
"Apa yang sedang terjadi?" gumam Yuto.
"Entahlah, aku juga tidak tahu" balas Baga.
Mereka berdua terlihat bingung melihat semua pemandangan yang ada di hadapannya.
"Tidak, Rey, Jo, Teri. Apa yang terjadi kepada kalian?" kata salah satu dari mereka yang bingung dan juga sedih ketika melihat teman mereka tiba-tiba menghilang menjadi debu.
Lio hanya mendesah pelan.
"Apa kalian hanya akan terbengong di situ sepanjang hari?" kata Lio kepada dua anak buahnya tersebut.
"Tuan"
"Aku sudah sangat lapar. Aku tidak mau hanya melihat kalian terdiam di situ"
"Baiklah tuan
Baga dan Yuto segera masuk ke dalam mobil.
"Aku sudah memperingatkan kalian. Jika semua ini sudah terjadi maka jangan salahkan aku" gumam Lio sambil melirik mereka yang tengah menangisi teman-temannya. "Hah Untung saja aku berada di dalam tubuh manusia, jika tidak. Ketika langit mengetahui aku telah membunuh manusia, maka hukuman petir akan segera menyambar ku. Heh, ada untungnya juga berada di dalam tubuh manusia"
Rio segera masuk ke dalam mobil dan meninggalkan mereka di tempat tersebut tanpa ada penjelasan sedikitpun. Dua orang itu hanya terlihat kebingungan mereka tidak tahu ke mana ketiga temannya itu pergi, tapi yang pasti mereka sudah tidak ada di dunia ini.
Di sepanjang perjalanan Baga dan juga Yuto berpikir keras, bagaimana hal itu bisa terjadi? Bagaimana mungkin ketiga manusia itu tiba-tiba hancur begitu saja menjadi abu? Apakah ada sihir di dunia ini?"
"Kenapa malam di daerah ini begitu gelap sekali?" gerutu Lio ketika mengarahkan pandangannya keluar jendela. "Hah gara-gara segerombolan orang itu, aku jadi terlambat untuk makan malam"
"Tidak masalah tuan, di depan kita akan sampai di sebuah restoran"
"Bagus cepatlah"
''Baik"
Di sepanjang perjalanan itu Lio pun berpikir dan penasaran kepada segerombolan orang tadi yang tengah mencegahnya.
"Kenapa mereka bisa tahu soal batu iblis itu? Dari mana mereka bisa tahu" Uang? Lalu Siapa yang menyuruh mereka mencari batu itu? Siapa yang membayar mereka? Jika seperti itu, bukankah organisasi mereka mengetahui keberadaan iblis di dunia ini?" batin Lio
__ADS_1
"Hey kalian, apa kalian pernah lihat orang-orang itu tadi?
"Maksud anda orang-orang yang mencegat kita tadi?"
"Hem, mereka sepertinya bukan orang biasa"
"Saya juga tidak tahu tuan, tapi terlihat dari seragam mereka mereka dari kelompok anggota tertentu" kata Baga.
"Mereka memburu iblis, apa mereka juga sejenis D'Hunter. Tapi si pak tua Dewa cahaya itu, dia tidak mungkin melakukan hal itu. Dia tidak mungkin memberikan misi kepada anggotanya untuk memburu iblis karena uang. Di sisi lain, jika memang ada organisasi seperti itu juga, bukankah mereka juga tahu akan seluk-beluk iblis di dunia ini?"
Lagi-lagi Baga dan Yuto hanya saling pandang ketika mendengar gerutuan atasannya tersebut.
Tak lama kemudian mereka pun sampai di sebuah restoran barbeque di tengah kota.
"Hah, akhirnya sampai juga. Aku sudah tidak sabar ingin makan sesuatu" kata Lio sambil turun dari mobil diikuti kedua anak buahnya itu.
"Ini tidak semewah masakan di rumahku, tapi tidak apalah. Sepertinya ini juga tidak buruk"
"Maaf tuan, saya juga tidak tahu menahu tentang daerah ini, jadi saya hanya asal berhenti di restoran. Jika tuan mau, kita akan mengganti restoran lain" kata Yuto.
"Mengganti restoran lain? Butuh berapa lama lagi? Dan aku sudah sangat kelaparan, biarkan saja. Kita makan di sini saja"
"Kalian sudah berapa lama direkrut Kevin untuk menjadi prajurit elite?''
