
"Tentu saja aku akan sangat berguna"
"Cih, hanya melihat hawa iblis saja? Sekarang bahkan aku tidak butuh penglihatan mu" decih Lio sambil berjalan mendahului.
Nada berlari kecil untuk mengikutinya. "Aku akan sangat berguna jika kau melatih ku. Tuan dewa perang, bukankah keahlian mu adalah melatih prajurit agar bisa masuk ke medan perang? Kau bisa melatih ku untuk menjadi prajurit mu"
"Kenapa kau ingin mengikuti ku?"
"Tidak tau, hanya ingin saja. Rasanya aku tidak mau menjauh darimu. Apakah kehidupan sebelumnya kita pernah bertemu?"
"Mana ada. Kehidupanku hanya sekali, tidak ada kehidupan sebelumnya dariku. Sekarang pun juga begitu"
"Tapi ... Sepertinya aku tidak asing denganmu"
"Mungkin saja kau tidak asing dengan pemilik tubuh ini" kata Lio yang masih berjalan di belakang para anggota D'hunter lainnya.
"Hemm ..." Nada menggelengkan kepalanya tidak setuju. "Bukan, bukan dia. Tapi dirimu. Apalagi mata birumu itu. Sepertinya aku pernah lihat, tapi ... Dimana?" gumam Nada.
Tanpa di sadari, mereka sudah berada di depan sebuah aula.
"Sebentar lagi ayah akan datang" kata dokter Cleo.
"Selamat datang di markas anak-anakku" ucap seorang dari dalam aula tersebut.
Dokter Cleo dan semua anggota D'hunter menunduk di tanah memberi hormat kecuali Lio.
Saat seorang itu muncul, pandangan Lio dan dirinya pun saling bertemu.
"Kau ..." gumam seorang pria itu.
Lio hanya menatapnya datar. Lalu pemandangan di sampingnya berubah menjadi lautan awan dan langit biru yang terhampar luas.
"Heh, sudah ku duga. Ternyata kau Dewa Candra" ucap Lio.
"Maaf, aku terlalu buru-buru mengajakmu ke dimensi ku" ucap pria itu yang kini sudah berubah wujud menjadi dewa dengan jubah kuning yang sangat cerah.
__ADS_1
"Tidak buruk. Ruang dimensi mu masih sangat kuat" ucap Lio sambil memainkan kakinya di awan lembut yang ia pijak itu.
"Aku tidak menyangka. Bagaimana dewa perang bisa menempati tubuh itu?" ucapnya.
"Ini hanyalah ide dari dewa gila yang sedang bereksperimen" ucapnya malas. "Lagipula, bukankah kau juga menempati tubuh manusia? Apa yang terjadi sebenarnya? Dewa tidak akan sembarangan masuk ke tubuh manusia tanpa seizin dewa kematian dan tanpa melewati reinkarnasi"
"Huh ... Itu ya" ucap dewa Candra lalu duduk di sebuah singgasana yang terbuat dari awan tepat di belakangnya. "Ini semua karena ambisi ku"
Lio hanya menatapnya datar. Ia masih tidak bisa mengira-ngira apa yang terjadi.
"Beberapa ratus tahun lalu di dunia fana. Aku telah mengetahui sesuatu yang tidak di ketahui oleh dewa di Nirvana" jelasnya. "Tujuh raja iblis yang di ceritakan oleh para dewa, kini bukan lagi raja iblis yang harus kita incar"
"Hemm ... Ya, dewa gila itu sudah menjelaskan kepada ku tentang hal ini"
"Itu semua berawal karena dewa pertama yang turun ke bumi telah jatuh cinta kepada seorang iblis wanita"
"Apa?" gumam Lio tak percaya.
"Karena hal itu, mereka pun melahirkan seorang keturunan iblis yang bercampur dewa. Dia memiliki ambisi sebagai seorang iblis juga memiliki kekuatan seperti dewa. Bisa di bayangkan, kekuatan mereka menjadi satu. Kekuatan dewa juga iblis, kekuatan inilah yang akhirnya membahayakan keseimbangan dunia ini. Dia pun mengikat ke tujuh raja iblis agar patuh kepadanya. Karena hal itu, dewa di Nirvana percaya jika kekacauan di dunia ini adalah akibat dari ke tujuh raja iblis, dan ternyata mereka salah. Mereka hanya pion yang di jalankan oleh dia"
"Itulah kelemahan dewa, jika sudah turun ke dunia fana. Jiwa mereka akan terikat di sini"
"Tidak ada aturan untuk itu. Dewa bisa pergi dan kembali dari dunia fana kapanpun dia mau" ucap Lio.
