Demigod

Demigod
Bab 62


__ADS_3

"Kamar mu ada di lantai atas. Apa aku perlu mengantarmu?" kata Kevin kepada Lio.


"Tidak perlu. Oh ya, kapan mobil akan selesai di perbaiki?"


"Mungkin besok siang"


"Oh"


"Hemm ... Tapi, ada yang sedikit menggangu pikiranku. Bagaimana bisa semua anak buah kita mengantuk di saat yang bersamaan? Mereka adalah prajurit elit kita, tidak mungkin seceroboh itu saat bertugas" jelas Kevin.


"Itu memang bukan karena keinginan mereka. Ada yang mengendalikan alam bawah sadar mereka"


"Maksudmu ada iblis yang mempengaruhi mereka?"


"Hemm ... Tujuannya kali ini adalah membunuhku. Karena sekarang kau sudah mulai terbuka akan keberadaan iblis, maka aku tidak akan menutupinya darimu. Dia sengaja mengarahkan kita untuk datang ke tempat ini" jelas Lio.


"Apa? Jadi ini sarangnya?"


"Bukan. Setidaknya dia bisa membunuh kita semua di sini dengan mudah" kata Lio dengan tatapan serius.


"Tidak, tidak. Kalau begitu kita harus segera pergi dari tempat ini" ucap Kevin terburu-buru.


"Pergi? Mana mungkin. Aku penasaran dengan apa yang akan dia lakukan nanti"


"Apa dia iblis yang mengerikan? Apa dia berwajah jelek?" kata Kevin penasaran.


"Tentu saja. Di dunia ini hanya aku mahkluk yang paling tampan" ucap Lio dengan penuh percaya diri.


Wajah Kevin pun berubah masam. "Hah, dasar narsis"


"Tidak perlu khawatir, paling tidak nanti kalian akan tertidur pulas"


"Apa tadi yang aku lihat di halaman villa ini juga iblis atau hantu? Dia terlihat mengerikan"


"Lalu apa kau pikir itu manusia? Di sini tidak ada manusia selain kita. Hah, sudahlah. Aku sedikit lapar, apa kau tidak punya makanan?" kata Lio.


"Aku akan menyuruh anak buah ku untuk membeli makanan''


"Hem, pergilah"


Kevin segera pergi dari sana dan Lio pergi ke lantai atas menuju ke kamarnya.


Saat hendak masuk ke dalam kamar, Lio merasa ada seseorang yang berjalan di sampingnya.


"Hihihihih"


"Haish, ayolah. Aku dewa perang mana takut dengan lelucon kalian" gumamnya lirih lalu membuka pintu kamar.


Setelah masuk ke sana, Lio mendapati tempat itu sangat kotor seperti sudah tidak di bersihkan selama bertahun-tahun.


"Sudah ku duga. Hah, sepertinya malam ini aku tidak akan tidur. Mana bisa aku tidur di tempat seperti ini"


Saat Lio sibuk melihat ke sekeliling, tiba-tiba ia merasa ada seseorang yang sedang bernafas tepat di punggungnya.


Lio segera membalikkan badannya dan melayangkan sebuah tinju ke sana. Namun tidak ada seorang pun di belakangnya.


"Dasar pengecut. Ayo keluarlah"


Tidak ada seorang pun yang menjawab Lio.


"Cih, dari kemarin bersembunyi terus. Kapan kamu akan melawanku secara terang-terangan?" gumam Lio sambil berkacak pinggang.

__ADS_1


"Iblis ini begitu banyak taktik. Apa yang sebenarnya dia inginkan dari alam bawah sadar ku? Bagaimana aku bisa membuat dia menampakkan wajah aslinya itu? Kesal sekali, aku tidak bisa memukul wajahnya"


Lio memejamkan matanya sejenak menghirup aroma di sekitarnya untuk melacak iblis.


"Ayo fokus Lodra, gunakan semua indra penciumanmu yang tajam"


Tak berselang lama, Lio mendapatkan sebuah bayangan hitam di balik tirai yang menutupi jendela kaca besar di kamar itu.


"Kena kau sekarang"


Lio segera bergegas pergi ke sana dan menyibakkan tirai itu namun lagi-lagi tidak ada orang di sana.


"Lagi-lagi dia bersembunyi. Baik, aku akan menunggumu untuk menampakkan dirimu"


Tak lama kemudian terdengar seseorang yang berjalan di belakang Lio.


Buuggghh


Tanpa banyak berpikir Lio melayangkan pukulannya.


"Akkkhh"


Kevin pun jatuh tersungkur ke lantai.


"Kau ini apa-apaan? Kenapa memukulku?" protes Kevin.


"Ah, aku kira kau iblis yang mengerjai ku" kata Lio sambil mengulurkan tangannya.