"Saya sudah lima tahun tuan, dan saya juga pernah menjadi prajurit utama untuk mengawal tuan" kata Baga.
"Saya baru tiga tahun, dan saya di khususkan untuk menjadi sopir" lanjut Yuto.
"Jika kau mau menjadi sopir. Kenapa harus mengikuti ujian tes prajurit? Ya sudah sana pergilah menjadi sopir seseorang"
"Anda jangan salah tuan. Tuan Kevin merasa percaya karena kepiawaian saya dalam mengendarai mobil, dan kemampuan ini sangat dibutuhkan jika kita dalam keadaan mendesak"
"Ya ya ya. Jika kalian sendiri bisa lolos dari ujian prajurit elit, lalu kenapa menghabisi kelima orang tadi membutuhkan banyak waktu? kata Lio sambil menyilangkan kedua tangannya.
"Kami bisa mengalahkan mereka, hanya saja kita kalah jumlah dan mereka juga terlihat seperti bukan orang sembarangan. Mereka cukup kuat juga, sepertinya mereka sudah dilatih bertahun-tahun lamanya" jelas Baga.
"Benarkah?"
__ADS_1
"Iya tuan, saya juga merasa begitu. Apalagi pria yang memakai kacamata tadi, dia terlihat seperti sangat lemah tapi saya rasa dia memiliki kemampuan lain"
"Apa maksudmu kemampuan lain?"
"Dia seperti memiliki ilmu yang tidak bisa dilihat oleh manusia biasa"
"Kalian jangan asal bicara, jika dia memiliki kekuatan tertentu maka aku sudah bisa melihatnya. Aku tidak melihat apapun dari manusia itu tadi"
"Benarkah? Tapi saya merasa begitu-"
Tak lama kemudian pelayan pun datang sambil membawakan pesanan mereka.
"Silakan menikmati" ucap pelayan perempuan itu sambil tersenyum manis.
"Aku lihat kota ini begitu sangat ramai, tapi baru juga matahari tenggelam. Kenapa sudah sepi sekali? Seperti tengah malam" gumam Lio lirih sambil mengambil sumpit yang ada di hadapannya.
"Rumor mengatakan bahwa kota ini seperti kota berhantu jika matahari tenggelam. Tak kusangka memang suasananya sangat mencekam seperti ini. Sebaiknya kita harus segera pergi dari tempat ini" kata Yuto.
"Hanya rumor saja kenapa kau begitu percaya?" balas Baga.
"Apakah kau mendengar sesuatu tadi sore? Aku seperti mendengar suara dentuman yang keras berkali-kali dibalik bukit itu" kata salah satu pelanggan di sana yang terdengar oleh Lio.
Lio tak mengindahkan perkataan mereka namun baga dan juga yaitu sedikit tertarik mendengarkannya.
"Berarti bukan cuma kita yang mendengar dentuman tadi, mereka juga mendengarnya" kata Baga.
"Tentu saja dentuman itu begitu keras, tapi kenapa tuan bilang kalau suara itu tadi hanya suara petasan?" gumam Yuto lirih sambil melirik Lio yang sedang asik dengan makanannya.
"Iya, aku juga mendengarnya di balik bukit itu. Bukankah itu adalah sebuah villa besar milik pengusaha kaya? Vila itu sudah lama tidak ditinggali. Kenapa ada suara dentuman seperti itu dari sana?"
"Entahlah, rumor mengatakan bahwa pemilik villa itu adalah pemuja iblis, siapapun yang masuk ke sana dengan niat buruk dia akan mati di sana"
"Kau jangan bicara sembarangan, bahkan orangnya pun sudah meninggal setahun yang lalu"
"Justru karena itu, setelah dia meninggal setiap orang yang masuk ke dalam villa itu selalu tidak bisa kembali. Aku rasa disana memang benar-benar ada iblis yang bersemayam"
"Hah, Jadi pak tua itu bertahan selama satu tahun karena memakan manusia-manusia yang masuk ke dalam sana?'' gumam Lio sambil terus melahap makanannya.
__ADS_1
Tak berapa lama pun lampu di restoran itu terlihat berkedip-kedip lalu padam.
"Astaga. Aku baru saja mengisi seperempat dari perutku, lalu sekarang apalagi?" gerutu Lio dengan kesal sambil membanting sumpitnya atas meja.