Demigod

Demigod
Bab 16


__ADS_3

Beberapa hari pun berlalu, semenjak hari di taman itu. Banyak kabar di luaran sana para hewan-hewan pemakan manusia sedang berkeliaran di mana-mana. Anggota D'hunter tidak bisa mengatasi mereka karena cidera yang mereka alami terakhir kali di taman itu. Sedangkan Lio memilih untuk menutup mata akan keresahan manusia yang diserang oleh hewan-hewan ganas itu. Lio memilih untuk fokus melacak keberadaan iblis Pharoh.


''Tuan, ada lagi hewan yang menyerang manusia. Dia bahkan mencabik-cabik manusia dan mengambil jantungnya saja'' kata kunang sambil hinggap di ujung bak mandi Lio.


''Biarkan saja. Kita fokus aja untuk mencari iblis itu'' ucapnya yang sekarang ini berada di dalam bak mandi.


''Tapi tuan. Bagaimana kita melacaknya? Iblis ini sangat pintar bersembunyi, sedangkan benang-benang yang kita dapatkan juga tidak bisa membantu sama sekali''


''Maka dari itu. Percuma saja kita menyerang hewan-hewan itu. biarkan saja mereka''


''Tapi tuan. Sebenarnya bagaimana rupa iblis Pharoh ini?''


Lio pun terdiam sejenak lalu menegakkan punggungnya.


''Aku juga tidak pasti. Karena aku belum pernah bertemu mereka. Tapi yang jelas iblis Pharoh ini juga perwujudan dari seekor hewan''


''Hewan? Apakah itu tuan?''


''Laba-laba''


''Laba-laba? Pantas saja semua hewan yang mengamuk itu selalu memiliki benang. Ternyata benang ini adalah jaringnya. Lalu bagaimana kita mencarinya tuan? Bukannya ini sangat mudah kalau dia berbentuk laba-laba, tapi kita tidak tahu letak pasti dimana dia bersembunyi''


''Hheemm ... Kau benar'' Lio pun terdiam sejenak dan memikirkan sesuatu. ''Tunggu!!''


''Ada apa Tuan?''


''Sepertinya kita melewatkan sesuatu''


''Apa itu?''


''Hewan yang yang dia kendalikan, kurang lebih adalah hewan-hewan liar. Apakah kau bisa melacak dari mana asal hewan-hewan itu?''


''Baiklah Tuan. Aku akan berusaha melacaknya, tapi aku butuh waktu beberapa hari''


''Hhheeem ... Pergilah!!


Kunang pun mengepakkan sayapnya terbang menjauh perlahan namun pasti. Tubuh kenari emas kecil itupun menghilang bagaikan kabut.


''Memang tidak mudah untuk menangkap mereka. Tapi setidaknya aku masih cukup pintar untuk melacak keberadaannya''


Tok tok tok


Suara pintu kamar mandi pun diketuk seseorang.


''Tuan ada seorang teman yang mencari anda'' ucap salah satu pelayan dari luar kamar mandi.


''Teman?''


''Iya, ada seorang gadis yang menunggu anda. Dia bilang dia adalah teman Anda''


''Baiklah aku akan segera keluar''


Pelayan itu pun segera pergi dari sana.


''Teman? Aku tidak memiliki teman. Teman siapa?''


Lio pun beranjak dari tempatnya lalu mengambil sebuah handuk dan melilitkannya pinggang. Dengan santainya ia berjalan kearah ruang tamu dengan bertelanjang dada.


''Kau. Kenapa kau ada disini?'' kata Lio sambil berjalan mendekati Nada yang kini duduk di ruang tamu.

__ADS_1


Nada pun menoleh ke arah belakang lalu terkejut melihat Lio yang hanya memakai handuk di pinggangnya. Buru-buru ia memalingkan wajahnya. Dengan santainya Lio malah duduk dihadapan Nada.


''Kau. Kenapa kau hanya memakai handuk?''


''Aku baru saja mandi kau mengganggu waktuku berendam'' ucap Lio dengan malas.


''Sebaiknya kau pakai dulu pakaianmu'' kata Nada yang sedari tadi memalingkan wajahnya.


''Jangan mengatur ku. Kau cepat katakan. Ada apa kau kemari?'' ucap Lio dengan tatapan dingin.


Nada pun menelan salivanya. Ia pun menoleh dan duduk tegap menghadap ke arah Lio. Tatapannya tertuju ke arah dada bidang Lio dan turun menuju ke perutnya. Terlihat otot perut pria tampan itu seperti membentuk garis-garis yang sangat kuat.


''Apa yang kau lihat? Mau ku congkel matamu itu?'' kata Lio mengagetkan Nada.


''Ehem ... Aku kesini hanya ingin mengantarkan ini'' lanjut Nada sambil memberikan sebuah kotak makanan kepada Lio.


''Apa ini?'' ucapnya sambil melirik kotak tersebut tanpa bergerak dari tempatnya.


''Aahh .. Ini kue bolu yang aku buat sendiri. Aku membuatkannya khusus untukmu sebagai tanda terima kasih karena sudah menyelamatkan kami tempo hari''


''Tidak perlu bawa pergi barang itu'' kata Lio sambil menyilangkan kedua tangannya.


''Ck. Kenapa kau sombong sekali?'' gumam Nada. ''Tidak bisa, kau harus mencicipinya''


''Aku tidak makan makanan seperti itu''


''Hei ini enak loh'' kata Nada sambil mengambilkan sepotong kue bolu lalu mengarahkannya ke mulut Lio.


''Apa yang kau lakukan?''


''Ayo cobalah sedikit ... Haaaaaaa'' lanjut Nada sambil memaksa untuk menyuapi Lio.


