
"Apa dia juga terinfeksi virus itu?" kata Kenan.
"Mungkin saja, tapi tubuhnya masih hangat"
"Apa yang terjadi?" kata ketua Ca yang baru saja masuk ke dalam.
"Mereka tiba-tiba mengamuk, sepertinya mereka juga terinfeksi"
"Apa? Apa kamu tidak bisa mengobatinya?" kata ketua Ca.
"Ini ... Ayah, bukankah ini tidak ada obatnya?" kata dokter Cleo.
"Tapi, paman-"
"Ada apa?" kata Lio yang juga masuk bersama Kevin di belakangnya.
Ia pun melihat ke arah Nada yang sedang mengamuk dan terikat di bawah.
"Kita harus segera membunuh mereka agar tidak menyebarkan virus ke anggota D'hunter lainnya" kata ketua Ca.
"Apa? Kakek, jangan bunuh mereka" pinta Kenan.
"Apa kamu tidak waras? Penyakit itu menyebar begitu saja. Jika tidak langsung membunuh mereka, mau markas D'hunter jadi sarang mayat hidup? Lagipula, ini tidak ada obatnya"
"Mayat hidup?" gumam Kevin yang terheran. "Benarkah di sini ada mayat hidup?" bisiknya lagi kepada Lio.
"Siapa bilang mereka tidak bisa di tolong" kata Lio menghampiri Nada dan memegang dagunya.
"Kamu bisa menyembuhkan mereka? Bukankah penyakit ini tidak bisa di sembuhkan?" tanya dokter Cleo.
"Bantu aku bawa mereka ke atas ranjang" kata Lio kepada Kenan. "Oh tapi jika masih takut tergigit, ikat saja mereka" lanjutnya sambil berdiri dari tempatnya.
Tak banyak bicara, Kenan pun segera membawa kedua temannya itu kembali ke atas ranjang dengan bantuan dokter Cleo.
Lio pun mengutak-atik perlengkapan medis di atas nakas.
"Apa tidak ada pisau yang lebih kecil dan runcing?" ucapnya.
"Untuk apa?"
"Ada" sela dokter Cleo. "Aku akan mengambilkannya" Dokter Cleo pun bergegas ke luar ruangan.
"Bagus, tolong ikatkan tangan mereka ke samping" lanjut Lio.
Kenan tak banyak berbicara dan hanya mengikuti perintah Lio. Ia ingin segera menyembuhkan kedua temannya itu.
"Sebenarnya apa yang sedang ingin dia lakukan?" batin ketua Ca.
"Ini" kata dokter Cleo terburu-buru sambil menyodorkan sebuah pisau bedah yang lebih kecil.
"Hemm, pas sekali"
__ADS_1
Lio pun menghampiri Nada dan memeriksa denyut nadinya.
"Seharusnya, ini akan berhasil"
"Apa maksudmu?" kata Kenan bingung.
Zrraasss
Lio pun menggores sedikit ujung jari Nada dan membuat banyak darah mengucur dari sana.
"AARRGGGHHH" jerit nada meronta-ronta.
Kenan merasa khawatir tapi dia tidak berani menghentikan Lio. Ia pun beralih ke tangan kanan Nada dan mencari-cari sesuatu di ujung jarinya. Satu goresan lagi di jari tangan kanan Nada membuat lantai di penuhi bercak darah.
Saat itu, nada tiba-tiba berhenti menjerit dan menutup matanya. Semua yang ada di sana pun terkejut.
"Tenang saja, dia tidak mati" kata Lio sambil menaruh dua jarinya di leher Nada.
"Benarkah? kata dokter Cleo bingung.
"Hem, dia hanya butuh darah tambahan"
"Lalu, tunggu apa lagi. Cepat selamatkan Viro juga"
Lio pun melemparkan pisau ke arah dokter Cleo dan terjatuh di lantai.
"Lakukan sendiri, bukankah kamu tadi melihat caranya?"
"Dokter harus cepat tanggap, jika kamu lelet pasien mu bisa saja langsung meninggal" kata Lio. "Gores sedikit otot yang mulai menghitam di bagian ujung jarinya. Kamu harus teliti melihatnya. Sekali gores harus mengenai sasaran. Lakukan itu juga di tangan yang lain. Hanya ada dua goresan. Lebih dari itu maka mereka yang akan mati" jelas Lio dan membuat mereka yang ada di sana tercengang.
