
Nada dan Lio pun di bawa ke arah bukit tersebut. Di sana terdapat pintu rahasia yang tertutup oleh rumput liar. Sehingga orang yang melewatinya pasti tidak akan menyadari keberadaan pintu itu.
Nada terus berjalan di samping Lio. Para pengawal mereka juga mengawasi mereka dari belakang.
"Lio ... Bagaimana bisa mereka kenal dengan mu?" bisik Nada.
"Aku tidak tau. Pemilik asli tubuh ini memberikan ingatan tentang pria gendut itu. Jadi aku hanya menebak, sebelumnya pasti dia pernah berhubungan dengan pemilik tubuh ini"
Nada pun mengedarkan pandangannya.
"Tempat ini ... Aku bisa melihat hawa iblis di sekitar sini" bisik nada lagi.
"Hemm ... Aku juga menciumnya"
Tanpa sepengetahuan mereka, para pengawal itu sudah pergi entah kemana.
Pria gemuk itu terus membawa mereka ke dalam sebuah ruangan.
Di sana nampak sangat gelap. Hanya ada cahaya bulan yang masuk melewati celah langit-langit.
Pria itupun menghentikan langkahnya dan berdiri tepat di tengah ruangan tersebut.
Ruangan itu nampak sangat suram. Dengan beberapa tumbuhan liar yang mengakar di sudut dinding.
"Tuan ... Ada yang sedang mencari anda" kata pria tadi dengan penuh rasa hormat kepada seseorang yang kini sedang duduk di kursi dan memunggungi mereka.
Tatapan Lio tak beralih dari orang tersebut. Matanya menatap tajam tanpa berkedip sembari mencari-cari sesuatu.
Nada melirik Lio yang menatap pria yang ada di balik kursi tersebut.
"Ada apa?" bisik Nada.
"Lihatlah baik-baik orang yang ada di kursi tersebut"
Nada pun mengalihkan pandangannya. Tampak pria itu berdiri dari kursinya. Ia pun berjalan menghampiri mereka.
Pandangan nampak buram karena minim cahaya. Namun, pria itu terlihat sangat tampan dengan kulit putih yang sedang bermandikan cahaya bulan.
Dengan jas merah darahnya. Ia terlihat memancarkan aura yang sangat menakutkan. Bibirnya berwarna merah gelap dengan mata hitam tajamnya.
"Luis. Sudah ku bilang untuk tidak mengganggu waktu makan ku. Kenapa kau selalu mengabaikannya?" ucap orang itu dengan suara serak khas orang yang baru saja menelan sesuatu.
"Ma-maafkan saya tuan" ucap pria gemuk yang bernama Luis itu dengan tergagap.
"Hemmm ... Siapa yang datang mencariku?" ucapnya lalu memandang ke arah Nada dan Lio.
Nada dan Lio pun saling melirik.
"Aku rasa ada yang tidak beres dari orang ini" arti tatapan mata Lio.
"Aku rasa dialah iblisnya"
Saat pandangan Nada dan orang itu bertemu, dia pun menyeringai.
"Kau membawakan ku barang bagus rupanya" gumam pria itu.
Lio pun memicingkan matanya.
__ADS_1
"Barang bagus? Apa maksudnya adalah makanan?"
"Tuan Vernan. Dia adalah pelanggan kita. Tuan Lio" ucap Luis.
"Oh. Aku pernah dengar namamu, tapi baru kali ini kita bertemu. Bagaimana dengan barang-barang sebelumnya. Apa kau puas?" ucapnya lalu duduk di anak tangga yang ada di bawah kakinya.
Nada pun menatap Lio bingung.
"Apa yang akan dia lakukan setelah ini? Bagaimana dia akan menangani orang-orang ini? Dia kan dewa kuno"
Lio tersenyum kecil. "Tentu saja. Aku sangat puas"
"Baguslah kalau begitu. Lalu kenapa kau datang mencari ku sendiri ke sini?" ucap Vernan sambil beralih menatap tajam Lio. "Kau tau. Ini adalah markas rahasia ku. Siapapun yang masuk ke sini, jangan harap bisa keluar"
"Tentu saja. Aku datang ke sini juga kebetulan. Lagipula, aku juga butuh bantuanmu" kata Lio dengan tenangnya.
"Oh, benarkah? Apa yang bisa aku bantu untukmu?"
Ekspresi wajah Lio pun berubah serius.
"Aku butuh seorang keturunan dewa" kata Lio.
Mereka pun tercengang tak terkecuali Nada.
"Apa yang sedang ia bicarakan? Apa dia sedang mengarang? Bagaimana ada keturunan dewa? Habislah sudah, aku rasa kita akan berakhir di sini"
"Apa yang sedang kau bicarakan? Bagaimana mungkin-" Luis pun menghentikan kalimatnya setelah Vernan mengangkat tangannya.
