
"Ugghh" gumam Lio saat cahaya terang menerpa wajahnya. "Apa lagi ini?"
Ia pun mengerjap-ngerjapkan matanya. Cahaya terang itu menghilang dan berubah menjadi pemandangan Padang rumput yang luas.
"Dimana ini? Apa ini salah satu alam bawah sadar pemilik tubuh yang asli?"
Dia baru sadar bahwa penampilannya saat ini bukan Lio melainkan dewa Lodra.
"Huuhh, ini adalah diriku sendiri" gumamnya dengan rasa bangga sambil mengibaskan jubah hitamnya. "Hanya beberapa bulan tinggal di dunia fana. Aku sudah merindukan wujud asli ku"
Tak berapa lama. Sebuah kenangan dari Lio tiba-tiba muncul di hadapannya seperti sebuah film.
"Heh, kau mau berbagi masa lalumu? Sepertinya aku tidak tertarik" kata Dewa Lodra dengan sombongnya.
Di sana nampak semua masa lalu Lio terpampang di hadapannya. Dari masa kecilnya yang tumbuh sebagai anak yang tidak memiliki emosi. Kematian ibunya yang bunuh diri akibat depresi.
Sampai latar belakang sesungguhnya sesosok Lio ini. Ternyata dia adalah seorang pimpinan anggota mafia yang cukup terkenal di dunia gelap. Tak heran, saat dia bertemu beberapa orang, mereka terlihat sangat menghormatinya.
Lio adalah seorang yang kejam, membunuh tanpa ampun, siapa saja yang telah mengganggunya. Dia juga tak segan-segan untuk mengeksekusi para bawahannya yang berkhianat.
"Oh, ternyata kau mendapatkan pelatihan yang sangat keras sejak kecil. Pantas saja, tubuhmu cukup kuat juga untuk bertarung"
Tak hanya itu. Lio ternyata diam-diam juga sedang melakukan penyelidikan tentang iblis. Dia membuka sebuah kelompok tertentu guna mengumpulkan seluruh informasi yang ia perlukan.
Hingga ia berakhir di sebuah rumah bordil karena melacak keberadaan iblis. Semua kenangan itu terpampang begitu saja di hadapan dewa Lodra.
"Heemmm ... Apa yang kau inginkan sebenarnya? Apa maksudmu menunjukkan ini kepadaku?"
"Aku hanya ingin menunjukkannya kepadamu" ucap seseorang di belakang Dewa Lodra.
Saat di membalikkan badannya, terlihat dewa Yora berdiri dengan senyum khasnya.
"Heh, sudah ku duga" gumam dewa Lodra sambil menyeringai.
Dewa Yora pun berjalan mendekat.
__ADS_1
"Aku sedang masuk ke alam bawah sadar mu. Untuk menunjukkan ini" ucapnya sambil menunjuk sesuatu di depannya itu.
"Heh, pantas saja. Aku sudah menduga ini adalah ulah mu. Aku tidak pernah merasakan tanda-tanda kehidupan dari tubuh ini. Tapi aku bisa melihat masa lalunya. Kau cukup berkemampuan juga rupanya"
"Ketahuilah dewa agung. Aku hanya sedang ingin membantumu" kata dewa Yora.
"Membantu apa? Yang ada kau malah menyesatkan ku"
Bagaikan sudah terbiasa dengan kesombongan Dewa Lodra, dewa Yora hanya menggelengkan kepalanya pelan.
"Kau lihat ini" lanjutnya. "Dia telah menemukan sebuah petunjuk dari seorang iblis. Sayangnya, dia mati sebelum menangkap iblis itu. Iblis yang sedang di kejar Lio adalah iblis Zelua. Dia telah mempengaruhi ayahnya dan juga membuat ibunya bunuh diri. Oleh sebab itu, dia sangat terobsesi untuk memburu iblis dengan kekuatannya sendiri" jelasnya.
"Apa hubungannya dengan ku? Aku tidak ingin tau masa lalunya"
Dewa Yora pun tersenyum kecil. "Kau tidak bisa mengabaikannya. Bagaimana pun juga sekarang dia adalah dirimu. Lagipula, masa lalunya sangat penting untukmu" jelas dewa Yora dengan nada lembutnya.
"Lihatlah, dia berusaha sangat keras agar dia bisa menjadi pemimpin sebuah anggota mafia. Tujuannya hanya satu, agar dia bisa menjangkau lebih banyak informasi tentang iblis"
Dewa Lodra tak bergeming sambil mengamati pemandangan bak film di depannya tersebut.
