
Nada pergi ke tempat pembuatan belati di tengah kota langganan para anggota D'hunter. Ia pergi dengan terburu-buru. Dia sadar jika anak buah Vernan sedari tadi sedang mengikuti dia.
"Sial memang. Dasar Lio. Dua jam? yang benar saja" gumamnya dengan kesal.
"Jika ada yang mengikuti mu. Kamu tidak boleh memperlihatkan jika kamu membawa belati itu"
"Sial, lalu apa yang harus aku lakukan?" gumam Nada.
Nada pun pergi masuk ke dalam tempat menjual belati itu.
"Hay, nada? Sudah lama aku tidak melihatmu" sapa seorang pria paru baya yang ada di sana.
Nada pun segera menghampiri pria itu.
"Paman" bisik Nada.
"Ada apa? Kenapa kau gugup seperti itu?"
"Paman lihat orang yang ada di belakang ku?" kata nada masih berbisik.
Pria yang kerap di sapa Robert itu melirik ke belakang Nada. Di sana terlihat dua orang pria bertubuh tinggi besar sedang masuk ke dalam tokonya.
"Kau sedang ada masalah?"
Nada mengangguk pelan. "Aku butuh belati perak sekarang juga. Tapi jangan sampai mereka tau"
"Belati perak?"
"Jangan bilang Paman tidak punya? Aakkh, aku butuh sekarang juga. Aku sudah tidak punya waktu banyak. Setelah 2 jam usai mereka akan langsung membunuhku" bisik Nada.
"Astaga. Kenapa kamu bisa dalam masalah seperti ini?" gumam Robert. "Aku ada satu. Akan aku ambilkan sekarang"
"Baik. Cepatlah"
Robert pun segera pergi ke belakang.
"Habislah aku. Perjalanan kemari sudah menghabiskan waktu 45 menit. Aku tidak boleh lama-lama di sini. Lio sialan. Seharusnya dia mengukur dulu waktu yang aku butuhkan. Kenapa malah seenaknya membuat kesepakatan?"
Tak berapa lama, Robert datang datang dengan membawa sebuah bungkusan kertas koran di tangannya.
"Ini dia yang kamu mau"
Dengan cepat Nada langsung mengambil benda itu. Dia berbalik menghadap ke belakang dan memeriksa benda itu.
"Baguslah, ini memang benda yang aku inginkan" gumam nada dan langsung membungkusnya kembali.
"Kau akan pergi begitu saja?"
"Hem .. Aku benar-benar tidak punya waktu paman" lanjutnya sambil menaruh beberapa uang di atas etalase. "Aku akan pergi sekarang"
Nada pun segera pergi dari sana melewati pintu samping. Robert memandangnya sambil menggelengkan kepalanya.
"Astaga. Dia selalu berada dalam masalah" gumamnya saat melihat para pria itu pergi menyusul Nada.
__ADS_1
Nada berjalan dengan terburu-buru. Ia pergi ke seberang jalan untuk menghentikan sebuah taksi.
"Berhenti" kata salah satu orang yang mengikuti Nada tadi.
Nada menoleh ke belakang dan mendapati orang itu tepat di belakang Nada.
"Lah? Bukannya tadi cuma dua? Kenapa sekarang banyak sekali?" gumam Nada terkejut saat melihat orang yang mengikutinya semakin bertambah.
"Kau harus ikut kami"
"Aku memang ingin kembali kesana. Kau ini bilang apa?"
"Ini adalah perintah tetua. Kami harus membunuh mu atau kau akan pergi dengan suka rela"
"Orang gila macam apa ini? Jelas-jelas tau kalau aku mau kembali. Terus mau ikut kemana lagi"
"Aku akan kembali ke sana sendiri. Lagipula masih belum dia jam. Jadi kalian jangan menghalangi ku" Nada hendak masuk ke sebuah taksi namun salah satu dari mereka menarik Nada.
"Apa yang kau lakukan? Aku harus cepat. Lepaskan aku"
"Bawa dia pergi"
"Apa?" gumam Nada terkejut. "Ini sebenarnya ada apa? Atau jangan-jangan Vernan telah menipuku dan juga Lio? Sial, dia mau membunuh ku dan menipu Lio"
Buaghhh
Nada menendang kaki orang yang menariknya.