"Kau ini" Kevin pun berdiri dari tempatnya dan memegangi pipinya. "Ah, sial. Pukulan mu keras sekali" lanjut Kevin saat melihat sudut bibirnya berdarah.


"Tentu saja" kata Lio dengan bangganya.


"Apa? Bukannya malah minta maaf kau pikir aku memujimu?"


"Kau ini begitu percaya diri ya? Baiklah, aku harus membalas mu. Jika tidak, mati pun aku tak akan tenang" Kevin berjalan menghampiri Lio.


"Apa yang akan kau lakukan? Mau membalas memukul wajahku? Perlu kau ingat, jika ada yang memukul wajahku maka akan berakhir menyedihkan"


"Siapa bilang aku mau memukulmu?" kata Kevin sambil menyeringai.


"Kenapa wajahmu aneh? Aku sarankan kau jangan macam-macam"


"Tidak, hanya sekali macam saja. Lagipula aku tau kelemahan mu"


Lio berjalan mundur. "Kenapa bocah ini terlihat aneh?"


"Hiiaaa"


Kevin berlari ke arah Lio dan menaiki punggung Lio.


"Hey, hey. Apa yang kamu lakukan? Turun dari punggungku"


"Hahahaha. Mari, aku akan membuat perutmu kaku"


Kevin pun menggelitik perut Lio.


"Apa kau sudah gila?"


"Hahahahah. Aku tau kelemahan mu, jangan macam-macam denganku. Ini balasan dari memukul ku. Hahaha" kelakar Kevin terdengar puas.


Lio menggeliat kegelian, namun juga merasa sangat kesal.

__ADS_1


"Hahaha, hentikan. Hahaha, bocah tengik aku akan membunuhmu"


"Ayo lakukan kalau kau bisa?"


Bruuakkk


Mereka pun jatuh bersama di samping ranjang.


"Ah sialan. Apa kau mau mati ha?"


"Hahahah, bukankah aku menang? Hari ini aku mengalahkan mu. Aduh" gumamnya merasa sakit di kepala bagian belakang karena terhantuk pinggiran ranjang.


"Menang apanya, aku akan menguliti mu nanti"


Glaaakk


Lampu di villa itupun padam. Membuat seluruh ruangan menjadi gelap gulita.


"Apa yang terjadi? Apa ada pemadaman listrik?" kata Kevin sambil mencari-cari ponselnya.


"Sssssttt. Matikan ponselmu" bisik Lio sambil menutup mulut Kevin.


"Ada apa?" kata Kevin lirih.


"Dia sudah datang"


"Apa?" Kevin pun memegangi lengan Lio dengan erat.


"Apa yang kau lakukan bodoh? Lepaskan tanganku"


"Tidak mau. Kau pasti akan meninggalkan aku di sini. Aku takut" rengek Kevin.


"Cih, lihatlah dirimu. Apa kau pantas di sebut wakil pimpinan Layer? Lagak mu saja masih seperti bocah"


"Aku tidak peduli. Apapun yang terjadi kamu tidak boleh meninggalkan ku"


"Ck, kenapa aku merasa jijik mendengar ucapan mu itu?"


"Bagus, aku akan mengatakannya teru-"


"Sssttt"


Lio membekap mulut Kevin agar diam. Beberapa saat kemudian hawa di ruangan itu berubah menjadi dingin. Yang Kevin rasakan adalah suasana mencekam dan merinding di sekujur punggungnya. Sedangkan Lio merasakan hawa iblis yang kuat telah masuk ke dalam sana.


"Lio ..." bisik Kevin lirih sambil mendekatkan tubuhnya begitu erat ke arah Lio.


"Diam!"


"Hihihihi. Bukankah tadi kamu berada di sini? Kemana kamu pergi~ Oh, makanan ku. Apa kamu sedang bersembunyi~"


"A-apa itu? Kenapa suaranya menakutkan sekali? Dia iblis atau setan? Oh tuhan. Jangan biarkan aku melihatnya. Pergilah dari sini kamu setan. Hus hus" batin Kevin sambil memejamkan matanya rapat-rapat.


"Oh ayolah, ini menarik sekali. Aku suka permainan petak umpet ini. Saat ketemu nanti jangan mengompol ya~ Hihihi"


"Sial, jangan menemukanku. Mendengar suaramu saja aku ingin mengompol"


"Dasar iblis jelek, kau berencana melawanku di kegelapan? Tunggu saja, aku akan mematahkan lehermu" batin Lio.


Tiba-tiba ruangan itu pun berubah hening. Suara iblis itu juga sudah tak terdengar.


"Apa dia sudah pergi?" batin Kevin lalu membuka matanya.

__ADS_1


"Kejutan~"


"AAAKKKHHH. SETAAAAANNN"


__ADS_2