''Berani maju selangkah. Aku pastikan kakimu berada di kepala'' kata Lio sambil menatap tajam.


''Dasar manusia aneh''


Nada pun terdiam, ia terlihat menundukkan kepalanya. Namun perlahan-lahan air mata mulai menetes dari matanya.


''Apa yang kau lakukan''


''Hiks hiks. aku hanya berniat baik kepadamu tapi kamu malah ... Huaaa'' isaknya tersedu-sedu.


''Haish ... Ada apa dengan manusia ini?'' gumam Rio terheran-heran. ''Ck, baiklah baiklah aku terima barang ini lalu segeralah pergi dari sini''


Nada segera mengucap air matanya. Ia lalu mendongak dengan semangat.


''Itu berarti kau menerima tanda terima kasihku?''


''Ya, cepat pergilah'' kata Lio sambil mengibas-ngibaskan tangannya mengisyaratkan Nada untuk pergi dari sana.


''Tapi aku masih punya pertanyaan untukmu. Maukah kau menjawab pertanyaanku?''


''Kau ini banyak maunya ya? Cepat katakan dan pergilah dari sini''


''Ehem ... Pertama-tama. Kenapa kau kau bisa tahu banyak tentang iblis-iblis itu? Dan juga kau tahu dari mana tentang kelemahan mereka? Seni beladiri mu juga lumayan. Apa kau juga berasal dari anggota tertentu?''


''Hehh ... Kenapa pertanyaanmu banyak sekali?'' gumam Lio. ''pertama aku adalah dewa tentu saja aku mengetahui semua tentang iblis-iblis itu. Kedua aku tahu kelemahan mereka karena aku sudah lama mempelajari kelemahan-kelemahan nya. Ketiga ...'' Lio pun mencondongkan tubuhnya ke depan memperlihatkan otot-otot lengannya yang terlihat kekar. ''Seni bela diri ku sudah aku latih sejak ratusan ribu tahun yang lalu. Jadi aku tidak memerlukan anggota apapun'' jelas Lio.


Nada pun terdiam. Dia terlihat tercengang dengan penuturan Lio.

__ADS_1


''Dewa? Mana mungkin. Jelas-jelas kau manusia''


''Aku adalah Dewa yang diutus untuk turun ke bumi membasmi ke-7 iblis itu. Aku adalah Dewa agung dari semua dewa yang ada di Nirvana'' ucapnya dengan bangga.


Nada pun malah semakin tercengang. Ia sempat berpikir dia sedang berbicara dengan orang gila. Mana ada orang yang percaya jika ada seseorang mengatakan bahwa dirinya adalah seorang Dewa. Itu sangat mustahil.


''Apakah kau sakit? Jangan-jangan tadi kau terbentur di bak mandi''


"Sudah aku jawab, kau boleh pergi"


"Tidak bisa" Nada pun berganti tempat duduk di sebelah Lio. "Kau ... Benar-benar dewa?"


"Apa yang kau lakukan? Menjauhlah dariku!!"


"Katakan kepada ku. Apa kau benar-benar dewa? Tapi, kenapa kau terlihat seperti manusia? Dan kekuatan mu. Apa kekuatan mu? Cepat beritahu aku"


"Dasar manusia sialan" Lio pun hendak pergi namun Nada menarik tangannya.


"Tunggu dulu"


"Apa lagi?"


"Aku ... Aku hanya ingin minta bantuan mu"


"Bantuan apa? Aku tidak bisa membantu manusia. Pekerjaan ku sudah banyak"


"Kalau begitu, bisakah kau menjelaskan tentang iblis kepadaku. Ah tidak, kepada tim ku. Selama ini D'hunter hanya kelompok yang memburu iblis tanpa tau iblis apa yang di hadapi"


"Itu salahmu sendiri"


Lio pun pergi ke arah kamarnya. Namun Nada masih saja mengikutinya.


"Ayolah, aku mohon. Bukankah kau juga perlu bantuan ku untuk melihat hawa iblis? Aku bisa membantumu"


"Aku sudah tidak butuh"


"Ayolah, setidaknya bergabunglah di tim kami. Kami membutuhkan mu untuk mengerti seluk-beluk iblis itu. Jika aku tau tentang para iblis itu, bukankah aku lebih mudah membantumu?"


Lio menghentikan langkahnya.


"Ya? kita kerjasama dan saling menguntungkan"


"Kemampuanmu sangat tidak berguna. Bagaimana bisa aku bekerjasama dengan mu?"


"Oke, kalau begitu bagaimana dengan ini. Aku akan memberitahumu tentang suatu rahasia-"


"Aku tidak memerlukannya"


"Tunggu!! Bukankah kau bilang dia adalah iblis Pharoh?" ucapan nada menghentikan langkah Lio kembali. "Saat aku mengambil benang di taman itu, aku bermimpi iblis itu memiliki wujud seperti laba-laba"


Lio pun menoleh ke arah Nada. "Lalu?''


"Dia sedang bersembunyi di tempat yang gelap, seperti bebatuan. Tapi aku tidak tau dimana tempatnya"


"Jelaskan kepada ku apa yang kamu lihat"


Nada pun menggelengkan kepalanya. "Tidak bisa, kau harus setuju dulu untuk bekerjasama dengan ku"


"Dasar, baiklah"

__ADS_1


Nada pun menjulurkan tangannya. "Mari, mulai sekarang kita adalah partner"


Lio pun menjabat tangan Nada. Sesaat kemudian, Lio pun berganti pakaian. Lalu nada menceritakan apa saja yang ia mimpikan.


__ADS_2