan sertifikat rumahnya semua sudah atas nama ayah ,ayah tinggal tanda tangan disini,,ini hadiah dari Kintan untuk orang tua hebat seperti kalian."ucap Kintan menyerahkan kunci rumah berikut surat-suratnya dengan mata berkaca-kaca.
"Ehh,,,jangan bercanda nak."jawab ayah.
"Mana mungkin Kintan bercanda yah,, Kintan sengaja ngumpulin uang dari 3 tahun yang lalu supaya bisa beli rumah ini untuk ayah bunda.Karena kesuksesan Kintan berkat doa kalian ,ini belum seberapa dibanding perjuangan kalian,,
Gimana ayah bunda suka ga?"ucap Kintan berusaha tersenyum namun dengan mata yang berkaca-kaca.
Ayah ga mampu berkata-kata lagi langsung memeluk putri semata wayangnya.
"Putriku,,"ucapnya dengan memeluk Kintan.
akhirnya pecahlah air mata Kintan,yang tadinya ia tahan sekarang malah menangis sesenggukan dipelukan sang ayah, sang bunda ikutan menangis terharu dan memeluk kedua kesayangannya.
"Sudah-sudah harusnya kita sekarang bahagia dan tersenyum bukan malah menangis bersama."ucap ayah melepas pelukannya.
"Sayang ,,terus apartemennya nanti gimana,kamu masih tinggal disana kan?"tanya sang bunda.
"Kintan sudah memikirkan semuanya Bun bahkan dari awal masuk kuliah.
Apartemen itu kan fasilitas kampus ,dan Kintan bentar lagi wisuda ,jadi biarlah yang menempati berganti dengan mahasiswa baru."jelas Kintan.
"Oh iya ya benar juga ,rumah ini kamu beli cash apa kredit?"
"kredit sih tapi beberapa bulan lagi lunas ayah."
"Lalu mengapa rumah ini kamu atasnamakan ayah,,harusnya kan atas namamu nak."tanya ayah.
"Ayah dan bunda adalah prioritas Kintan ,dan lagian Kintan masih bisa cari uang sendiri yah,jadi jangan khawatir."
"Oh iya yah rumah yang diMalang nanti bisa disewakan."ucap Kintan.
"Gimana kalau untuk tempat panti asuhan yatim piatu dan dhuafa,,bunda pernah menemui ustadzah Fatimah yang mengelola yayasan bhakti Husada itu Lo yah,,beliau itu kan pelanggan setianya bunda,nah pas bunda mengantar catering nya ,beliau bercerita tempat nya itu sempit dan masih kurang menampung saking banyaknya anaknya."usul sang bunda.
"Boleh juga ,malah itu akan menjadi ladang pahala dan amal jariyah kita sekeluarga ,tapi untuk sementara ayah masih pengen tinggal disana dulu sambil nunggu Kintan lulus."
__ADS_1
"Iya yah,,Kintan juga masih tinggal di apartemen karena lebih dekat dengan kampus ,kita pindahan kesini setelah wisudanya Kintan ,,oke??"
Dan Kintan kembali memeluk ayah bundanya dengan manja.Kebahagiaan yang terasa lengkap dan sangat menenangkan.
Sementara itu Bima meminta Rey untuk berhenti di depan apartemen yang ditinggali Kintan.Lagi-lagi apartemen itu terlihat sepi dan lampu mati.
"Kemana lagi perginya kamu sayang? aku ingin melihat wajahmu memelukmu ,tapi seolah takdir belum mempertemukan kita."gumam Bima sendu memandangi apartemen yang tidak berpenghuni itu.
"Bos ,mereka tidak ada disini,,apa perlu aku telfon non Kintan?"tanya Rey
"Ga usah Rey mungkin belum saatnya kami bertemu,,Jalan aja rey,,kita pulang kerumah."titah Bima.
"Baik bos."
dan Rey langsung menjalankan kembali mobilnya menuju kediaman Bima.
.
.
.
Keesokan harinya.
"Bim,,hari ini gantikan jadwal papi meeting di universitas,,agendanya membahas permasalahan dan pemecahan masalah yang terjadi di universitas ,pembahasan tahun ajaran baru. pagi ini meetingnya bersamaan sih ,,klien papi ini orang penting dan tidak bisa ditunda serta diwakilkan karena besok dia mau ke luar negeri."ucap papi disela sarapan bersama.
"Baik Pi." jawabnya.
"Oh iya kamu sudah ketemu Kintan?"tanya papi.
"Belum."jawab Bima menggelengkan kepalanya.
"Apa dia akan memaafkan Bima Pi?"
"Loh memangnya kamu berbuat salah?"
tanya papi.
"Sebelum ke Paris 4tahun yang lalu ,Bima ga pamit dan selama itu Bima ga pernah hubungi dia Pi."
