
"Jika kalian pergi. Itu artinya kalian tidak menghormati ku sebagai ketua kalian" kata Brian terdengar tidak main-main.
Mereka pun mendadak terdiam di tempat masing-masing.
"Sejak awal kalian tidak mendengarkan ku. Kalian memutuskan sendiri tanpa persetujuanku. Aku rasa kalian sudah tidak membutuhkanku?" lanjut Brian.
"Brian, itu tidak seperti yang kau-" kata Nada tidak enak.
"Kau ... ini semua karena kau membawa dia kesini" ucap Brian menyela kata-kata Nada. "Kau membuat mereka tidak mendengarkan ku. Aku sudah memperingatkan mu untuk tidak membawa dia kesini. Ini semua adalah salahmu!!"
"Aku-"
Kenan pun maju di hadapan Brian. "Apa perlu keputusanmu? Selama kau menjadi ketua keputusan apa yang kau ambil? Kau selalu mengabaikan pendapat kami" kata Kenan. "Kau selalu menganggap remeh kata-kata kami. Kau selalu memutuskan apa pun kehendak mu tanpa pertimbangan dari kami. Apa itu yang namanya ketua tim? D'hunter memusatkan kekuatannya di Nada. Para tetua memerintahkan kita untuk mengikuti petunjuknya. Tapi apa? Kau selalu meremehkannya. Kau selalu meremehkan apa yang dia lihat. Ujung-ujungnya, kita selalu menyesal karena telah membunuh para manusia-manusia itu. Apa ini yang di namakan ketua tim? Bertindak seenaknya"
"Kau... Kau menyalahkan ku?"
"Tidak. Setidaknya kali ini kami akan melakukan hal yang membuat kami bingung selama ini. Tentang sesuatu yang belum sempat di jelaskan tetua kepada kami. Yaitu apa yang kami buru, dan menurutku. Pria itu benar"
"Kau-"
"Kita tidak boleh bertengkar sekarang. Setidaknya selesaikan dulu masalah ini" kata Tiara.
"Masalah apa? Dia hanya membual" tambah Brian geram.
"Maaf ketua. Aku rasa kau terlalu kekanak-kanakan" imbuh Viro.
"Kau-"
"Kau tidak perlu ikut jika tidak mempercayainya. Ayo kita pergi. Dia sudah menunggu kita" Kenan pun memegang tangan Nada lalu mengajaknya pergi, di ikuti Viro dan Tiara.
"Kalian"
Mereka pun pergi menuju ke mobil meninggalkan Brian yang terlihat kesal. Di sana Lio sudah menunggu mereka hampir satu jam lamanya.
"Apa perlu selama itu untuk bersiap-siap?" gumam Lio.
"Maaf, ada sedikit kendala" kata Kenan saat masuk ke dalam mobil.
"Ketua kalian?" kata Lio menebak. "sudah kuduga. Ketua kalian itu tidak bisa mempercayai anggotanya. Lalu untuk apa ada D'hunter kalau anggotanya saja tidak saling percaya?" gumam Lio terdengar meremehkan.
Mereka semua pun terdiam membenarkan ucapan Lio. Selama ini, Brian memimpin D'hunter dengan seenaknya dan berujung penyesalan anggota D'hunter.
Ketika mereka hendak pergi. Terlihat brian menghampiri mereka dan masuk ke dalam mobil. Lio menatapnya dengan sinis, tak ada seorang pun yang berbicara. Dengan segera Kenan pun mengemudikan mobilnya.
Perjalanan ke gunung Juo cukup memakan waktu. Jarak dari markas D'hunter ke gunung Juo sekita 5 jam perjalanan. rencana ke gunung Juo juga dadakan, namun untung saja D'hunter memiliki cukup bahan bakar.
__ADS_1
"Lio, apakah hewan-hewan itu memiliki kelebihan seperti di taman pinggiran kota saat itu?" tanya Nada.
"Mungkin saja. Mungkin mereka juga jauh berbahaya dari pada hewan di taman waktu itu" jelas Lio sambil menatap ke luar jendela.
"Lalu bagaimana kita menghindarinya? Bagaimana kita mengetahuinya?" lanjut Viro.
"Cukup putuskan saja benang di leher mereka. Kenapa kalian repot-repot melawannya?" lanjut Lio dengan santainya.
"Benar juga" gumam Viro. "Berarti, kali ini kita mengandalkan mu Nad"
"Cih. Untuk apa mengandalkan orang lain? Mengandalkan diri sendiri baru benar. Sehingga tidak membuat yang lain terbebani" gumam Lio lirih namun mereka bisa mendengarnya.
Sesaat kemudian mereka sampai di gunung Juo. Mereka semua turun dari mobil. Masih di pinggiran hutan, namun sudah terlihat sangat suram.
"Wah, aku penasaran dengan tengah hutannya. Apa jangan-jangan kita butuh senter?" kata Viro.
"Siapkan senjata kalian. Dan tetap waspada. Nada, cepat beritahu kami ketika kau melihat benang itu di tubuh hewan" kata Brian membuka suara, sejak di mobil dia hanya terdiam saja.
