
Lio dan Viro menoleh ke atas dan ternyata ada satu mayat hidup yang mau menerkam mereka dari lantai atas.
Dor dor dor
Bruggghhh
Mayat itupun jatuh di hadapan Lio. Kenan berhasil menembaknya sebelum dia menjatuhkan dirinya ke arah Lio.
"Huhh" gumam Nada lega.
"Apa pistolmu tidak berguna? Kenapa malah berteriak?" kata Lio kepada Nada.
"Ya, maaf. Aku kan panik"
"Dasar" decih Lio.
"Apa mungkin karena makanan?" kata Viro yang kini sudah duduk melihat pecahan-pecahan piring di lantai.
Lio pun datang menghampiri dan mengendus-endus di sana.
"Sebenarnya apa yang mereka lakukan sih?" bisik Luna kepada Ardan.
"Entahlah"
"Memang ada iblis di sini?"
"Sepertinya bukan makanan" kata Nada sambil mendongakkan kepalanya ke atas.
Nada pun pergi ke lantai atas rumah makan tersebut.
"Hati-hati Nad" kata Kenan sambil melindunginya dari belakang.
"Apa kau menemukan sesuatu?" kata Lio.
"Ya, sepertinya aku melihat hawa iblis. Tapi samar-samar"
"Benarkah?" kata Lio lalu pergi mengikuti Nada, namun berhenti ketika melihat sesuatu jatuh di bahunya.
"Apa ini?" gumam Viro lalu mengusap sesuatu dari bahu Lio. "Seperti serbuk"
Viro mendekatkan jari telunjuknya ke hidung namun dengan cepat Lio menepis tangannya.
"Jangan di hirup bodoh"
"Memangnya apa itu tadi?" kata Viro bingung
"Mungkin saja ini yang membuat anak walikota itu berubah menjadi mayat hidup"
"Hiihh" gumam Viro bergidik ngeri sambil mengusap-usapkan jarinya.
Dor dor dor
Terdengar beberapa suara tembakan dari lantai atas. Lio menoleh ke atas dan ternyata semua orang sudah ada di sana. Lio dan Viro pun segera pergi menyusul mereka.
"Apa ada se- wow wow" kata Viro terkaget saat melihat pemandangan di hadapannya.
Nampak para anggota lainnya sedang bersiaga menodongkan pistol masing-masing ke arah segerombolan mayat hidup, jika di hitung ada berpuluh-puluh mayat di atas lantai itu.
"Astaga, apa-apaan ini? Ini seperti sedang berada di film Resident Evil" ucapnya lalu mengeluarkan pistol dari sakunya.
__ADS_1
"Apa kau menemukan sesuatu?" kata Lio kepada Nada yang sedang berjongkok di belakang teman-temannya.
"Ya, ada hawa iblis yang kuat dari kendi ini" ucap Nada sambil menunjuk kendi yang jatuh di lantai.
Dor dor dor
"Apa kalian bisa lebih cepat? Mereka sangat banyak, jika kita tidak bergerak mereka akan memakan kita" kata Ardan.
"Cepat ambil dan amati saja di mobil" teriak Luna.
"Betul juga" kata Nada hendak menyentuh kendi itu namun tangannya di tahan oleh Lio.
"Jangan"
Lio pun mengambil dan mengintip sesuatu yang ada di dalamnya.
"Ayo pergi" ucapnya setelah meletakkan kembali kendi itu.
"Bagus, aku sudah tidak tahan melihat mayat-mayat ini" kata Ardan yang masih berusaha menembaki mayat-mayat yang berjarak beberapa meter dari mereka.
"Kamu tidak membawanya?" tanya Nada.
"Tidak"
"Hiiih, mereka semakin dekat"
Mereka pun berlari turun dari lantai atas itu namun sayang, para mayat hidup itu juga sudah mengepung pintu masuk.
"HUAAA" teriak Viro kaget sekaligus jijik. "Bagaimana ini? Aku tidak mau mati"
"Masih tanya, lawan saja bodoh" kata Ardan sambil mengambil granat di sakunya.
"Aku tau bodoh. Kau bodoh jangan mengatai aku bodoh"
Blaaar blaaarrr
"Iihhh, kalau melempar granat lihat-lihat dong, kutil. Lihatlah, gedungnya mau roboh" kata Viro.
