Demigod

Demigod
Bab 70


__ADS_3

Di waktu yang sama, di markas D'hunter. Semua anggota sedang berkumpul dan berlatih di lapangan, tak terkecuali Nada, Viro, dan Kenan.


"Nada, jika kamu masih tidak enak badan jangan ikut latihan terlebih dulu" kata Kenan.


"Aku sudah sembuh, ini sudah seminggu, aku sudah baik-baik saja sekarang" ucap Nada dengan ketus.


"Aku hanya khawatir kepadamu"


Nada tak mengindahkan, kini ia sibuk dengan pistolnya. Sejak sembuh dari virus, Nada berubah menjadi gadis yang pendiam dan cuek. Lebih tepatnya lagi, ia berubah ketus dan gampang marah.


Bukan tidak ada alasannya dia berubah, sejak siuman dan mendapati Lio sudah pergi. Dalam dirinya selalu bertanya-tanya, kenapa Lio pergi bahkan tanpa berpamitan terlebih dulu kepadanya? Apa aku terlalu menyusahkan dirinya? Apa aku terlalu lemah sehingga dia tidak membutuhkanku? Apa aku terlalu tidak berguna? Pikir Wulan.


"Hey lemah, turuti saja apa kata Kenan. Pergi tidur saja sana di kamarmu, tidak perlu latihan. Latihan ini hanya bisa di lakukan orang yang kuat, bukan orang yang lemah seperi mu. Hanya bisa mengandalkan pengelihatan aura iblis? Percayalah, kekutan jauh lebih penting daripada matamu itu" kata salah satu anggota.


"Sonya, jaga bicaramu" ucap Kenan.


"Apa? Kenapa aku harus menjaga ucapan ku? Bukankah apa yang aku katakan adalah benar?"


"Kau-"


Dorr


Nada menembakkan pelurunya ke papan sasaran. Ia terlihat begitu marah dan kesal.


"Aku akan buktikan kepada kalian kalau aku tidak lemah" gumam Nada lalu pergi dari sana.


"Cih, membuatku kaget saja. Lihat, dia hanya berlagak saja''


"Kalian ini, tidak bisa menjaga lidah dengan baik ternyata" kata Kenan.


"Memangnya kenapa? Kata-kataku tidak salah kan? Itu semua kenyataan"


"Ya, lagipula kamu terlalu membelanya''


Kenan pun berdecak kesal lalu pergi meninggalkan mereka, menyusul Nada.


Kenan berlari mencari-cari Nada di semua tempat namun tidak menemukannya. Hingga langkah kakinya berhenti di ruang latihan. Ia masuk ke dalam sana dan mendapati Nada tengah bergulat dengan samsak.


"Huh, ternyata kamu berada di sini" gumam Kenan lalu berjalan menghampiri Nada.


Di ruangan itu hanya ada mereka berdua. Suara pukulan tangan Nada mendominasi seluruh ruangan itu.


Kenan hanya melihatnya dari samping, ia juga tak mau menghentikan Nada yang kini terlihat begitu menggebu-gebu.

__ADS_1


"Huh" dengus Nada menghela nafas panjang dengan keringat yang membasahi seluruh tubuhnya.


"Mau minum dulu?" kata Kenan lalu mengambil botol minum di sampingnya.


Ia pun berjalan mendekati Nada.


"Jangan menggangguku" kata Nada ketus.


"Aku tidak ingin mengganggumu" lanjut Kenan sambil membuka tutup botol yang berada di tangannya.


Nada masih tak menghiraukan Kenan yang berdiri di sampingnya. Merasa kesal karena Kenan sedari tadi menatapnya, Nada pun memukul samsak dengan sagat keras.


"Huh" Nada pun terduduk di lantai.


Dengan tatapan yang masih sama, Kenan pun menyodorkan botol minum itu. Dengan cepat Nada mengambil botol tersebut dan meminumnya dengan kesal, membuat air tumpah membasahi bajunya.


Kenan pun ikut duduk di lantai, di samping Nada.


"Aku tau kau sangat marah, aku juga tidak berniat untuk menghentikan mu" kata Kenan.


"Hah" desah Nada sambil menaruh botolnya di samping.


"Kamu boleh melakukan apapun yang kamu mau, dan aku akan menemanimu" lanjut Kenan.


