Demigod

Demigod
Bab 68


__ADS_3

"Apa maksudmu? Aku semakin tidak mengerti?" kata Dewa Lodra.


"Dia bukan hanya terlahir dari hubungan antara manusia dan iblis, tapi juga memiliki ketiga unsur ini. Karena ibu dari Zico sendiri adalah keturunan dewa"


"Hah, semakin rumit saja, kenapa banyak sekali dewa yang mempunyai hubungan dengan manusia? Lalu?"


"Terakhir kali dia datang ke neraka untuk membuat kesepakatan dengan raja neraka" kata Dewa Candra.


"Kesepakatan apa?"


"Mengambil kembai jiwa-jiwa yang sudah masuk kedalam neraka. Namun raja neraka tidak menyetujuinya"


"Hah, dia melakukan itu untuk membangkitkan iblis? Apa 'Dia' yang di maksud para iblis adalah Zico ini?" gumam Dewa Lodra.


"Ada apa?"


"Semua iblis yang aku bunuh, mereka berkata bahwa 'Dia' akan datang membangkitkan mereka. Aku curiga, 'Dia' yang di maksud mungkin saja si Zico yang kamu sebutkan tadi"


Dewa Candra pun mengangguk-angguk mengerti.


"Tapi tidak mudah untuk menangkapnya. Aku sudah berada di dunia ini selama beratus-ratus tahun, tapi aku bahkan belum pernah melihat wajahnya"


"Itu karena kau bodoh" kata Dewa Lodra dengan santainya. "Jika kau tidak bodoh, mungkin aku juga tidak akan turun ke dunia fana ini"


"Mulutmu pedas sekali. Hah sudahlah, pusing lama-lama berbicara denganmu"


Dewa Candra hendak pergi dari sana namun di hentikan oleh Dewa Lodra.


"Tunggu, kau bilang dia juga keturunan manusia setengah dewa? Lalu, apa manusia setengah dewa ini masih hidup?" kata Dewa Lodra.


"Tentu saja tidak. Dia sudah hidup ratusan ribu tahun, jelas saja ibunya yang hanya manusia keturunan dewa ini sudah mati. Ada apa?"


"Hemm ... Tadi aku pergi ke markas Layer, dan Lio telah menyimpan sebuah batu ketujuh iblis yang kau maksud. Dan di balik batu itu ada sebuah tulisan aksara dari Nirvana. Aku sedikit bingung, jika iblis yang membuatnya, bagaimana bisa dia tau tentang aksara Nirvana? Bukankah hanya dewa kalangan atas saja yang bisa membuat dan membaca aksara ini?" jelas Dewa Lodra.


"Apa? Apakah ini berarti ada Dewa yang bekerjasama dengan Zico?"


"Hem, ini hanya denganku saja. Tapi, jika iblis teratas sudah mati, dan batu juga jatuh ke tangan Lio. Itu berarti sudah ada yang mengalahkan salah satu ketujuh iblis teratas itu"


"Kau benar. Apakah Lio yang membunuhnya? Bagaimana bisa seorang manusia membunuh seorang iblis teratas? Itu mustahil"

__ADS_1


"Ya, sangat mustahil. Tapi mungkin saja, kita juga tidak tau seperti apa Lio ini sebenarnya. Yang lebih mengejutkan lagi, darimana dia tau kalau iblis tidak akan bisa masuk ke ruang kedap udara? Dan apa arti kotak kayu mahoni berukiran naga?"


"Kotak kayu mahoni berukiran naga? Sepertinya aku pernah dengar" gumam Dewa Candra"


"Benarkah? Apa artinya?" kata Dewa Lodra bersemangat.


"Lupa" ucap dewa Candra begitu saja.


Dewa Lodra pun berubah masam. "Hah, sudah ku duga. Orang tua seperti mu mana mungkin punya ingatan yang kuat"


"Kenapa kau selalu mengatai ku tua? Bahkan jika di lihat, kita masih seumuran" dalih Dewa Candra.


"Berati otakmu saja yang bermasalah jika melihat kita seumuran. Sudahlah, aku akan mulai menyelidiki ingatan si Lio ini. Kau mengganggu tidurku saja, pergi sama" ucap dewa Lodra sambil terbang menjauh.


"Astaga, kesombongannya memang tidak bisa terobati"


Saat dewa Lodra kembali, Lio membuka matanya dan mendapati hari sudah terang.


