
"Huaahh" gumam Lio yang kini sedang merendam tubuhnya di bak mandi. "Manusia ini benar-benar hidup dengan nyaman"
"Tuan"
"Aku tidak ingin di ganggu, pergi sana"
"Aish, padahal aku ingin menanyakan sesuatu" kata Kunang.
"Tanyakan saja besok. Tubuh manusia ini sedang tidak nyaman. Aku ingin menyegarkan diriku. Huh, pada dasarnya manusia-manusia ini sangat lemah" Lio pun mengangkat telapak tangannya dan menyentil beberapa gelembung sabun yang ada di bak mandinya.
Pyasss
Seketika seluruh kamar mandi itu penuh dengan gelembung-gelembung yang berterbangan.
"Sudah ku bilang tidak ada yang salah. Kenapa di saat aku membutuhkannya kekuatan ku malah tidak keluar? Dewa gila itu pasti tau tentang hal ini" gumamnya.
"Tuan, mungkin-"
Syuuusss
Kunang tiba-tiba menghilang menjadi kabut putih dan perlahan-lahan memudar.
"Aku tidak ingin mendengar ocehan mu. Burung kecil yang cerewet. Apa aku harus mengembalikan mu ke dalam jiwaku? Dengan begitu aku tidak akan mendengar kicauan mu yang berisik itu" gumamnya.
Sudah seminggu sejak kejadian di pusat perbelanjaan itu. Lio dan para D'hunter sudah tidak saling bertemu. Lio juga sudah tidak mengikuti Nada seperti sebelumnya. Ia lebih suka berkeliaran sendiri untuk melacak lokasi sang iblis Pharoh.
Ya, iblis Pharoh adalah iblis pemakan manusia. Dia terkenal sangat rakus jika sudah mencium darah manusia. Bumi, adalah tempat tinggal terbaik untuk melancarkan aksinya. Tidak hanya itu, dia memperalat hewan-hewan yang ada di bumi untuk menangkap ataupun memangsa para manusia. Baginya, hewan adalah perantara paling bagus untuknya.
"Ah, pantas saja. Ular yang terakhir kita temui wujud aslinya hanyalah hewan kecil. Jadi itu salah satu tipu muslihatnya"
"Bicara tentang tipu muslihat. Iblis Pharoh bukanlah iblis yang ingin menipu. Sifatnya hanya mendominasi di bagian perutnya. Ia hanya ingin makan, makan, dan makan. Sejauh ini, dia adalah iblis yang paling gampang untuk di tangani. Masalahnya adalah, di mana dia bersembunyi sekarang" ucap Lio sambil memegang segelas wine.
"Aku juga tidak bisa melacaknya. Seperti ada yang membantu dia menutupi jejaknya"
"Ya, mereka bertujuh sudah bekerjasama untuk kabur dari Nirvana. Tentu saja mereka akan bekerjasama untuk menguasai dunia fana"
"Kalau begitu, haruskah kita meminta bantuan gadis yang bernama Nada itu?" ucap Kunang yang selalu terbang di samping Lio
"Tidak perlu, aku rasa aku sudah tidak membutuhkan manusia lemah itu. Apa gunanya bisa melihat hawa iblis jika dia tidak tahu apa yang sebenarnya dia lihat? Aku rasa kemampuannya tidak cukup jauh dengan kemampuanmu" kata Lio sambil menenggak wine yang ada di tangannya.
"Ya tapi aku rasa kemampuanku cukup tertinggal jauh dengannya"
"Bicara apa kau? Kau adalah bagian dari inti sari jiwaku. Jiwa seorang Dewa agung. Mana bisa kau dibandingkan dengan manusia lemah itu. Apa kau ingin kembali menjadi intisari jiwa saja? Aku rasa kau harus kembali agar aku bisa memiliki kemampuan mu tanpa perlu bertanya kepadamu"
"Bagaimana mungkin? Jika aku kembali menjadi intisari jiwamu. Kamu tidak akan mendapatkan apa-apa. Ini adalah murni kemampuan ku saat menjadi burung kenari spiritual mu. Jika aku kembali, tetap saja kau tidak akan mendapatkan apa-apa" jelas kunang.
