Demigod

Demigod
Bab 48


__ADS_3

"Masih mau mencobanya?" kata dewa Lodra sambil mendekati. "Ketahuilah dewa Candra, pedang kematian hanya mengakui ku sebagai tuannya. Tidak ada seorang pun yang bisa menggunakannya tanpa seizin ku"


"Uggh, maaf. Maafkan aku"


"Tuan!!" teriak seseorang yang sedang berlari ke arah mereka.


Lio dan ketua Ca pun kembali ke dunia nyata.


"Tuan anda tidak apa-apa?" kata asisten yang berada di sebelahnya sambil membantu ketua Ca bangun dari tempatnya.


"Aku tidak apa. Kalian semua bangunlah"


Anggota D'hunter dan dokter Cleo pun segera berdiri.


"Huh, apa yang terjadi? Kenapa membiarkan kita berlutut begitu lama?" gumam Brian.


"Entahlah"


Nada pun melirik ke arah Lio yang kini sedang menatap ketua Ca.


"Tuan!!"


"Ada apa? Kenapa kau berteriak seperti itu?"


"Gawat tuan, ada begitu banyak mayat hidup di gerbang perbatasan kita"


"Apa? Bagaimana bisa?" gumam ketua Ca. "Segera kumpulkan para anggota D'hunter lainnya. Kita harus bahas masalah ini segera" lanjutnya hendak pergi namun ia kembali melihat ke arah Lio.


Lio hanya mengangkat satu alisnya acuh.


"E-emm ... Tu-tuan Lio, sebaiknya anda juga ikut dengan kami" kata ketua Ca gugup.


"Tidak! Lakukan saja tugas kalian" ucap Lio dengan entengnya lalu beranjak pergi.


"Ck, apa-apaan dia? Berani sekali bicara seperti itu kepada ketua"


"Ssttt, sudahlah sudahlah. Biarkan saja dia. Kalian, segera pergi ke ruang rapat"


"Baik ketua"


Sedangkan di tempat lain, di sebuah lapangan luas yang tak ada satupun orang berada di sana. Lio sedang berdiri di tengah-tengah lapangan di bawah terik matahari tersebut.


"Hemmm ... Sejak masuk ke dalam sini aku sudah merasa ada yang aneh. Mayat hidup? Hemmm" gumamnya sambil menaruh kedua tangannya di saku celana. "Mari ingat-ingat, iblis apa yang bisa membuat mayat hidup? Apakah dia yang di maksud para iblis itu? Ah ... Jelas bukan, dia bisa membangkitkan iblis mati bukan berarti membuat mayat hidup kan? Baiklah, mari kita lihat seperti apa iblis ini"


Lio pun menaruh tangannya di tanah lalu seketika ia masuk dan menebus tanah tersebut.


"Haha, berada di dalam tanah tidak akan ada satupun manusia yang akan melihat ku. Dengan begini, aku bisa melacak iblis itu dengan kekuatan ku sepenuhnya"


Saat Lio sedang menyusuri bawah tanah tersebut, ia merasa sesak seketika juga ia kembali ke daratan.


"Aahh, sial. Tubuh manusia tidak bisa berlama-lama di dalam tanah"

__ADS_1


Saat Lio sedang kesal sendiri di tengah lapangan itu, ada sebuah aroma yang begitu menyengat terbawa oleh udara.


"Ini ..."


"Lio!" ucap Nada yang sudah berdiri di belakangnya. "Sedang apa kau di sini?"


"Kau lihat itu tadi?" kata Lio tanpa menoleh kebelakang.


Nada pun berjalan menghampiri. "Aura, ada sebuah aura yang terbawa angin. Tapi itu sangat kuat, aku rasa bukan iblis. Iblis punya warna yang sangat pekat tapi ini- Eh?"


"Apa? Cepat katakan!" kata Lio tak sabaran.


"Abu-abu? Seperti hitam tapi memudar"


"Hemm ... Aku juga merasakan itu. Entah itu karena dia terlalu jauh atau ..."


"Atau apa Lio?"


Lio pun terdiam sambil menatap tajam ke arah angin yang menghampirinya tadi.


"Atau manusia iblis itu"


"Sebaiknya kita harus cepat pergi menangkap iblis pembuat mayat hidup itu" kata Lio sambil berbalik melihat Nada.


"Iblis? Laporan dari anggota D'hunter mayat hidup ini di sebabkan oleh virus. Dan ada seseorang yang mengendalikan mereka. Semua warga di pinggiran kota sudah terjangkit virus ini"


"Heh, Virus? Baiklah, percayalah kalau ini virus. Aku lebih percaya ini perbuatan iblis" kata Lio sambil berjalan pergi.