Dewa Candra pun tersenyum. "Itulah kenapa para dewa masih belum tau fakta ini. Setelah dia lahir, dia yang menarik para dewa agar tidak bisa kembali. Dia juga yang memburu para dewa ini agar tidak menggagalkan rencananya untuk menguasai dunia fana"
"Huh, jadi begitu" gumam Lio.
"Sepertinya dewa gila yang kau sebutkan tadi mengetahui banyak tentang hal ini. Buktinya saja kau di masukkan ke dalam tubuh manusia ini" ucapnya.
"Mungkin saja begitu. Lalu? Kau? Apa juga ini rencananya?"
Dewa Candra pun menggelengkan kepalanya. "Ini adalah caraku sendiri. Aku memiliki caraku sendiri untuk agar bisa masuk ke tubuh manusia"
"Apa kau tidak takut yang mulai raja dan dewa kematian akan mengetahui hal ini?" kata Lio.
__ADS_1
"Biarkan saja. Yang terpenting adalah aku tidak melanggar aturan yaitu menyakiti manusia. Lagipula, dari banyaknya dewa yang di utus ke dunia fana hanya kau yang pertama menemuiku. Yang lainnya sudah musnah di tangan raja iblis"
"Ck, itu karena mereka lemah" gumam Lio meremehkan.
"Apa kau tidak lemah? Kau juga seorang dewa. Kau tidak akan tau bagaimana cara memusnahkan mereka"
Lio pun menyeringai. "Kau salah, ada alasan kenapa aku lah yang di utus datang ke dunia fana dengan menggunakan tubuh ini. Karena aku adalah kunci untuk menghancurkan mereka"
Dewa Candra pun terdiam terlihat memikirkan sesuatu.
"Apa yang membuat mereka begitu percaya kau bisa melakukannya? Aku sudah meneliti para iblis ini bertahun-tahun sampai membangun D'hunter tapi aku tidak tau kelemahan mereka" gumam Dewa Candra. "Tidak ada yang bisa mengalahkan mereka. Mereka juga bisa bangkit setelah kematian"
"Huh, kelompok lemah yang kau ciptakan ini. Bahkan tidak bisa membunuh satu iblis pun. Kekurangan informasi, kekuatan yang tidak setara, dan lagi ... Kau bahkan tidak bisa memanfaatkan gadis itu dengan baik. Mereka hanya bisa mengincar manusia yang memiliki hawa iblis. Mereka tidak bisa melacak keberadaan iblis yang sebenarnya" ucap Lio, gadis yang ia maksud adalah Nada.
"Kau ..."
"Juga ... Kau terlalu buru-buru untuk mengirimkan anak-anak itu ke Medan perang. Mereka bahkan tidak berbekal kekuatan yang seimbang dengan iblis. Kau tau? Aku melihat sendiri kekuatan mereka di lapangan. Dan bisa di lihat, sebelum mereka menyerang mereka sudah kalah duluan" kata Lio dengan Nada meremehkan.
"Benarkah? Selemah itukah para D'hunter ini?" gumam dewa Candra.
Swwoooss
Pedang kematian pun di panggilnya, membuat dewa Candra terpukau.
"Inilah alasan kenapa aku ada di sini" kata Lio.
"Pedang kematian? Benar saja ... Dengan pedang itu ... Tidak akan ada mahkluk yang bisa berenikarnasi" gumam Dewa Candra.
"Pedang dari dewa kematian ini adalah pusaka yang sangat berharga. Aku tidak tau bocah ini bisa mendapatkannya"
Saat Lio mengedipkan matanya, semua pun berubah ke semula. Mereka kembali ke aula tempat mereka bertemu tadi.
Di sana masih terlihat para anggota D'hunter menunduk memberi hormat sedangkan dewa Candra yang kini di sebut ketua Ca terdiam tak percaya.
"Aku harus mendapatkan pedang itu"
__ADS_1