Demigod

Demigod
Bab 81


__ADS_3

"Akkkhhh, apa kau gila?" teriak Lio saat Deon berusaha mengambil peluru dari lengannya.


"Kenapa kau cengeng sekali? Saat tertembak bahkan kau tidak menangis sama sekali''


"Akh, sial. Tangan mu bahkan lebih buruk dari peluru itu. Kau bisa membunuhku karena ini"


''Baguslah kalau kau tau bahwa tangan ku bisa membunuhmu"


Klik


Deon pun merobek perban dengan guntingnya.


"Sudah"


"Haish, dasar sialan" gumam Lio sambil mengibaskan lengannya.


"Sebelum Kevin kembali, aku sarankan kau berdiam saja di rumah. Jangan kemana-mana. Jika tidak, kau akan hilang lagi seperti beberapa bulan yang lalu"


"Kau pikir aku anak kecil? Waktu itu aku menghilang karena terluka"


"Ya, kau masih terluka. Di sini ...'' kata Deon sambil menunjuk-nunjuk kepalanya sendiri.


"Ak-"


Drrt drrtt


Dering ponsel di sakunya membuat Lio menghentikan kaimatnya. Lio merogoh saku celanannya dan memandangi ponsel tersebut.


"Bukankah ini benda yang di berikan Kevin saat aku hendak pergi ke kota Sura? Kenapa berbunyi?" gumam Lio.


"Kamu benar-benar tidak bisa memakainya kata Deon.


"Hem"


Deon pun melirik sekilas ke arah ponsel Lio dan tertera nama Kevin di sana.


"Itu panggilan dari Kevin, angkat sana. Siapa tau itu adalah hal penting"


"Sedari tadi aku sudah mengangkatnya. Kenapa benda ini tidak kunjung berhenti bersuara?" kata Lio dengan polosnya sambil membolak-balikkan ponsel itu.


"Dasar bodoh, aku kira kau amnesia hanya melupakan masa lalu mu saja. Tapi kau juga melupakan hal sekecil ini? Geser saja ke atas tanda yang warna hijau itu" Kata Deon sedikit jengkel.


Dengan ragu Lio melihat ke arah layar ponsel tersebut dan menggeser tombol warna hijaunya.


"Halo Kevin? Ada apa?" kata Lio.


Setelah sekian detik kemudian, tidak ada yang menjawab telepon tersebut. Hanya terdengar suara gemersak di seberang sana.


"Halo Kevin? Apa kau ada di sana?"


"Lio... zzzz"


"Aku tidak bisa mendengar suaramu dengan jelas. Kau bicara apa?"


"Hey, arahkan ponselnya ke telingamu. Jika kau berbicara seperti itu, tentu saja kau tidak bisa mendengarnya'' kata Deon yang kini sedang duduk menyilangkan kakinya di sebelah Lio.

__ADS_1


Lio mengarahkan ponsel tersebut ke telinganya, namun tidak ada suara apapun di sana.


"Halo Kevin? Apa kau masih di sana? Aku tidak bisa mendengar suaramu dengan jelas"


"Lio... Lio ..."


Swwoooss


Tiba-tiba Lio terkejut dan membanting ponsel itu ke sofa membuat Deon juga ikut terkejut karenanya.


"Ada apa? Kenapa wajahmu berubah menjadi seperti itu? Apa terjadi sesuatu kepada Kevin? Apa dia mengatakan sesuatu?"


"Ada apa dengannya? Kenapa tiba-tiba muncul aura iblis dari balik ponsel ini?" gumam Lio.


"Apa yang kau katakan?" ucap Deon tak mengerti.


"Di mana letak markas bagian barat itu? Aku akan menyusul Kevin ke sana" kata Lio terburu-buru.


"Memangnya ada apa? jelaskan dulu kepadaku"


"Sesuatu yang buruk mungkin saja terjadi kepada Kevin saat ini"


"Apa? Apa mungkin orang yang merampas senjata itu juga menyerang Kevin saat ini?


"Tidak, dia bukan manusia"


"Hah?"


"Dia adalah iblis" kata Lio singkat. "Tak ku sangka iblis jelek itu malah mengikuti Kevin ke sana. Apa dia sengaja memancingku agar aku pergi ke tempatnya? Tidak masalah, aku akan menghabisi mu kali ini" kata Lio.


