
Bruugghhh
Tiara melompat ke balik pohon untuk menghindari serangan dari bulu-bulu ulat raksasa itu.
"Sial!! Kenapa bulu-bulu itu bisa mengejar kita?" gumamnya sambil mengisi peluru ke dalam pistolnya.
"Lihatlah. Sepertinya pistol kita tidak akan mempan kepada ulat itu" kata Brian.
''Kita harus cepat memikirkan cara lain. Aku rasa bulu-bulu ini bisa menjadi senjata yang mematikan untuk kita. Apa kau merasakannya? Dari tadi sepertinya energiku terkuras gara-gara tembakan dari ulat itu''
''Entahlah yang aku rasakan saat ini adalah panas di beberapa titik yang terkena bulu tadi. Asalkan tidak gatal saja, aku rasa aku masih bisa bertahan''
''Kalau begitu apa kelemahan dari seekor ulat?''
''Ah!! aku tahu'' seru Brian lalu mengambil granat dari dalam sakunya.
''Kau mau meledakkannya?''
''Ya tentu saja. Ini akan menjadi pertarungan yang sangat mudah'' ucapnya dengan penuh percaya diri.
''Gila!! Kau mau membuat semua bulu-bulu itu rontok dan terbang menyerbu kita?''
''Iya juga ya. Jika kita meledakkannya bulu-bulu itu itu pasti akan berterbangan kemana-mana''
''Daripada ulat itu lebih baik kita memikirkan cara untuk memusnahkan bulu-bulunya. Ulat itu tidak berbahaya, hanya bulunya saja yang yang bisa menancap ke tubuh kita seperti jarum''
Mereka berdua pun terdiam beberapa saat. Mereka memikirkan cara bagaimana menghilangkan bulu-bulu dari ulat raksasa itu.
''Bakar saja dia'' ucap mereka serentak.
''Bagus ayo kita mencari bahan bakarnya''
Brian pun pergi mengambil bahan bakar yang mereka perlukan di mobil. Dia meninggalkan Tiara disana untuk mengamati pergerakan ulat raksasa itu.
Saat dalam perjalanan menuju ke mobil. Brian melihat Nada dan Viro sedang dililit oleh cacing raksasa.
''Brian tolong kami. Kami tidak bisa menggerakkan tubuh kami'' teriak Viro.
''Ada apa dengan mereka? Hanya seekor cacing saja. Kenapa mereka tidak bisa mengatasinya?'' gumamnya sambil mengarahkan pistolnya ke kepala cacing tersebut.
Dor
Satu tembakan saja sudah bisa melukai cacing itu dan mengendurkan tubuhnya. Karena kulit cacing sangat tipis dan elastis. Itu sebabnya tembakan Brian mampu melukai tubuhnya.
''Tunggu apalagi? Kenapa kalian tidak segera lari dari sana?'' teriak Brian yang melihat Nada dan Viro malah tergeletak ditanah.
''Sialan!! Tubuh kami tidak bisa bergerak karena terkena lendir cacing itu'' jelas Viro.
''Kalian ini merepotkan saja''
Brian pun kembali menembaki cacing itu dan membuatnya sedikit menjauh dari Nada dan Viro. melihat keadaan itu Brian segera berlari ke arah mereka dan menarik kerah baju mereka untuk segera pergi dari area itu.
''Hey hey. Kau tidak perlu menyeret kami seperti ini'' protes Nada.
''Banyak bicara sekali kalian''
''Brian sialan!! Pelan-pelan menyeretnya. Panta*tku terkena batu. Bodoh!!'' kata Viro sambil meringis menahan rasa sakit.
''Kau yang bodoh!! Sudah ditolong malah mengataiku'' lanjut Brian yang kini masih menyeret mereka untuk pergi ke tempat aman.
Beberapa saat kemudian Brian pun berhenti di balik pohon besar.
''Apa yang terjadi?'' lanjutnya sambil terduduk di akar pohon itu.
''Cacing itu tiba-tiba muncul dari tanah dan melilit kita. Lendir di tubuhnya membuat kita beku dan tidak bisa bergerak seperti sekarang ini'' jelas Viro.
Ya, benar saja. Meskipun mereka sudah berada di tempat yang aman tapi Nada dan Viro masih kesulitan untuk menggerakkan tubuhnya. Lendir dari cacing itu menempel di tubuh mereka sangat lengket sehingga membuat mereka kesulitan bergerak.
