Demigod

Demigod
Bab 49


__ADS_3

Lio dan para anggota terpilih pun pergi ke mobil. Kenan yang sebelumnya enggan di pilih pun juga harus mengikuti Lio.


Nada, Kenan, Viro, Ardan, Luna, dan juga Lio kini berangkat ke tempat penyebaran mayat hidup itu.


"Kita harus mulai darimana?" kata Viro.


"Perbatasan" lanjut Ardan.


"Tidak bisa!" sergah Lio. "Pergi ke tempat dari mana mereka berasal"


"Apa kau tidak waras? Kita di tugaskan untuk menumpas para mayat hidup itu" protes Ardan.


"Kau sudah masuk ke dalam tim ku, lagipula bukan mayat hidup itu prioritas ku. Tapi mencari iblis yang menyebabkan mereka menjadi seperti itu" jelas Lio.


"Iblis?" kata Luna bingung.


"Mereka bukan di pengaruhi iblis, tapi terjangkit virus yang di buat oleh manusia" lanjut Ardan.


Viro dan Nada hanya melirik Lio yang duduk di kursi penumpang di sebelah Kenan. Mereka percaya bahwa apa yang di katakan Lio adalah benar. Mereka bahkan sudah melihat sendiri Lio membunuh iblis.


Kenan hanya fokus menyetir mobil dan mendengarkan. Beberapa luka bakar di tubuhnya akibat serangan Lio tempo hari pulih dengan cepat, tentu saja karena bantuan Lio.


"Cih, kau ini berbicara apa? Sudah jelas-jelas penyebab mereka menjadi seperti ini karena terjangkit virus. Kita harus memberantas mereka semua agar tidak ada yang terjangkit lagi" lanjut Ardan.


"Heh, kau lupa apa kata pak tua tadi?" ucap Lio yang menjurus ke ketua Ca. "Kalian mengikuti ku jadi harus menuruti aturan ku. Jika tidak mau ya turun saja"


"Ck, kalau bukan karena ketua sendiri yang meminta kami bergabung, kami juga tidak sudi" gumam Luna.


Mereka berdua pun terdiam namun masih menggerutu.


"Di perbatasan sudah ada anggota yang lain yang menangani. Jadi, setelah ini kemana kita pergi?" tanya Kenan.


Lio pun menoleh ke bangku belakang.


"Hey, hacker"


"Namaku Viro" protesnya.


"Terserah. Cari tau di mana tempat pertama tersebar virus-virus itu"


"Baik"


Viro pun bergegas membuka laptopnya dan mengetik keyboardnya.


"Kita harus berhati-hati, siapa tau virus ini bisa menjangkiti kita juga" kata Nada.


"Hemmm ... Aku sudah menciumnya. Kalau tidak salah, mereka menyebar lewat udara. Tapi kita perlu kepastian dulu. Biarkan si hacker menyelesaikan tugasnya"


"Pffftt"


Luna dan Ardan menahan tawa mendengar ucapan Lio.


"Apa yang kalian tertawakan?" kata Nada.


"Hahaha, mencium? Apa kau anjing pelacak? Bagaimana kau menciumnya? Apa kau bisa mencium kentut ku juga?" kelakar Ardan mengejek Lio.

__ADS_1


"Hey, jangan asal bicara. Kau tidak tau kekuatan Lio yang sebenarnya" protes Nada.


"Kekuatan? Kekuatan seperti apa? Apa kau bisa terbang? Apa kau bisa menghilang? Apa kau bisa mengeluarkan pintu kemana saja seperti Doraemon? Hahaha. Aku tidak percaya, bagaimana bisa ketua mempercayai orang aneh seperti mu untuk tugas sepenting ini?" imbuh Luna.


"Kalian-"


Byurrrr


Sebuah air yang tak tau darimana asalnya menyiram Luna dan Ardan dari atas sebelum Nada menyelesaikan kalimatnya.


"Hah?" gumam Nada terkejut.


Kenan pun melirik dari kaca spion sedangkan Viro hanya melirik dari balik kacamatanya lalu melanjutkan lagi kegiatannya. Mereka seolah tak terkejut dengan apa yang terjadi.


"Sial! Apa yang terjadi? Aku basah semua, air darimana ini?" kata Ardan kesal.


"Air dari sungai sebelah. Untung saja, aku tidak bertemu kotoran hewan. Jika tidak maka kotoran hewan yang ada di wajahmu" kata Lio dengan santainya yang masih melihat ke arah depan.


"Pffftt" gumam Viro dan Nada menahan ingin tertawa.


"A-Apa?" gumam Luna dan Ardan bingung.


