Demigod

Demigod
Bab 87


__ADS_3

Di sebuah taman yang indah di Nirvana berdiri seorang gadis cantik dengan gaun warna ungu dan rambut yang tergerai panjang dan indah.


Dengan senyum yang mengembang, dia terlihat begitu manis memandangi bunga-bunga itu seraya menunggu seseorang.


Tak lupa warna-warni kupu-kupu Nirvana sedang menemaninya di taman itu membuat pemandangan itu semakin indah.


"Yuzi" kata seseorang yang kini berada di belakang gadis itu.


Ia segera menoleh ke belakang dan mendapati Dewa Lodra tengah berdiri di belakangnya.


"Lodra?" kata gadis itu sambil berlari ke arahnya dan segera meringkuk di pelukan dewa Lodra.


"Astaga Yuzi, bukankah sudah kubilang kau harus istirahat di kamarmu. Kau sedang tidak enak badan kenapa berkeliaran di sini" kata Dewa Lodra.


"Aku sangat merindukanmu Lodra. Jadi aku menunggumu pulang dari kamp latihan"


"Baiklah sekarang aku sudah pulang, mari kita pergi beristirahat. Di sini anginnya begitu kencang kau, bisa sakit lagi"


Yuzi pun melepaskan pelukannya lalu merangkul lengan Dewa Lodra.


"Baiklah, kau baru saja pulang dari kamp latihan. Bagaimana kalau kita makan bersama? Aku ingin sekali makan sup ikan seperti waktu itu. Bagaimana menurutmu? Setelah itu kita akan pergi minum anggur bersama di halaman belakang. Aku sudah lama sekali tidak minum anggur bersamamu di bawah pohon ceri" kata Yuzi sambil menaruh kepalanya di pangkuan Dewa Lodra.


"Bukankah kau harus minum obat? Kau tidak boleh minum anggur jika belum sembuh" ucap dewa Lodra sambil menyalakan kedua tangannya ke belakang.


"Oh ayolah, aku ingin menghabiskan waktu bersamamu sebelum kau pergi untuk melaksanakan ujian langit mu. Huu kau pasti akan kembali beberapa ribu tahun yang akan datang dan aku pasti akan sangat kesepian di sini"


"Baiklah, baiklah. Aku akan menemanimu makan dan menemanimu minum anggur hari ini" kata dewa Lodra sambil tersenyum kecil.


"Yeeyy, ayo kita pergi"


Ya, hari itu Dewa Lodra dan Yuzi pergi makan bersama dan minum anggur bersama di bawah pohon ceri seperti permintaan Yuzi untuknya.


Di bawah pohon ceri sambil menatap hamparan langit yang begitu luas, mereka penduduk dan sesekali menenggak minumannya.


"Jika kau meninggalkanku, apa yang akan aku lakukan di sini?" kata Yuzi terdengar lesu.


"Kau bisa melakukan semua yang kau inginkan"


"Tapi di sini sangat sepi jika tidak ada dirimu"


Yuzi kembali menenggak minumannya.

__ADS_1


"Bagaimana jika aku ikut denganmu ke gunung abadi? Aku akan menemani ujian langit mu di sana"


"Apa kau gila? Jika kau ikut ke sana mungkin saja kau bisa mati"


"Aku tidak peduli, asalkan aku bisa bersamamu" kata Yuzi yang kini sudah mulai kehilangan kesadarannya.


Yuzi pun berbaring dan menaruh kepalanya di pangkuan Dewa Lodra. "Aku tidak ingin kau tinggalkan di sini sendirian. Bagaimana aku menjalankan hariku di sini tanpamu Dewa lotre" gumam Yuzi yang hampir menutup matanya.


"Dasar kelinci kecil dari dulu kau selalu manja"


Dewa Lodra hanya memandanginya dengan tersenyum.


Beberapa saat kemudian pun Nada membuka matanya dan menyadari bahwa semua kejadian itu hanyalah mimpi belaka. Ia mengedarkan pandangannya dan kini dia masih tetap di dalam mobil bersama para timnya.


"Kau sudah bangun?" kata Kenan.


Nada tidak merespon dan memalingkan pandangannya menatap keluar jendela.


