
Lio memejamkan kedua matanya dan memusatkan semua kekuatannya untuk melacak aura iblis itu.
Matanya terbelalak lebar saat melihat ke arah barat daya. Ia melihat sebuah gumpalan awan hitam dari kejauhan sana tengah menutupi sebuah kota kecil.
"Rupanya kau mau melahap semua orang yang ada di kota itu?" gumamnya. "Pantas saja aku mencium aura yang begitu kuat, ternyata kalian bisa mengeluarkan kekuatan sebesar itu ternyata" Lio pun menghirup udara di sekitarnya sampai memenuhi paru-parunya. "Mari kita lihat, apa kekuatan kalian sehebat iblis yang bisa melakukan teleportasi itu?"
Lio hendak terbang ke arah tempat itu, namun tubuhnya terasa amat berat sekarang. Ia pun memtuskan untuk turun dan menyuruh Kevin mengantarnya saja.
Sepersekian detik kemudian Lio pun mendaratkan kedua kakinya di atas tanah di samping mobil Kevin. Tanpa banyak membuang-buang waktu, Lio segera membuka pintu dan duduk di kursi belakang.
"Oh? Kau darimana saja?'' kata Deon.
Lio tak menjawab, tubuhnya terasa lemah dan butuh istirahat sekarang, Ia pun menyandarkan punggungnya dan memejamkan matanya.
"Ada sebuah kota di sini, tepatnya bagian barat daya wilayah ini. Apa kau bisa mengantarku ke sana?" ucap Lio tanpa membuka matanya.
"Barat daya? Ada banyak kota di bagian barat daya negara ini. Mana yang kau maksud?" kata Kevin tak mengerti.
"Aku tidak tau tepatnya di mana, aku tidak bisa melihat jelas karena cuaca sedang buruk. Tapi yang pasti kota itu tidak terlalu besar"
"Kita coba saja berjalan ke arah barat daya, jika tempat itu pas dengan apa yang di katakan Lio maka kita akan berhenti" imbuh Deon.
"Matamu lima, kau pikir perjalanan ke sana tidak jauh? Kau mau berjalan tanpa tujuan?"
"Huh, jika saja tubuh manusia tidak butuh istirahat maka aku akan terbang sendiri ke sana. Sayang sekali tubuh manusia ini tidak bisa di ajak kerja sama" gumam Lio lirih tanpa membuka matanya sedari tadi.
Kevin pun mulai tergerak hatinya mengingat kakaknya itu memang butuh istirahat.
"Baiklah, tapi aku akan menelepon Yuto untuk mengikuti kita. Hanya untuk berjaga-jaga kalau ada sesuatu di jalan. Aku kan juga capek jika harus menyetir terlalu jauh" kata Kevin sambil menggeser layar teleponnya.
"Hem, cepatlah. Kita harus segera sampai di kota itu malam ini. Jika tidak, seluruh warga kota itu akan habis di makan iblis" kata Lio dengan santainya.
"Apa?" sentak Deon dan Kevin bersamaan.
"Satu kota di makan iblis?" lanjut Deon.
"Astaga, kalau begitu kita harus cepat. Aku akan menghubungi lebih banyak anak buah lagi"
"Apa kau yakin?" kata Deon yang masih tak percaya.
Lio pun merebahkan tubuhnya terlentang di kursi penumpang itu.
__ADS_1
"Aku ingin beristirahat, jika sudah sampai aku pasti akan terbangun karena mencium aura iblis itu"
"Kau mau tidur?"
"Biarkan saja, dia harus menghemat tenaganya'' imbuh Kevin lalu menjalankan mobilnya.
"Sepertinya kau mulai mendukung kakakmu ini?"
"Heh, jika dia tidak istirahat siapa yang akan melindungi kita? Lebih baik kau berdoa saja kalau kita tidak akan melihat iblis iblis itu"
"Aku malah penasaran dengan iblis yang kalian bicarakan itu"
"a amit. aku tidak mau bertemu iblis lagi" kata Kevin.
"Lalu kenapa kau mau mengantarnya ke sana?"