Sedangkan Lio sudah berdiri mengamati hutan itu saat dia turun dari mobil.
"Baik"
"Tuan Lio. Sebaiknya kau gunakan ini" lanjut Brian sambil melemparkan sebuah Earphone ke arah Lio.
"Apa ini?" kata Lio sambil memegangi Earphone yang baru dia tangkap.
Nada pun berjalan mendekat ke arah Lio. Ia mengambil Earphone itu dara tangannya.
"Apa yang kau lakukan?" kata Lio hendak menghindar.
"Benda ini namanya Earphone" bisik Nada sambil memasangkannya ke telinga Lio. "Dengan benda ini, kita bisa terhubung satu sama lain" jelas Nada. "Melihat rumahmu yang besar, banyak penjaga di mana-mana. Tapi kau bahkan tidak tau benda ini? Sepertinya kau benar-benar dewa" ucapnya lirih sambil tersenyum.
Kenan menatap interaksi Nada dan Lio yang terlihat sangat dekat. "Ayo, kita harus cepat. Sebentar lagi akan gelap"
Mereka pun berjalan masuk ke arah hutan, tiba-tiba kunang muncul dari balik kilatan cahaya.
"Tuan!!" Kunang langsung terbang dan menghinggap di bahu kiri Lio.
"Ada apa?"
Seluruh anggota D'hunter yang tadinya jalan di depan pun langsung menoleh ke arah Lio.
"Dia berbicara dengan siapa?" kata Tiara. Ya, mereka mendengar Lio melewati Earphone.
"Apa dia berbicara sendiri? Aneh" gumam Viro.
__ADS_1
"Gawat tuan!!" kata Kunang.
"Ada apa? Apa hewannya terlalu banyak? Tenang saja, aku sudah mengatasinya" kata Lio masih terus berjalan di belakang Lio.
"Apa dia punya Earphone lain? Dia bicara dengan siapa?" gumam Viro.
Nada hanya memandangi Lio sesekali. Saat terakhir kali Lio bercerita bahwa dia adalah dewa, Nada sedikit percaya. Dia percaya akan adanya dewa di dunia ini. Melihat keanehan Lio ia juga sedikit percaya. Apa lagi Nada merasa dia dan Lio sudah saling bertemu, tidak. Saling mengenal satu sama lain sudah sejak lama. Ia merasa aneh karena setiap kali melihat lio ia merasa senang, seperti sedang bertemu dengan teman lama.
"Dia sudah mengetahui kedatangan mu tuan" kata Kunang membuat langkah Lio terhenti. "Dia sekarang sedang berfokus mengecilkan tubuhnya membuang semua energi yang dia miliki. Dia ingin kabur sebelum kau menemukannya"
"Apa? Bagaimana dia tau?"
Kata-kata Lio lagi-lagi membuat para D'hunter menghentikan langkahnya.
"Dimana dia sekarang?" lanjut lio.
"Sebuah gua, letaknya sebelah utara hutan ini. Jarak dari sini sekitar 5 kilo meter'' lanjut Kunang.
"Utara?" Lio pun mendongakkan kepalanya melihat matahari.
"Tapi kau tidak bisa langsung pergi ke sana. Di depan kita sudah banyak kawanan serigala, takutnya dia akan pergi saat kau melawan hewan-hewan itu" lanjut kunang yang percakapan mereka tidak bisa di dengar orang lain.
"Ada apa lio?" kata Nada, namun Lio tidak merespon karena memikirkan sesuatu.
"Tuan, sebaiknya kau beritahu kami jika memiliki informasi. Ini akan mudah untuk kita semua" kata Kenan.
"Baiklah Kunang, awasi dia untukku" lanjut Lio dan tiba-tiba Kunang pun menghilang.
"Kau sebenarnya bicara dengan siapa?' kata Viro.
"Apa kau punya informan di hutan ini?" tambah Tiara. Para D'hunter itu terlihat penasaran namun Lio tak mengidahkannya.
Lio memusatkan pendengarannya. "Iblis itu hendak melarikan diri" kata Lio lirih.
"APA?"
"Bersiaplah. Sekawanan serigala sedang menuju kemari" lanjut Lio.
"Secepat itu?" kata Viro.
"Lebih baik kita tidak berpencar. Nada, cepat beritahu kami saat kau melihatnya!" kata Kenan.
"Tidak bisa. Aku harus mengejar iblis itu. Kalian, cobalah mengulur waktu dengan serigala-serigala itu" kata Lio.
"Kau memanfaat kami sebagai umpan?" ucap Brian marah.
__ADS_1
Tak berapa lama, terlihat segerombolan serigala muncul dari balik semak-semak. Dengan mata merah menyala. gigi-gigi yang tajam, serigala itu nampak kelaparan. Tidak besar ukuran mereka masih normal, tapi terlihat sangat ganas.
Lio hanya menyerigai melihat serigala-serigala itu. "Itu sudah perjanjian kita dari awal. Mau mundur? Terlambat''