"Apa? Iblis? Jangan bercanda Lio"


"Lebih tepatnya, tempat itu di negara Yoma. Butuh waktu 14 jam untuk sampai ke sana"


"Tidak bisa, jika menunggu sampai selama itu, aku rasa Kevin tidak akan selamat. Cari cara tercepat agar aku bisa sampai ke sana dalam waktu beberapa jam saja"


"Apa? mana mung- Akh, tunggu. Bukankah kau punya helikopter? Kita bisa pakai itu saja" kata Deon.


"Bagus"


Lio segera berjalan keluar dari kamarnya itu.


"Aku akan mengantarmu kesana"


"Aku ada dua anak buah yang bisa ku andalkan. Kau tidak perlu mengantarku" ucap Lio.


"Aku akan Pergi, mungkin bantuan ku bisa berguna di sana" kata Deon sambil mengikuti Lio di belakangnya.


"Baiklah"


"Tapi ..." kata Deon menghentikan langkah Lio.


"Apa lagi? Kita tidak punya cukup waktu"


Deon pun mengarahkan sebuah kaos dan jas kepada Lio. "Pakai dulu pakaian mu. Kau mau berangkat dengan telanjang dada begitu?"

__ADS_1


"Aish, aku lupa"


Mereka pun segera berangkat ke markas. Sesampainya di sana, Willy sudah menyambut mereka di depan pintu.


"Tuan besar, anda sedang terluka dan buru-buru datang ke markas, apa ada hal penting?"


"Siapkan helikopter sekarang juga, kita akan pergi ke markas bagian barat. Oh ya, jangan lupa panggil Yuto dan Baga untuk mengikutiku"


"Baik tuan"


Willy segera pergi dan melaksanakan perintah Lio tanpa banyak bertanya.


"Akhirnya, kewibawaan mu menjadi pemimpin Layer datang juga. Kau kembali seperti dulu sekarang" ucap Deon sambil menepuk bahu Lio.


"Akh, SETAN! Kau mau membunuhku?" teriak Lio yang lukanya terkena pukul Deon.


"Ups, maaf. Hehehe"


"Kau mau mati hah?"


"Astaga, hanya pukulan kecil saja malah ngamuk. Sudahlah, ayo. Tempat parkir helikopternya ada di atas. Jangan menunda-nunda waktu" kata Deon sambil mendorong Lio dari belakang.


Mereka pun pergi ke atap markas untuk menaiki helikopter. Setibanya di atap, Baga dan Yuto sudah bersiap menunggu Lio di sana.


"Tuan, bagaimana dengan tanganmu?" ucap Yuto.


"Aku baik-baik saja, jauh-jauh dariku. Tugasmu hanya mengawal ku bukan untuk menempel kepadaku" kata Lio lalau masuk ke dalam helikopter di ikuti Deon di belakangnya.


"Haish, padahal aku sangat mengidolakan nya. Tapi tidak apa-apa, bisa menjadi pengawal tuan pimpinan, ini sudah sangat bagus" gumam Yuto.


"Apa kau mau terus berdiri di situ? Tidak mau masuk?" ucap Baga.


Segera Baga dan Yuto masuk ke dalam helikopter tersebut dan mereka pun terbang ke tempat tujuan.


"Berapa lama kita akan sampai?"


"Paling lama dua jam"


"Itu sudah sangat lama, entah apa yang terjadi dengan anak itu selama dua jam ini?" gumam Lio.


"Kenapa aku jadi mengkhawatirkan anak itu? Tidak tidak, aku kesana hanya ingin memburu iblis jelek itu"


"Kau begitu khawatir. Apa terjadi sesuatu saat Kevin menelepon mu?" ucap Deon merasa penasaran.


"Kau tidak akan mengerti dan tidak akan percaya, jadi diam saja"


"Kau bisa menjelaskannya secara perlahan, aku akan mengerti"


"Aku tidak tau apa yang terjadi kepada bocah itu di sana, yang jelas, muncul aura iblis dari balik panggilan tadi" jelas Lio.


"Iblis?" gumam Baga dan Yuto serempak.


"Benarkah? Lalu, apa itu cukup menghawatirkan?"


"Apa kau tidak tau? Mungkin saja dia sudah di makan iblis sekarang" kata Lio dengan entengnya. "Iblis itu pernah bertemu Kevin sebelumnya, sepertinya dia memang berniat mengikuti Kevin"

__ADS_1


"Lalu apa yang harus kita lakukan? Dua jam? Bukankah ini cukup lama? Apa yang akan terjadi dengan tuan Kevin nanti? Dimana semua anak buah di markas barat?" kata Yuto.


"Kalau aku tidak salah, semua anak buah Kevin pasti sedang tertidur sekarang"


__ADS_2