Demigod

Demigod
Bab 85


__ADS_3

Nada tak sadarkan diri cukup lama. Bukan karena botol yang membuatnya pingsan, tapi karena ada sesuatu yang menarik kesadarannya ke alam mimpi.


Saat Nada tak sadarkan diri, kini ia masuk ke alam mimpi dan pergi ke dunia Nirvana.


Mimpi yang di alami Nada begitu campur seperti sebuah potongan film yang membingungkan nya.


Tiba-tiba ia melihat sosok Lio, bukan, lebih tepatnya sosok dewa Lodra dengan jubah kebanggaannya. Dia melihat Dewa Lodra tengah tersenyum kepadanya sambil mengulurkan tangan ke arahnya.


Sesaat kemudian dia melhat Dewa lodra berlatih pedang dengan para prajuritnya. Melihat dewa Lodra makan dengan lahap dan riang di hadapannya. Hingga dia melihat dewa Lodra menghunuskan pedangnya ke seorang pemuda dengan baju tebal seperti bulu serigala.


Saat melihat kejadian itu, Nada merasa hatinya begitu sakit hingga menyesakkan dadanya. Sebelum sadar dari mimpinya.


Nada kembali terseret ke sebuah kota yang amat sepi, ia tak tau ada di mana. Namun saat ia menoleh ke belakang, ia mendapati seorang pria bertubuh besar dengan kain merah yang mengikat kepalanya dengan seorang perempuan berambut pendek tengah menyerang Lio di kota itu.


Mereka terlihat sangat kuat dan mampu membuat Lio terkapar lemah. Pria itu pun menghunuskan pedangnya ke arah leher Lio.


"TIDAAAKK" teriak Nada dan kini dia terduduk di atas ranjang klinik markas D'hunter.


Nada memegangi pipinya yang terasa basah oleh air matanya itu.


''Apa yang baru saja terjadi? Mimpi ini terlihat begitu Nyata" gumamnya. "Lio? Kenapa aku melihat wujud dewa nya? Ada apa ini? Apa ini hanya kebetulan?"


Tak berselang lama Kenan pun masuk ke dalam ruangan itu.


"Kamu sudah sadar?" ucapnya sambil berjalan menghampiri Nada.


Nada turun dengan terburu-buru dari ranjang mencari-cari sesuatu.


"Ada apa dengan mu?" ucap Kenan bingung.


"Aku butuh alat tulis, pa saja untuk menulis"


Kenan menatap Nada dengan bingung. Lalu menyodorkan ponselnya ke arah Nada.


"Apa ini bisa?"


Dengan cepat Nada mengambil ponsel itu dari tangan Kenan dan mengetik sesuatu dari sana.


"Nad, ada apa?"


"Aku bermimpi melihat sesuatu, jadi aku harus segera mencacatnya" ucap Nada.


Setelah selesai mengetik sesuatu di sana, Kenan pun mengambil ponsel itu dan membaca tulisan Nada.

__ADS_1


"Sebuah kota yang sepi, gedung hotel tinggi, rumah makan ayam? Apa maksudnya ini?" ucap Kenan tak mengerti setelah membaca tulisan tersebut.


"Aku baru saja bermimpi melihat Lio sedang bertarung dengan dua orang aneh di sana dan aku melihat hawa iblis yang sangat kuat juga sangat pekat di kedua orang itu, aku yakin kedua orang itu adalah iblis"


"Kamu bilang jika mencium hawa iblis dari manusia bukan berarti dia iblis. Kamu juga pernah bilang Kalau mungkin saja mereka hanya membawa benda atau apapun itu yang berhubungan dengan iblis" kata Kenan.


"Ya, ini beda lagi ceritanya. Aku benar-benar melihat aura iblis yang sangat kuat dari kedua orang itu"


"Lalu kau mau apa dengan catatan ini?


Nada pun terdiam sejenak. Iya, dia mau apa dengan catatan itu? Tapi setidaknya dia akan mengingat hal terpenting di dalam mimpinya itu, yaitu lokasi tempat bertarung Lio.


Bukan iblis yang menjadi titik fokusnya sekarang tapi Lio. Perasaan ingin bertemu dengannya lagi lebih mendominasi Nada daripada harus mencari iblis.


