Demigod

Demigod
Bab 84


__ADS_3

Sedangkan di tempat lain, di markas para anggota D'Hunter. Nada nampak giat berlatih bersama anggota yang lainnya. Sejak kepergian Lio dari markas D'Hunter, ketua Ca melatih para anggotanya lagi dengan sangat keras. Beberapa hari terakhir ini, ketua Ca juga memberikan penyuluhan tentang iblis dan bagaimana harus mengatasi mereka.


Meskipun ketua Ca tidak bisa memungkiri kalau iblis bisa di bangkitkan kembali, tapi dia masih berpikir tidak semua iblis kalangan rendah juga akan di bangkitkan. Meskipun suatu saat nanti usahanya sia-sia, tapi dia masih gigih melatih para anggotanya.


"Meskipun aku tau hanya pedang kematian yang benar-benar bisa membunuh mereka. Tapi aku tidak percaya jika si Zico itu punya banyak waktu luang untuk membangkitkan mereka semua" gumam ketua Ca yang kini melihat para anggota D'Hunter latihan dari kejauhan.


"Tuan, nyonya Nindi sedang mencari anda" kata salah satu pelayannya.


"Baiklah, suruh dia menunggu di ruang kerja ku"


Ketua Ca pun pergi dari tempat itu. Sedangkan di lapangan, nampak para anggota tengah beristirahat sejenak.


"Hey, kutu rambut. Setelah ini mari adu kekuatan denganku" tantang Ardan kepada Viro yang kini datang menghampirinya.


"Jangan harap" gumam Viro tak mengindahkan lalu menenggak air mineralnya.


"Kenapa hah? Kau takut kalah dengan ku?" ucap Ardan yang kini duduk di samping Viro.


Viro tetap tak mengindahkannya dan masih menenggak minumannya.


"Hey, kau takut kalah kuat dengan ku kan?" lanjut Ardan sambil menyenggol lengan Viro membuat air minumnya jatuh berceceran ke bajunya.


"Uhuk, uhuk. Woy setan! Mau aku sembur pakai air wajahmu itu, hah?" kata Viro mulai kesal.


"Hehehe, santai dong bro, santai"


"Santai, santai matamu. Sudah lah, menyingkirlah dari hadapanku. Muak sekali aku melihat wajahmu"


"Kau belum menjawab tawaranku tadi-"


"Aku tidak mau, pergi saja sana"


"Hallah, cuma sebentar saja. Aku tidak akan membuatmu patah tulang''


"Percuma saja kau membujuknya. Viro hanya akan menghemat tenaganya untuk berpikir, bukan bertarung"


Kenan dan Nada kini menghampiri mereka dan ikut duduk di pinggir lapangan tersebut.


"Sudah lah pergi sana, kau mengganggu istirahat ku" kata Viro mendorong bahu Ardan dengan malas.


"Haish tidak asik sama sekali, aku kan masih mau mengganggumu''


"Mau aku colok matamu?" kata Viro sambil menunjuk mata Ardan dengan kedua jarinya.


"Astaga, lagi pula kita akan satu tim nanti. Masih banyak waktu untukku mengganggumu" kekeh Ardan.

__ADS_1


"Apa maksudmu?"


"Kau tidak tau? Minggu depan kita akan menjalankan misi bersama. Ketua sendiri yang mengatakannya"


"Benarkah? Kenapa aku tidak tau?'' gumamnya sambil melirik Kenan.


"Ya, kakek mengatakannya kemarin saat rapat" imbuh Kenan.


"Astaga, kalau aku tau sedari awal, aku tidak sudi satu tim dengan tai kucing ini. Kalau bukan Lio yang memilihnya waktu itu, aku mana mungkin satu tim dengannya" kata Viro kesal.


Mendengar nama Lio, Nada pun kembali mengingat dia.


Di mana dia sekarang? Apa dia baik-baik saja? Apa mereka bisa bertemu kembali? Pertanyaan-pertanyaan itu selalu memutar di kepalanya ketika Nada mengingat naman itu.


Saat ia bertemu Lio kelak, ia ingin bertanya kenapa dia pergi? Apa ada sesuatu yang sangat mendesak sehingga ia tidak memberitahunya?


"Bodoh sekali kamu Nada, memangnya siapa kamu bagi Lio? Mana mungkin dia akan menganggap mu penting" batinnya.


