Demigod

Demigod
Bab 83


__ADS_3

Di sebuah atap gedung yang menjulang tinggi di negara Qi, berdirilah seorang pria bertubuh tinggi besar dengan kain warna merah yang mengikat di atas kepalanya.


Di sebelah pria itu, berdiri seorang wanita cantik dengan rambut pendek sebahu. Ia nampak memakai beberapa tindik di hidung dan telinganya.


"Gun, kira-kira apa alasan tuan besar menyuruh kita menangkap pria itu? Apa dia juga berasal dari anggota pemburu iblis, hingga membuat tuan menyuruh kita turun tangan?" kata pria itu sambil menyilangkan kedua tangannya.


"Kenapa kita harus tau? Bukankah kau tau sendiri, tuan tidak suka kita ikut campur. Jika dia memerintahkan kita membunuh, maka bunuh saja. Apa yang perlu kau pikirkan?" kata wanita itu dengan wajah datarnya.


"Aku hanya penasaran saja, lagi pula selama ini tidak ada anggota pemburu iblis yang benar-benar bisa membunuh kaum kita"


"Dilihat dari penglihatan yang dikirimkan oleh tuan. Dia sepertinya bukan pria yang biasa. Mungkin saja tuan mengincarnya untuk dijadikan iblis tingkat atas" kata wanita itu sambil melirik ke bawah gedung.


"Ini tidak mengasyikkan, seharusnya kita bunuh saja dia. Jika dia dijadikan iblis, maka posisi kita menjadi ketujuh iblis tingkat atas akan tergeser olehnya" kata pria itu.


"Kau terlalu banyak berpikir Sam. Lebih baik tingkatkan kemampuan kita dan menjadi kuat setiap harinya. Memakan manusia sebanyak-banyaknya maka kita akan menjadi iblis terkuat kepercayaan tuan"


"Hehehe. Kau memang benar. Tapi gadis kecil ini adalah milikku sekarang" kata pria itu sambil melompat terjun dari gedung tersebut.


"Dasar Sam bodoh. Dia sudah menjadi incaran ku sedari tadi" kata wanita itu terjun bebas mengikuti pria tadi.


"Hahaha, siapa cepat dia dapat"


Sedangkan di tempat lain Lio dan yang lainnya kini tengah duduk di sofa ruang kerja milik Kevin.


"Untung saja mental ku sekuat baja. Jika tidak, aku pasti sudah trauma karena melihat wajah jelek iblis itu" gumam Kevin.


"Mental baja apanya? Aku melihatmu tadi pingsan di depan pintu" balas Deon.


"Aku tidak pingsan, tapi aku dirasuki iblis itu bodoh. Dia yang membuatku tidak sadarkan diri, mana mungkin aku pingsan" dalih Kevin.


Di sisi lain Lio tengah duduk di sofa sambil menekuk kedua sikunya di atas lutut. Dia berpikir sangat keras mencari tahu siapa iblis yang sudah membawa iblis Meta pergi dari sini.


"Aku yakin iblis jelek itu sedang mengincar ku dengan menggunakan Kevin. Tapi kenapa iblis yang satunya lagi malah mengincarnya dan membunuhnya? Tidak bisa dipercaya. Aku sama sekali tidak bisa melacak keberadaannya" gumam Lio berbicara sendiri.

__ADS_1


"Lio, sebenarnya kenapa Iblis ini tiba-tiba mengejar mu dan juga Kevin?" kata Deon mulai penasaran.


"Iblis jelek itu mengejar ku karena adiknya telah aku bunuh di kota Regoon. Sayang sekali dia sudah mati sebelum aku membunuhnya"


"Jadi, waktu kau di kota Regoon kau sudah membunuh satu iblis?" gumam Kevin. "Pantas saja dia bilang kalau dia mau membalaskan dendam adiknya, ternyata karena hal ini?"


"Sekarang yang terpenting bukan masalah itu, tapi iblis yang sudah menarik iblis jelek itu dari tubuh Kevin" kata Lio mulai terdengar serius.


"Apa itu berarti dia menyelamatkanku?"


"Mana mungkin dia menyelamatkanmu. Pasti ada sesuatu yang lain sampai dia datang ke sini tanpa membunuhmu. Aku bisa merasakan habis itu jauh lebih kuat dari iblis jelek. Jika hanya memakan mu atau membunuhmu itu hal sangat mudah baginya"


"Apa? Masih ada iblis yang jauh lebih kuat dari iblis setan itu?" kata Kevin tak percaya. "Astaga, aku sudah terkontaminasi dengan iblis. Jangan bilang iblis lain juga akan menargetkan ku lagi suatu hari nanti?"