"Kau benar. Sudahlah sekarang tugasmu adalah melacak keberadaan iblis Pharoh dengan menggunakan benang ini"
"Baiklah akan aku laksanakan segera" kunang pun terbang lalu menghilang di udara.
Beberapa saat kemudian terdengar ketukan pintu di kamar Lio.
"Masuk" ucap Lio yang belum beranjak dari tempat duduknya.
"Tuan" kata seorang pria kurus dengan menggunakan setelan warna hitam itu. Ia terlihat sangat menghormati Lio.
"Kau siapa?" kata Lio terang-terangan.
"Apakah tuan tidak mengenali saya" ucapnya merasa bingung.
"Aku tidak ingat siapa kau. Katakan saja ada apa kau menemuiku?" kata Lio tanpa basa-basi.
"Maaf tuan sata mengganggu waktu istirahat anda. Tapi saya kemari ingin melaporkan keadaan markas kita yang berada di negara A. Di sana terdapat sedikit masalah jadi saya kemari untuk melaporkannya kepada anda. Saya rasa anda harus terjun ke lapangan sendiri untuk mengatasi masalah ini"
"Huh" dengus Lio sambil memijat pelipisnya. "Apalagi ini? Aku sudah sibuk dengan urusan memburu iblis dan sekarang masih ada urusan si manusia bodoh ini" gumamnya.
"Tuan ... saya-"
__ADS_1
"Aku mengerti. Kau pergilah. Jika ada waktu aku akan mengurusnya" kata Lio memotong kalimat pria tersebut.
"Baiklah tuan saya akan segera pergi"
Setelah memberi hormat, pria itu pun segera mengundurkan diri dari hadapan Lio.
"Menjengkelkan. Apakah urusan manusia ini aku harus mengurusnya juga" kata Lio.
Beberapa jam kemudian Kunang pun kembali. Ia bergegas terbang ke arah Lio.
"Lihat apa yang aku dapat" ucapnya sambil mendaratkan kaki kaki kecilnya bahu Lio.
"Katakan"
"Aku bisa mencium hawa yang sama dari benang ini. Tidak jauh dari rumahmu ini terdapat sebuah taman di pinggiran kota. Di sana aku melihat ada beberapa hewan dengan memiliki tali seperti ini di lehernya"
"Apa aku menyuruhmu untuk melacak hewan? Aku menyuruhmu untuk melacak Ibis. Untuk apa jika kau menemukan mereka? Lebih baik kita menemukan iblisnya agar bisa membasmi mereka semua" ucapnya terdengar geram.
"Kau jangan marah dulu tuan. Hanya ini yang bisa aku dapatkan saat melacak benang ini. Siapa tahu kita akan menemukannya jika bertemu hewan-hewan ini"
"Omong kosong. Jika kita menangkap atau membunuh hewan yang sudah berkeliaran di sana apa yang akan kita dapat? Jika pun ada petunjuk atau pun benang yang sama kita hanya akan menemukan hewan yang sama seperti mereka. Aku menyuruhmu untuk melacak hawa iblisnya bukan untuk melacak hal yang sama dengan ini"
"Baiklah-baiklah aku yang salah. Aku akan melacaknya lagi nanti"
Sedangkan di tempat lain para D'hunter sudah bersiap-siap pergi ke taman pinggiran kota karena mereka mendapatkan laporan adanya hewan pemakan manusia seperti ular yang beberapa waktu lalu mereka hadapi di pusat perbelanjaan.
"Aku lihat mereka tidak seganas ular waktu itu. Dari laporan yang aku terima hanya ada ulat bulu, cacing tanah, dan beberapa serangga kecil. Dilihat dari bentuknya mereka tidak terlalu besar seperti ular kemarin itu" jelas Viro.
"Baguslah ayo pergi dan bunuh mereka semua" kata Brian.
Para D'hunter pun segera bergegas ke sana namun Nada terlihat sedikit gelisah.
"Kau tidak apa-apa? Apakah masih tidak enak badan?" kata Tiara.