Ia sedikit merasakan sesak dalam dadanya. Pasalnya, ia sudah merasa sangat dekat dengan Lio. Seperti sudah lama bertemu dengannya, hingga ia sedikit tidak rela jika Lio tak menganggapnya.


Nada pun mengambil botol minumnya dengan kesal lalu membukanya. Saat ia menenggak air minum itu, tiba-tiba Nada mendapatkan sebuah bayangan di depan matanya. Bayangan yang begitu kabur sehingga ia hanya menganggapnya sebagai angin lalu.


Sedangkan di kejauhan, nampak para anggota perempuan dengan sengaja menendang sebuah botol air mineral ke arah Nada. Botol itu tepat mengenai kepala Nada.


Kenan, Viro dan Ardan segera melihat ke arah Nada.


''Ups maaf, aku tidak sengaja'' teriak para anggota perempuan itu.


"Astaga, mana mungkin tidak sengaja? Sampai mengenai kepala seperti itu" gumam Viro.


"Mereka lumayan bar bar" imbuh Ardan.


"Nad, kamu tidak apa-apa?"


Bruggh


Nada pingsan dan tergeletak di atas rumput.


"Lah?''


"Nad? Nada?" kata Kenan sambil menyibakkan rambut Nada. Darah mengalir dari pelipis Nada begitu saja.


"Di terluka" kata Viro.


"Astaga, baru kena botol saja sudah pingsan''

__ADS_1


"Kayak kamu tidak tau saja, cewek manja kan suka begitu. Suka sekali mencari perhatian orang"


Viro pun melirik ke arah botol yang terlempar tadi, ia pun segera berdiri dari tempatnya dengan kesal.


"Apa kalian bilang? Manja? Manja matamu lima? Kalian pikir botol berisi air jika terlempar ke kepala kalian maka tidak sakit hah?'' kata Viro kesal sambil berkacak pinggang.


Rasa persaudaraan di antara mereka berlima sangat erat, sehingga jika ada salah satu saja yang terluka, maka yang lain pun juga tidak akan tenang. Seperti sekarang yang di lakukan Viro, ia tidak suka jika temannya di tindas.


Apalagi, Nada tidak pernah mengganggu para anggota yang lain. Perangainya pun baik dan tidak pernah jahat kepada orang lain, tapi para perempuan itu selalu mencari masalah kepada Nada setiap kali Nada berada di markas.


Karena hal itu, Kenan mengajukan diri untuk membawa Nada pergi menjalankan misi yang jauh dari markas agar bisa melindunginya.


Dengan sifat Nada yang begitu baik dan tidak enakkan, maka dari itu dia selalu saja mudah di tindas.


"Astaga, hanya luka kecil saja pingsan? Jangan bilang saat mengerjakan misi, kalau bertemu iblis dia juga pingsan ya? Ck, ck. merepotkan. kalau begitu jangan menjadi D'Hunter. Lemah" lanjut mereka.


"Sial, mereka membuatku emosi" gumam Viro hendak menghampiri mereka namun di cegah oleh Ardan.


''Berhenti, biarkan saja mereka. Kau mau berkelahi dengan perempuan? Jaga image bro'' bisik Ardan.


''Cuih, awas saja. Lain kali bukan botol yang menimpuk kepala kalian, aku pastikan tong sampah akan bersarang si kepala kalian"


"Cih, sama-sama lemah mangkanya saling membela, ayo kita pergi''


Segerombolan perempuan itu pergi dari sana.


''Dasar babi!" kata Viro sambil mengacungkan jari tengahnya.


Sedangkan Kenan kini mengangkat tubuh Nada untuk membawanya pergi dari sana.


"Apa yang terjadi? Kenapa dengan Nada?" kata Tiara yang kini berjalan santai ke arah mereka bersama Brian.


Brugghh


Tiara pun membuang botolnya ke sembarang tempat dan segera berlari ke arah kenan.


"Astaga, dia terluka?"


"Hem, aku akan pergi ke klinik untuk mengobatinya" kata Kenan sambil berlalu meninggalkan mereka.


''Kenapa bisa sampai terluka seperti itu?" tanya Brian.


"Ini semua ulah nenek-nenek sihir itu, dengan sengaja mereka menendang botol minuman ke arah Nada" dengus Viro masih kesal.


"Apa? Mereka masih tidak berhenti mengganggu Nada? Hump, sepertinya aku harus turun tangan memberikan mereka pelajaran" seru Tiara.

__ADS_1


__ADS_2