Demigod

Demigod
Bab 26


__ADS_3

"Bagaimana bisa?" gumam Lio yang saat ini masih memeluk Nada.


Sesaat ia memandangi wajah Nada yang kini berada di dalam pelukannya.


"Kenapa dia mirip sekali dengannya?" gumamnya Lagi. "Kunang, pergi dan ikuti wanita tadi"


"Baik tuan" Kunang pun segera menghilang.


Tak terasa hari semakin gelap. Lio pun membawa Nada pulang ke rumahnya.


Ia membaringkan Nada di atas sofa kamarnya. Sejenak ia kembali memandangi wajah Nada.


"Heh? Apa aku tadi salah melihat? Jelas-jelas dia sama sekali tidak mirip dengannya" Lio hendak pergi, namun tiba-tiba Nada menggenggam tangannya.


"Hiks, tidak ... tolong selamatkan Jia ...Tolong .... Jia" gumam Nada yang kini masih memejamkan matanya. Terlihat air mata jatuh dari sudut matanya.


Lio pun melepaskan tangannya. Entah kenapa, Lio sedikit iba kepadanya. Ia pun pergi mengambil selimut untuk Nada.


Jam dinding menunjukan pukul dua dini hari. Nada pun terbangun.


"Ughhh" Ia membuka matanya dan mendapati Lio yang sudah tertidur di ranjangnya. "Dia ... Uggghhh" Nada merasa tubuhnya masih sakit akibat kejadian tadi.


Perlahan ia bangun dari tempatnya. Ia berjalan menghampiri Lio.


Nada pun mengingat-ingat kembali kejadian di atap gedung tadi. Ia masih ingat dengan jelas. Lio menangkap tubuhnya dan melayang di udara. Dia juga ingat jelas tatapan mata Lio. Matanya berubah menjadi biru dan mengeluarkan cahaya di sudut matanya.


"Dia ... Apakah yang dia katakan benar?" gumam Nada Lirih. "Dia ... Benar-benar dewa?" Nada hendak menyentuh wajah Lio, tiba-tiba Lio menangkap tangannya dan menjatuhkannya di atas ranjang.


Lio mengunci kedua tangan Nada. Matanya terbelalak ketika sudah sepenuhnya sadar dari tidurnya.


"Kau ..." ucap Lio yang kini berada di atas tubuh Nada.


"Ughhh ..." gumam Nada kesakitan. "Sakit Lio, lepaskan aku"


Mereka pun saling bertemu pandang sepersekian detik kemudian. Lio pun melepaskan tangannya.


"ugghh" Nada pun bangun. "Kau ini, kenapa tidur saja masih begitu waspada?"


"Ehem ... Itu hanya reflek dari tubuh ini. Lagi pula, apa yang sedang kau lakukan?"


"Aku hanya ingin melihatmu saja" kata Nada dengan santainya. "Apa kau benar-benar dewa?" lanjutnya sambil mendekatkan wajahnya ke Lio.


"Ck, manusia ini benar-benar mengganggu"


"Astaga ... Jangan-jangan benar? bahkan kita tidak mati jatuh dari gedung itu. Kau memang punya kekuatan super? Ya, ampun. Tadi aku melihat matamu yang berubah menjadi biru" celoteh Nada.


"Apa?" Lio segera menoleh ke arah nada.


Nada terdiam sejenak, wajahnya bingung karena Lio menatapnya. "Ma-mata biru" kata Nada tergagap. "Aku melihat matamu berubah menjadi biru"


"Apa kau melihatnya?"


Nada mengangguk pelan. "Ya, aku jelas-jelas melihat matamu berubah menjadi biru dan mengeluarkan cahaya. Ada apa? Apa aku salah lihat?"


Lio pun terdiam merenungkan sesuatu.


"Bahkan mata biruku juga bisa di lihat olehnya? Apa sebenarnya bukan manusia yang menyebabkan kekuatanku menghilang? Lalu apa?"


Ya, mata biru yang menyala adalah khas dari dewa Lodra. Mata yang mengeluarkan aura yang sangat kuat. Musuh yang berhadapan dengannya akan ketakutan saat melihatnya.


"Ada apa? Apa aku salah bicara?" gumam Nada Lirih.

__ADS_1


Lio pun berdiri dari tempatnya.


"Lio" kata Nada mengikuti.


"Ada apa?"


"Emmm ... itu ... Apa kau punya makanan? Aku ... Lapar" kata Nada dengan senyum manisnya.


"Kau ini ... Ikuti aku"


Lio pun membawa Nada ke dapurnya.


"Wahhh ... Aku baru tau kau memiliki dapur seluas ini" gumam Nada terkagum-kagum.


"Seharusnya aku tidak membawamu ke sini' gumam Lio. "Kau merepotkan saja"


Nada pun melihat ke sekiling. "Apa tidak ada pelayan yang memasak untukmu?"


