
"Kenapa kau menatapku seperti itu?" kata Nada.
Lio pun menepis tangan Nada dengan keras. "Kau yang kenapa. Tiba-tiba saja menyentuh tanganku" gumam Lio.
"Aku-''
Drrrt drrrt drrrt
Tiba-tiba ponsel Nada berbunyi.
"Halo?" ucap Nada setelah mengangkat teleponnya.
"Ck" Lio terlihat mengibas-ngibaskan tangannya. "Kenapa para manusia ini aneh sekali" gumamnya.
"APA!!"
Lio pun melihat ke arah Nada yang kini terlihat kebingungan.
"Baiklah, aku akan segera ke sana" ucap Nada lalu menyimpan ponselnya kembali. "Lio, aku ada urusan sebentar. Jika kau butuh aku, kau bisa mencariku di markas"
Nada pun segera berlari meninggalkan Lio.
"Ada apa dengannya?"
Nada pun segera bergegas ke suatu tempat. Beberapa jam perjalanan akhirnya ia tiba di sebuah bar di gang sepi di pinggiran kota.
Hari sudah semakin gelap. Tempat itu bahkan terlihat tidak ada orang yang berkeliaran di sana.
Nada pun melangkahkan kakinya masuk ke dalam bar. Di sana ia sudah di sambut segerombolan orang berkacamata hitam dengan senjata api yang ada di tangannya.
"Angkat tanganmu" kata salah satu pria berpostur tinggi besar dengan rokok di mulutnya.
Nada hanya mengikuti perintahnya agar tidak terjadi sesuatu yang membahayakan nyawanya.
Pria itu pun menggeledah Nada dan mengeluarkan beberapa senjata yang ia bawa.
"Heh. Kau rupanya bukan gadis sembarangan. Kau bahkan membawa pistol" gumamnya lalu melemparkan barang-barang nada ke atas meja. "Bawa dia"
Beberapa orang pun membawa Nada dengan kasar ke suatu tempat.
"Aku harus tetap tenang. Jika tidak, mereka akan menyakiti ayah dan ibu"
Mereka pun membawa Nada ke sebuah ruangan. Di sana terlihat orang-orang berkas hitam.
"Ini yang kau bilang? Gadis ini tidak seperti akan membayar hutang" kata seorang yang duduk di sofa.
Nada menoleh ke samping dan mendapati ayah dan ibunya sudah babak belur terduduk di lantai.
"Ayah, ibu" gumam Nada.
"Anak bang*sat. Cepat kau bayar hutangnya agar kami segera pergi dari tempat ini" kata seorang pria paruh baya yang ia sebut ayah itu.
"Gadis cantik ... Kau bilang akan datang kesini berarti kau akan membayar hutang mereka kan?" kata pria yang duduk di sofa berjalan menghampiri Nada.
Nada pun membulatkan matanya ketika melihat pria itu dari dekat.
"Hawa iblis? Kenapa sangat pekat sekali?"
"Kenapa kau diam saja? Cepat keluarkan uangnya" kata wanita tua alias ibu Nada tersebut.
__ADS_1
"Ayah, ibu ... Sebenarnya apa yang kalian lakukan?"
"Itu bukan urusanmu bodoh. Cepat bayar hutangnya" kata ayah Nada.
Nada pun mengepalkan tangannya. Semenjak adik Nada meninggal dunia. Kedua orang tuanya selalu bersikap kasar dan semena-mena kepada Nada. Bahkan ia juga di usir dari rumah.
Namun saat mereka memiliki masalah. Mereka pasti akan menelepon Nada untuk membantunya.
"Bagaimana gadis cantik. Kau akan membayarnya kan? Hutang mereka sebanyak 30 miliar. Aku mau uangnya sekarang"
"Apa? 30 miliar?" ucap Nada tercengang. Ia pun menoleh ke arah kedua orang tuanya tersebut. Mereka terlihat mengabaikan tatapan mata Nada.
"Aku tidak ada uang sebanyak itu" lanjut Nada.
"Ck ck ck. Sayang sekali. Mereka bilang kau akan membayarnya langsung malam ini. Bagaimana dong?" pria itupun mendekatkan wajahnya kepada Nada.
"Dengar gadis cantik. Mereka bilang, kalau kau tidak mau membayarnya. Aku boleh membawamu sebagai mainanku. Dilihat-lihat lagi, kau juga cukup lumayan'' bisik pria itu sambil menatap tubuh Nada dari atas hingga ke bawah.
"Ibu ... Ayah ... Kali ini kalian benar-benar keterlaluan. Kalian bahkan ingin menjual ku?"
"Aku .. Aku"
"Tunggu apa lagi. Cepat bayar dan bebaskan kami" teriak sang ayah.
Nada sudah kehilangan kesabarannya. Hatinya hancur dan kini dia sedang marah besar.
Bisa-bisanya mereka menyuruhnya untuk membayar hutang yang tidak tau uangnya mereka kemanakan. Selama ini Nada hanya di jadikan batu loncatan oleh kedua orang tuanya.
Bahkan hutang yang kemarin baru saja di lunasi dan sekarang Nada di suruh untuk membayar lagi.
"Jika aku tidak bisa membayarnya. Apa yang akan kalian lakukan" gumam Nada dengan wajah muram.
"Heh ... Sederhana saja. Maka kami akan menjual mereka"
"APA?!"
"DASAR *******. ANAK DURHAKA" caci sang ayah.
"Aku tidak peduli dengan mereka. Kalian boleh membawanya" lanjut Nada.
