Demigod

Demigod
Bab 77


__ADS_3

"Ada apa ini? Kenapa lampunya tiba-tiba mati?"


Para pelanggan yang ada di sana pun bergumam dan panik.


"Kenapa tiba-tiba mati lampu?" gumam Yuto.


"Entahlah, nyalakan ponselmu. Tuan butuh penerangan" balas Baga.


"Ini aku juga sedang mencari ponselku"


Tak lama kemudian, Yuto pun menyalakan ponselnya dan mengarahkannya ke arah tempat duduk Lio namun tak mendapati atasanya tersebut.


"Lah, tuan kemana?" ucap Yuto sambil celingak-celinguk.


"Kemana perginya?"


Prangg


"AAKHH"


Jerit beberapa pelanggan wanita menyita perhatian mereka. Terdengar gegaduhan di ujung restoran tersebut. Seperti seseoarng tengah membalikan meja.


"Apa itu tuan? Ayo kita lihat ke sana"


Yuto dan Baga segera menghampiri sumber suara tersebut. Saat mereka hendak berdiri dari tempatnya tiba-tiba ada seseorang yang mendorong Yuto.


Bruaakk


Tiba-tiba Yuto terpental ke atas meja karena ada seseorang yang menabraknya dengan kencang.


"Ugh"


"Yuto?"


Baga segera berlari mencari Yuto. Di dalam sana begitu gelap, dan tidak bisa melihat dengan jelas.


"Sial, dia jatuh kemana?" gumam Baga.


"Apa yang sedang terjadi? Apa ada yang berkelahi?" kata salah satu pelanggan yang juga tak tau apa yang sedang terjadi.


"Aku tidak tau, tiba-tiba ada seseorang yang jatuh dia atas mejaku, lalu ada seseorang lagi yang membalikkan meja begitu saja" jelas seorang perempuan.


"Astaga, jadi mereka sedang berkelahi di tengah gegelapan? Sepertinya lampu tidak akan segera menyala, nyalakan semua ponsel kalian"


Semua pelanggan pun mengambil ponsel masing-masing lalu menyalakan senter dari sana.

__ADS_1


Karena penerangan ponsel mereka, Baga pun bisa menemukan Yuto yang kini tergeletak di samping jendela.


"Yuto, kau tidak apa-apa?" ucapnya sambil membantu Yuto untuk duduk.


"Tidak apa, hanya luka kecil dan tadi sedikit terkejut saja"


"Apa yang terjadi kepadamu?"


"Aku juga tidak tau, ada seseorang yang berlari kencang ke arahku dan mendorongku begitu saja, anehnya hanya sebuah dorongan tapi aku terpental jauh ke sini"


"Benarkah? Apa jangan-jangan itu adalah iblis?"


"Kau percaya iblis?"


"Tidak, tapi akhir-alhir ini banyak rumor yang mengatakan kalau banyak iblis yang berkeliaran di dunia"


"Astaga, kau juga percaya rumor? Aku kira kau tidak akan percaya begitu saja'' ejek Yuto.


"Jangan bercanda, kita harus segera mencari tuan Lio''


"Kau benar, kemana perginya?"


Tak lama kemudian lampu pun menyala dan seluruh restoran itu terlihat berantakan seperti kapal pecah.


"Astaga, berantakan sekali"


Yuto dan Baga mengedarkan pandangannya dan tidak menemukan Lio di dalam restoran tersebut.


"Tuan tidak ada di sini, apa dia pergi keluar?"


"Sepertinya, yang berkelahi tadi ada hubungannya dengan tuan Lio. Ayo kita segera mencarinya" kata Baga.


Sedangan di tempat lain, di sebuah gang pemukiman yang sempit. Lio tengah mengejar seseorang di sana.


"Dasar mahkluk jelek, kau harus mati karena menggangu makan malam ku" gumam Lio. ''Sayang sekali kau kabur, jika tidak di dalam restoran tadi aku pasti sudah membunuhmu"


"Kau mencariku?'' kata seseorang.


Lio pun mendongakkan kepalanya dan mendapati seseorang tengah berdiri di atap sebuah rumah.


Pria dengan setelan jas hitam itu nampak tak asing bagi Lio. Ia juga mengenakan kaca mata bulat yang membuat Lio langsung mengenalinya.


