Demigod

Demigod
Bab 72


__ADS_3

Flashback ingatan Lio


"Apa kau yakin ini tempatnya? Kenapa ayah malah pindah ke tempat seperti ini?" kata Kevin yang kini duduk di sebelah Lio.


"Aku juga tidak tau" ucap Lio dengan wajah datar.


"Cepat katakan kepadaku, kau mengajakku bertemu ayah sebenarnya bukan ini saja kan tujuanmu? Kau pasti punya niat lain, kan?"


Lio pun beralih menatap Kevin dengan tajam. "Ya, aku datang ke sini untuk menangkap seseorang"


"Jangan bilang kau masih curiga kepada ayah, kalau dia bersekutu dengan iblis? Kau ini, kenapa masih percaya hal seperti itu?" kata Kevin tak percaya.


"Aku percaya karena aku pernah melihatnya" ucap Lio lirih. "Aku pasti akan menangkapnya. Dia yang telah membunuh ibu, aku tidak akan membiarkan dia lolos dengan mudah" gumam Lio lirih.


Mereka berdua pun masuk ke dalam Vila itu, di sana mereka di sambut banyak sekali pengawal.


"Tuan-"


"Biarkan saja mereka masuk, mereka adalah anak-anak dari tuan besar" kata seorang pria paruh baya dengan setelan hitam.


"Paman Lim, bagaimana dengan keadaan ayah?" kata Kevin sambil berjalan masuk ke dalam Vila.


"Keadaannya sangat parah tuan muda. Dokter juga tidak bisa mendeteksi penyakitnya"


"Bagaimana bisa? Apakah ayah pernah mengidap penyakit sesuatu sebelumnya?"


"Tidak, beberapa hari yang lalu tuan sehat-sehat saja. Tapi kemarin ... Sejak beliau kembali dari halaman belakang, dia ... Tiba-tiba jatuh pingsan dan tidak sadarkan diri. Dokter bilang, jantungnya semakin melemah"


"Kenapa bisa sampai seperti itu?" gumam Kevin lirih.


Lio yang mengikutinya di belakang hanya diam saja. Dia sudah curiga, keadaan ayahnya yang jatuh sakit mungkin saja akibat dari iblis yang bersekutu dengannya.


Setelah sampai di dalam sebuah kamar. Mereka mendapati ayah mereka sedang terbaring di atas ranjang dengan selang infus adan alat bantu nafas.


"Ayah" gumam Kevin terlihat iba melihat ayahnya yang terbaring tak berdaya.


Lio hanya memandangnya malas, rasa simpati dan empati nya terasa menghilang begitu saja saat melihat ayahnya.


Kevin pun duduk di samping ayahnya sambil memegangi tangannya.


"Ayah, sudah lama sekali kita tidak bertemu. Kenapa kau berubah jadi seperti ini?" gumam Kevin lirih.


"Tuan muda, sore nanti tuan besar akan menjalani tes dengan dokter ternama di kota ini. Anda tidak perlu khawatir, sebentar lagi, dokter akan mengetahui apa penyakitnya dan tuan pasti bisa segera sembuh" jelas paman Lim, asisten rumah tangga tersebut.


"Ya, semoga saja"


Lio benar-benar jengah berada di sana, ia pun memutar bola matanya malas dan tak sengaja melihat ke arah guci yang ada di ruangan tersebut.


Tanpa banyak bicara, Lio berjalan mendekati guci tersebut. Paman Lim yang mengetahui hal tersebut pun mencoba mencegah Lio.

__ADS_1


"Eem, tuan muda pertama. Maaf, tapi ... Kita tidak boleh dekat-dekat dengan guci itu ataupun sembarangan memegangnya. Itu adalah guci kesayangan tuan, kita tidak boleh menyentuhnya atau beliau akan marah besar nanti" jelas paman Lim.


"Aku tau, kenapa kau cerewet sekali"


Lio hanya berdiri memandangi guci tersebut. Guci berwarna putih susu dengan corak burung bangau itu seperti menyita perhatiannya. Tidak ada yang aneh dari guci tersebut, tapi kenapa membuat Lio begitu penasaran.


"Darimana dia mendapatkan guci ini?" kata Lio.


"Saya juga tidak tau tuan, sebulan yang lalu guci itu sudah berada di kamar tuan besar. Dan kami di larang menyentuh dan membersihkannya. Semua yang ada di sini juga di wanti-wanti agar tidak dekat-dekat dengan guci tersebut"


"Kenapa dia begitu protektif dengan guci ini? Apa ada sesuatu di dalamnya?''