"Kau ... Tidak mungkin"


Kenan hanya menyengir melihat mereka basah kuyup. Sebelumnya ia melihat Lio menjentikkan jari tangannya dan mereka pun di siram air.


"Oke, aku sudah menemukan tempatnya" kata Viro.


"Dimana?"


"Pertama kali penyakit ini menyebar di kota Regoon, tepatnya kota paling Utara pulau Mura" jelas Viro.


"Ya, sekarang kita berada di pulau Mura. Sangat jauh dai kota tempat kita berasal" jelas Nada.


"Aku tidak tau. Cepat lanjutkan!"


"Hem, beberapa hari yang lalu anak dari walikota Regoon tiba-tiba mengamuk di sebuah rumah makan. Tubuhnya berubah jadi pucat dan otot-ototnya berubah menjadi kehitaman" lanjut Viro. "Anehnya, mereka tidak memakan daging manusia ataupun hanya sekedar mengigit untuk menyebarkan virusnya. Melainkan menghisap darahnya"


"Huh, seperti cerita Vampir saja. Tapi kenapa tidak berubah jadi vampir malah jadi zombie?" gumam Nada.


"Hemm ..." gumam Lio sambil berfikir keras.


"Setelah di selidiki, tidak ada yang aneh dari anak walikota ini" imbuh Viro.


"Aneh atau tidaknya kita akan tau setelah ke sana" kata Lio.


"Viro, kirim lokasi tempatnya" kata Kenan.


"Baik"


Luna dan Ardan masih terdiam. lebih tepatnya masih tercengang. Tubuh mereka masih basah seperti habis terjebur ke sebuah sungai. Mereka pun saling menatap satu sama lain.


"Apa dia memang sehebat itu? Bagaimana bisa ada air dari atas?" batin Luna dan Ardan.


Setelah beberapa jam perjalanan, mereka pun sampai di kota Regoon, yang terlihat sangat sepi. Kota itu nampak sangat berantakan, juga tidak ada tanda kehidupan.

__ADS_1


Satu persatu anggota D'hunter pun turun dari mobil.


"Uuggghh" gumam Lio dengan cepat menutup hidungnya saat turun dari mobil. "Cih, busuk sekali"


"Apa maksudnya? Aku tidak mencium bau apapun" bisik Luna kepada Ardan.


"Entahlah"


"Sebelah sini" kata Viro menunjuk sebuah rumah makan yang sudah berantakan.


Mereka semua pun mengikuti Viro.


"Ada apa Lio? Apa kau baik-baik saja?" kata Nada.


"Hem, aku hanya tidak tahan dengan bau busuk" ucap Lio yang masih menutup hidungnya dengan lengan kirinya.


"Aku tidak mencium apa-apa. Aku juga tidak melihat hawa iblis sama sekali"


Saat mereka hampir masuk ke dalam rumah makan tersebut, Lio pun berteriak.


"AWAS!! MEREKA ADA DI DALAM!"


"Apa?"


"Huuaaa"


Beberapa mayat hidup pun berjalan ke arah mereka.


"Pantas saja aku mencium bau busuk. Ternyata beberapa mayat hidup itu masih berada di sini" kata Lio.


"Akkhh sial. Kenapa situasi ini seperti tidak asing?" ucap Ardan sambil mengeluarkan pistol dari sakunya.


"Tidak asing? Mungkin saja kau terlalu banyak melihat film Resident Evil" imbuh Viro.


"Kenapa kau bisa tau?"


"Karena aku juga sering melihatnya"


Dor dor dor


Satu persatu mayat hidup itupun tumbang.


"Heh, aku kira akan sulit melawan mereka. Ternyata sekali tembak sudah tumbang" kata Luna.


"Kau meremehkan. Ini masih sedikit jumlahnya, hanya beberapa. Coba saja kau bertemu ribuan dari mereka? Aku yakin kau tidak akan bisa bertahan hidup" kata Kenan.


"Cih, aku tidak selemah itu, bodoh"


Nada dan Lio pun berjalan masuk ke ruang makan itu. Mereka menelusuri sekeliling untuk mencari petunjuk dari keberadaan iblis.


Saat menelusuri lokasi. Lio pun berhenti di sebuah meja yang sudah terbalik, tepatnya tempat anak sang walikota pertama kali mengamuk.


"Ini dia tempatnya. Apa kau menemukan sesuatu?" kata Viro yang berdiri di sampingnya.


Lio pun duduk mengamati bekas-bekas meja di sana.

__ADS_1


"Hemm ... Ini-"


"LIO! VIRO! AWAS DI ATAS KALIAN!"


__ADS_2