
"Apa kau masih bimbang dengan kekuatan mu tuan?" ucap Kunang.
"Tidak. Aku hanya memikirkan sesuatu" kata Lio sambil berjalan menyusuri rumah besarnya itu.
"Memikirkan apa?"
Lio hanya diam saja. Ia pun menghentikan langkahnya saat berada di halaman belakang rumahnya.
"Ada apa?"
Lagi-lagi Lio hanya diam, ia pun segera melangkahkan kakinya menuju ke sebuah pohon besar yang ada di sana.
Ia berjalan memutari pohon tersebut. Tiba-tiba, iapun berhenti dan mengetuk-ngetuk tanah yang ada di samping pohon itu dengan kakinya.
"Ada apa tuan?"
lio pun mengangkat tangannya, lalu Kunang pun menghilang.
"Kamu selalu bertanya tentang segala hal" gumam Lio sambil duduk di dekat pohon itu.
Ia pun meraba-raba tanah di sekitanya.
"Aku yakin ada sesuatu di bawah sana'
Lio pun beralih ke pohon besar itu. Ia meraba-raba, dan bertemu sebuah ranting yang tidak berdaun.
Lio pun menarik ranting itu ke bawah.
Graaakkkkkk
Tanah di bawahnya terbuka d terlihat tangga menuju ke dalam sana.
Lio pun berjalan masuk menuruni tangga itu. Terlihat sebuah lorong menuju kesebuah ruangan.
Lio menyentuh tembok di lorong itu. Sangat kokoh, seperti di bangun khusus untuk tempat bersembunyi.
Setelah berjalan ke dalam. Lio di hadapan dengan sebuah ruangan yang penuh dengan senjata.
Pedang, pistol, belati, bahkan senapan. Semua tersedia di sana.
''Sebenarnya apa yang manusia ini lakukan? Kenapa begitu banyak senjata di sini?''
Lio pun mengambil sebuah pedang di sana. Ia mengamati mata pedang itu.
"Tidak buruk" Lio mencoba pedang itu. "Ini bisa aku jadikan senjata ku saat pedang kematian tidak bisa muncul. Tapi akan sangat sulit membawanya kemana-mana. Tidak semudah pedang kematian"
Ia pun meletakkan kembali pedang itu. Lalu kembali mengamati senjata-senjata itu.
"Ini mungkin lebih gampang" ucapnya sambil mengambil pistol. "Hemm ... Tapi bagaimana cara menggunakan benda ini?"
Ia terdiam sejenak, lalu kembali ke atas. Dia menutup pintu ruangan bawah tanah itu.
Ia berjalan kembali ke dalam rumahnya.
"Pak tua!!" teriaknya.
Beberapa saat kemudian datang seorang paruh baya. Asisten rumah tangga itu pun datang tergopoh-gopoh menghampiri Lio.
"Ada apa tuan?"
''Ajari aku menggunakan ini" kata Lio sambil menunjukkan pistol yang ia ambil dari ruangan bawah tanah tadi
"Tapi ... Tuan ..." kata asisten rumah tangga itu ragu. "Bukankah tuan sangat handal? Kenapa dia malah bertanya kepadaku?"
__ADS_1
"Kau tidak bisa?"
"I-iya tuan"
"Ck, sudah pergi sana"
"Baik tuan"
Lio pun berjalan ke kamarnya. Ia pun mengamati benda itu.
Ia pun menyalakan tv besar yang ada di hadapannya. Lalu dia mencari-cari tontonan yang menunjukkan cara memakai pistol.
"Hah, jadi seperti ini?" ucapnya sambil menirukan adegan film. "Ini sangat gampang"
Dooorrr
Lio menarik pelatuk itu membuat sebuah lubang di dinding kamarnya.
"Tuan"
Asisten rumah tangga Lio, berlari ke arahnya.
"Astaga tuan" ucapnya sambil memandang lubang di dinding akibat tembakan Lio.
"Apa?"
"Tuan ... Ini sangat berbahaya. Sebaiknya anda melatih itu di luar ruangan dan di tempat aman"
"Memangnya kenapa?" kata Lio dengan santainya.
"Haduhhhh ..." gumamnya khawatir. "Jika tuan tidak bisa menggunakannya. Sebaiknya anda minta tuan Kevin untuk mengajari anda"
"Heh, si tikus kecil itu? Dia kelihatan tidak bisa di andalkan" lanjutnya sambil membidik fotonya sendiri.
