Demigod

Demigod
Bab 24


__ADS_3

"Hiks hiks hiks"


"Hemmm ... Tempat apa ini? gumam Lio.


Dia kini sedang berada di sebuah lorong gelap yang menuju ke sebuah cahaya.


Terdengar isak tangis seorang wanita di ujung lorong itu. Lio berjalan menghampiri cahaya itu.


Setelah ia masuk ke sana. Ia tiba di sebuah kamar gelap dengan pintu menuju balkon yang terbuka lebar.


Terlihat seorang wanita tengah duduk memeluk lututnya di sana. Dia terlihat lemah tak berdaya dan sangat menyedihkan.


Rambut panjangnya terlihat kusut. Dengan tubuh kurus kering tak terurus.


Wanita itupun menoleh ke arah Lio dan menatapnya dengan sendu.


"Wanita itu, bukankah dia yang aku lihat sebelum pingsan? Lalu, sekarang apakah aku sedang bermimpi?" gumamnya lirih.


"Lio" kata wanita itu sambil menitikkan air mata.


"Apa dia mengenaliku?" Lio hendak menghampirinya, namun tiba-tiba datanglah seorang anak kecil dari belakang Lio.


Ya, ternyata wanita tadi sedang berbicara kepada anak kecil itu.


Anak laki-laki itu berjalan menghampirinya.


"Maaf Lio" ucapnya sambil berderai air mata.


"Lio? Kenapa namanya sama dengan tubuh manusia ku?''


"Maaf kamu harus melihatnya" Wanita itu terisak sambil membelai pipi anak itu. Namun anak itu sama sekali tidak merespon. Raut wajahnya terlihat tidak menunjukan emosi sama sekali.


Wanita itupun berdiri dari tempatnya. "Maaf. Ibu sudah tidak kuat Lio. Ibu tidak bisa menjadi budak iblis itu seumur hidup" Anak itu hanya memandanginya tanpa reaksi apapun.


"Iblis?"


Wanita itu berjalan ke arah balkon. Ia membalikkan badannya.


"Aku harap kamu bisa memaafkan ibu" ucapnya dengan tatapan kesedihan yang mendalam. Ia pun berjalan mundur dan menjatuhkan dirinya dari balkon itu.


Anak itu masih tetap berada di tempatnya. Wajahnya masih sama, tidak menunjukkan ekspresi apapun. Namun terlihat air mata jatuh dari pelupuk matanya.


Beberapa detik kemudian. Semua yang ada di hadapan Lio memudar. Begitupun juga dengan anak kecil tadi.


Semua yang terlihat seperti sedang tergulung oleh angin. Perlahan memudar dan hanya ada kegelapan.


Saat itu juga, muncul sebuah partikel-partikel kecil warna-warni dan membentuk sebuah bayangan di udara.


Bayangan itu perlahan-lahan menjadi jelas. Nampak seorang pria kini sedang berada di hadapannya. Tepatnya adalah Lio sendiri. Dia sedang berhadapan dengan Lio yang asli. Wajah yang sama. Terlihat seperti sebuah duplikat.


"Kau ..." Lio hendak memegang bayangan yang melayang di hadapannya itu.


Seketika, bayangan itu berubah menjadi partikel-partikel kecil dan terbang masuk ke matanya.

__ADS_1


"Ugghhhh" Lio pun membuka matanya dan mendapati dirinya sudah ada di atas ranjang kamarnya.


"Kau sudah bangun?" kata Kevin menghampirinya. "Ini minumlah" lanjutnya sambil memberikan segelas air.


"Aku tidak haus"


"Tidak bisa. Deon bilang kau harus minum ini setelah bangun"


Lio pun hendak pergi dari sana namun Kevin menghentikannya.


"Setidaknya, minumlah ini demi ibu" kata Kevin dengan wajah datar. Wajah ceria yang selama ini dia tunjukkan tiba-tiba menghilang.


"Apa maksudmu?"


Kevin lalu menaruh gelas di atas meja.


"Kau akan mengerti maksudku saat kau sudah sembuh" Kevin pun pergi meninggalkan Lio.


"Apa maksudnya?" gumam Lio. "Ibu? Hemmm ... Apa wanita itu? Kenapa pemilik asli tubuh ini menunjukan hal itu kepadaku? Apa artinya dia masih belum mati?" Lio pun mengambil gelas yang ada di atas meja lalu menenggaknya.


"Wanita tadi bilang iblis, apa jangan-jangan mereka memiliki hubungan dengan iblis? Tapi ... di sini aku tidak mencium hal itu. Aku harus menyelidikinya"


Keesokkan harinya. Lio pergi ke sebuah bar. Dia duduk di sofa sambil menenggak wine pesanannya.


