
Beberapa minggu pun berlalu, Lio masih saja mencari-cari keberadaan para iblis yang bersembunyi. Namun sayangnya, ia tak mendapatkan apa-apa.
"Tuan, kau mau pergi mengikuti gadis itu lagi?"
"Hemmm. Aku masih membutuhkan matanya untuk mencari keberadaan para iblis. Jika di teruskan seperti ini. Aku akan tinggal semakin lama di dunia fana ini" ucapnya sambil membenarkan kancing kemejanya.
"Hem, tapi terakhir kali dia menolak mu. Apa kau punya cara lain agar bisa meyakinkannya?"
"Aku akan memaksanya bila perlu"
Seperti biasa, Lio pergi ke cafe tempat Nada bekerja.
"Hey kau. Kemana perginya gadis yang biasa melayani di sini?" tanya Lio kepada salah satu pelayan di cafe itu.
"Ah, maksudmu Nada? Dia baru saja pulang. Cafe ini mulai mengadakan pergantian pelayan"
Tanpa bicara lagi, Lio pun keluar dari cafe tersebut. Ia pun melangkahkan kakinya untuk pergi mencari Nada.
"Kau berencana pergi ke rumahnya?" kata Kunang.
"Ya"
"Tapi kau tidak tau dimana rumahnya"
"Kau kan bisa mencarinya"
"Tapi aku tidak sehebat itu. Lagipula, kita tidak memiliki benda atau apapun yang memiliki aromanya"
Lio pun menghentikan langkahnya ketika berada di persimpangan jalan.
"Lihatlah, aku bahkan tidak membutuhkan Dewi keberuntungan" kata Lio penuh percaya diri.
Ia melihat Nada yang baru saja menyeberang jalan dengan terburu-buru. Tanpa banyak basa-basi, Lio segera mengikuti Nada.
Terdengar decitan suara ban mobil dan klakson di mana-mana ketika Lio menyeberangi jalan.
"Hey kau, apa kau buta? Menyeberang seenaknya saja" caci salah satu pengemudi.
Lio tak mengindahkan dan tetap terus berjalan menyeberangi jalan meskipun banyak kendaraan yang lalu-lalang.
"Mereka semua terlihat marah" kata kunang.
"Ck, biarkan saja. Manusia memang mahkluk seperti itu"
Dengan langkah kaki yang cepat, Lio sudah berada di belakang Nada. Lio hendak memanggil Nada, namun ia menghentikan niatnya ketika melihat seseorang yang di ikuti oleh Nada.
"Dia sedang mengikuti pria itu tuan"
Langkah kaki Lio pun berubah menjadi pelan.
"Sepertinya dia melihat hawa iblis lagi"
"Hem, apa kau bisa mendeteksi emosi apa di dalam hawa iblis itu" kata Lio yang masih mengikuti Nada diam-diam.
"Tidak bisa, jarak kita tidak terlalu dekat"
Ketika melihat pria itu masuk ke dalam sebuah gang, Nada pun memelankan langkah kakinya. Ia pun bersembunyi di balik tembok sambil memantau pria tersebut.
"Kemana dia pergi?" gumam Nada sambil menyipitkan matanya karena cahaya di gang tersebut sangat minim.
"Kau melihatnya lagi?" kata Lio yang tiba-tiba wajahnya sudah berada di dekat telinga Nada.
"Aaakk-"
Dengan cepat Lio membungkam mulut Nada dengan tangannya.
"Ssstt, pelankan suaramu. Dia bisa mendengarnya" bisik Lio.
__ADS_1
Nada menelan salivanya lalu mengangguk ringan. Perlahan Lio menurunkan tangannya.
"Kau, apa yang kau lakukan di sini? Kau mengikuti ku?" bisik Nada.
Lio mengangguk ringan. "Ya, dan aku melihatmu mengikuti pria tadi"
"Sudah ku bilang, aku tidak mau membantumu. Jadi jangan ganggu aku" Nada hendak pergi namun di tahan oleh Lio.
"Jangan gegabah, lihat dia" kata Lio sambil mengarahkan pandangannya ke pria tadi.
Nada pun mengikuti arah pandang Lio. Terlihat pria tadi sedang berdiri di sudut gang tersebut. Samar-samar terlihat pria itu mengeluarkan sesuatu dari sakunya, terlihat sebuah botol kecil berisi minuman lalu menenggaknya.
"Itu ..." gumam Nada terkejut.
"Ada apa?"
"Hawa yang di pancarkan dalam benda itu, sama seperti benda yang aku temukan di tempat bordil itu"
"Benarkah? Kalau begitu ayo tangkap dia" kata Lio hendak pergi.
"Jangan, jangan bunuh dia" ucap Nada menghentikan. "Dia hanya manusia biasa, tolong jangan bunuh dia"
"Manusia bodoh, kau pikir aku mau membunuhnya?"
"Lalu, kau mau apa?"
"Aku mau menangkap dia dan mendeteksi iblis apa yang berada di belakangnya" jelas Lio.
"Jadi, kau ... Tidak akan membunuhnya?"
"Kalau dia tidak berbahaya, aku juga tidak akan membunuhnya. Lagipula, kau sendiri yang bilang. Botol itulah yang memancarkan hawa iblis kan? Jadi aku perlu menyelidiki dari mana dia berasal"
Nada pun tercengang sambil menatap Lio.