"Dasar bodoh. Dimana senjatmu?" kata Kenan yang kini tiba-tiba berada di depan Nada untuk menghadang para pengawal Vernan itu.
"Ken ... Kenapa kamu ada di sini?" kata Nada terkejut melihat punggung pria yang ada di hadapannya tersebut.
"Tentu saja mencarimu. Dari kemarin aku mencarimu kemana-mana. Apa yang kau lakukan di sini?"
"Ceritanya panjang. Lio menyuruhku untuk membawakan dia belati perak untuk melawan iblis. Tapi mereka ingin menghentikan ku"
"Lagi-lagi dia membuatmu dalam bahaya" gumam Kenan. "Pergilah ke mobil Brian. Biar aku yang akan menghadang mereka"
"Tapi ..."
"Tangkap dia"
"Cepat pergi"
Kenan pun maju untuk melawan mereka. Tanpa basa-basi lagi Nada berlari ke arah mobil Brian yang ada di sebrang jalan.
"Jangan biarkan gadis itu kembali ke markas"
"Heh, aku yang tidak akan membiarkan kalian pergi dari sini hidup-hidup" kata Kenan.
Nada segera masuk ke mobil dan mendapati Brian sudah menunggu di sana.
"Kau sedari tadi menunggu di sini?'' kata Nada sesaat setelah duduk.
__ADS_1
"Aku dan Kenan melihat mu di sana. Kami pikir kamu mendapatkan masalah. Jadi dia menyuruhku menunggu di sini dan membawa mu pergi"
"Kenan benar-benar. Ah sudahlah, cepat jalankan mobilnya"
Brian segera melajukan mobilnya di jalanan.
"Sebenarnya kita mau kemana?"
"Aku akan menunjukkan jalannya nanti"
"Sebenarnya kau sedang apa? Kemana saja?"
"Aku dan Lio segera pergi ke ketua itu. Aku tidak menyangka ternyata dia masih memiliki atasan"
"Maksudmu pria itu bekerja dengan orang lain?"
"Hem ... Dan orang inilah iblis yang sebenarnya" kata Nada dengan yakin.
"Bagaimana bisa? Katamu manusia hanya membawa hawa iblis saja. Apa dia menyusup ke tubuh manusia?"
"Ya, dia membunuh pemilik asli tubuhnya dan menguasai raganya. Dia bahkan memakan jantung jantung manusia. Ughh" kata nada bergidik saat mengingat kejadian Vernan melahap jantung para gadis itu.
"Lalu? Dimana temanmu itu?''
"Dia masih ada di markas mereka. Jika anak buah Vernan yang ada di sini saja ingin membunuhku. Tak bisa dipungkiri Lio juga pasti dalam bahaya sekarang"
"Apa yang kau khawatirkan? Bukankah menurutmu dia sangat hebat? Dia pasti bisa mengalahkan mereka"
"Huh, kau tidak tau. Dia tidak bisa menggunakan kekuatannya. Aku khawatir iblis itu sudah bertindak sekarang. Aku harus cepat membawakan dia belati ini"
Brian pun melirik sesuatu yang di pegang Nada. "Belati?"
"Ya, Lio sudah tau iblis itu sebenarnya dan kelemahannya. Jadi dia menyuruhku untuk membawakan dia belati ini"
"Hem, baiklah. Aku akan mengirimkan lokasi kita kepada yang lain. Untuk berjaga-jaga jika pertarungan ini membahayakan kita" kata Brian. "Lalu dimana senjatmu?"
"Tentu saja di sita"
"Kebetulan. Kau bisa memakai itu" ucap Brian sambil menunjuk ke arah bangku belakang.
Di sana terlihat beberapa tumpuk senjata.
"Baguslah. Kita bisa masuk dengan senjata-senjata ini"
Beberapa menit berlalu. Nada dan Brian sampai di bukit itu. Terlihat beberapa pengawal sedang berjaga dan menghentikan mereka.
Saat Nada dan Brian turun dari mobil. Ternyata orang-orang tadi berhasil mengikuti mereka.
"Jangan biarkan mereka masuk" teriak seseorang.
"Kau siap?" kata Brian sambil melemparkan sebuah pistol ke arah Nada.
"Tentu saja"
__ADS_1