Demigod

Demigod
Bab 38


__ADS_3

Nada dan Brian melawan para penjaga itu. Tidak mudah, mereka bahkan bertambah semakin banyak.


"Awas belakangmu!" kata Brian langsung meninju seseorang di belakang Nada. "Kau selalu saja lengah dengan bagian belakangmu"


"Maaf"


Dor


Nada menembak kaki salah satu penjaga yang ingin menyerangnya.


"Ingat jangan bunuh mereka jika tidak terpaksa" kata Brian mengingatkan.


"Aku tau"


Buagh buagh


"Sudah ku bilang untuk melatih kekuatan ototmu. Di saat seperti ini, pistol mu itu tidak berguna sama sekali"


"Kenapa kau cerewet sekali?" gerutu Nada.


Beberapa saat setelah mereka mengalahkan para pengawal itu, nampaknya mereka malah semakin banyak.


"Astaga. Sebenarnya seberapa banyak anak buah yang dia miliki di sini?" gumam Nada.


"Aku rasa sebaiknya kau pergi dulu ke dalam. Aku akan menghadang mereka"


"Tidak bisa. Mereka terlalu banyak. Aku tidak bisa meninggalkan mu sendirian"


"Dasar bodoh. Kau malah membuatku tidak fokus karena harus melindungimu" kata Brian.


"Cih, kau ini"


"Cepatlah"


Tanpa basa-basi lagi, Nada segera lari masuk ke dalam.


"Huh, gadis bodoh. Awas saja kalau kau tidak sampai di sana" gumam Brian sambil meregangkan tubuhnya. "Ayolah, sepertinya aku harus menghajar kalian semua agar tidak bisa berdiri lagi"


Perjalanan menuju ke aula milik Vernan lumayan jauh. Beberapa kali Nada bertemu dengan para pengawal. Ia bersembunyi agar tidak di ketahui oleh mereka.


"Astaga. Mereka seperti sekawanan semut. Sangat banyak. Tidak tau seperti apa keadaan Lio sekarang"


Segera Nada mengendap-endap. Sesampainya di aula, dia sangat terkejut. Di sana terlihat Lio sedang mati-matian melawan para anak buah Vernan.


Tanpa ragu, Nada menerobos masuk dan ikut melawan mereka.


Dor


Nada menembak seseorang yang hendak menusuk Lio dari belakang.


"Lio"


Lio menoleh dan mendapati Nada sudah berada di dalam kepungan para anak buah Vernan.


Vernan yang tadinya duduk menikmati pemandangan Lio di serbu anak buahnya. Kini dia berdiri sambil memandang Nada.


"Huh, astaga. Aku tidak menyangka para anak buahku tidak bisa menangkap mu. Benarkah kamu sehebat itu? Atau ada seseorang yang membantumu?" kata Vernan.


"Lio, kamu tidak apa-apa?" ucap Nada sambil memegangi Lio yang hampir terjatuh.


Lio tampak sangat lelah sekaligus kehabisan tenaga. Di sudut bibirnya terdapat darah segar di sana. Juga ada beberapa luka lebam di wajahnya.

__ADS_1


"Sial, tubuh manusia ini sangat lemah" gumamnya sambil menyeka sudut bibirnya.


"Apa yang harus kita lakukan agar kekuatanmu bisa kembali?"


"Mau bagaimana lagi. Kita harus bertarung mati-matian"


Lio segera meraih pistol yang ada di tangan Nada.


Dor dor dor


Dengan cepat Lio melumpuhkan beberapa anak buah Vernan.


"Kau bawa apa yang aku minta?"


"Ini" Nada pun menyerahkan belati perak yang di maksud Lio.


"Bagus. Dengarkan aku" kata Lio yang kini berdiri saling membelakangi dengan Nada. "Aku tau kau tidak bisa berkelahi. Tapi aku perlu bantuanmu untuk menghadang mereka, sampai aku berhasil mendekati Vernan"


"Hem, aku mengerti"


Dengan tidak sabaran, anak buah Vernan berlari ke arah mereka.


Dengan cepat Lio mengangkat pinggang Nada ke atas dan Nada pun mengayunkan tendangannya.


Duagh


Dor


Di saat yang bersamaan, Nada menembak kaki mereka.


"Bodoh. Kau harus membidik kepalanya" ucap Lio sesaat setelah menurunkan Nada.


"Kita tidak boleh membunuh begitu saja jika tidak terpaksa"


Duaghh


"Cih, sudah berada di medan perang kau masih mengasihani mereka? Bagaimanapun juga mereka tetap saja adalah musuh" gumam Lio yang masih sibuk melawan mereka.