"Kamu mau berlatih, aku akan menemanimu. Kamu mau marah, kamu bisa melampiaskannya kepadaku. Yang pasti, aku tidak akan membiarkanmu sendirian. Aku juga tidak akan membiarkanmu melalui masa sulit mu sendiri, cukup kamu ingat bahwa aku akan selalu ada untukmu"


Tak terasa, Nada kini menitikkan air matanya.


"Kenapa aku sangat tidak berguna? apa yang di katakan mereka semua benar. Aku memang anggota yang paling tidak berguna di sini. Jangankan melindungi teman-temanku, aku bahkan tidak bisa melindungi diriku sendiri" gumam Nada yang masih tertunduk.


''Ini semua bukan salahmu, jangan dengarkan apa kata mereka"


"Semua nya salahku, bahkan Lio juga berpikir kalau aku tidak berguna. Dia bilang kita adalah partner, sekarang dia tidak membutuhkanku lagi. Bahkan dia juga tidak memberitahuku kemana dia pergi. Dia pergi begitu saja, bukankah dia juga berpikiran sama?''


Kenan pun terdiam sejenak.


"Jadi ... Beberapa hari ini kamu marah karena ini? Kenapa? Apa kamu begitu menyukainya?" batin Kenan.


"Mereka benar, penglihatan ku juga tidak berguna. Lalu untuk apa lagi aku berada di sini?"


Kenan dengan segera menarik Nada ke dalam pelukannya.


"Jangan berbicara seperti itu, bukankah sudah ku bilang. Jangan hiraukan perkataan mereka" kata Kenan sambil mengusap punggung Nada.

__ADS_1


Nada pun menangis terisak-isak di dalam pelukan Kenan, meluapkan semua kekesalan pada dirinya sendiri yang selama ini dia pendam.


"Bagus, menangis lah. Dengan begitu kamu akan merasa jauh lebih baik" lanjut Kenan.


Nada pun menangis dengan puas di sana. Tak lama setelah itu, Viro, Tiara dan Brian pun masuk ke dalam ruangan.


"Ternyata benar, aku kira aku berhalusinasi saat mendengar suara tangisanmu" kata Viro yang baru saja masuk diikuti Brian dan Tiara di belakangnya.


"Ternyata kalian berdua di sini? Kita sedari tadi mencari kalian kemana-mana" tambah Tiara.


Mereka pun menghampiri Nada dan Kenan yang sedang duduk di sana.


"Huh, kalian sedang apa di sini?" lanjut Brian yang kini duduk di sebelah Kenan.


"Oh? Benar kan dugaan ku? Kamu tadi menangis kan? Ini, matamu kelihatan seperi bola pingpong" kata Viro sambil menunjuk-nunjuk ke arah wajah Nada.


Plak


Kenan pun memukul tangan Viro agar menjauh dari wajah Nada.


"Jangan merusak mood nya, jaga bicaramu" gerutu Kenan sambil menatap tajam ke arah Viro.


"Astaga, kenapa kau galak sekali?"


"Ketua menyuruh kita pergi ke aula, sepertinya mau membahas tentang misi kita" kata Tiara.


"Misi? Bukankah kita perlu latihan dalam beberapa bulan ke depan?" ucap Kenan.


"Hem, sepertinya ketua Ca ingin membahas sesuatu yang lebih dari itu"


"Apa ada masalah? Sepertinya ada yang mengganggu pikiran kakek akhir-ahir ini" gumam Kenan.


"Aku dengar, misi kita kali ini cukup sulit"


"Sulit apa, kita hanya main-main saja. Selama ini kita hanya berburu hal yang tidak jelas. Di lihat dari kemampuan kita, kita memang bukan tandingan iblis. Masih ingat dengan iblis ular waktu itu? Kita tidak bisa mengalahkannya. Iblis di taman, kita juga kalah. Ha, iblis laba-laba juga. Hih, aku bahkan masih ingat bagaimana rasa sakitnya saat kaki iblis itu menancap di dadaku" kata Viro.


"Lagipula mereka semua sudah kalah"


"Tentu saja mereka sudah kalah, tapi bukan kita yang mengalahkan nya. Lio yang membunuh mereka" lanjut Viro.


Mereka semua pun terdiam. Benar saja, jika tidak ada Lio mereka sudah lama menjadi santapan iblis.


"Huh, entah pergi kemana dia sekarang" gumam Viro.

__ADS_1


__ADS_2