
Lio dan para D'hunter pergi ke luar melihat keadaan. Di sebelah markas mereka terdapat beberapa lahan kosong yang hanya di tumbuhi rumput liar.
"Sebelah sini" kata pemuda berperawakan pendek dengan kacamata bulatnya itu.
Mereka pun mengikutinya, hingga tibalah di lahan kosong itu. Dengan bantuan cahaya bulan dan senter, samar namun terlihat jelas terdapat beberapa onggok daging manusia berceceran di sana.
"Ugghhh" gumam Nada. "Busuk sekali"
"Sebelumnya aku tidak mencurigai bau bangkai di sini. Tapi hari ini baunya sangat jelas. Sudah aku teliti, ini bukanlah bangkai hewan. Ini adalah bangkai manusia" jelas Viro.
"Bagaimana kau tau ini bukan bangkai binatang?" kata Brian.
"Ada beberapa ceceran kain, aku rasa itu baju. Dan kau lihat di sana. Aku menemukan kaki manusia. Sebelah situ juga tangan seorang perempuan, bahkan masih ada cincin kawinnya"
Tanpa jijik Lio mendekati ceceran daging tersebut. Ia mengutak-atik dengan tangannya.
"Lihatlah, dia bahkan tidak jijik sama sekali dengan daging-daging busuk ini" gumam Tiara.
Sedangkan Nada masih mengamati beberapa onggokan daging tersebut. Ia juga melihat gerak-gerik Lio yang seolah-olah berbicara sendiri.
"Tuan, ada bekas hawa iblis di beberapa bagian potongan daging ini. Apa kau merasakannya?"
"Kau benar. Kalau aku tidak salah menebak mungkin ini adalah ulah iblis Pharoh" gumam Lio sambil masih memeriksa beberapa daging busuk itu.
"Kau benar, iblis Pharoh sangat menyukai daging manusia. Tapi, jika dia yang memakan manusia-manusia ini akan sangat kuat aura yang di pancarkan. Tapi ini hanya samar"
"Kita akan tau setelah menyelidikinya" Lio pun berdiri sambil mengibaskan tangannya. "Kau, kemarilah" katanya tanpa menunjuk seseorang.
"Siapa yang dia maksud?" kata Viro.
"Kenapa diam saja? Kemari dan lihat hawa iblis ini" lanjut Lio.
"Ah, baiklah" Nada pun pergi menghampiri Lio.
"Sejak kapan Nada sangat akrab dengan orang itu?" gumam Tiara.
"Tidak bisa di biarkan. Nada terlalu ceroboh dengan membawa orang asing ke sini" kata Brian yang terlihat tak suka dengan Lio.
"Tapi, dia kelihatan sangat kompeten"
"Kompeten apa? Dia hanya berlagak saja. Lagipula, dimana Kenan?"
"Ah, dia mungkin masih di restoran. Aku dan dia mau membeli sate iga bakar di seberang sana. Aku pulang dulu karena lupa membawa dompet, tak taunya aku malah menemukan ini" jelas Viro.
Mereka bertiga pun melihat Nada dan Lio berbincang-bincang.
"Kau melihatnya?" kata Lio sambil menyodorkan seonggok tulang paha manusia.
__ADS_1
"Ugghhh, jauhkan itu dariku. Aku ingin muntah" kata Nada sambil menahan diri agar tidak mengeluarkan isi perutnya.
"Manusia memang sangat lemah" gumam Lio sambil melempar daging itu ke segala arah. "Cepat lihat dan amati baik-baik. Apa kau melihat hawa yang sama di sekitar sini?"
"Huh, aku hanya melihatnya samar-samar. Apa kau menemukan sesuatu?" kata nada sambil menutupi hidungnya.
"Hemmm ... Menurut pengamatan ku. Ini mungkin saja ulah dari iblis Pharoh"
"Iblis Pharoh? Aku tidak pernah mendengar tentang hal itu"
"Kau tidak perlu tau, cukup amati saja daerah sekitar apakah ada hawa yang sama"
Nada pun mengedarkan pandangannya keseluruhan lahan kosong itu.
"Hemmm ... Kau benar. Di sebelah sana memancarkan hawa yang sama meskipun samar" kata Nada sambil menunjuk jalan kecil yang menuju ke hutan.
"Bagus sekali tuan. Kau benar tentang gadis ini. Aku saja sudah tidak bisa mendeteksi hawa iblis itu. Namun dengan cepat dia sudah menemukannya"
"Baguslah, ikuti hawa itu" Lio hendak pergi ke arah yang di tuju Nada, namun nada menghentikannya. "Ada apa?"