''Eh bagaimana ini? Lalu apa yang harus kita lakukan?'' ucap Nada.
''Apa yang harus dilakukan? Tentu saja buka bajumu bodoh!!'' kata Brian.
''Apa kau bilang?''
''Bukankah lendir-lendir itu menempel di bajumu? Lebih baik kau buang saja bajumu'' jelas Brian lagi.
''Daripada itu. Bukankah lebih mudah jika kau membantu kami untuk menghilangkan lendir lendir ini?'' gumam Viro sambil berusaha mengibas-ngibaskan lendir agar tidak menempel lagi di tubuhnya.
''Kalau aku membantu kalian aku juga akan terkena lendir itu. Lebih baik kalian berusaha sendiri'' kata Brian lalu berdiri dari tempatnya. ''Aku mau ke mobil sebentar. Lebih baik kalian selesaikan masalah kalian dengan cepat, karena hewan-hewan ini ternyata tidak mudah untuk ditaklukkan'' lanjutnya lalu pergi meninggalkan Nada dan Viro.
''Hey hey, kau mau kemana? Tunggu kami!! Tolong kami!!'' teriak Nada.
''Sudahlah lebih baik kita memang melepaskan baju kita saja'' lanjut Viro.
__ADS_1
''Kau gila? Lalu kau menyuruhku telanjang begitu saja?'' protes Nada.
''Mau bagaimana lagi. Memangnya kau tidak memakai dalaman?''
''Sembarang saja mulutmu berbicara''
Saat Brian pergi mengambil bahan bakar, di saat yang sama Kenan sedang berjuang melawan para kecoa di tempat lain.
Duuggghhh
Suara punggung Kenan yang duduk di pagar pembatas antara taman dan jalan raya. Tubuhnya gemetar dan wajahnya terlihat pucat pasi seperti mayat hidup.
''Sialan!! Mereka tidak mudah dihadapi ternyata'' gumamnya sambil merobek kaos hitam yang ia pakai, lalu melingkarkan nya di perut untuk menutupi luka akibat dari serangan kecoa raksasa tadi. ''Tidak kusangka mereka bisa melakukan ini. Di kaki kecoa kecoa itu ternyata memiliki racun. Jika diteruskan seperti ini aku akan mati ditempat ini dan menjadi santapan mereka. Aku harus memikirkan sesuatu''
Kenan pun terdiam sejenak sambil menarik nafas dalam dalam. Tubuhnya terasa lemas dan seperti kehilangan semua energinya. Dia juga tidak bisa bergerak dengan leluasa. Beberapa waktu yang lalu dia berusaha untuk menyerang para kecoa kecoa itu, namun dia tidak berhasil melukai mereka. Kecoa raksasa itu jauh lebih gesit daripada dirinya sekarang ini. Apalagi dengan keadaan tubuhnya yang sudah teracuni oleh kecoa itu, dia tidak bisa leluasa bergerak untuk menyerang mereka. Lari pun dia sudah merasa tidak sanggup.
Saat Kenan sedang terdiam, tiba-tiba dua ekor kecoa raksasa sudah tepat berada di hadapannya.
''Sialan!! Kalian tidak memberiku waktu untuk istirahat. Kalian mau keroyokan?''
Kenan pun mengeluarkan senjata laras panjang nya lalu membidik mereka. Namun kecepatan lari mereka mampu menghindari tembakan Kenan.
''Sial, sudah tidak bisa kabur lagi'' gumamnya.
Kenan beranjak dari tempat duduknya dan berusaha melarikan diri dengan tubuh dan kakinya yang gemetaran akibat terkena racun. Kenan yang berlari dengan tertatih dapat disusul dengan cepat oleh kecoa kecoa itu. Seekor kecoa menjulurkan kakinya lalu menarik baju Kenan hingga ia terjatuh ke tanah.
Bruugghhh
''Ugghh, sialan''
Saat para kecoa itu hendak menyerang Kenan dengan kaki-kaki mereka tiba-tiba.
Buuummm
Sebuah bom asap dilemparkan ke arah kecoa kecoa itu. Seketika mereka langsung kabur dan meninggalkan Kenan.
''Kau tidak apa-apa?''