"Astaga, jaidi kau adalah salah satu dari segerombolan orang yang ada di jalan tadi? Kau bukan manusia? Pantas saja kedua anak buahku mencurigai kalau kau bukan manusia biasa. Astaga, kau belum gosok gigi? Pantas saja aku mencium bau darah dari tadi, rupanya kau baru saja memakan manusia?" kata Lio.


"Cih, jangan berlagak. Serahkan batu iblis itu kepadaku?" kata pria itu.

__ADS_1


"Oh, jadi kau mengejarku karena itu? Sudah aku bilang aku tidak mau menyerahkannya. Lalu kau mau apa?"


"Maka matilah saja"


Pria itu pun melompat turun dari atap rumah itu bagaikan kapas yang terbang di udara dan mendarat di depan Lio.


''Dari indra penciuman ku, sepertinya kau bukan iblis. Tapi, aku juga pernah mencium mahkluk seperti ini? Dimana ya? Ahh, di villa tadi. Jadi kau sama dengan pak tua itu" gumam Lio sambil menaruh jari telunjuknya di dagu. "Tunggu, jika kau mencari batu itu tapi kau bukan manusia berarti kau ..."


"Ya, aku adalah anak buah tuan Zulla. Sekarang serahkan batu itu, atau jika tidak aku akan mencabik-cabik mu"


"Hah sayang sekali, ancaman mu itu tidak berguna bagiku. Karena pak tua yang ada di villa itu juga mengancam ku sepertimu, namun dia tidak berhasil mencabik-cabik ku. Jadi aku sarankan kamu untuk mengganti ancaman mu itu" ucap Lio dengan santainya.


"Dasar manusia keparat, berani-beraninya kamu menertawakan aku" kata pria itu geram.


"Hohoho, bukankah kau juga manusia sebelumnya? Kenapa kau terlihat membenci manusia seperti itu?"


"Aku sudah lama mencari batu itu untuk membangkitkan Tuan Zulla kembali, karena itu aku bergabung bersama manusia-manusia busuk itu untuk mencarinya. Tapi tak ku sangka ternyata batu itu berada di tanganmu. Sekarang serahkan batu itu kepadaku atau kau akan menjadi makananku. cepat katakan di mana dia berada?"


Lio pun mendesah pelan sambil menyilangkan kedua tangannya.


"Hei manusia tanpa jantung, sudah aku bilang kau tidak akan mendapatkan batu itu. Jadi menyerahlah, karena aku tidak akan memberikan batu itu kepadamu''


"Kau sungguh keras kepala, maka terima saja kematian mu. Setelah itu aku akan menggunakan tubuhmu untuk mengambil batu itu dari tempat persembunyian mu"


Pria itu pun berlari melesat dengan cepat ke arah Leo.


"Wah lumayan cepat juga daripada si pak tua itu"


Pria itu menyerang Lio dengan membabi buta namun tak ada satupun serangannya yang berhasil melukai Lio sedikitpun.


"Oh ayolah, tadi aku sangat lapar dan kau menghalangi jalanku dan sekarang aku tidak bisa makan malam gara-gara kau menggangguku. Jadi tolong tunjukkan sedikit kekuatanmu, jika hanya melawan semut lemah sepertimu rasanya akan sangat mengecewakan karena aku sudah mengorbankan waktu untuk melayani mu" kata Lio meremehkan.


"Dasar manusia sombong, terima ini" Pria itu pun mengeluarkan kuku-kuku tajam dari jari-jarinya ke arah Lio hendak mencakar nya.


Namun dengan cepat Lio segera menghindar dan malah membanting pria itu ke tanah hingga membuat kepulan debu berterbangan di sana.


"Astaga manusia tanpa jantung karya iblis Zulla sangatlah payah. Bagaimana bisa hanya dalam satu hentakan saja sudah mati?" gumam Lio.


"Siapa bilang aku sudah mati?" kata pria itu yang kini tiba-tiba berada di belakang Lio.


Sebelum dia menoleh, pria itu pun menancapkan kuku-kukunya di punggung Lio membuat beberapa darah menetes dari sana.


Sreet


satu hentakan dari pria itu membuat Lio terlempar ke tanah.

__ADS_1


"TUAN!" teriak Baga dan Yuto bersamaan.


__ADS_2