Demigod

Demigod
Bab 6


__ADS_3

Kraaakk


Suara pintu jeruji besi di buka.


"Kamu sudah boleh pergi sekarang" kata polisi yang membukakan pintu.


"Huh, manusia-manusia ini lambat sekali" gumam Lio sambil membenarkan jas hitamnya.


"Tuan, lalu sekarang kau mau kemana?"


"Tentu saja menangkap iblis wanita itu" kata Lio sambil berlalu meninggalkan sel penjara.


"Benar-benar gila, dia bahkan bicara sendiri" gumam sang polisi yang melihat tingkah Lio.


Lio pun berjalan hendak keluar dari kantor polisi.


"Hey, kau!!" teriak seseorang.


Lio pun menoleh ke sumber suara tersebut. Terlihat Kevin dengan wajah menahan amarah berjalan mendekati Lio.


Plaakkk


Kevin memukul bahu Lio dengan keras.


"Sudah aku bilang jangan buat masalah. Lihatlah, kau bahkan sampai berada di kantor polisi. Kau ini, sepertinya otakmu konslet gara-gara meminum minuman di bar tadi"


"Ck, manusia ini lagi. Kau bahkan berani memukulku?" kata Lio dengan tatapan dinginnya.


"Tuh kan, konslet. Ayo, aku akan mengantarmu pulang. Kau bisa istirahat siapa tau otakmu akan pulih lagi"


Kevin pun segera menyeret Lio keluar dari kantor polisi.


"Kau, lepaskan aku"


"Tuan, sebaiknya kau ikuti manusia ini dulu. Siapa tau nanti kita bisa mendapatkan informasi tentang para iblis itu" ucap Kunang yang hanya bisa di dengar Lio.


"Hah, yang benar saja? Manusia ini terlihat tidak bisa di percaya"


"Masuk" perintah Kevin kepada Lio untuk masuk ke dalam mobil.


"Kau mau membawaku kemana? Aku tidak akan menurutimu"


Tanpa basa-basi, Kevin segera menundukkan kepala Lio dan memaksanya masuk ke dalam mobil.


"Otak konslet mu itu ya, kamu harus pulang. Kalau tidak, kau akan membuat aku berada dalam masalah" katanya dengan kesal lalu menutup pintu dengan keras.


"Menurut saja tuan, jika anda memberontak takutnya jalan ke depan tidak akan mudah"


"Baiklah, aku akan mendengar perkataan mu"

__ADS_1


"Ya, sudah seharusnya kamu mendengar perkataan ku. Jadi menurutlah" kata Kevin yang baru saja duduk di kursi kemudi.


"Lihatlah, dia menyebalkan" gumam Lio sambil menyandarkan punggungnya.


Beberapa jam kemudian, tibalah mereka di sebuah rumah besar yang terlihat sangat sepi. Ada beberapa penjaga yang berada di gerbang pintu utama. Terlihat juga beberapa CCTV yang terpasang di beberapa sudut rumah tersebut.


"Rumah manusia lumayan bagus juga ya tuan? Terlihat sangat besar"


"Masih bagus rumahku" gumam Lio yang turun dari mobil.


"Rumah goa mu itu? Hah, kau terlalu sombong"


"Kenapa diam saja? Kau lupa? Ini adalah rumahmu" kata Kevin menarik Lio untuk masuk ke dalam rumah.


"Jangan menarik ku" kata Lio menghempaskan tangannya lalu mengibaskan lengan bajunya. "Kau tidak pantas menyentuhku''


"Ck, cepat masuk dan istirahat lah. Setelah itu aku akan panggilkan Deon ke sini" kata Kevin lalu mendahului masuk ke dalam.


Lio pun melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah tersebut. Rumah dengan nuansa gelap itu sedikit menarik perhatian Lio. Tanpa pemandu, sepertinya tubuh Lio terbiasa dengan rumah itu. Kakinya langsung melangkah menuju ke sebuah kamar yang sangat luas.


Lio masih mengedarkan seluruh pandangannya melihat ke sekeliling kamar tersebut.