"Kenapa lagi-lagi aku melihat wujud Dewa dari Lio. Apa aku terlalu memikirkannya sehingga setiap hari selalu memimpikannya? Kenapa dia terlihat berbeda sekali dari dewa Lodra dingin yang dulu pernah aku mimpikan itu? Ketika bersama gadis itu raut wajahnya tidak seseram waktu dulu. Apa ini hanya sebuah kebetulan? kenapa aku memimpikan mereka?" batinnya.


"Kau tidak apa-apa Nad? perlu minum? ucap Kenan sambil menyodorkan sebotol air mineral karena Nada.


Nada mengambil botol air tersebut dan menenggaknya.


Nada menggelengkan kepalanya pelan lalu menutup botol air mineral itu.


"Sudah berapa lama kita berjalan? apakah masih belum sampai juga?" ucap Nada.


"Sebentar lagi kita akan sampai tapi sepertinya kita mendapatkan kendala" kata Viro yang kini duduk di belakang ada.


Ya mereka sedang melakukan perjalanan ke negara Yoma. Luna dan Ardan menjadi satu tim lagi dengan mereka.


"Sepertinya akan ada badai beberapa jam lagi. Kita harus mencari sebuah penginapan atau tempat untuk beristirahat dulu" kata Ardan yang kini sedang menyetir mobilnya.


"Badai? Kenapa tiba-tiba sekali? Bukankah ketika kita pergi langit masih terang benderang?"


"Kita juga tidak tahu, perjalanan kita masih butuh waktu tujuh jam lagi dari sini ke negara Yoma. Sekalian untuk menambah energi, kita beristirahat saja dulu"


"Tidak masalah kalau begitu, ayo kita cari penginapan dulu" kata Nada.


Beberapa saat kemudian mereka pun sampai di sebuah kota kecil. Sore hari itu terlihat sangat gelap karena awan hitam tebal yang menutupi langit. Beberapa warga di sana mulai sibuk untuk memindahkan barang-barangnya ke dalam rumah.

__ADS_1


Ardan pun menghentikan mobilnya di seberang jalan. Kenan dan Luna pun turun dari mobil untuk bertanya kepada para warga di sana.


"Permisi pak apakah di sini ada penginapan terdekat?" ucap Kenan kepada salah satu penjual buah di sana.


"Penginapan? Kalian lurus saja, nanti di ujung jalan sana ada penginapan yang menghadap ke utara" kata pria tua itu.


"Oh terima kasih pak. Kalau begitu permisi" ucap mereka dengan ramah lalu meninggalkan orang itu.


Mereka pun segera menghampiri mobil dan masuk ke dalam sana.


"Bagaimana?" kata Ardan.


"Ada sebuah penginapan di ujung jalan sana kita tinggal lurus aja"


Nada yang sedari tadi merasa ada yang aneh, kini mengedarkan pandangannya ke seluruh tempat itu.


"Aku merasa di sini sedikit tidak aman, apakah kita bisa cari tempat lain?" kata Nada.


"Mau cari di mana lagi? Kamu tidak lihat sebentar lagi langit akan runtuh dan badai akan segera datang?" kata Luna.


"Apanya yang tidak aman? Jika ada sejenis perampok atau apapun kita tidak perlu takut nanti kita bergantian berjaga" kata Viro.


"Bukan itu maksudku" gumam Nada lirih. Ia pun memalingkan pandangannya kembali keluar jendela. "Aku hanya merasa awan gelap itu dan badai yang akan datang ini sepertinya bukan hal yang biasa" gumam Nada lirih.


"Tidak perlu khawatir, ada aku yang paling kuat di sini" ucap Ardan lalu melajukan mobilnya


"Cih, kau terlalu percaya diri. Dasar tai kucing" gumam Viro mencibir.


"Haruslah, percaya diri itu harus. Daripada kamu, lembek begitu"


"Lembek, lembek, begini aku bisa menembak kepalamu loh" kata Viro.


"Aku bahkan bisa membuat bokong mu menjadi kotak"


"Astaga kalian ini selalu saja berdebat" kata Luna.


Kenan pun beralih melirik Nada yang masih terlihat gelisah.


"Kamu masih khawatir?"


Nada hanya menganggukkan kepalanya pelan.

__ADS_1


"Semoga saja malam ini tidak terjadi sesuatu sampai kita pergi dari tempat ini. Aku merasa tempat ini begitu seram"


__ADS_2