Papi yang mendengarnya langsung menghentikan makannya.
"Kenapa bisa begitu? bukankah kalian saling mencintai ,alasanmu apa?"
"Bima ga kuat dengar suaranya Pi,,apalagi jika pamitan melihatnya menangis terus ninggalin dia ,,itu ujian terberat Bima Pi,,Bima ga kuat ,,makanya Bima putusin untuk tidak menghubunginya sama sekali,, mungkin dia udah benci banget sama Bima sekarang."
"Terus kamu sudah berusaha menemuinya?
"Kemarin begitu nyampai ,Bima langsung berusaha menemui dia sampai ke Malang ,tapi taqdir belum mengizinkan kita ketemu."
"Hemm,,, ya udah berarti kamu harus berjuang mendapatkan hatinya lagi,,bukan anak papi kalau kamu ga bisa mendapatkannya lagi."
"Hemm,,anak sama bapak sama aja ,, dulu papi kamu juga gitu Bim,,ngejar -ngejar mami sampai mami berada dimana aja papi tahu."
"Mamimu itu jual mahal Bim,,sekalinya kena,,klepek-klepek sama papi."ucap papi tertawa,dan pecahlah tawa mereka di meja makan,biarpun hanya bertiga tapi mereka seperti teman ,ramai dan seru.
"Ya udah Bima berangkat ya Pi,mi."
"Semangat menakhlukkan hati calon istri."goda papi.
__ADS_1
Bima hanya nyengir dan berlalu dengan meraih kunci mobilnya.
.
.
.
Sementara pagi itu Kintan sudah terlambat ,karena jarak antara rumah dan kampus memang agak jauh dan dia diberitahu mendadak kalau pagi ini ada meeting dengan semua dosen dan rektor.
"Aduh gawat ,,aku terlambat ini."ucap Kintan begitu sudah nyampai di parkiran kampus ,dan dengan terburu-buru ia menaruh motornya sembarangan.
"Miss Kintaann ,yang bener naruh motornya."ujar pak satpam.
"Tolong pak parkirkan motor saya, saya buru-buru ,sudah telat."ucap Kintan sambil memberi selembar uang 50.000.
"beres ,,Makasih Miss."teriak pak satpamnya karena Kintan sudah berlari mencari ruangan tempat meeting yang ada di lantai 3.
Sedangkan di ruangan meeting,semua sudah berkumpul ,Bima sudah mulai memimpin meeting menggantikan papinya.
Dahinya tampak berkenyit melihat ada kursi satu yang masih kosong.
"Apa ada yang belum datang?"tanya Bima.
semua tampak saling pandang,dan hening.
Lalu tiba-tiba pintu dibuka dengan suara nyaring ,Kintan muncul dan masuk dengan nafas terengah-engah ,dia menunduk berusaha mengatur nafasnya ,menetralkan deguban jantungnya.
Semua yang ada di ruangan itu hening,diam dan memandang tajam ke arah Kintan.
Tak terkecuali Bima yang mengeraskan rahangnya memandang Kintan.Antara rindu ,terpesona ingin memeluk tapi tidak bisa.
Kintan melototkan matanya ketika melihat sosok laki-laki yang ada di ruangan itu.
Kaget ,ga percaya dan saking kagetnya
BRAK
ia menjatuhkan laptopnya dan berkas lain yang ia bawa.Seketika kakinya menjadi lemas,berdiri mematung.
"Miss Kintana."panggil Bu Ayu.
"Ma-maaf saya terlambat."jawab Kintan tersadar dari pikirannya dengan sambil membungkukkan badannya.
"Silahkan masuk."ucap Bima dengan tegas berusaha bersikap biasa.
Kintanpun segera memunguti berkas dan laptop yang jatuh,ia berjalan di kursi kosong ,namun ia tak langsung duduk ,dia tampak ragu-ragu untuk duduk karena letak kursi itu yang disebelah kanan nya Bima,dan itu membuatnya tidak nyaman.
"Apa anda akan terus berdiri disitu?"tanya Bima menahan senyum.
Kintan hanya menghembuskan nafasnya kasar dan segera menarik kursinya.
Akhirnya taqdir mempertemukan kita kembali, pertemuan yang tak terduga setelah 4tahun tanpa kabar ,ingin rasanya aku langsung memelukmu ,tapi rasa kecewa itu masih ada seolah baru kemarin terjadi.
Mungkin kamu sekarang juga sudah berbeda,atau sudah melupakanku atau bahkan sudah memiliki pasangan??
Who never knows - gumam Kintan dengan fokus menatap layar laptop tanpa melihat Bima yang sedang memimpin rapat,namun telinganya tetap mendengarkan dengan baik isi yang disampaikannya.
❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️
__ADS_1