"Dasar sial*an. Dasar tidak tau di untung. Kami sudah susah payah membesarkan mu. Tega-teganya kau memperlakukan kami seperti ini"
"AKU TIDAK PEDULI" teriak Nada dengan derai air matanya. "Kalian selalu melakukan ini kepada ku. Apakah kalian lupa bahwa aku juga anak kalian?"
Nada pun hendak beranjak.
"Setidaknya ingatlah Jia. Kau harus membayar hutang mu terhadap Jia" kata sang ibu.
Nada pun menghentikan langkahnya. Ia semakin mengeratkan kepalan tangannya. Rahangnya mengeras menahan amarah.
"Lagi-lagi Jia ... Kenapa mereka selalu mengancam ku dengan Jia?"
"Sungguh keluarga yang ironis" gumam sang pria tadi yang kembali duduk di kursinya.
"Maafkan aku nona cantik. Tapi aku tidak ingin melihat drama keluarga kalian. Bagaimana, apakah kau mau membayar atau tidak? Jika tidak, maka kau juga tidak bisa keluar dari sini"
Beberapa penjaga pun mulai menutup pintu keluar ruangan itu.
"Karena, kau juga keluarga mereka. Maka aku tidak bisa melewatkan satupun dari kalian. Kalian akan aku jual, ataupun bisa menjadi budak ku" lanjutnya lagi.
__ADS_1
Nada sangat marah. Tidak seharusnya ia datang ke tempat itu. Tapi mereka adalah orang tuanya. Nada khawatir terjadi sesuatu kepada mereka. Namun apa yang ia dapat? Bahkan mereka rela mengorbankan nada untuk membayar hutang.
Nada pun membalikkan badannya. Ia tidak bisa berbuat apa-apa. Yang ia pikirkan adalah bagaimana caranya dia keluar dari sini.
"Baiklah. Akan aku bayar, tapi ... Aku sekarang tidak ada uangnya"
"Jangan coba-coba mengelabuhi ku nona. Atau kau akan membayar akibatnya"
"Aku tidak berbohong. Besok malam. Aku akan datang lagi dengan uang itu. Asal kalian melepaskan ku"
Pria itupun tersenyum meremehkan ke arah Nada. "Kau pikir aku gila. Baru saja kau bilang tidak akan membayar dan menyerahkan mereka. Itu artinya kau tidak peduli dengan mereka. Lalu, aku melepaskan mu? Tentu saja kau akan kabur"
"Kalau kau tidak percaya. Kau boleh menyuruh orang untuk mengikutiku"
"Tidak perlu"
Pria itupun melambaikan tangannya. Dan datanglah seorang pelayan dengan membawa jam tangan.
"Pakai itu" kata pria itu. "Itu adalah alat pelacak. Jika aku lihat kau tidak bergerak di suatu tempat selama 8 jam. Maka anak buahku akan mencarimu dan membunuhmu di tempat. Jangan meremehkan kekuatan ku gadis cantik. Hanya mencarimu saja adalah masalah kecil bagi kami"
Nada pun mengambil jam itu lalu memakainya di tangan kirinya.
"Kau boleh pergi. Tapi ingat, besok malam harus ada uangnya"
Semua pengawal yang menutup jalan tadi tiba-tiba menyingkir. Nada pun melangkahkan kakinya keluar. Dia bahkan tidak ingin melirik kedua orang tuanya yang masih di sandera di sana.
Mengerikan!. Ya, nada pikir orang itu mempunyai kekuatan yang mengerikan. Tidak hanya kekuasaannya, namun ia rasa ada iblis yang sangat mengerikan di belakangnya.
Sepanjang jalan, nada berpikir bagaimana dia bisa mendapatkan uang itu hanya dalam satu hari.
"Kenapa? Ayah, ibu. Kenapa kalian tidak mengasihani ku bahkan sedikit saja. Darimana aku mendapat uang sebanyak itu? Astaga ... Siapa yang akan menolong ku"
Tanpa ia sadari. Ia kini sudah berada di depan markasnya. Ia membuka pintu pagar itu dengan malas.
Ia masih syok sekaligus sedih. Ia ingin menangis namun sedari tadi ia tahan.
Tanpa sadar, ia pun duduk bersandar di pintu gerbang besi tersebut. Ia duduk sambil memeluk kakinya menyembunyikan wajahnya.
"Hiks hiks hiks"
Lambat laun terdengar isak tangisnya yang sedari tadi ia pendam.
"Kenapa ... Hiks hiks ..." gumamnya. "Jia ..."
Nada menangis tersedu-sedu di sana. Malam semakin dingin namun ia mengabaikannya.
"Sedang apa kau di sini?" kata seorang yang tak asing bagi Nada.
Ia pun mendongakkan kepalanya. Pandangannya kabur tertutup air mata yang menggenang di pelupuk matanya.
"Kenan ..." ucapnya lirih.
Kenan pun duduk bersimpuh di hadapannya.
"Kenapa kau pulang selarut ini? Dari mana saja? Saat aku kembali ke markas aku tidak menemui mu. Aku pikir kau berada dalam masalah di luar sana" ucapnya sambil memakaikan jaket kulitnya kepada Nada.
Tanpa Nada sadari. Air matanya malah mengalir deras ketika menatap wajah Kenan.
"Ada apa? Apa ada yang mengganggumu?"
__ADS_1
Nada hanya menggelengkan kepalanya enggan untuk bercerita.
"Baiklah. Kalau begitu menangis lah sesuka hatimu" lanjutnya lagi sambil menarik Nada ke dalam pelukannya.