"Cerewet!"
Sedangkan Kenan dan Nada sedang sibuk menembaki bagian belakang mereka.
Para D'hunter berusaha keras menembak para mayat-mayat itu, namun Lio hanya diam di tengah-tengah mereka sambil menyilangkan kedua tangannya.
"Hiii, mereka semakin dekat. Seharusnya tadi aku membawa senapan" kata Viro bergidik ngeri.
"Sial, tidak ada jalan keluar" gumam Kenan sambil mengisi peluru.
Ya, mereka terjebak di anak tangga. Lantai atas dan lantai bawah sudah di kepung puluhan mayat hidup.
"Ah, sial. Belum apa-apa, aku tidak mau mati terlebih dulu" kata Ardan hendak terjun dari tangga.
"Kalau kau turun, kau langsung mati bodoh" kata Luna.
"Kalau kita tidak menerobos kita juga akan mati di sini, goblok" kata Ardan kesal. "Hey, kau! Kenapa diam saja, cepat keluarkan pistolmu dan bantu kami! Kau ini, enak saja bersembunyi di belakang" protes Ardan kepada Lio.
"Huh" desah Lio sambil menjentikkan kuku-kuku jarinya. "Apa kalian tidak bisa mengalahkan mereka? Jika tidak bisa maka mundurlah"
"Cih, mundur kemana? Dasar aneh. Tau bicara saja"
__ADS_1
Blaaarrr
Sebuah api berwarna biru tua menghantam para mayat-mayat itu di lantai bawah. Beberapa dari mereka langsung berubah menjadi abu. Para anggota D'hunter pun mendelik kaget.
"A-Apa itu tadi?" gumam Luna.
Mereka semua pun menoleh ke arah Lio yang sudah siap siaga dengan tangan mengarah ke depan. Ardan dan Luna terbengong melihat Lio.
"Apa? Lihat apa? Jika ingin hidup maka jangan menoleh ke arahku" ucapnya.
Mereka pun kembali melihat ke depan.
Blaaar blaaarrr
Satu lagi serangan dari api naga milik Lio menembus mayat-mayat hidup di depannya dan membuat jalan keluar dari sana.
"Cepat jalan. Jangan melihatku dan terus jalan ke depan" kata Lio sambil menepuk bahu Ardan.
Ardan, Luna dan Viro yang ada di depan pun langsung berjalan keluar. Sedangkan Nada dan Kenan berjalan mundur karena mayat yang ada di belakang mereka masih banyak.
"Kalian berdua yang ada di belakang. Kalian bisa melihatku, tapi aku tidak bisa menghabisi yang di belakang. Takutnya apiku akan merobohkan gedung ini" ucap Lio.
"Tidak masalah. Kami bisa mengatasinya sampai ke mobil" kata Kenan.
"Bagus"
"Iihh, lihatlah tangannya masih bergerak" teriak Viro sambil merangkul Ardan.
Dor
Ardan menembak potongan tangan yang di maksud Viro.
"Dasar penakut. Apa kau lupa cara mengunakan pistolmu? Kalau takut sana di rumah saja" cerca Ardan.
"Kenapa kau selalu memakiku? Kau punya dendam kesumat ya kepadaku?"
"Huaa"
Satu mayat hidup menerkam Viro dari belakang.
"AAKH, TOLONG AKU!"
Dor
Kenan menembak tepat di kepala dan membuat mayat itu tumbang.
"Apa kalian tidak bisa berhenti bertengkar? Lebih cepat jalannya. Yang di belakang sudah menyusul tuh"
"Astaga"
Mereka pun segera berlari ke arah mobil. Saat di depan mobil, Nada pun menolehkan kepalanya kesana kemari.
"Dimana Lio?" ucapnya.
"Lah? Bukannya tadi dia di belakang kita?" kata Luna.
Semua anggota D'hunter pun terlihat bingung melihat kesana kemari namun tidak menemukan Lio. Yang terlihat hanya mayat-mayat hidup yang berjalan semakin mendekati mereka.
"Sial! Dimana dia?" gumam Ardan.
__ADS_1
Saat mereka sedang bingung. Kaca mobil bagian depan pun turun.
"Kenapa masih malamun di sana? Kalian tidak mau masuk?" kata Lio di dalam mobil.