"Tidak apa-apa aku baik-baik saja"
"Kenapa Lio akhir-akhir ini tidak pergi menemuiku atau mengikutiku? Sejak saat itu dia sudah tidak muncul lagi dihadapanku. Apa dia baik-baik saja? Atau jangan-jangan dia terluka saat mencari para iblis itu? .... Kenapa aku bodoh sekali? Kenapa juga aku harus mengkhawatirkan dia? Dia bukan siapa-siapa bagiku. Dia hanya orang asing. Tapi kenapa rasanya sangat tidak nyaman saat aku tidak melihatnya? Apa mungkin dia benar-benar terluka?"
"Viro kira-kira berapa tinggi mereka atau seberapa besar mereka? kata Kenan.
"Yang ulat bulu panjangnya hanya sekitar 2 meter. Cacing tanah panjangnya 5 meter dan ada 2 serangga jangkrik dan juga 3 ekor kecoa. Rata-rata dari serangga ini hanya mempunyai panjang sekitar 1,5 meter saja"
"Baguslah, mungkin mereka lebih mudah ditaklukkan daripada ular kemarin itu" kata Brian
"Jangan gegabah, kita harus hati-hati karena luka yang kita dapat dari pertarungan kemarin masih belum sembuh benar. Tulang-tulangku bahkan masih belum sembuh" kata Kenan sambil memasukkan peluru ke dalam pistolnya. "Kau juga Nada. Kau harus berhati-hati, tulang rusukmu masih belum sembuh benar. Kau lebih baik bersembunyi di suatu tempat dan membidik mereka dari kejauhan"
"Baiklah"
Mereka semua pun bersiap lalu pergi ke arah tengah taman. Sedangkan Nada dan Viro berada di suatu tempat dan bersembunyi di balik pohon.
"Itu dia" kata Brian sambil menunjuk seekor ulat bulu besar yang sedang memakan dedaunan pohon.
"Ulat raksasa itu terlihat menjijikkan" kata Tiara yang sedang mengamati bulu-bulu ulat tersebut. "Aku sudah tidak sabar ingin membunuhnya. Menjijikkan sekali bulu-bulunya itu" kata Tiara yang memang memiliki phobia dengan ulat bulu.
"Baiklah langsung saja bidik dia" kata Brian.
Dor Dor Dor
Beberapa tembakan dari mereka melesat mengenai tubuh ulat tersebut. Ulat raksasa yang sedang makan siang itu merasa terusik. Ia pun marah lalu tak lama kemudian bulu-bulu dari tubuhnya berterbangan ke arah Bryan dan Tiara.
"Apa ini?" kata Brian.
"Ah menjijikan. Kenapa bulu bulunya bisa rontok seperti itu?" ucap Tiara yang melihat bulu ulat itu terbang mendekati mereka.
Mereka tidak sadar, mereka pikir itu hanyalah bulu dari ulat biasa. Namun pelan tapi pasti bulu-bulu tersebut malah semakin cepat terbang ke arah mereka layaknya sebuah mata panah yang sedang mencari sasarannya.
"Apa?!! Menyingkir!!" ucap Brian sambil tiarap menghindari bulu-bulu itu.
__ADS_1
Jleeppp
Bulu-bulu itupun menancap di tubuh Tiara dan juga Brian. Sangat halus namun terasa menyakitkan seperti terbakar api. Hanya bulu saja, namun terasa seperti besi yang panas.
"Sial panas sekali. Apa ini sebenarnya?" teriak Tiara yang tidak tahan sambil mencabuti semua bulu-bulu tersebut. Satu helai bulu saja sudah terlihat panjangnya sekitar satu meter.
"Apa ini senjata andalannya? Wah ini menyakitkan"
Sedangkan di tempat lain Kenan pergi mencari jangkrik dan juga kecoa yang disebutkan oleh Viro. Tak lama kemudian ia pun menemukan seekor jangkrik yang terlihat menikmati menyantap seorang gadis kecil.
"Menjijikkan. Jangkrik sepertimu ternyata bisa memakan daging" gumamnya Ia pun mengeluarkan senjata laras panjang nya lalu membidik tepat di kepala jangkrik disebut.