"Sial, pak tua itu membuang waktu tidurku. Haish"


Lio bangun dengan kesal, saat ia hendak berjalan ke arah kamar mandi. Terdengar pintu kamarnya di ketuk seseorang.


"Lio! Kau sudah bangun?" teriak Kevin dari luar kamarnya.


Lio berjalan malas ke arah pintu, dan membukanya.


"Ada apa? Pagi-pagi sudah berteriak. Apa kau mau mati?" kata Lio sambil menggaruk-garuk kepalanya.


"Ck, aku ke sini untuk mengantarkan sarapan. Minggir" kata Kevin sambil mendorong meja troli berisi makanan begitu saja masuk ke dalam.


Lio segera menyingkir dari sana. "Kau pasti datang karena ada maunya" decih Lio sambil mengikuti Kevin di belakangnya.


"Jangan salah artikan kebaikan ku, aku hanya mengantar sarapan" ucap Kevin sambil menghentikan meja troli di depan sofa.


Kevin pun duduk di sofa tersebut sambil menyilangkan kedua kakinya.


"Kau mau apa? Cepat katakan. Setelah itu pergilah dari sini" kata Lio dengan ketus.


"Sudah aku bilang, aku sedang tidak menginginkan apapun. Aku kesini hanya ingin memberitahumu, aku tidak bisa mengantarkan mu ke kota Sura. Ada urusan di markas yang harus aku selesaikan. Jadi, aku akan menyuruh anak buah kita mengantarkan mu ke sana" jelas Kevin.

__ADS_1


"Hah, jika saja aku tau tempatnya. Aku tidak akan membutuhkan kalian" gumam Lio sambil menyilangkan kedua tangannya.


"Jika Kunang masih ada, aku pasti tidak akan kesulitan mencari tempat itu. Huh, sekarang aku harus mengandalkan manusia-manusia ini"


"Kau ini, sejak kehilangan ingatan mu, kau jadi merepotkan" dengus Kevin. "Sudahlah, lebih baik juga jika kau pergi bersama anak buah kita. Jika terjadi sesuatu kepadamu, mereka bisa membantumu"


"Terserah kau saja, aku hanya butuh alamat tempat tinggal ayahmu itu" kata Lio lalu duduk di sofa.


"Bagaimana pun juga dia adalah ayahmu, bisa-bisa nya kamu berbicara seperti itu" gumam Kevin kesal.


"Aku tidak punya ayah" kata Lio dengan santainya.


"Mulutmu itu loh, astaga" kata Kevin frustasi. "Ya sudah, kapan kamu akan berangkat ke kota Sura?"


"Sekarang, juga bisa"


"Kau ini tidak sabaran sekali" lanjut Kevin sambil berdiri dari tempatnya. "Baiklah, nanti aku akan menyuruh mereka bersiap"


"Hem, apa mereka bisa di andalkan?" kata Lio sedikit tidak percaya.


"Tentu saja, mereka prajurit elit kita"


"Baguslah, jika terjadi sesuatu di sana maka setidaknya mereka bisa menjaga diri sendiri. Karena aku tidak mungkin menjaga nyawa mereka satu persatu"


"Jangan khawatir, aku sendiri sudah menguji mereka. Mereka tidak akan merepotkan mu"


"Hem, jika mereka malah membebani ku. Jangan salahkan aku jika mereka mati di sana" kata Lio dengan tenangnya.


"Kejam sekali. Aku mengerti, jangan khawatir. Sudahlah, aku pergi dulu. Jika kamu kebingungan, tanyakan saja kepada Willy" kata Kevin sambil berjalan keluar dari kamar Lio.


"Huh, dasar manusia" Lio pun mencondongkan badannya melihat isi dari troli yang di bawa Kevin tadi.


Terdapat beberapa tumis sayur dan buah segar. Lalu mata Lio pun tertuju ke sebuah daging panggang yang menggugah seleranya.


"Menjadi manusia cukup sulit juga, selain mudah lelah dan mengantuk juga mudah lapar" gumam Lio yang kini perutnya berbunyi lebih keras daripada mulutnya. "Astaga"


Dia pun mulai mengambil piring-piring tersebut dan menaruhnya di atas meja.


"Huh, kenapa wanginya sangat menggiurkan? Rasanya aku seperti tidak makan selama ribuan tahun"

__ADS_1


Lio pun mulai menyantap makanan yang ada di hadapannya tersebut.


"Euumm, lumayan juga"


__ADS_2