
"Tuan? Kenapa kau melamun di sini" kata Kunang yang terbang menghampiri Lio yang sedang duduk atap rumahnya.
Swoosss
Tiba-tiba Lio memunculkan api dari telapak tangannya. Kemudian ia mengarahkannya ke udara. Api itu pun berubah menjadi percikan-percikan api yang sangat indah seperti kembang api.
"Hemmm" gumamnya sambil membolak-balikkan telapak tangannya.
"Kau masih bingung kenapa kekuatan mu bisa menghilang?"
"Ya, sebelumnya aku dengan mudah mengalahkan iblis Pharoh itu. Namun saat aku ingin menyerang untuk terakhir kalinya. Kekuatanku menghilang. Aku masih tidak bisa memecahkan masalah ini" gumamnya sambil memejamkan mata menghirup udara malam di sana.
"Kau harus ingat-ingat lagi. Apa sebelumnya kau telah melakukan sesuatu hingga kekuatanmu tidak bisa keluar" kata Kunang yang kini bertengger di lengan Lio.
"Tidak"
"Hemmm ... Tidak ya. Berarti kau harus memperhatikan tempatnya"
Lio pun membuka matanya.
"Tempat?"
"Ya, bukankah saat itu kita mengira kalau kekuatanmu hanya bisa di gunakan saat malam hari? Namun ternyata salah. Dan kau kira tempat tertentu telah menyegel kekuatanmu. Apa kau merasa tempat sekitarmu memiliki kekuatan magis yang bisa menyegel kekuatanmu?"
"Hemmm ... Tidak juga. Jika ada hal seperti itu. Aku pasti sudah merasakannya"
"Lalu apa?" gumam Kunang ikut bingung.
Lio dan Kunang pun terdiam sejenak memikirkan hal yang membuatnya kehilangan kekuatan.
"AAHHHH. AKU TAU!!" teriak Kunang.
"Apa?''
"Keadaan" ucap Kunang singkat lalu beralih ke pundak Lio. "Coba kau ingat. Pertama kali kau kehilangan kekuatan mu adalah saat di tempat bordil itu. Keadaan di sana sangat ramai mungkin karena itu kekuatan mu tidak bisa di gunakan"
"Benarkah?"
"Ya, saat di rumah ini kekuatanmu bisa kembali. Ingatlah, di sini tidak seramai di tempat bordil itu" jelas kunang lagi dengan penuh semangat.
"Apa mungkin karena ramai?" gumam Lio.
"Hemm ... Aku yakin itu"
"Kalau memang karena keramaian. Kenapa di saat aku mengejar wanita iblis di parkiran itu kekuatanku tiba-tiba menghilang? Padahal di sana tidak terlalu ramai. Dan juga saat aku menyerang ular raksasa itu. Hanya ada para D'hunter. Dan juga tidak ramai manusia karena tempat itu sudah di tutup. Jadi tidak mungkin karena keramaian" Lio menghela nafas panjang lalu merebahkan punggungnya.
"Berarti ... Jawabannya adalah manusia"
"Manusia?"
"Mungkin saja kau tidak bisa mengeluarkannya karena ada manusia di dekatmu" kata kunang meyakinkan.
"Kau benar juga, kekuatan ku menghilang saat aku sudah berada dekat dengan manusia"
__ADS_1
"Benar kan? Saat di goa melawan iblis itupun juga tidak ada manusia. Dan kau bisa menyerangnya dengan mudah"
Lio pun terdiam sejenak untuk memikirkan kata-kata Kunang.
"Benar juga. Saat para D'hunter itu datang. Aku juga langsung kehilangan kekuatan ku saat hendak mengeluarkan serangan terakhir" gumamnya.
"Hahaha, benar kan dugaan ku. Jadi ini semua karena manusia" ucap Kunang dengan bangganya.
"Jika memang benar manusia. Maka mulai sekarang aku harus melakukan tugasku sendiri. Jika manusia-manusia itu ikut, aku pasti akan gagal lagi"
"Tapi kau masih butuh pengelihatan gadis itu"
"Pengelihatan apa? Aku rasa aku sudah tidak membutuhkannya. Daripada gadis itu, aku lebih membutuhkan anggotanya sebagai umpan"
"Kau benar-benar kejam. Bagaimana kalau mereka mati karena kau jadikan umpan?"
Lio pun mengedikkan bahunya. "Itu semua tergantung keberuntungan mereka?''
''Haish, dewa perang oh dewa perang. Kau selalu punya taktik licik"
Seorang pelayan pun mendekati Lio.
"Tuan, makan malam sudah siap"
Lio pun segera berdiri dan mendekati pelayan paruh baya itu.
"Lihat aku" ucap Lio.
Pelayan itupun mendongakkan kepalanya menatap Lio.
"Emm ... Itu ..." ucap pelayan itu ragu sekaligus bingung.
"Apa yang kau lakukan tuan?"