"Bisa jadi'' kata Lio singkat sambil mengedikkan bahunya.


"Aku tidak mengerti apa yang sedang kalian bicarakan. Seolah-olah Aku sedang menonton film fantasi" gumam Deon mencoba mencerna kata-kata mereka.


"Masih banyak iblis kuat yang berkeliaran di luaran sana. Dengan memakan manusia, mereka akan bertambah semakin kuat dan semakin kuat setiap harinya. Karena itu kita harus lebih waspada, terutama kau ..." kata Lio sambil menatap Kevin. "Aku sudah beberapa kali membunuh iblis di luar sana. Dan terakhir kali aku membunuh iblis tingkat atas, maka cepat atau lambat iblis terkuat lainnya pasti akan memburu ku. Dan kau pasti akan menjadi alat untuk memancing ku"


"Itu wajar saja, di dunia mafia pun juga begitu. Karena Kevin adalah satu-satunya keluargamu dan orang terdekatmu. Hanya dia yang kamu miliki. Dan dia juga orang terpenting di hidupmu" kata Deon sambil menyilangkan kedua tangannya.


"Siapa bilang tikus kecil ini orang terpenting di hidupku? Jika mereka menggunakannya sebagai sandera aku pun tidak peduli" kata Lio acuh tak acuh.


"Teganya kau berkata seperti itu" kata Kevin sambil terhenyak dari tempat duduknya.


"Aku tidak peduli dengan apa yang akan terjadi kepadamu. Jadi mereka tidak akan bisa memancing ku hanya dengan dirimu"


"Lalu? Bukankah kau datang ke sini demi Kevin?" kata Deon. "Kau segera datang ke sini setelah mendengar telepon dari Kevin. Bukankah kau sangat mengkhawatirkan dia?"


"Mengkhawatirkan apa? Aku terburu-buru datang ke sini hanya ingin menangkap iblis jelek itu. Aku ingin membunuhnya dengan tanganku sendiri karena dia sudah menyakiti telingaku dengan suara busuknya itu. Sayangnya dia sudah menghilang dari tempat ini''


"Astaga, jadi kau datang ke sini hanya demi iblis itu?"

__ADS_1


"Dasar kakak tidak tahu di untung. Kalau begitu pergi saja dari sini, hump" ucap Kevin merajuk.


"Aku juga akan pergi dari sini setelah ini. Tapi ada sesuatu yang perlu kalian ketahui" kata Lio mulai serius kembali.


Kevin dan Deon pun memajukan tubuhnya ingin mendengar perkataan serius dari Lio itu, mereka terlihat begitu penasaran.


"Aku lapar sekarang, jadi suruh anak buah mu mengambilkan makanan untukku"


Wajah Kevin dan Deon terlihat masam mendengar kata-kata Lio. Mereka pikir mereka akan mendengarkan kata-kata serius dari Lio, tidak taunya Lio sekarang ini hanya sedang kelaparan saja.


"Astaga aku pikir kau akan berkata apa"


"Oh ya, satu lagi. Ambilkan aku makanan yang enak-enak saja. Hari ini aku sangat lapar, jadi aku tidak berselera makan makanan yang biasa"


"Kalau kau mau makan enak pulang saja sana" kata Kevin dengan ketus.


"Lio, coba serius sedikit saja. Jika hal ini terulang lagi kepada Kevin ataupun aku ataupun anak buah yang lainnya. Apa yang harus kita lakukan untuk menghadapi iblis iblis ini?" kata Deon mulai cemas.


"Tidak ada yang harus dilakukan. Jika kalian bertemu iblis, hal pertama yang kalian lakukan hanyalah lari. Itupun jika kalian bisa. Jika kalian tidak bisa berlari, maka lawan saja sampai iblis itu kalah" kata Lio dengan entengnya.


"Enak saja mulutmu itu jika berbicara. Selemah apapun iblis, manusia tidak bisa menyentuhnya apalagi membunuhnya"


"Kalau seperti itu, bukankah yang harus dipertanyakan adalah kekuatan manusia?"


Deon dan Kevin pun terdiam sejenak.


"Jika kalian bisa lebih sedikit kuat saja, maka kalian bisa mengalahkan iblis. Emm, tidak, tidak. Sebenarnya banyak manusia-manusia kuat di dunia ini namun mereka hanya tidak tahu saja cara menghadapi iblis.


"Kalau begitu cepat beritahu kami bagaimana caranya?"


"Baiklah kalian mendekatlah"


Dengan cepat Deon dan Kevin segera memajukan tubuhnya untuk mendekat ke arah Lio dengan raut wajah mereka yang begitu serius.

__ADS_1


"AKU LAPAR!! CEPAT BERI AKU MAKAN!!"


__ADS_2