"Menarik. Lio ..." Vernan pun merubah posisi duduknya menjadi condong ke depan. "Aku tidak akan bertanya apa yang kau lakukan dengan itu. Tapi ... Apa imbalan yang akan aku dapatkan setelah itu?"
"Matilah. Apa yang sebenarnya Lio rencanakan?"
"Apa saja yang kau mau" ucap Lio tanpa basa-basi.
Vernon pun tersenyum puas.
"Baiklah. Kalau begitu aku mau gadis itu" lanjut Vernon sambil menunjuk ke arah Nada.
Lio pun menoleh ke arah Nada sekilas.
"Tidak masalah"
"APA!!"
Nada terkejut, tak percaya jika Lio akan mengatakan itu dengan mudahnya.
"Apa dia sudah gila? Dia menjadikanku barang pertukaran"
"Apa yang kau katakan?" bisik Nada.
Lio hanya menatap Nada tanpa ekspresi.
"Kalau begitu ..." ucap Vernan menggantung.
"Selama barang yang aku inginkan belum ada di tanganku. Maka dia akan terus berada di sampingku" kata Lio.
"Hemm ... Baiklah" Vernan pun bangkit dari tempat duduknya. "Tapi ... Selagi transaksi belum di laksanakan. Kalian tidak akan bisa pergi dari sini"
__ADS_1
"Apa?" gumam Nada. "Lio ..." ucap Nada lirih sambil menarik lengan baju Lio.
"Tidak masalah"
"Oh astaga"
"Luis. Siapkan tempat untuk mereka. Perlakuan tamu kita dengan baik~" ucapnya lalu berjalan kembali ke balik kursi.
"Baik tuan"
Luis pun mengantar mereka ke sebuah tempat di seberang ruangan tersebut. Entah kenapa, Nada merasa tempat itu lebih mirip seperti sebuah goa. Juga sangat gelap.
"Silahkan. Ini adalah tempat kalian bermalam di sini" ucap Luis sambil membukakan pintu sebuah ruangan yang luas.
Ruangan itu tampak seperti goa jaman dulu. Meja, kursi dan tempat tidurpun semua berasal dari batu.
"Makanan kalian akan di antar oleh pelayan. Sebaiknya, kalian tidak berkeliaran di sini dan tetap di kamar. Jika tidak, tuan pasti akan mengurung kalian di sini selamanya" jelas Luis.
Luis pun menutup pintu tersebut. Ia pun segera meninggalkan Nada dan Lio di sana.
"Apa kau gila? Kau mau menyerahkan ku kepada pria itu" ucap nada geram setengah berteriak.
"Ssttt" Lio pun menutup mulut Nada dengan telapak tangannya. "Bisa pelankan suaramu?" bisik Lio.
Bugghh
Nada memukul perut Lio membuat dia melepaskan tangannya.
"Kau benar-benar gila. Aku melihat orang itu sangat mengerikan. Aku rasa dialah iblisnya" bisik Nada namun terdengar seperti marah.
"Itu kau tau" kata Lio jengah.
"Apa maksudmu?"
"Aku mencium bau lengus itu semakin kuat darinya. Saat dia berdiri dari tempat itu. Aku mencium bau darah yang sangat kuat. Setelah dia mengatakan Luis mengganggu waktu makannya, di situlah aku sadar. Bahwa dia bukan manusia" jelas Lio dengan suara pelan.
"Astaga ... Kau bisa mencium hal seperti itu juga" gumam Nada. "Lalu ... Bagaimana kau bisa tau tentang apa yang mereka perjual belikan?"
"Sudah aku bilang. Tubuh asli ini tiba-tiba memperlihatkan ku masa lalunya. Dia ... Dulu pernah bertransaksi dengan mereka. Dari situ aku tau. Mereka adalah pedagang manusia"
"Apa?" gumam Nada terkejut. "Jadi kau dulu membeli manusia? Untuk apa?"
"Bukan aku tapi pemilik asli tubuh ini" kata Lio kesal.
"Apa bedanya? Sama saja"
"Tidak sama. Dia melakukannya sebelum aku masuk ke dalam tubuhnya"
"Baiklah, baiklah. Lalu, kenapa kau asal bicara tentang keturunan dewa itu?"
"Aku tidak asal bicara. Aku tau dia pasti tertarik dengan hal itu"
"Lalu ... Bagaimana dengan ku? Kamu akan benar-benar menyerahkan ku kepadanya?"
"Lihat saja nanti. Sekarang, kita hanya perlu mengawasi dia dan juga tempat ini. Aku rasa tempat ini bukan hanya sekedar tempat transaksi melainkan sarang dari iblis itu"
"Apa yang akan kita lakukan sekarang?"
__ADS_1
"Mulai dari tempat ini. Bukankah Luis bilang kita tidak boleh berkeliaran? Aku rasa, ada suatu rahasia di tempat ini"