Kenan mendongakkan kepalanya dan melihat ke arah seseorang tersebut yang ternyata adalah Brian.
Brian menjulurkan tangannya untuk menolong Kenan.
''Ada apa dengan kalian hari ini? Kenapa kalian tidak berhasil membunuh salah satu dari?'' ucapnya sambil membopong Kenan.
"Kalau seperti ini caranya, kita memang tidak bisa berpencar"
Brian pun membawa Kenan ke tempat Nada dan Viro beristirahat tadi. Sesampainya mereka, Nada dan Viro pun tercengang melihat keadaan Kenan yang terlihat lemas dan pucat.
''Ken? Kau kenapa? Apa yang terjadi padamu?'' ucap Nada sambil berlari menghampiri Kenan.
Kenan yang tadinya lemas kini mendadak membelalakan matanya melihat Nada. Ia tercengang karena Nada kini hanya memakai singlet dan celana pendek.
''Kau? Di mana pakaianmu? Kenapa kau telanjang?'' katanya sambil berusaha duduk di balik pohon.
''Apakah buta? Aku masih menggunakan pakaian, aku tidak telanjang''
''Mereka berdua baru saja terkena serangan dari cacing tanah. Dan lendir dari cacing tanah itu membuat mereka tidak bisa bergerak'' jelas Brian.
''Itu sebabnya kami melepaskan pakaian'' lanjut Viro.
Saat mereka berbincang-bincang tiba-tiba Tiara mendatangi mereka dengan tubuh yang penuh dengan luka sayatan.
''Tiara!!'' Brian pun segera pergi dan membantu Tiara untuk berjalan.
''Apa yang terjadi denganmu?''
''Ulat itu sungguh mengerikan'' gumam Tiara dengan nafas tersengal-sengal.
Brian pun membantu Tiara untuk mendudukkannya di samping Kenan yang sudah terlihat pucat pasi.
''Tidak bisa seperti. Ini kita harus segera mencari cara untuk membunuh mereka dengan cepat. Lalu membawa Kenan dan Tiara untuk segera pergi dari sini. Aku takut racun dari hewan-hewan itu bisa membahayakan mereka''
Beberapa saat kemudian suasana menjadi hening dan tiba-tiba.
''Krik krik krik krik''
Suara itu terdengar jelas dan terdengar sangat keras. Mereka semua pun mendongak melihat ke arah atas pohon. Dan benar saja jangkrik raksasa sudah berada di atas mereka.
''Jangkrik? Bukannya dia sudah mati?'' kata Viro.
Tanpa pikir panjang, Nada, Bryan, dan juga Viro yang masih sanggup menggunakan senjata. Mereka pun langsung mengarahkan pistol ke arah jangkrik disebut.
Dor Dor Dor
__ADS_1
Mereka pun membabi-buta menembaki jangkrik tersebut. Bukannya mati, jangkrik tersebut malah turun di hadapan mereka.
Jangkrik itu terlihat diam saja mengamati mereka berlima. Namun beberapa saat kemudian datang lagi seekor jangkrik.
''Apa? Tidak mungkin, aku sudah membunuhnya tadi'' gumam Kenan.
Tak lama kemudian juga terlihat 3 ekor kecoa berlari menghampiri mereka.
''Sial. Ini namanya keroyokan''
Tanpa babibu lagi Brian juga Viro mengambil belati yang cukup panjang lalu pergi melawan mereka. Sedangkan Nada menembaki mereka dari tempat yang sama.
Brian dan Viro terlihat kewalahan menghadapi serangga-serangga itu.
"Tidak bisa seperti ini. Sepertinya kita harus kabur dari tempat ini'' kata Tiara.
Tiba-tiba tanah yang berada di samping Kenan dan Tiara bergerak, dan terlihat ekor dari cacing tanah keluar dari sana. Cacing itupun menggerak-gerakkan ekornya untuk mencari mereka.
''Dia lagi'' gumam Nada lalu menembaki cacing tersebut. Namun sayangnya kepala cacing tanah raksasa itu tepat berada di belakang Kenan dan Tiara.
''AWAS DI BELAKANG KALIAN!!'' teriak Viro.
Mereka pun menoleh ke belakang dan ternyata cacing itu sudah membuka lebar mulutnya siap menelan mereka bertiga.