"Kalau bukan aku, kau mau mengantarnya sendiri ke sana? Dasar bodoh"
"Ck, kalian yang aneh. Bukankah Lio bilang kalau bertemu iblis sebaiknya kita lari? Kenapa sekarang malah mau menemuinya? Cari mati?"
"Iya juga ya. Tau ah, yang penting antar saja dia ke sana"
Sedangkan di waktu yang sama, Nada dan para teman satu timnya memasuki sebuah penginapan sederhana yang di tunjuk oleh salah satu warga di sana.
"Jangan cerewet, sudah bagus ada tempat untuk kita menginap malam ini"
Mereka bergegas membawa barang-barangnya masuk ke dalam penginapan itu. Penginapan sederhana itu hanya ada satu pelayan di depan yang menyambut mereka. Wanita umur sekitar 30 an itu tersenyum ramah ke arah mereka dan menghampiri mereka.
"Selamat datang tuan dan nyonya"
"Kaminmau pesan dua kamar-"
"Apa? Tidak! Satu saja" kata Viro memotong kalimat Kenan.
"Hah? Kau gila? Kita mau tidur satu kamar?" balas Luna.
"Ini untuk meminimalisir kalau ada bahaya yang mengancam kita" lanjut Viro.
"Iya juga, kita bisa bergantian berjaga malam ini, lebih mudah jika kita satu kamar" tambah Ardan.
"Ah terserah kalian saja"
__ADS_1
"Nad, kamu tidak keberatan kan?" kata Kenan sambil menoleh ke belakang namun Nada tidak ada di belakangnya. "Nada?"
Mereka semua mengedarkan pandangannya dan kini menemukan Nada tengah berdiri di depan jendela sedang menatap keluar. Di luar sana angin begitu kencang, dan sebentar lagi akan turun hujan deras.
"Jangan pedulikan dia, cepat pesan kamarnya" lanjut Luna.
"Baiklah kita pesan satu kamar"
"Kebetulan sekali, ada satu kamar khusu yang muat untuk beberapa orang, mari saya akan mengantar kalian semua ke sana" kata pelayan wanita itu.
"Kalian duluan saja, aku akan menyusul bersama Nada" ucap Kenan lalu pergi menghampiri Nada.
"Jangan sampai salah kamar ya" seru Viro.
Nada menatap keluar jendela dengan tatapan menelisik. Ada sesuatu yang membuatnya aneh saat pertama kali datang ke kota itu. Ia tak bisa mencium hawa iblis di sana, tapi awan hitam dan badai ayang akan datang sepertinya akan benar-benar membawa bencana bagi kota itu.
"Nada, sedang apa kamu di sini? Badai akan segera datang, ayo kita masuk" kata Kenan.
"Sejak awal aku merasa tidak tenang, tapi aku tidak tau kenapa"
"Jangan di pikirkan, kita akan aman di sini. Besok pagi kita akan segera melanjutkan perjalanan. Jadi ayo istirahat"
BLAAARR
"Ahh"
Gemuruh menggelar membuat Nada terperanjat dan tak sengaja memeluk Kenan. Tak berselang lama, hujan turun dengan sangat deras disertai angin yang begitu kencang.
"Kamu takut?" ucap Kenan.
"Tidak, aku hanya terkejut"
Nada mendongakkan kepalanya membuat kedua pandangan mata mereka bertemu. Nada menatap bola mata kenan lekat lekat. Ia merasa sangat dekat dengan Kenan. Tentu saja, selama ini mereka selalu bersama. Namun bukan itu yang ia rasakan, perasaan sudah kenal sejak lama dan perasaan pilu yang bercampur sedih meluap begitu saja saat menatap mata Kenan. Tak terasa, air mata sudah memenuhi pelupuk mata Nada.
"Ada apa denganmu? Kamu menangis?" kata Kenan bingung.
Nada segera mengalihkan pandangannya dan mengusap matanya.
"Tidak, hanya saja ada debu yang masuk ke dalam mataku"
Tanpa berkata, Kenan pun menarik wajah Nada untuk mendekat ke wajahnya dan segera meniup mata Nada. Nada terdiam sejenak jantungnya seolah-olah berhenti berdetak.
__ADS_1
"Ada apa denganku? Kenapa aku merasa sangat familiar dengan momen ini?"