Demigod

Demigod
Bab 35


__ADS_3

Krieett


Suara pintu kamar Nada dan Lio terbuka. Terlihat seorang pelayan datang sambil membawa nampan.


"Silahkan menikmati makan malam kalian" ucapnya lalu segera pergi.


Nada pun pergi menghampiri dan melihat makanan yang ada di atas meja batu tersebut.


"Kelihatannya aman-aman saja. Tidak ada yang aneh dari makanan ini. Aku pikir kita akan di beri makan ayam hidup atau daging mentah"


"Jika di lihat dari luar memang aman. Tapi apa kau tau apa yang ada di dalamnya?" kata Lio tanpa menoleh.


"Mungkin saja ada racun di dalamnya"


"Hem. Lebih baik kita tidak menyentuh apapun dan makan apapun di sini sebelum kita keluar"


"Oke, baiklah"


Nada pun berjalan ke arah pintu.


"Menurutmu. Apa di luar sana ada penjaga yang menjaga kamar ini?"


"Mungkin saja" kata Lio tetap berdiri di tempatnya.


"Kau ini. Sebenarnya apa yang kau lihat dari tadi?" gumam Nada kesal.


Nada pun membuka pintu dan tidak terlihat siapapun di sana Hanya ada lorong gelap yang mereka lewati kemarin.


"Tidak ada orang. Lio ... Ini kesempatan yang bagus"


Lio pun berbalik dan berjalan keluar dari sana.


"Tunggu ..." Nada pun menyusul Lio. "Kita harus waspada. Siapa tau ada yang memata-matai kita"


"Tidak ada orang di sini"


"Kau mengetahuinya?"


Lio tak menjawab dan tetap berjalan mengamati sekitar.


"Aku masih penasaran. Iblis apa dia sebenarnya" gumam Lio lirih.


"Bukankah, lebih baik kita langsung menyerang saja? mungkin kita akan tau jika kita menyerang duluan" kata Nada.


"Heh, dasar bodoh. Kita tidak tau iblis apa yang kita hadapi. Dan apa kelebihannya. Lalu kita mau menyerang secara tiba-tiba? ... Berperang tanpa memiliki siasat dan strategi adalah tindakan bodoh. Sama saja dengan bunuh diri"


Nada dan Lio terus berjalan menelusuri lorong itu. Setelah berjalan beberapa saat, mereka pun sampai di ujung lorong tersebut.


"Sudah sejauh ini, aku kira akan ada jalan keluar. Tapi ... Lorong ini malah bercabang" gumam Nada.


Lio memejamkan matanya memfokuskan infra penciumannya.


"Sebelah sini" kata Lio langsung pergi ke arah kanan.


"Ada apa?" Nada mengikuti di belakangnya.


Setelah beberapa saat berjalan Lio tiba-tiba menghentikan langkahnya.


"Sstttt" desisnya sambil menaruh jari telunjuknya di bibir. "Kau dengar?"


"Apa?" kata Nada bingung.


"Ada sesuatu di sana" gumam Lio lirih.


Nada pun berkonsentrasi mendengarkan apa yang di maksud oleh Lio.


"Ini ... Bukankah suara hewan? eh, tidak tidak ... Ini seperti suara babi. Tapi ..."

__ADS_1


"Sejak di persimpangan lorong tadi, aku mencium bau darah yang sangat kuat"


"Apa darah hewan?"


"Tentu saja tidak. Darah manusia. Aku yakin itu"


Lio pun kembali berjalan.


"Mungkin saja, karena tadi suara itu lebih mirip jeritan perempuan" kata Nada yang berjalan di samping Lio.


"Terus awasi sekitar. Mungkin kita akan mendapatkan petunjuk"


Lorong itu sangat panjang, juga sempit. Nada dan Lio pun merasa hawa di lorong itu semakin pengap.


"Ugghhh. Aku sudah mulai sesak" gumam Nada.


Tiba-tiba Lio dengan cepat menarik tubuh Nada dan menekannya di balik tembok.


Bugghh


"Ugghh, apa yang kau lakuk-"


Lio segera menutup mulut Nada dengan tangannya.


"Diamlah" bisik Lio.


Nada hanya menatap mata Lio yang kini berdiri tepat di hadapan. Sangat dekat, bahkan Nada bisa merasakan hembusan nafas Lio.


"Dia ada di sana. Apa yang sedang dia lakukan?" gumam Lio sambil melihat ke arah sebuah tempat di hadapannya.


Lorong itu berujung di sebuah ruangan seperti penjara. Ada beberapa ruangan kosong yang terlihat sangat gelap dan kumuh.


Nada hanya terdiam dan masih menatap Lio yang masih membekap mulutnya dan menekan tubuhnya ke di dinding.