"Apa yang sedang kau lakukan?" tanya seorang pria berkulit putih dengan setelan biru yang kini berdiri di depan pintu.
Mereka pun menghampiri Lio.
"Tuan ... Saya takut dia akan melukai dirinya sendiri" bisik asisten rumah tangga itu.
"Baiklah. Kau boleh pergi"
Asisten rumah tangga itupun pergi dari kamar Lio.
"Kau sedang apa?" tanya Kevin.
Dengan cepat Lio mengangkat pistolnya ke arah kepala Kevin.
"Hey, hey. Kau sudah gila ya?" kata Kevin sambil menghindar.
"Kau tidak lihat aku sedang mencoba benda ini?" ucap Lio dengan nada dingin.
"A-aku tau. Ta-tapi tidak harus mencobanya ke kepalaku juga. Aku masih membutuhkan kepalaku"
Lio pun menurunkan pistolnya.
"Kau tau cara menggunakannya ?" kata Deon.
"Hemm. Tentu saja. Lihat itu" Lio pun menunjuk dinding yang berlubang. "Mungkin sebentar lagi akan ada kepala yang berlubang"
"Kau tidak seharusnya menggunakan benda itu di sini"
"Heh, mau apa kalian kemari? Kalau hanya ingin memeriksaku, lebih baik kalian pergi saja. Aku tidak ada waktu untuk menemani kalian bermain" kata Lio sambil membidikkan pistolnya.
__ADS_1
"Apa? Bermain?" gumam Kevin tak percaya.
"Kau harus fokus dengan kesembuhan mu. Sejak sakit, kau hanya bermain-main saja. Kau harus sembuh lalu mengurus kembali masalahmu"
"Heh, bermain-main kata siapa?" Lio pun duduk di sofa. "Aku sedang melakukan hal penting. Kata siapa aku hanya bermain-main?"
"Apa? Hal penting?" Kevin pun duduk di sampingnya dengan penuh semangat. "Aku tau, kau pasti sebenarnya sudah sembuh kan? Cepat katakan hal penting apa yang kau lakukan? Apa jangan-jangan kau sudah mengatasi masalah di markas kita? Benarkan? Ayo katakan hal penting apa itu?"
"Memburu iblis"
Seketika wajah Kevin berubah masam. "Sudah kuduga. Apa yang aku harapkan dari orang yang sakit?" gumamnya kesal.
"Kau belajar menggunakan benda itu untu memburu iblis?" tanya Deon.
"Tentu saja"
"Lihatlah. Aku rasa dia semakin parah" gerutu Kevin.
"Kau bisa belajar dari
kevin"
"Heh, Apa? Tikus kecil ini? Dia terlihat tak meyakinkan" kata Lio nada mengejek.
"Apa? Tikus kecil? Kau ini ... Kalau aku tikus kecil, lalu kau apa? Babi?"
"Kau bisa mengajarinya. Mungkin dengan begitu dia akan mendapatkan ingatannya kembali" jelas Deon.
"Tidak perlu, lagipula aku sudah bisa''
Tiba-tiba, telinga Lio berdengung keras.
"Ugghhhhh"
"Kau kenapa?" tanya Kevin.
Lio pun memegangi telinga sebelah kirinya. "Apa ini? Apa ini ingatannya?"
Muncul sebuah gambaran di kepala Lio seperti potongan-potongan film yang acak.
"Akkkhhhh"
"Lio, kau jangan menakut-nakuti kami" kata Kevin Khawatir.
Samar-samar, Lio melihat gambaran seorang wanita yang tengah berada di sebuah kamar. Di sana terlihat banyak sekali pria yang sudah bertelanjang dada dengan menatapnya penuh gairah.
"Kau akan menyesal karena sudah melakukan ini" katanya dengan mata yang menunjukkan dendam dan amarah.
"Arrrrrgggghhhh" erang Lio kesakitan. Gambaran-gambaran itu seperti sedang menusuknya bagaikan ribuan jarum.
"Sepertinya dia sedang mulai mengingat sesuatu''
"Arrrrrgggh"
"Apa dia akan baik-baik saja?"
Bruggghhh
Lio pun jatuh pingsan.
"Bantu aku membaringkan dia"
Kevin segera melakukan apa yang di perintahkan oleh Deon.
__ADS_1
"Apa dia akan baik-baik saja? Dia terlihat kesakitan"
"Dia baik-baik saja. Aku akan memberikan obat" Deon pun pergi magambil tasnya. "Dia tidak pernah meminum obat yang aku berikan"