
Keesokan harinya, Lio pergi ke tempat yang sudah di tunjukkan oleh Kunang.
"Seharusnya di sini" gumam Lio lalu masuk ke dalam gudang.
Sama seperti yang di perlihatkan Kunang di dalam mimpi. Lio pun mencari-cari tempat rahasia itu.
Setelah ia menemukannya. Lio segera masuk ke sana.
Ruangan gelap tanpa cahaya. Sangat pengap, kotor dan menjijikkan. Namun, Lio sudah tidak menemukan siapa-siapa di sana.
"Sial!! Dia melarikan diri" gumamnya. "Dia pasti sudah tau akan kedatangan ku"
"Lio" kata seseorang di belakang Lio.
Lio segera menoleh dan mendapati Nada berada di sana.
"Kau? Sedang apa kau di sini? Kau mengikuti ku?" ucap Lio sambil berjalan menghampiri.
Nada pun tersenyum canggung. "Hehehehe. Iya, soalnya aku lihat kau-"
"Berhenti menggangguku dan mengikuti ku" kata Lio menyela lalu berjalan keluar dari tempat itu.
Nada segera berjalan menyusulnya. "Aku khawatir kepadamu. Aku lihat kemarin kau sangat sedih"
Lio pun menghentikan langkahnya. Berbalik menatap Nada.
"Aku adalah dewa perang. Tidak ada kata sedih di dalam hidupku. Jadi, mulai sekarang. Jangan menggangguku" ucap Lio dengan penuh penekanan.
"Aku ... Aku hanya ingin membantumu" kata Nada Lirih.
"Aku tidak butuh bantuan mu"
"Tapi ..."
Lio pun bergegas meninggalkannya.
"Tapi aku lihat hawa iblis itu masih ada" kata Nada dengan cepat.
"Apa?"
Lio pun kembali menghampiri Nada.
"Cepat katakan apa yang kau lihat" perintah Lio.
"Sial, setelah kepergian Kunang aku benar-benar tidak bisa melakukan apapun"
"Kau lihat ini?" kata Nada menunjuk ke arah lantai.
Lio mengikuti arah yang di tunjuk Nada.
"Secara awam. Memang tidak terlihat apapun. Tapi ini memancarkan hawa iblis" jelas Nada.
"Pasti jejaknya. Dia berhasil mengelabui ku" gumam Lio.
__ADS_1
"Dan hawa ini terlihat masih baru. Mungkin masih beberapa jam yang lalu"
"Cepat ikuti jejak ini" kata Lio lalu berjalan mendahului.
Nada tersenyum puas sambil mengikuti Lio.
Nada pun membimbing Lio menuju ke suatu tempat. Melewati jalan yang sepi. Dan berakhir di sebuah sungai pembuangan limbah.
"Lah?"
"Ada apa?" kata Lio.
"Hawanya berakhir di sini" ucap Nada sambil menunjuk pinggir sungai itu.
"Astaga" Lio pun berdecih sambil memegang pelipisnya. "Dia pasti tau aku akan mengikutinya"
"Apa yang harus kita lakukan? Apakah kita harus mencarinya di sungai ini?" kata Nada.
"Lupakan saja. Sungai adalah tempat terbaik untuknya melarikan diri dan menghapus jejak"
Lio pun berbalik meninggalkan tempat itu.
"Lio ... Sebenarnya iblis apa yang kita ikuti ini?"
"Iblis Zelua"
"Zelua? Sepertinya dia terlihat menjijikkan. Benarkah?" kata Nada penuh rasa penasaran.
"Oh jadi begitu" Nada terus mengikuti Lio. "Lio ... Izinkan aku membantumu ya?" kata nada membuat langkah Lio terhenti.
"Aku tidak mau bekerja bersama dengan manusia"
"Tapi ... Kau membutuhkan pengelihatan ku"
"Aku sudah tidak butuh itu"
"Lio ..." ucap Nada sedih.
"Kenapa kau bersikeras ingin membantuku?" kata Lio sambil menyilangkan kedua tangannya.
"Tidak ada. Hanya saja, sejak pertama kali bertemu dengan mu. Aku merasa bahwa kita pernah saling dekat. Jadi itu sebabnya, aku tidak ingin pergi darimu. Dan lagi ... Kau sangat hebat. Aku ingin belajar darimu untuk mengalahkan iblis. Ah tidak ... Setidaknya aku ingin membantumu mengalahkan iblis" jelas Nada.
"Heh? Lalu?"