"Astaga ... Di lihat dari dekat dia tampan sekali"


Lio menurunkan tangannya dari mulut Nada. Sedangkan Nada memalingkan wajahnya dengan canggung.


"Kita harus bersembunyi di sini terlebih dahulu. Awasi pergerakan dia" kata Lio.


"Ugghhh ... Apa yang kau pikirkan Nada?" rutuk Nada dalam hati.


Nada pun melangkahkan kakinya maju melihat apa yang sedang di maksud oleh Lio.


"Itu ..." gumam Nada melihat Vernan tengah berada di tengah ruangan.


Di sana terlihat remang remang meskipun hari sudah pagi.


Vernan terlihat duduk di sebuah kursi. Dan di depannya terdapat beberapa gadis masih belia.


"Apa yang sedang dia lakukan?"


"Makan" ucap Lio singkat.


"Apa?"


"Kau tidak lihat itu" lanjut Lio sambil nunjuk belakang kursi Vernon.


"Oh?" gumam Nada tak percaya. "I-itu ... Mayat?"


"Aku lebih penasaran, iblis apa sebenarnya dia" gumam Lio lirih.


"Astaga, apakah gadis-gadis itu akan di jadikan makannya?"


Tidak ada satu pengawal pun di sana, bahkan Luis sendiri yang biasa menemaninya. Yang ada hanya Vernan dan belasan gadis itu.


Gadis-gadis itu tampak sangat ketakutan melihat Vernan.

__ADS_1


"Ayo, siapa yang akan datang sendiri ke sini?" kata Vernan sambil memainkan ujung-ujung jarinya yang terlihat penuh darah.


Para gadis itu tidak ada yang berani bersuara. Mereka terdiam dan terisak sambil berjalan mundur.


"Hum, jika tidak ada yang mau datang ke sini sendiri. Maka aku akan menghampiri kalian"


Vernan pun berdiri dari tempatnya. Ia berjalan perlahan ke arah gadis-gadis itu.


Bruugghhh


Seorang dari mereka pun duduk berlutut di depan Vernan.


"Tu-tuan, tolong ... Jangan bunuh kami. Kami akan melakukan apa saya yang anda perintahkan. Tapi tolong lepaskan kami dan biarkan kami hidup" pinta gadis itu.


Vernan hanya menyeringai lalu duduk membelai rambut gadis itu.


"Sayang sekali. Gadis manis, aku memiliki cukup banyak anak buah manusia. Tapi ... Mau tidak mau kamu memang harus menuruti semua perintahku" lanjut Vernan sambil menyibakkan rambut gadis itu ke telinganya.


Gadis itu merasa ketakutan yang amat sangat. Wajahnya terlihat pucat pasi dengan peluh yang membasahi dahinya.


Vernan mengamati gadis itu lalu membelainya dari rambut hingga tengkuknya.


Perlahan, ia mengarahkan tangannya ke bawah.


"Sayang sekali. Aku tida tertarik dengan kecantikan mu ini. Aiiaahh" desah Vernan pelan.


Jleebb


"Uhuk"


Vernan menancapkan tangannya tepat di dada kiri gadis itu.


"AAKKKHHH" teriak para gadis-gadis di hadapannya dengan histeris.


Vernan hanya tersenyum puas. Jari-jari tangan Vernan seperti sebuah ujung tombak yang sangat tajam. Bahkan mampu merobek dada gadis itu.


Gadis tadi terlihat muntah darah. Vernan memutar tangan yang ada di dada wanita itu.


Plup


Jantung gadis itu pun keluar dari tubuhnya. Beberapa detik kemudian tubuh gadis itu tumbang tak bernyawa.


Para gadis di sana terlihat ketakutan sekaligus ngeri melihat pemandangan itu. Vernan mengambil jantung manusia dengan mudahnya juga sangat kejam.


"Hihihi ... Jantung yang sangat segar. Huummm" gumamnya sambil menghirup aroma jantung yang ada di tangannya itu. "Sangat lezat. Dia bahkan masih berdetak"


"Tuan"


Luis pun datang sambil membawa beberapa ekor burung gagak hitam.


"Ouuww ... Kau sudah dapat? Baguslah"


Lambat laun terdengar suara isak tangis para gadis itu.


Vernan berjalan kembali ke tempat duduknya. Sedangkan Luis pergi menyiapkan darah burung gagak itu.


"Astaga. Aku tidak percaya ini. Lio .." gumam Nada lalu menoleh ke arah Lio yang terus mengamati.


Tampak dari kejauhan, terlihat Vernan memakan jantung itu dengan lahap dan meminum darah gagak hitam yang sudah di siapkan Luis.


"Uukkk" Nada merasa mual. "Lio ... Kita harus cari cara untuk menyelamatkan para gadis itu"


Lio hanya diam saja.


"Lio ... Apa yang kau pikirkan?"


"Iblis Erokh"

__ADS_1


__ADS_2