
Tujuh hari kemudian, Lio sudah lebih baik. Dokter Cleo pun sempat minta maaf dan menjelaskan kenapa dia menyerang Lio, Lio hanya acuh tak acuh mendengarkan penjelasannya. Karena merasa bersalah, dokter Cleo merawat Lio dengan sungguh-sungguh.
Kenan pun terlihat pulih dari luka bakar yang ia terima saat menyerang Lio.
"Nada, kamu mau keluar? Makan siang yuk?" ucap Kenan menghentikan Nada.
"Hem ... Nanti saja" kata Nada acuh lalu pergi meninggalkan Kenan.
Ya, sejak Nada tau Kenan berusaha membunuh Lio, ia berusaha menghindar darinya. Nada lebih sering menghabiskan waktunya untuk menemani Lio terapi dan berjalan-jalan ke taman rumah sakit.
Dia juga jarang berinteraksi dengan anggota D'hunter lainnya. Entah kenapa, Nada merasa sudah tidak senyaman dulu dekat dengan mereka.
"Lio ..." ucap Nada setelah masuk ke dalam ruang inap Lio dan mendapati dia duduk sambil menatap keluar jendela. "Kamu sedang apa?" lanjutnya sambil menaruh sekeranjang buah di atas meja.
"Ada yang aneh dengan dokter itu. Aku bisa mencium aroma dewa di tubuhnya" ucap Lio tanpa mengalihkan pandangannya.
"Maksud mu dokter Cleo?" kata Nada lalu menghampirinya.
"Hemmm ..."
"Bagaimana bisa? Memangnya hal seperti itu bisa terjadi?"
"Hemm ... Aku curiga dia adalah keturunan seorang dewa"
"Kenapa tidak kau tanyakan saja?"
"Aku rasa dia juga tidak tau. Ngomong-ngomong, sebenarnya kita ada di mana?" ucap Lio merasa asing dengan pemandangan di luar.
"Ya, kami membawamu ke markas besar D'hunter. Aku merasa lukamu sangat parah jadi Kenan menyarankan untuk membawamu ke sini"
Lio hanya terdiam, ia rasa tubuhnya sudah membaik sekarang. Ia memfokuskan seluruh kekuatannya dan menerbangkan sebuah pisau buah ke arah pintu yang ternyata Dokter Cleo sudah berdiri di sana.
Dokter Cleo menelan salivanya saat pisau itu melayang tepat di hadapan matanya.
"A-ada a-pa ini?" ucapnya sambil mengambil pisau melayang perlahan.
"Dokter? kau tidak apa-apa?"
"Aku tidak apa" lanjutnya lalu berjalan menghampiri Lio.
"Kenapa kau bisa melihat kekuatanku? Dan juga anak itu?" ucap Lio tanpa menoleh yang merujuk ke Kenan.
"Aku tidak mengerti maksudmu?" lanjut dokter Cleo sambil menaruh pisau itu di tempatnya.
"Dokter Cleo sebenarnya, kekuatan Lio tidak bisa di lihat oleh manusia. Jadi ..."
__ADS_1
"Apa?" gumam dokter Cleo dengan mulut menganga tak percaya. "Maksudmu aku bukan manusia? Nada juga bisa melihat mu, apa kita bukan manusia?" gumamnya tak percaya. "Mungkin ada masalah dengan itu. Jelas-jelas kami manusia"
"Iya juga ya" lanjut Nada. "Apa mungkin perkiraan ku salah?"
"Aku ingin bertemu dengan tetuamu" kata Lio sambil berbalik menatap Dokter Cleo.
"Tetua? Maksudmu ayah?" ucap dokter Cleo tak percaya.
"Hemm ... Lebih cepat lebih baik"
"Emmm ... Lio memangnya ada apa?" bisik Nada yang di balas lirikan mata oleh Lio.
"Baiklah, kalau begitu aku akan mengatur waktu pertemuan kalian" ucap Dokter Cleo. "Sebenarnya, aku kesini untuk memeriksa lukamu"
Dokter Cleo pun mengarahkan Lio agar berbaring di ranjangnya. Dalam benak dokter Cleo sebenarnya banyak sekali pertanyaan. Siapa orang ini? Seberapa kuat dirinya? Dewa apa yang sedang berada di hadapannya? Pertanyaan-pertanyaan seperti itu berputar-putar di kepalanya namun urung ia sampaikan, takut membuat Lio tersinggung dan marah seperti tempo hari.
"Apa kau masih merasa nyeri?" ucapnya.