Lio hendak menyentuh guci itu namun ia urungkan, ia pun membalik guci tersebut dan terdapat sebuah gambar hutan bambu di sana. Yang menyita perhatian Lio adalah sebuah gambar seorang laki-laki dengan jubah hitam di sana.


Tanpa berpikir panjang, Lio segera melangkahkan kakinya keluar dari kamar tersebut.


"Hey, kau mau kemana?" kata Kevin.


"Kesebuah tempat, kau tunggu saja di sini" ucap Lio singkat.


Sedangkan paman Lim hanya memandangi mereka keheranan.


Lio kini berjalan bergegas menuju ke halaman belakang vila milik ayahnya tersebut. Di sana, ada beberapa penjaga yang bertugas untuk menjaga keamanan halaman tersebut.


"Maaf, anda di larang masuk ke area ini" kata petugas.


"Aku adalah anak pertama pemilik kediaman ini. Apa kalian juga tidak mengijinkan ku masuk?" kata Lio dengan tatapan datar.


Tanpa banyak bicara, Lio menyerang mereka dengan pukulannya. Membuat mereka jatuh pingsan dan tersungkur ke tanah.


Tanpa banyak bicara, dia pun segera masuk ke dalam halaman belakang tersebut. Benar saja, di sana terdapat hutan bambu yang sama persis dengan yang ada di lukisan guci di kamar tadi.


Lio pun berjalan terus ke tengah hutan tersebut, semakin lama udara di sana terasa semakin dingin.


Sraakkk


Suara desiran angin menghempas dedaunan. Lio merasakan kehadiran seseorang di sana, ia pun bersiaga dengan mengambil pistol di sakunya.


"Huh, sepertinya ada penyusup yang datang ke sini"


Lio segera menoleh ke sumber suara dan mendapati seseorang dengan jubah hitam tengah berdiri di atas pucuk pohon bambu. Dengan sigap Lio mengarahkan pistolnya ke pria tersebut.


"Kenapa wajahmu tidak asing? Apa kita pernah bertemu sebelumnya?" kata pria tersebut memandangi Lio.


Doorr


Satu tembakan Lio melesat ke arahnya. Namun, pria berjubah itu tiba-tiba menghilang bagaikan kabut.


"Huh, ternyata kau datang tidak punya niat baik terhadapku ya? Tiba-tiba langsung ingin membunuhku"

__ADS_1


Lio menoleh ke belakang dan mendapati pria tersebut duduk dengan nyaman di sebuah batu.


"Padahal jika kau berkata apa kemauan mu, aku bisa loh mengabulkannya"


"Cih, permintaan? Aku hanya ingin membunuhmu"


Dor


Dor


Dor


Tembakan beruntun pun melesat dari pistol Lio, namun sepertinya tembakan itu tak cukup cepat untuk melukai pria tersebut.


"Hey, ayolah. Dengan bersenjatakan pistol seperti itu sangat mustahil untukmu bisa membunuhku" kata pria itu yang sudah berada di samping Lio.


Buggghh


Pria itu menendang Lio dengan keras dan membuatnya jatuh terpental beberapa kali ke atas tanah.


"Uhuk uhuk"


Darah segar mengalir begitu saja dari sudut bibirnya.


"Aku akui, nyali dan tekad mu begitu besar. Tapi apa kau tau siapa aku? Manusia seperti mu mana bisa membunuhku"


Buaggh


Pria itu menendang Lio beberapa kali dengan sangat cepat.


"Ah, sial. Kenapa dia begitu cepat?"


Lio mencoba bangkit dari sana dengan tubuh gontai.


"Woah, hebat juga. Manusia biasa mendapatkan satu kali tendangan ku maka dia akan mati seketika. Tapi kau ... Ck, ck, ck. Lumayan juga"


"Aku pasti bisa mengalahkan mu" gumam Lio.


Ia pun berlari mencoba menyerang pria tersebut namun lagi-lagi pria itu dengan cepat menyerang Lio dengan membabi-buta.


"Ugh" Lio mencoba menyerang namun dia kalah cepat dengan pria itu.


Swwoooss


Tubuh Lio terpental ke udara begitu saja, namun sekejap mata dia sudah jatuh terhempas ke tanah.


"Ughh, tidak ... Aku ... Tidak ... Boleh... Kalah" gumam Lio yang kini sudah tidak bisa bergerak lagi.


"Bukankah sudah ku bilang. Kau tidak akan bisa mengalahkan ku"

__ADS_1


Samar-samar Lio melihat pria itu di kejauhan. Lalu dia pun jatuh pingsan.


__ADS_2