"Jangan bilang kau mencatat tempat-tempat ini karena kau ingin bertemu dengan pria itu lagi?" ucap Kenan mencoba menyelidiki.


"Aku hanya ... Aku hanya ..." ucap Nada menggantung.


Merasa kecewa karena Nada tidak bisa melupakan Lio, Kenan pun berjalan hendak pergi dari ruangan itu.


"Kau masih butuh istirahat. Aku akan pergi sebentar, jika kau butuh sesuatu ada perawat di samping ruangan ini" ucap Kenan yang terdengar dingin.


Nada terdiam saja di tempatnya memandang Kenan yang pergi meninggalkannya.


Ya Kenan merasa cemburu, entah mengapa dia tidak suka sekali ketika Nada memikirkan Lio.


"Kenan!" teriak Viro di belakangnya.


Viro pun berlari ke arah Kenan dengan tergesa-gesa.


"Ada apa? Kenapa kau terlihat terburu-buru seperti itu?"


Viro mencoba mengatur nafasnya yang kini terengah-engah.


"Ketua sedang mencarimu untuk rapat, sepertinya mereka ingin mempercepat perjalanan misi kita" ucap Viro.


Dengan segera Kenan pun pergi ke tempat kakeknya itu. di sana sudah terlihat beberapa ketua tim tengah menunggu kedatangan ketua Ca di aula.


Saat Kenan berjalan mendekat ke sana, Brian pun mendekatinya.


"Sepertinya kali ini kita tidak akan dalam satu tim lagi" kata Brian.


Ya, bagaimana tidak, sekarang Kenan juga adalah ketua tim dari anggota D'Hunter.

__ADS_1


"Ya sangat disayangkan kita akan terpisah lagi kali ini"


Tak lama kemudian ketua Ca pun datang dan rapat pun segera dimulai.


Masing-masing dari mereka diminta untuk memilih anggotanya sendiri yang sesuai dengan tim dan kemampuan mereka. Tak lupa juga ketua Ca memberikan seluruh laporan di mana iblis menyebar di kota-kota di seluruh dunia.


Setelah rapat selesai Kenan pun segera kembali dari aula itu. Di depan aula nampak Viro dan juga Tiara sedang menunggu Kenan dan juga Brian.


"Bagaimana hasilnya? Apa kita tidak satu tim lagi?" kata Viro tergesa-gesa menghampiri Kenan.


Kenan hanya menggelengkan kepalanya pelan.


"Tentu saja, kita tidak satu tim lagi. Bagaimana bisa kita menjadi satu tim? Ketua Ca sudah memilih Kenan untuk menjadi ketua tim dari anggotanya sendiri" kata Brian yang kini berjalan menghampiri mereka.


"Lalu, tim kita terpecah lagi?" tanya Viro.


Brian pun menganggukkan kepalanya.


"Lalu aku masuk tim siapa?" tanya Tiara


"Brian memilihmu untuk masuk ke dalam timnya"


"Lalu aku?" imbuh Viro.


"Kau dan Nada masuk ke dalam timku dan kita akan pergi ke kota Irinaya di negara Yoma" jelas Kenan.


"Astaga jauh sekali" gumam Viro.


"Yah sayang sekali aku tidak bisa satu tim lagi dengan nada" gerutu Tiara


"Mau bagaimana lagi, Kenan tak bisa melepaskan gadis itu" ucap Brian sedikit menyindir.


"Ya, ya, ya, aku makluminya" ucap Tiara mengerti maksud Brian.


"Kalian jangan banyak bicara, jika bukan aku yang melindunginya lalu siapa?"


"Jangan kau pikir jika dia berada di dalam timku maka aku tidak bisa melindunginya" dengus Brian


"Tapi kau selalu menindasnya" tambah Viro. "Sudah bagus jika nada bersama kami dia maka akan aman. Kalau bersamamu, mungkin dia akan mati karena tertekan"


"Mulutmu itu pedas sekali seperti cabe beracun. Lagi pula aku selalu memarahinya agar dia bisa berkembang"


"Kau tenang saja dia sudah berkembang lebih pesat akhir-akhir ini" kata Kenan.

__ADS_1


"Lalu kapan kalian akan berangkat ke negara Yoma?" tanya Tiara.


"Dua hari lagi kita akan segera berangkat"


__ADS_2