"Apa? Jadi, jika aku salah menggores sedikit saja maka dia akan mati?"
Lio hanya mengedikkan bahunya.
"Apa kau gila? Daripada aku kenapa kau tidak turun tangan sendiri?" protes dokter Cleo.
"Kau dokter, lalu apa guna mu di sini?" kata Lio Lalau berbalik hendak meninggalkan mereka. "Oh ya satu lagi, jika urat di lehernya sudah berubah warna. Itu berarti dia sudah tertolong. Tapi jika urat di leher berubah warna tapi dia tidak bernafas, ya berarti mati" kata Lio dengan santainya dan pergi dari sana.
"Astaga, apa dia bercanda. Aku juga tau kalau orang tidak bernafas berarti mati. Tapi, bagaimana aku melakukan ini?" gumam dokter Cleo.
Ketua Ca dan Kevin pun juga pergi dari sana untuk menyusul Lio.
"Bagaimana ini"
"Paman, lakukan saja seperti yang di bilang Lio" kata Kenan.
"Aku tau, tapi aku ..." kata dokter Cleo menggantung.
"Salah sedikit saja dia bisa mati. Huh, ayolah. Ini tidak lebih menegangkan daripada operasi"
Dokter Cleo pun melakukan seperti yang di katakan Lio. Namun ia kesulitan mencari otot yang sudah berwarna menghitam yang di maksud.
__ADS_1
"Sial, apa dia sedang mengerjai aku?" gumamnya.
Sedangkan di tempat lain, ketua Ca mengikuti Lio dan Kevin.
"Jika mereka bisa sembuh, bukankah para warga Regoon juga bisa sembuh?" kata ketua Ca sambil mengikuti Lio.
Lio pun menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah ketua Ca dengan jengah.
"Apa kau sudah lama hidup dengan manusia dan menjadikan otakmu bodoh?" ucapnya. "Mereka dan mayat yang ada di luar sana itu jelas berbeda"
"Apa?"
"Apa kau tidak tahu. Mayat di luaran itu meminum darah manusia dan menjadikan mereka mayat hidup yang sudah tidak punya darah. Lalu apakah caraku akan berhasil kepada mereka jika mereka tidak punya darah? Kedua anak itu hanya terkena taring beracun dari kupu-kupu yang ada di dalam ruang bawah tanah waktu itu. Jadi situasi mereka berbeda dengan mayat di luar sana'' kata Lio yang sedikit kesal.
"Benar juga, yang di luar sana kan hanya tinggal bangkai yang bisa berjalan" gumam ketua Ca.
"Sudah tua, bodoh pula" kata Lio lalu pergi meninggalkannya.
"Hey, tapi kau masih harus membantuku membakar mereka semua"
"Aku tidak mau"
"Lio, Sebenarnya apa yang sedang terjadi? Mayat hidup? Apakah benar ada?" bisik Kevin.
"Hem, kalau mau lihat pergi ke perbatasan sana. Kalau mau coba sensasi menjadi mayat hidup, masuk saja ke kerumunan mereka" kata Lio dengan santainya.
"Sangat kejam. Kau menyuruhku menjadi mayat hidup? Kau tega?"
"Kenapa tidak"
Saat mereka sedang berjalan, tiba-tiba Lio merasakan aura iblis yang samar. Seperti yang ia cium sebelumnya di lapangan markas D'hunter.
"Apa sebenarnya salah satu dari mereka berada di sini? Tapi, baunya sangat samar" batinnya sambil waspada kepada sekitarnya.
"Ada apa Lio? Kenapa kau terlihat aneh?" kata Kevin.
"Tidak apa- Ughh" gumam Lio saat merasakan telinganya berdengung.
"Akh"
Lio pun terduduk sambil memegangi telinganya.
"Akkh, apa ini? Sakit sekali?"
"Lio? Kamu tidak apa-apa?" kata Kevin khawatir sambil duduk di samping Lio.
"Aakkkhh"
"Hihihi, ternyata tidak mudah untuk masuk ke alam bawah sadarmu ya. Oh manusia yang sangat lezat"
"Siapa itu? Siapa yang berbicara di telingaku?"
__ADS_1