"Seharusnya dia akan muncul di sini'' ucapnya sambil terus mengamati seluruh orang yang ada di sana.


"Ini lebih sulit dari yang aku duga"


Lio pun menjentikkan jarinya. Lalu tiba-tiba Kunang jatuh di sampingnya.


"Lihat apakah ada hawa iblis di antara manusia-manusia itu" kata Lio lalu menenggak minumannya kembali.


"Huh. Tidak mau. Kau selalu saja menyuruhku dengan seenaknya. Juga membuang ku seenaknya saja. Sekarang baru membutuhkanku lagi? Huh" gerutu burung kecil itu.


"Baiklah kalau tidak mau" Lio pun mengeluarkan sangkar burung yang terbuat dari emas di tangannya.


Burung kecil itu terlihat kaget dan juga ketakutan. "Baiklah, baiklah. Kau ini ..." Kunang pun terbang dan menghinggap di pinggiran sofa.


"Jangan sampai ada yang terlewat. Apa lagi para pegawainya"


"Hemmm ... Sebenarnya apa yang kau lakukan di sini? Di sini tidak ada hawa iblis sama sekali" kata Kunang sambil mengamati mereka semua.


"Benarkah?"


"Oh? Lihat itu" seru kunang menunjuk seorang wanita yang hendak keluar dari tempat itu.


Lio pun mengikuti arah yang di tunjuk Kunang. "Bukankah dia wanita iblis itu?"


Lio segera bergegas mengikuti wanita itu.


"Tuan, anda belum membayar..." teriak seorang pelayan namun Lio sudah pergi.


Lio keluar dari tempat itu, mengikuti kemana perginya sang wanita tadi. Jarak mereka cukup jauh dan Lio tidak bisa menggunakan kekuatannya.

__ADS_1


Lio hendak berlari mengejar wanita itu, tapi terhambat oleh keramaian. Saat di pertigaan kecil tiba-tiba tangan Lio di tarik oleh seseorang.


"Siapa yang-" ucapnya tertahan sambil menoleh ke belang dengan cepat. Terlihat Nada sedang mengamatinya dengan penasaran. "Apa yang kau lakukan?" kata Lio sambil menghempaskan tangan Nada dengan kasar.


Ia mencari-cari wanita tadi yang sudah menghilang dari pandangannya.


"Sial!!"


"Kau sedang apa?" kata Nada sambil mengikuti arah pandangnya. "Kau sedang mengejar seseorang?"


"Bukan urusanmu" kata Lio dengan kesal. "Ini semua gara-gara gadis bodoh ini" gerutunya.


"Memangnya kau sedang mengejar siapa?"


Lio tak mengidahkan Nada dan pegi begitu saja.


"Hey ..." teriak Nada sambil mengikuti Lio. "Apa ini juga berhubungan dengan iblis?" lanjutnya sambil berjalan di samping Lio?"


"Menjauhlah dariku"


"Tidak mau. Aku mau mengikutimu" uacp Nada membuat Lio kesal.


Lio berhenti dan menatap Nada kesal sambil berkacak pinggang. "Kau ini-"


"Oh? Bukankah dia wanita waktu itu?" kata Nada dengan cepat sambil menunjuk arah belakang Lio.


Dengan cepat Lio menolah ke belakang. Benar saja, dia adalah wanita yang sedang di kejar oleh Lio tadi.


Wanita itu baru saja keluar dari sebuah apotek dan kembali berjalan pergi.


Dengan cepat Lio mengejar wanita itu.


"Tunggu aku"


Nada pun berlari mengikuti Lio. Lio berlari mengejar wanita itu di keramain.


Sesaat kemudian dia kembali kehilangan wanita itu.


"Sial. Kenapa susah sekali menangkap wanita itu?"


"Tunggu ... " kata Nada yang kini sedang membungkuk di sebelah Lio. Dia terlihat kehabisan nafas karena berlari mengejar Lio.


"Kenapa kau masih mengikutiku?"


Nada pun menegakkan badannya. "Huh, aku tau dia pergi kemana"


"Benarkah? Dimana dia? Tunjukkan jalannya"


Nada pun menyeringai. "Aku akan memberitahumu. Tapi ada syaratnya"


"Huh, sudah kuduga" Lio pun hendak beranjak pergi.


"Tunggu!!"

__ADS_1


"Aku tidak butuh bantuanmu"


"Aku yakin kau butuh"


__ADS_2