"Sebelum itu, apa kau mau mencuci tanganmu dulu? Itu sangat bau sekali. Aku tidak bisa dekat-dekat denganmu"
"Tidak. Kita harus cepat. Mungkin saja hawa itu akan hilang nanti"
"Lima menit saja. Jika kau pergi denganku dalam keadaan seperti itu, aku tidak sanggup. Uuukkk"
Nada dan Lio pun kembali ke markas.
"Sebenarnya apa yang mereka bicarakan?" kata Viro.
"Nada apa kau menemukan sesuatu?" tanya Tiara.
"Hemm ... Tapi sebaiknya kita kembali dulu. Uuukkk" ucap Nada lalu segera berlari ke arah markas.
Mereka bertiga pun menatap Lio dari atas ke bawah.
"Oh ayolah bung, kau harus membersihkan dirimu" kata Viro sambil memegang bahu Lio.
"Jauhkan tanganmu" ucap Lio dengan dingin, ia pun segera menyusul Nada.
"Brian, apa menurutmu dia bisa di percaya?"
"Siapa yang percaya padanya? Setelah malam ini, kita harus ganti markas. Dan jangan biarkan Nada membawa orang asing ke markas kita. Setelah ini aku harus bicara dengannya"
Setelah beberapa saat kemudian, mereka semua pun berkumpul di dalam markas sedangkan Lio masih berada di toilet untuk membersihkan diri.
"Kenapa harus pindah markas? Lagipula, dia tidak berniat jahat kepada kita. Dia hanya meminta bantuan ku untuk melihat hawa iblis saja" ucap Nada.
__ADS_1
"Kau, sudah aku bilang berapa kali. Dia mungkin saja mata-mata iblis" kata Brian yang penuh emosi.
"Hey, ayolah. Jangan emosi seperti itu"
"Tidak bisa, jika kau tidak mengusir dia. Jangan harap kau akan terus berada di D'hunter" ancamnya.
"Brian, kau tidak bisa berkata seperti itu. Kita masih membutuhkan Nada untuk melihat hawa iblis. Lagipula kita sudah seperti keluarga, bagaimana kita bisa terpisah?" kata Tiara.
"Hawa iblis apa? Kemampuannya hanya bualan"
Kata-kata Brian tiba-tiba menyakiti Nada. Ya, selama ini Nada adalah anggota yang paling tidak bisa berkelahi di antara yang lain. Kemampuan yang ia andalkan hanyalah penglihatannya, dia mampu melihat hawa iblis. Namun, setelah bergabung dengan D'hunter kemampuannya itu selalu di anggap remeh. Bahkan banyak manusia yang sudah di bunuh oleh D'hunter akibat penglihatannya tersebut.
"Hey, aku dengar ada masalah di markas. Ada apa?" kata seorang pemuda yang baru masuk.
"Kenan? Kau darimana saja?"
Bruakk
Suara pintu kamar mandi terbuka dengan keras.
"Ayo" kata Lio.
"Kau ... Kau bukanya pria yang ada di rumah bordil waktu itu?" kata Kenan sambil mendekatkan wajahnya ke arah Lio. "Benar, kau adalah pria di video itu. Wah, aku sudah melihat aksi heroik mu. Kau keren sekali"
"Menjauhlah dariku" kata Lio sambil mengalihkan pandangannya. "Aku tidak punya banyak waktu. Cepat tunjukkan jalannya"
Nada pun segera bangkit dari tempat duduknya.
"Kau ... Kau tidak mendengar ucapan ku tadi" kata Brian marah.
"Maaf ketua, setidaknya aku akan mencoba sekali saja untuk mempercayai Lio. Setelah itu, terserah ketua mau melakukan apa" ucap Nada dengan yakin.
"Setidaknya, aku percaya bahwa dia tidak akan membunuh manusia tanpa alasan. Setidaknya, dia percaya dengan apa yang aku lihat. Aku akan mencoba mempercayainya" batin Nada sambil menatap Lio.
Semua orang di sana pun terdiam. Nada adalah anggota termuda di sana. Dia selalu di anggap adik sendiri oleh mereka. Namun Brian terlalu keras kepadanya.
"Baiklah, aku juga akan membuktikannya. Apakah pria ini mata-mata atau memang ingin membantu kita. Ayo, aku akan ikut dengan kalian" kata Tiara.
"Kau ..."
"Aku juga ikut. Aku penasaran dengan apa yang terjadi" tambah Viro.
"Kalau Nada ikut aku juga ikut. Aku kan bagian melindungi Nada" lanjut Kenan.
"Kalian" gumam Brian geram.
"Terlalu membuang-buang waktu" ucap Lio sambil berlalu. "Jika kalian ikut, pastikan kalian bisa melindungi diri sendiri" tambahnya.
__ADS_1