"Aku sudah tau ada hal aneh saat aku masuk ke dalam area tempat ini"


"Benarkah? Kau tau darimana?"


"Sini" kata Lio sambil menunjuk hidungnya.


"Hidung? Maksudmu kamu menciumnya?"


"Ya, sejak sadar dari koma penciumanku menjadi tajam. Aku bisa mencium semua aroma, termasuk parfummu yang menjijikkan"


Nada pun mencium lengan kanan kirinya. "Ini wangi melati tau, ini sangat wangi. Darimana menjijikkannya? Dasar aneh"


"Cih, kau yang aneh"


"Sudahlah jangan bahas parfumku. Lalu, apa yang akan kau lakukan sekarang? Para D'hunter di tugaskan untuk memusnahkan mayat-mayat hidup itu"


"Apa yang aku lakukan? Pertama aku harus menemui dewa kuno itu"


"Dewa kuno? Siapa lagi dia?"


Lio tak menjawab bahkan semakin berjalan jauh dari Nada.


"Hey, Lio! Tunggu aku!"

__ADS_1


Lio pun pergi menemui ketua Ca, ia meminta beberapa senjata seperti pisau dan belati. Ketua Ca mengikuti saja kemauan Lio, ia tak mau Lio membuat masalah di markas D'hunter miliknya. Atau lebih tepatnya, ketua Ca memang takut kepada Lio sekarang.


"Aahh, satu hal lagi" kata Lio sambil membidikkan pistolnya.


"Ya, kau perlu apa?"


"Aku butuh beberapa anak buahmu. Ah tidak, anggota D'hunter milikmu" kata Lio dengan santainya.


"Untuk apa?"


"Memburu iblis, memang kau pikir untuk apa lagi? Bukankah D'hunter memang kau ciptakan untuk memburu iblis?"


"Te-tentu saja. Baiklah, aku akan panggilkan mereka"


Beberapa menit kemudian ketua Ca mengumpulkan para anggota D'hunter di aula. Ada beberapa puluhan anggota D'hunter dengan seragam hitam mereka. Lio terlihat duduk di kursi milik ketua Ca dan membuat mereka bingung tak kecuali Nada.


"Satu, dua, tiga ...." gumam Lio sambil menghitung para anggota yang sedang berbaris di hadapannya. "Astaga, cuma 49 orang? Aku kira D'hunter milikmu ribuan pasukan. Ck ck ck, semuanya juga terlihat biasa saja. Tidak ada kemampuan untuk melawan iblis" ejek Lio kepada ketua Ca.


"Bagaimana dia bisa duduk di sana? Apa dia orang sepenting itu?" gumam salah satu dari mereka.


"Nada, ada apa dengannya? Kenapa seperti tidak takut kepada ketua?" bisik Tiara.


Nada hanya diam saja melihat ke arah Lio.


"Apa maksudnya dewa kuno adalah ketua Ca?" Batin Nada.


"Ehem, baiklah semua. Tuan Lio akan memilih kalian untuk pergi bersamanya membiru iblis"


"Apa? Apa aku tidak salah dengar? Memangnya siapa dia?"


"Tuan Lio. Apa kau mau memilih sendiri siapa yang kau ajak pergi?"


Lio pun membenarkan duduknya dan menaruh kedua sikunya di lutut.


"Hemm, aku butuh seseorang yang paling cepat" kata Lio.


"Wahh, apa dia akan melakukan sesuatu yang besar? Aku juga mau mengikutinya" gumam Viro tak sabar.


"Tuan Lio, aku akan menunjuk Ardan. Dia anggota tercepat di sini" kata ketua Ca sambil menunjuk seorang pemuda dengan tubuh tinggi kurus namun masih terlihat bugar.


"Dia memilih sendiri anggotanya? Tuan Ca juga begitu menurutinya. Apakah Lio punya kekuasaan sehebat itu? Ah, dia pasti memilihku kan? Dia masih butuh penglihatan ku"


"Baik, selanjutnya. Hacker, kau ikut aku" kata Lio sambil menunjuk ke arah Viro.


"A-aku?" gumam Viro sambil menunjuk dirinya sendiri.


"Ya, siapa lagi"


"YEESSSS. YUHUUUU" teriak Viro kegirangan.


"Lalu aku akan merekomendasikan seseorang yang pandai mengatur strategi untukmu tuan. Kenan, dia pandai mengatur strategi dalam menjalankan misi" jelas ketua Ca.

__ADS_1


"Huhh" desah Lio sambil menyandarkan punggungnya. "Sayang sekali, aku tidak memerlukan anggota yang dulunya pernah berniat membunuhku"


__ADS_2