"Baru pertama kalinya ada seseorang yang mempercayai kata-kata ku dan mau mendengarkan ku. Selama ini D'hunter tidak pernah mau mendengarkan ku agar tidak membunuh manusia. Bagi mereka siapapun yang memancarkan hawa iblis, akan di bunuhnya. Aku rasa, mungkin aku bisa mempercayainya"
"Tuan, menurut radarku. Dia baru saja mendapatkan botol minuman tadi. Hawa di botol itu seperti yang di bilang gadis tadi. Memang memancarkan hawa iblis, tapi gadis itu jauh lebih peka daripada aku. Dia bisa melihatnya meskipun dengan jarak jauh"
"Itulah sebabnya aku membutuhkan gadis itu" kata Lio. Saat di ujung gang, tiba-tiba Lio menghentikan langkahnya. "Kemana perginya dia?"
"Sebentar" kata kunang. "Aneh, aku tidak merasakan dia di sekitar sini"
"Yang benar saja, baru beberapa detik 6ang lalu aku melihatnya" gumam Lio.
"Tuan, sebenarnya iblis apa yang yang memiliki kekuatan seperti ini?"
"Kau masih belum bisa memastikannya. Kalau hanya jurus menghilang, semua iblis juga bisa melakukannya"
"Hah, sepertinya kita kehilangan jejak lagi"
"Hey kau" kata Nada Terengah-engah. "Dimana pria tadi?"
"Dia sudah pergi" ucap Lio sambil berbalik dan meninggalkan Nada.
"Eh tunggu" ucap Nada menyusul. "Kau, tidak mungkin kan dia kabur? Kenapa kau tidak mengejarnya?"
"Dia sudah tidak ada di sekitar sini?"
"Apa? Secepat itu? Bagaimana kau tau? Kau bisa mendeteksinya?"
"Hem, yang jelas kau harus membantuku. Aku butuh penglihatan mu untuk mencari mereka" kata Lio tanpa menghentikan langkahnya.
"Hey, aku masih punya benda di rumah bordil itu. Apa kau bisa mendeteksinya dari benda itu?"
Lio pun menghentikan langkahnya.
"Kau, masih ada benda itu?"
__ADS_1
"Ya, aku akan membawamu ke sana sekarang jika kau bisa melacaknya hanya dengan benda itu"
"Bagus, cepat bawa aku ke sana"
Nada pun mengajak Lio untuk pergi ke markas D'hunter miliknya.
"Tuan, aku rasa dia setuju untuk membantumu"
"Baguslah"
"Kau, kenapa kau tidak menggunakan benda itu untuk mencari iblis?" tanya Lio.
"Aku tidak bisa, aku hanya bisa melihat hawa iblis. Aku tidak bisa melacaknya" ucap Nada lirih.
"Baguslah, aku memang hanya butuh itu"
"Apa yang kau katakan?"
Setelah beberapa menit berjalan, tibalah mereka di sebuah rumah sederhana dengan halaman luas. Terlihat beberapa pepohonan rindang yang mengelilinginya. Setelah berjalan memutar di samping rumah tersebut. Tibalah mereka di sebuah gudang. Dengan pintu besi dan beberapa tanaman yang menjlur dari atapnya.
"Ini adalah markas kami. D'hunter" kata Nada sambil membukakan pintu.
Lio pun mengikuti Nada masuk ke dalam gudang tersebut. Pandangannya melihat ke seluruh penjuru ruangan tersebut. Terlihat dari luar gudang tersebut sangat kecil dan pengap. Namun setelah masuk, ruangan tersebut sangat luas. Terlihat beberapa alat dan komputer terletak di sana.
"Kau tunggu di sini sebentar, aku akan pergi mengambilnya" kata Nada lalu pergi ke sebuah meja kecil di sudut ruangan.
Lio menunggu sambil melihat-lihat ke sekelilingnya. Terlihat beberapa foto terpajang di dinding lusuh tersebut. Mata Lio tertuju ke sebuah artikel yang menggantung di sana.
"D'hunter? Pembasmi iblis yang sudah berdiri sejak 60 tahun? Ck ck ck. Lalu apa yang mereka kerjakan? Bahkan sampai sekarang ke tujuh raja iblis itu masih hidup. Manusia-manusia ini pasti membuang-buang waktu saja" gumamnya.
"Lio ... Ini" kata Nada dari belakang tubuh Lio sambil memberikan kotak kecil.
"Darimana kau tau namaku?" ucap Lio dengan wajah dingin khasnya.
"Hem, aku tidak sengaja melihatmu bersama dokter Dean beberapa hari yang lalu" jelas Lio.
"Oh"
"Jadi, apa kau bisa melacaknya?"
Sebelum Lio menjawab, tiba-tiba datang seorang pria dan wanita masuk ke dalam gudang tersebut.
"Nada kau sudah pulang?" kata perempuan itu yang tak lain adalah Tiara.
"Ya, di tempatku sekarang di berlakukan shift. Jadi aku bisa pulang malam ini"
"Kau siapa?" kata laki-laki yang berada di sebelah Tiara dengan menatap Lio dengan tajam.
"Ah, dia Lio. Dia bisa membantu kita untuk melacak keberadaan iblis. Brian, kita mungkin bisa melacak keberadaan iblis yang sebenarnya dan membunuhnya"
"Nada, sejak kapan kau sebodoh ini? Kau bahkan membawa orang luar untuk masuk ke dalam markas kita. Apa kau tidak tau, dia mungkin saja mata-mata dari para iblis itu"
"Iblis tidak tertarik dengan manusia seperti kalian" ucap Lio dengan santainya tanpa melihat ke arah Brian.
"Kau-"
"Hanya dengan kekuatan kecil kalian tidak akan berpengaruh kepada iblis-iblis itu. Jadi untuk apa mereka memata-matai kalian?" kata Lio meremehkan.
"Kau-"
"GAWAT!!" teriak seseorang yang baru saja masuk.
"Ada apa Vir?" ucap Nada.
"Gawat ... Ada banyak mayat di luar"
"APA?"
__ADS_1