Saking tepatnya tembakan dari Kenan jangkrik itu pun langsung terhempas ke tanah. Dia terlihat sudah tidak bernyawa.
"Sangat mudah. Kalau begitu mari kita cari temanmu yang lainnya" ucapnya lalu pergi meninggalkan bangkai jangkrik raksasa tersebut.
"Apa ini tidak masalah? Kita berpencar dan para hewan itu lebih dari satu. Takutnya mereka hewan ganas seperti ular kemarin" kata Nada yang bersembunyi di balik pohon rindang.
"Apa yang perlu khawatirkan? Daripada ular kemarin itu cacing tanah bukanlah apa-apa. Apalagi jangkrik dan kecoa"
"Kau benar. Mungkin aku saja yang berpikir berlebihan"
Tanpa mereka sadari ternyata di atas pohon tersebut sudah bernaung seekor jangkrik raksasa.
Brughh
Jangkrik itu mendarat tepat di hadapan Nada dan juga Viro.
"Eh kadal buntung, eh Ayam semur" ucap Viro latah. "Jangkrik. Membuat orang kaget saja"
"Astaga. Baru saja kita membicarakan nya dia sudah datang menghampiri kita"
Jangkrik tersebut itupun segera menyerang Nada dan juga Viro dengan menggunakan tangannya yang terlihat berbulu namun tajam. Dengan cepat mereka pun menghindari serangan tersebut.
Dor
Beberapa peluru pun melesat kearah tubuh jangkrik raksasa tersebut.
"Nada sepertinya kita harus membidik kepalanya. Dia hanya seekor jangkrik pasti sangat mudah membunuhnya"
Dor
Mereka sama-sama menembakkan peluru ke arah kepala jangkrik itu dan benar saja jangkrik raksasa tersebut langsung tumbang dan sudah tidak bergerak lagi.
"Yes berhasil. Kalau begitu ayo kita cari yang lainnya lalu segera pulang untuk makan iga bakar" lanjut Viro dengan semangat.
Nada dan Viro pun pergi ke tempat lain tanpa mereka sadari tiba-tiba cacing tanah raksasa muncul dari tanah dan membelit kedua kaki mereka dengan tubuhnya.
"Menjijikan. Bagaimana ini?" kata Nada yang sudah tidak bisa bergerak karena tangan dan kakinya dililit oleh cacing tersebut.
"Huh sial. Kalau seperti ini bagaimana kita bisa melawannya?" kata Viro yang tubuhnya terhimpit dengan Nada.
"Tunggu sebentar" kata Nada. "Viro apa kau merasakan sesuatu?"
"Ada apa?"
"Tubuhku kaku. Aku tidak bisa menggerakkan sedikitpun anggota tubuhku. Lendir-lendir ini seperti mengeras dan menahan tubuhku"
"Kau ... Kau benar. Aku juga merasakannya. Sialan lendir menjijikkan dari cacing ini ternyata bisa membuat kita beku seperti batu"
"Bagaimana ini Viro kita tidak bisa melarikan diri" ucap nada ketakutan.
Di tempat yang lain pula terlihat Kenan sedang mengejar kecoa raksasa
"Aku yakin dia pasti sama lemahnya dengan jangkrik tadi" kata Kenan penuh percaya diri lalu mengarahkan pistolnya ke kepala kecoa itu.
Tanpa diduga ternyata muncul kecoa lainnya berada tepat di belakang Kenan. Ia tidak menyadari keberadaan kecoa tersebut. Hingga kecoa itu pun menusukkan kaki tajamnya ke arah tubuh Kenan.
__ADS_1
Untung saja Kenan cepat tanggap dan dia pun menghindar. Namun serangan tadi mampu membuat luka di perut samping kirinya.
"Sial!! Kenapa aku tidak tahu ada kecoa di belakangku?" ucapnya sambil memegangi perutnya yang berdarah. Namun tiba-tiba dia pun terduduk lemas di atas tanah. "Ada apa denganku? Kenapa tubuh kelu?"