Nada pun menundukkan kepalanya. "Adikku mati saat dia masih kecil. Aku melihatnya dirasuki sebuah hawa iblis. Namun tidak ada yang percaya kepadaku. Sejak saat itu, aku ingin memburu iblis yang ada di dunia ini"
Lio pun terdiam sejenak.
''Tidak ada yang bisa aku lakukan. Setelah kepergian Kunang, aku bahkan tidak bisa berbuat banyak. Sepertinya aku memang harus membuat gadis ini berada di sampingku. Juga berjaga-jaga agar dia tidak jatuh ke tangan Iblis"
"Baiklah. Kau boleh membantuku. Dan katakan apa saja yang kau lihat"
Nada mendongak-dongakkan kepalanya penuh semangat.
__ADS_1
"Benarkah? Itu berarti kau memperbolehkan ku mengikuti mu?"
Wajah Lio pun berubah masam. "Namun kau di larang untuk mengikuti ku sampai ke rumah. Kau hanya boleh mengikuti ku saat aku membutuhkan mu saja"
Nada tersenyum senang. "Baiklah" ucapnya penuh semangat. "Yang penting aku bisa dekat dengan mu" gumamnya lirih.
"Apa katamu?" ucap Lio yang kini berjalan di depannya.
"Tidak ada" kata Nada berjalan di sampingnya. "Baiklah, apa yang harus aku lakukan sekarang?"
"Tidak ada. Kau harus melatih keterampilan mu. Supaya suatu saat nanti tidak merepotkan ku"
"Baiklah, tapi ... Apa kau mau membantuku?"
"Boleh saja. Tapi aku bukan orang yang sabar"
"Tidak masalah. Aku pasti bisa melaluinya" kata Nada dengan santainya. "Oh ya Lio. Bola bersinar kemarin ... Sebenarnya itu apa?" ucapnya dengan pelan.
Lio pun melirik nada sejenak. "Dia adalah hewan peliharaan ku. Tepatnya adalah hewan supranatural"
"Wahhh ... Hewan supranatural? Apakah bentuknya memang bola seperti itu?"
"Tentu saja tidak. Yang kau lihat hanyalah auranya saja. Bentuknya adalah burung kenari emas"
"Astaga. Dia pasti lucu sekali. Bolehkah aku melihatnya?"
"Tidak bisa" ucap Lio dengan cepat.
"Kenapa?"
"Karena dia sudah kembali ke bentuk inti sari dari jiwaku"
"Inti sari jiwa?" kata Nada lirih. "Aku semakin tak mengerti"
"Sepuluh ribu tahun yang lalu. Saat aku hendak di angkat menjadi dewa perang Nirvana. Aku harus melalui cobaan langit. Saat hukuman petir tiba, secara tidak sengaja aku membuat inti sari jiwaku terbagi menjadi delapan bagian. Dari situlah Kunang terbentuk. Mulai dari saat itu, dia menjadi hewan spiritual ku dan membantuku menguasai medan perang. Dia yang selalu mencari informasi yang aku butuhkan dari musuh. Sejak saat itu, aku hanya bekerja sendirian dan mengandalkan dia"
Nada memandang Lio dengan penuh perasaan.
"Lalu kenapa dia bisa menghilang?"
"Aku menyuruhnya mengikuti wanita yang ada di rumah susun itu. Heh, ternyata yang di hadapi olehnya langsung iblis Zelua. Iblis Zelua mengetahui keberadaan Kunang yang menyusup ke tempatnya. Dia pun menyegel kekuatan Kunang. Dengan sisa tenaganya dia kembali dan memberitahuku tentang tempat persembunyiannya. Dia terluka parah dan mau tidak mau aku harus mengembalikan dia ke tempat asalnya"
"Jadi kemarin dia terlihat sangat sedih karena kehilangan burung itu? Astaga, ternyata di juga memiliki perasaan seperti ini"
"Dengan kekuatan mu, kau pasti bisa memanggilnya lagi bukan?"
"Tidak bisa. Karena tubuh ku yang sekarang adalah manusia dan ini bukan Nirvana. Maka aku tidak bisa mengembalikan dia" kata Lio sambil terus berjalan di atas trotoar. "Dia adalah satu-satunya yang aku bawa dari Nirvana untuk membantuku melacak keberadaan iblis. Huh ..." lanjut Lio dengan suara lirih.
Nada pun menggandeng tangan Lio seperti bisa merasakan kegelisahannya.
"Tidak apa-apa. Masih ada aku. Aku berjanji akan membantumu melacak keberadaan iblis itu. Tenang saja. Aku akan melatih kemampuanku agar aku tidak akan menyusahkan mu kelak" kata Nada dengan senyum yang terukir di wajahnya.
"Yuzi ... "
__ADS_1