"Tidak ada, aku sudah menyuruh mereka pulang" kata Lio sambil duduk di sudut meja. "Cari apa saja yang ingin kau makan. Setelah itu pergilah dari sini''


"Ck, kau ini" Nada pun berjalan ke arah kulkas Lio. Ia mulai membukanya dan mencari-cari sesuatu di sana. "Apa aku boleh menggunakan dapurmu sebentar?"


"Terserah kau saja. Tapi aku orangnya paling suka kebersihan"


"Ya, ya. Jangan khawatir. Aku akan membersihkannya nanti"


Setelah Nada mengambil beberapa sayuran dari kulkas, ia pun mulai memasak.


"Ini aneh, sebelumnya bukankah kekuatanku tidak bisa di gunakan saat ada manusia. Jadi apa artinya ini?" gumamnya. Ia pun berganti tempat duduk di kursi.


"Kau dengar, aku membawamu ke sini karena aku tidak tau rumahmu. kelihatannya juga kau sudah baikan, setelah itu pergilah dari sini" ucapnya yang kini memandang punggung Nada.


"Tidak mungkin"


"Ya, tidak mungkin. Tapi rasanya aku seperti sudah mengenalmu sejak lama. Sangat lama. Sampai-sampai aku merasa akrab sekali denganmu"


Lio hanya diam saja.


"Oh ya, ngomong-ngomong. Apa kau tadi membawaku dengan terbang ke sini?"


"Tidak"


"Benarkah? Lalu?"


"Aku membawamu seperti kamu membawaku ke sana tadi" kata Lio dengan santainya.


Nada pun mencoba mencerna kata-kata Lio.


"Maksudmu taksi?"


"Hem. Aku juga menggunakan kertas yang ada di dalam tasmu"


Nada membalikkan badannya menatap Lio tak percaya. "Apa? Kau menggunakan uangku?"


Lio mengedikkan bahunya.


"Astaga" Nada kembali menghadap ke bahan makannya. "Aku tidak percaya ini? Apa dia benar-benar dewa? Bisa-bisanya dia menggunakan uangku" gumamnya.


Lio pun juga penasaran. Ia pun mengangkat tangannya. Dan vas bunga yang ada di dekat Nada pun melayang.


"Benar-benar bisa"

__ADS_1


Nada mendelik tak percaya, ia menyaksikan hal tersebut dengan mata telanjangnya.


"Astaga ... Dia benar-benar seorang dewa" gumamnya lirih.


"Lalu kenapa saat aku tunjukan ke pelayan dan Kevin, tidak terjadi apapun?"


Lio masih tak percaya, ia terus mencari tau bagaimana kekuatannya bisa menghilang agar ia bisa cepat mengatasinya.


Beberapa menit kemudian, nada sudah siap dengan makanannya.


Ia pun menaruh dua mangkuk di atas meja. Terlihat dia sedang memasak mi instan yang sudah dia campurkan dengan beberapa sayuran dan telur.


"Apa ini?''


"Aku membuatkan untukmu juga. Tidak sopan jika aku makan sendiri di rumah orang. Tuan rumah harus makan juga" kata Nada yang kini duduk di hadapan Lio.


"Cih, aku tidak makan makanan seperti ini" ucap Lio sambil mendorong mangkuknya ke depan.


"Ini enak loh. Cobalah sedikit"


"Tidak mau"


"Ayolah"


"Aku tidak mau"


Nada pun mengambil satu sendok kuah dari mangkuk itu.


"Aku yakin kau akan ketagihan" lanjutnya sambil menyeruput kuah di sendok itu.


Lio hanya memperhatikan Nada yang kini tengah melahap makanannya di depannya.


Aroma dari masakan itu seperti memenuhi hidungnya. Asap dari mi panas, seperti melambai-lambai kepada Lio.


Sebenarnya ia tidak tergiur sama sekali. Namun perut manusianya itu seperti sedang meronta-ronta ingin di beri makan.


Kruuukkkkk


Bunyi perut Lio terdengar sampai telinga Nada.


"Pffftt. Lihat, perutmu saja sedang protes. Makanlah, jika mi nya mengembang itu tidak akan enak lagi"


"Tidak mau"


Kruuukkkkk


Nada pun memandang Lio lalu tersenyum kecil.


"Sudahlah, mengaku saja kalau kau lapar. Daripada perutmu sakit"


"Cih"


Akhirnya Lio mengambil sendok dan garpu. Pertama ia mencicipi kuahnya. Namun dia terkejut saat itu juga.


"Ada apa? Apakah tidak enak?" kata Nada yang kini melihat Lio terdiam saja.


"Lodra ... Aku buatkan kau sup ikan. Cobalah, aku yakin kau akan menyukainya''


"Yuzi" gumam Lio lirih.


"Apa?"

__ADS_1


__ADS_2