"Tidak"
"Baik. Mari kita periksa dulu"
Dokter Cleo segera melakukan pemeriksaan kepada Lio. Seperti biasa, Nada menemaninya dan Lio juga terbiasa dengan itu. Baginya saat ini, Nada adalah manusia satu-satunya yang ia percaya sekarang. Setelah kepergian Kunang, Nada lah yang menggantikan dia. Berbicara mengenai iblis dan sesuatu yang ia butuhkan. Nada juga mengenalkan Lio berbagai adat manusia agar dia tidak terlalu kaku dengan keadaan di dunia fana.
Berbekal ingatan dari sang pemilik tubuh, akhirnya Lio mulai menyesuaikan dirinya. Namun untuk sekarang, dia belum bisa mempercayai seorang pun dari mereka kecuali Nada yang berhari-hari menemaninya.
"Terimakasih dokter" kata Nada sungkan.
"Baiklah, aku akan pergi dulu. Jangan lupa untuk meminum obat yang aku berikan terakhir kali" pesan Dokter Cleo sebelum pergi.
"Lio ..." kata Nada sambil duduk di kursi sebelah ranjang. "Sebenarnya apa yang terjadi?"
Lio pun membenarkan duduknya, ia pun beralih memandang Nada.
"Setelah siuman, aku mencium aroma yang berbeda darimu dan juga dia. Sebelumnya aku mencium rasa penasaran dari dia, tapi tidak ada niat jahat. Hanya saja, persamaan mu dan dia adalah ... Aku bisa mencium aura dewa dari tubuh kalian" jelas Lio.
"Maksudmu aku ..."
"Hemmm ... Jika memang ada hal seperti itu, aku harus mencari tau darimana sumber aura kalian. Jika memang ayah dokter itu adalah seorang dewa, aku harus bertanya apa yang sebenarnya terjadi, dan juga kenapa para utusan tidak bisa kembali ke Nirvana. Tapi kau ..." kata Lio menggantung. "Dari mana aura itu berasal? Aku tidak melihat aura itu dari orang tuamu. Mereka hanya manusia biasa"
"Hemm ... Entahlah, apa mungkin kau salah kira? Mana mungkin aku keturunan dewa"
"Mungkin saja"
Keesokan harinya, di siang hari. Lio dan para D'hunter di antar oleh dokter Lio ke markas utama anggota D'hunter.
__ADS_1
"Apa punggungmu baik-baik saja?" bisik Nada yang kini duduk di sebelah Lio di dalam mobil.
"Tentu saja, kau pikir aku anak kecil yang harus kau perhatikan setiap waktu?"
"Ck, aku kan hanya khawatir kepadamu?" gumam Nada.
Para anggota D'hunter yang satu mobil dengan mereka hanya memperhatikan saja sedari tadi.
Setelah mereka masuk ke sebuah gerbang yang sangat besar, di situ mata Lio melirik ke kiri dan ke kanan.
"Ada apa?" bisik Nada penasaran.
"Aku mencium pertahanan dewa di sini. Lebih tepatnya ... Dewa cahaya" ucap Lio lirih.
"Benarkah? Ini adalah markas D'hunter yang sesungguhnya. Apa benar di sini ada seorang dewa?" lanjut Nada.
"Kita akan tau saat kita masuk nanti"
Setelah melewati gerbang itu, mereka di hadapkan oleh pemandangan lapangan yang sangat luas. Dengan berbagai alat untuk melatih kekuatan.
Dan beberapa menit kemudian, mereka di antar ke sebuah gedung yang mirip dengan aula. Terdapat beberapa pohon yang besar di sekelilingnya membuat udara terasa sejuk.
Saat turun dari mobil, Lio menghirup udara dalam-dalam.
"Huh, seperti ini rasanya jika kekuatan ku kembali" gumamnya.
Para anggota D'hunter sudah berjalan duluan mengikuti dokter Cleo.
"Lio ... Apa kau tidak ingin bergabung dengan D'hunter?" kata Nada penasaran sambil berjalan di sampingnya.
"Tidak"
"Kenapa?"
"Aku tidak minat"
"Bukankah tujuanmu adalah memburu iblis dan kembali ke Nirvana? D'hunter adalah tempat yang pas" lanjut Nada.
"Aku tidak butuh itu"
Nada pun terdiam sejenak.
"Jika aku keluar dari D'hunter, apakah aku bisa mengikuti mu untuk memburu iblis?"
Lio pun menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah Nada.
__ADS_1
"Tergantung seberapa bergunanya dirimu"