"Astaga kau kejam sekali dewa perang"


"Huh, Luis. Sepertinya kita harus segera pergi dari sini" kata Vernan.


"Lalu bagaimana dengan gadis itu tuan?"


"Kita bisa menangkapnya lain kali. Kita harus pergi dulu. Aku tidak mau pria ini menangkap ku"


"Memangnya kenapa tuan? Apa yang perlu di khawatirkan dengan dia? Meskipun anak buah kita banyak yang kalah, tapi kita masih punya yang lain"


"Dasar bodoh" gumam Vernan hendak pergi dari sana.


Ternyata saat Vernan mengamati Lio sedari tadi. Dia sadar bahwa Lio kini tengah memegang sebuah belati perak.


"Manusia memang bodoh. Jika belati itu menggorok leherku, aku tidak akan bisa bersembunyi di tubuh manusia lagi. Aku tidak bisa meninggalkan tubuh ini. Sudah susah payah aku mendapatkannya setelah bangkit kembali. Dan aku tidak akan mengulangi kesalahan yang sama. Tapi ... Sebenarnya siapa pria ini? Kenapa dia tau kelemahan ku?" batin Vernan.


Selama ini, anak buah Vernan tidak pernah tau kalau dia menghindari belati perak. Yang mereka tau, Vernan ini sangat kejam dengan kebiasaan makan yang sangat aneh.


Namun demi kekuasaan dan kemewahan. Hal seperti ini biasa saja bagi para pengikut Vernan.


"Sial, dia mau kabur" gumam Lio melirik Vernan.


Saat Lio hendak pergi, tiba-tiba tangan anak buah yang sekarat memegangi kakinya.

__ADS_1


"Cih, sudah ku bilang bunuh saja mereka" gerutu Lio kesal sambil menendang kepala orang yang memegangi kakinya itu.


"AAKKKHHH" teriak Nada.


Dua orang di sana sedang menyeret Nada dengan menarik rambutnya.


"Astaga. Tidak ku sangka dia memang sangat membebaniku" gumam Lio.


Bukannya pergi menolong Nada, Lio malah pergi mengejar Vernan yang kini sedang berjalan hendak keluar dari sana.


Duaghh


"Aakkkhhh"


Nada terjatuh ke tanah.


"Kau tidak apa-apa?" kata Brian mengulurkan tangannya.


Brian tampak babak belur dan beberapa luka robek di lengannya.


"Yang lain akan segera ke sini untuk membantu kita''


Nada pun berdiri dari tempatnya.


"Di mana temanmu itu?"


"Dia sedang mengejar iblis itu"


"Kita harus segera menyusulnya" kata Brian hendak pergi namun di hentikan oleh Nada.


"Jangan. Sebaiknya kita tunggu saja. Jika kita mengikuti dia, aku takut kekuatannya tidak akan muncul dan itu malah membahayakan kita"


"Ck, kau ini bicara apa sih? Kekuatan apa?" decih Brian.


Terlihat beberapa anak buah Vernan masih berjalan mendekati mereka.


Brian pun mengangkat pistolnya ke arah mereka dengan malas.


"Huh, sudahlah. Kalian tidak lelah apa? Apa perlu aku bunuh sekalian?" ucapnya.


Mereka pun menggelengkan kepalanya lalu merebahkan diri ke tanah.


"Bagus. Tidur saja. Lagipula bos kalian sudah kabur"


Sedangkan tidak jauh dari mereka. Lio berhasil menghadang Vernan.


"Heh, mau lari kemana kau iblis jelek"


"Oh ho. Ternyata kau benar-benar mengetahui identitas ku?" kata Vernan tidak terkejut.


Di sana Luis hanya memandang bingung mereka berdua.


"Tenang saja tuan. Aku akan melindungimu" kata Luis sambil berdiri di depan Vernan.


"Manusia bodoh. Siapa juga yang butuh kau lindungi" kata Vernan. Ia pun menarik kerah Luis dan melemparkannya ke tembok batu di sampingnya begitu saja. Sekali lempar Luis sudah terkapar tak sadarkan diri.


"Ini sangat menyenangkan. Belum pernah aku melawan manusia yang kuat seperti mu. Ayolah, aku juga harus mengasah kemampuan ku"


Lio hanya menyeringai. Terlihat kobaran api berwarna biru sedang menyala-nyala di sekitar tubuhnya.


"Siapa bilang aku adalah manusia? Kau saja yang buta"

__ADS_1


Vernan terkejut melihat perubahan diri Lio.


"Kau ... Siapa kau sebenarnya?"


__ADS_2