"Perlu kau tau dewa agung. Dua Iblis yang sudah kau bunuh itu, hanyalah iblis biasa"
"Apa? Omong kosong macam apa ini? Jelas-jelas iblis Pharoh dan Erokh yang aku bunuh adalah salah satu raja iblis yang kabur dari penjara Nirvana. Mana mungkin mereka adalah iblis biasa" kata dewa Lodra.
"Kejadian itu sudah sangat lama. Mereka pun berubah seiring berjalannya waktu. Iblis yang kau bunuh itu, mereka telah merubah jalur rencana para raja iblis. Karena keegoisan dan tujuan lain dari kedua iblis ini, mereka pun sudah tidak di pedulikan lagi oleh raja iblis. Intinya, mereka hanyalah iblis biasa" jelas dewa Yora panjang lebar.
"Huuh, itu berarti raja iblis yang sesungguhnya masih bersembunyi di suatu tempat dan mengendalikan mereka" gumam dewa Lodra.
"Ya, kau benar. Maka dari itu, kau juga tidak boleh mengabaikan petunjuk yang di miliki oleh Lio. Aku sudah susah payah membuka ikatan hatinya, dan mencari informasi ini. Karena Lio sangat menutup informasi yang ada di kepalanya agar tidak di masuki oleh iblis dengan gampang"
"Hem, pertahanannya cukup kuat juga"
"Maka dari itu dewa Lodra. Kau harus mencari tau dimana dia menyembunyikan informasi yang dia peroleh. Dengan begitu, kau bisa lebih cepat menemukan raja iblis"
Dewa Yora pun menepuk ringan pundak dewa Lodra. Seketika pemandangan di hadapannya berubah menjadi hitam.
__ADS_1
"Ugghhh"
"Lio ... Lio ... Kau bisa mendengar ku?"
Samar-samar, terdengar suara yang tak asing sedang memanggilnya.
Lio membuka matanya perlahan. Pandangannya kabur, namun ia berusaha menyesuaikan pandangan dengan silau matahari yang membuatnya nanar.
"Kau sudah siuman?" kata Nada tepat di hadapannya.
Lio mengerjap-ngerjapkan matanya. Kepalanya terasa pusing dan seluruh tubuh terasa remuk.
"Dewa gila sialan. Kenapa dia tidak ancang-ancang saat mengembalikan ku? Seenaknya saja memanggilku, seenaknya juga membuang ku. Awas kau ya"
Saat Lio memastikan keadaan sekitarnya. Nada berlari ke arah pintu dan memanggil seseorang.
Seluruh ruangan itu di cat dengan warna putih, dan ada beberapa sudut yang berwarna abu-abu. Udara di sana penuh dengan aroma asing baginya.
Ia pun melirik tangannya. Terdapat jarum yang menancap di kulitnya dengan selang bening yang menghubungkannya ke sebuah kantung berisi cairan.
"Benda apa ini?" gumam Lio. Sepersekian detik kemudian, kepalanya berdengung bak ada sebuah genderang di dalamnya. "Uggghhh, infus ... Jarum infus?" gumamnya sambil meringis kesakitan.
"Dokter cepatlah" kata Nada sambil berjalan terburu-buru di ikuti seseorang di belakangnya.
Pria yang memakai jas putih itu pun segera menghampiri Lio. Dia memeriksa denyut nadinya seperti hal yang biasa dokter lakukan.
"Syukurlah, dia baik-baik saja. Tidak ada hal serius yang terjadi" ucapnya sambil menaruh stetoskop di sakunya.
"Lio ... Apa kau merasa sakit?" kata Nada terdengar khawatir sambil menggenggam telapak tangan Lio. "Apa kau merasa aneh? Katakanlah"
Lio hanya terdiam sejenak. Matanya tak berhenti menatap Nada.
"Aroma ... Aku bisa mencium aroma yang aneh dari dirinya. Akhirnya ... Penciumanku kembali tajam. Aku bisa merasakan setiap aura mahkluk di sini. Tapi ... Dia ..." batin Lio lalu melirik ke arah dokter yang sedang menatapnya itu.
"Nada ... Sebaiknya kamu tidak memaksanya. Dia baru saja siuman setelah koma enam bulan. Berikan dia waktu sebentar" jelas dokter itu.
__ADS_1
"APA?!"