''AAAHHHH''
Jleeppp
Sebuah belati panjang tepat mengenai leher cacing tersebut. Pelan namun pasti cacing itu pun menyusut menjadi kecil dan semakin kecil lalu masuk ke dalam tanah.
Nada dan yang lainnya pun menoleh kearah orang yang melemparkan belati tersebut.
''Lio?'' gumam Nada ketika melihat seseorang yang berada di atas pohon dengan menggunakan setelan warna biru tuanya.
Bruugghhh
Lio pun turun dari atas pohon tersebut dan berjalan menghampiri mereka.
''Kenapa para manusia ini bodoh sekali?'' gumamnya.
''Aaarrggghh'' teriak Viro kesakitan saat jangkrik itu menggigit salah satu kakinya.
''VIRO!!''
Tanpa melihat ke arah jangkrik itu, Lio yang berjalan menghampiri cacing tadi kini melemparkan sebuah belati kecil ke arah leher jangkrik itu. Saru senti saja lemparan Lio meleset, itu sudah mengenai perut Viro. Namun hasilnya belati itu menancap tepat di leher jangkrik raksasa itu. Sama seperti cacing tadi, jangkrik itu perlahan-lahan menyusut dan menjadi kecil seperti hewan pada umumnya.
''Lio kau di sini?'' kata Nada namun Lio tak mengindahkannya dan pergi mengambil belatinya yang masuk ke dalam tanah bersama cacing tadi.
''Bagaimana kunang? Bukankah aku tepat sasaran?'' ucapnya sambil merogoh tanah yang berlubang akibat cacing raksasa tadi.
"Tentu saja Tuan, lihatlah mereka menyusut"
''Lio ... Kau-''
''Sebaiknya kalian pergi dari sini. Jika tidak ingin menjadi santapan mereka''
''Kenapa kau sombong sekali dasar pria aneh'' ucap Brian yang sudah terduduk di tanah akibat terkena serangan dari kecoa.
Tanpa mereka sadari ketika Lio melemparkan belati kearah jangkrik raksasa tadi, para hewan serangga itu pun kabur entah kemana.
''Terserah kalian. Kalian boleh tetap tinggal di sini, tapi jangan salahkan aku jika pada serangga tadi memakan kalian hidup-hidup'' ucap Lio sambil berjalan pergi.
Para D'hunter itu sudah terluka parah yang tersisa hanya Nada. Tanpa basa-basi lagi Nada pun membawa mereka untuk kembali agar mendapatkan pengobatan.
''Tidak bisa!! Kita masih belum membunuh mereka semua'' protes Brian namun keadaannya pun tidak jauh berbeda dari Kenan yang sekarang sudah sekarat.
''Lio pasti bisa mengatasi mereka. Sebaiknya kita pergi dari sini dulu''
Nada pun membawa para anggota D'hunter satu persatu untuk pergi ke mobil.
Sedangkan di tempat lain Lio memburu para hewan-hewan itu yang sedang bersembunyi di taman.
''Saat kekuatanku kembali. Menemukan kalian adalah hal yang paling mudah'' gumamnya sambil mengangkat tangan kirinya lalu menerbangkan beberapa gelembung di udara.
Benar saja salah satu gelembung itu pun mendarat di atas pohon dan ternyata di sana bersembunyi seekor jangkrik raksasa.
''Ketemu''
Dengan mudah Lio menghabisi para hewan-hewan itu. Tidak, bukan menghabisi tapi lebih tepatnya membuat hewan-hewan itu kembali ke bentuk semula nya. Kali ini ia bisa menghabisi mereka semua dengan kekuatan spiritualnya. Sehingga tenaga yang ia keluarkan tidak terlalu besar seperti saat melawan ular raksasa yang berada di pusat perbelanjaan waktu itu.
Saat menghadapi ulat raksasa itu pun Lio juga tidak kerepotan. Saat bulu-bulu ulat itu menyerangnya Lio pun mengeluarkan kekuatannya dan membakar semua bulu-bulu itu di udara. Sehingga tidak sampai mengenai tubuhnya.
Meskipun berhasil membunuh mereka, seperti yang ia katakan sejak awal bersama kunang dia tidak mendapatkan petunjuk apapun dari iblis Pharoh. Kecuali sebuah benang yang sama seperti yang ia temukan sebelumnya.
__ADS_1