"Kau, lihatlah ini" kata Lio sambil menunjukkan telapak tangannya. Pelayan itu pun beralih melihat telapak tangan Lio dengan bingung. Terlihat Lio ingin mengeluarkan api dari tangannya.
Sepersekian detik kemudian. Tidak ada apapun yang terjadi.
"Hem, lihatlah sekali lagi" Lio beralih mengarahkan tangannya ke samping. "HIAAA" teriaknya namun lagi-lagi tidak ada spin yang keluar dari tangannya.
"Tuan ..." ucap pelayan itu khawatir.
"Ck, sudahlah. Kau pergilah dari sini" lanjutnya sambil mengibaskan tangannya.
Pelayan itupun segara undur diri.
"Ada apa dengan tuan? gumam pelayan itu.
"Kau mau menunjukkan kekuatan mu di hadapan manusia?"
"Mungkin kau benar. Kekuatanku tidak bisa di pakai saat dekat manusia"
"Benar juga. Jadi, sekarang kau akan memburu iblis itu sendiri?"
__ADS_1
"Kita lihat saja nanti"
Lio pun turun ke bawah untuk makan malam.
"Tuan, bagaimana. Apakah makanan manusia sangat enak? Aku lihat kau sangat menikmatinya saat makan. Apa aku juga boleh mencicipinya?" kata Kunang.
"Biasa saja. Karena tubuh manusia ini perlu energi, jadi aku perlu makan makanan manusia ini" kata Lio sambil berjalan menuruni tangga.
"Benarkah? Lebih enak mana dengan masakan bibi Foushi?"
"Ehem ... Tentu saja lebih enak anggur di kebunku"
"Ey Yo. Kau masih suka berbicara sendiri?" kata Kevin yang kini duduk di kursi meja makan.
"Dia lagi, dia lagi. Dia selalu datang mengacaukan rumahku" gumam Lio sambil berjalan mendekat. "Sedang apa kau di sini?" kata Lio dengan tatapan dingin.
"Apa lagi? Tentu saja menjenguk mu" ucapnya sambil melahap makanan di hadapannya.
"Dasar tikus. Kau mencuri makanan ku"
"Haish, aku hanya mencicipinya sedikit. Kenapa kau pelit sekali. Duduklah, ayo makan bersama" lanjut Kevin sambil menepuk kursi di sebelahnya.
"Cih, siapa sebenarnya pemilik rumah ini?" gerutunya sambil duduk.
"Apa kepala mu itu belum pulih? Apa perlu aku panggilkan Deon lagi?"
"Tidak perlu"
"Tapi di lihat dari reaksimu, kau masih kehilangan ingatanmu. Ck, aku masih terus bertanya-tanya. Apakah minuman gadis itu yang membuatmu kehilangan ingatan?" ucapnya tanpa berhenti mengunyah.
"Minuman?"
"Ah, kau lupa. Sebelum aku menemukanmu di kamar para iblis wanita itu. Kau meminum segelas wine dari gadis cantik dengan cuma-cuma. Lalu kau pergi ke kamar mandi. Bersamaan dengan itu, pak tua Jhonny juga tidak datang. Jadi aku mencarimu" jelas Kevin.
"Ini hanya kebetulan atau apa? Pasti dewa gila itu sudah merencanakannya. Tapi, apa sebenarnya Lio si pemilik tubuh ini sudah benar-benar mati?"
"Hah, sudahlah. Aku yakin si Deon pasti bisa menyembuhkan mu"
"Kau ..."
"Apa?"
"Aku adalah dewa agung. Apa kau percaya?"
Kevin terdiam menatap wajah kakaknya itu tak percaya. "Pffftt, lagi-lagi itu. Aku sudah hidup bertahun-tahun denganmu mana mungkin kau adalah dewa. Ck, kepalamu pasti masih sakit"
"Kalau begitu, lihat ini" Lio pun hendak mengangkat buah-buahan dengan kekuatan spiritualnya. Ia mengulurkan tangannya ke udara, namun lagi-lagi tidak ada yang terjadi.
"Pffftt. Apa? Apa yang kau lakukan? Kau berharap ada kekuatan di tanganmu dan bisa menerbangkan buah itu?" kata Kevin mengejek.
"Huh" Lio kembali mengarahkan tangannya ke udara hendak meledakkan api di atasnya, lagi-lagi tidak ada yang terjadi.
"Ck ck ck" Kevin menggelengkan kepalanya tak percaya, ia pun berdiri dari tempatnya. "Sudahlah, aku rasa penyakitmu semakin parah. Besok aku akan membawa Deon ke sini. Kau tenang saja, semua urusanmu akan aku urus selagi kau masih sakit" kata Kevin sambil menepuk bahu Lio lalu pergi meninggalkan rumah Lio.
__ADS_1
"Memang benar. Kekuatan ku tidak bisa di gunakan saat dekat dengan manusia" gumamnya sambil menatap telapak tangannya.