"Sepertinya ini kamarmu tuan, lihatlah di sana ada gambarmu" kata Kunang dengan menunjuk sebuah foto besar yang berada di dinding kamar tersebut.


"Mana mungkin manusia memiliki gambar ku" Lio pun menoleh ke arah tersebut dan benar saja, foto itu memperlihatkan wajah dari dewa Lodra. Hanya saja, rambut dewa Lodra terlihat pendek di sana.


"Foto? Apa itu foto? Kenapa kau bisa tau bahasa itu?"


"Entahlah, sepertinya pemilik tubuh ini yang memberitahuku" ucapnya lalu pergi ke arah tempat tidur. "Tidak buruk, ini juga sangat nyaman"


Lio pun melepaskan jas hitamnya, ia hanya mengenakan kemeja putih sekarang.


"Tuan ..." kata Kunang sambil terbang dan mendarat di samping Lio yang sudah merebahkan tubuhnya di atas ranjang.


"Ini sangat nyaman" ucap Lio sambil memejamkan matanya. " Kau jangan mengotori ranjang ku Kunang"


"Apa? Aku tidak kotor, dan mana mungkin aku akan mengotorinya?"


"Kenapa manusia bisa mempunyai ranjang yang sangat bagus? Ketika aku kembali, aku akan meminta dewa Tura untuk mengirim beberapa awannya untukku" gumamnya.


"Tuan ... Kau kesini bukan hanya ingin merasakan ranjang empuk ini kan? Kau masih ada tugas"


"Aku tau, kenapa kau cerewet sekali. Kalau tau begitu, aku akan membuatmu tidak muncul di hadapan ku"


"Kau kejam sekali tuan. Tapi kau masih membutuhkan bantuan ku. Eh, ngomong-ngomong tuan. Sepertinya pemilik tubuh ini bukan manusia sembarangan. Lihat saja, dia punya rumah mewah. Dia juga terlihat banyak uang"


Lio pun merubah posisinya menjadi duduk.


"Ya, memang terlihat sangat kaya. Ini bagus, akan jauh lebih mudah untuk menyelesaikan tugasku dengan manusia kayak seperti dia. Terlebih lagi, dia terlihat kuat" katanya sambil mengepalkan tangannya.

__ADS_1


"Benarkah? Tapi dia tidak terlihat sekuat dirimu"


"Kau benar, tidak ada yang bisa menandingi ku. Tapi dia cukup lumayan, aku baru saja mencobanya" Lio pun merubah duduknya. Dia pun duduk dengan melipat kedua kakinya seperti orang yang sedang bertapa.


"Tuan, kau sedang berusaha mengeluarkan kekuatan spiritual mu?"


Lio tak mengindahkan, dia memejamkan matanya memfokuskan seluruh kekuatannya. Tak berselang lam, kekuatan Lio pun keluar. Hawa yang sangat kuat mengelilinginya bagaikan kobaran api.


"Wah, berhasil tuan"


Lio pun mencoba kekuatan tersebut. Ia melihat sebuah buku yang berbeda di atas meja. Dengan menggerakkan tangannya, buku tersebut pun melayang di udara dan perlahan lenyap bak terbakar api.


"Ini berhasil. Aku bisa mengeluarkan jurus api naga ku dengan mudah" gumamnya.


Ia pun memejamkan matanya kembali, mengangkat tangan kanannya ke atas. Seperti menarik sesuatu di udara, beberapa detik kemudian pedang kematian sudah berada di tangan Lio.


"Berhasil" kata kunang yang terbang agak menjauh karena aura pedang kematian terlalu kuat.


"Hemmm ... Pedang kesayangan ku, akhirnya aku bisa melihatmu kembali" ucapnya. "Ini masih sangat mudah bagiku, tapi kenapa tadi aku tidak bisa menggunakannya?"


"Mungkin saja tadi kamu tidak berkonsentrasi tuan"


"Jangan bicara konsentrasi denganku, aku adalah dewa dengan tingkat konsentrasi yang tinggi" ucapnya dengan santai.


"Kau benar. Lalu, jika kamu tidak bisa mengeluarkan kekuatan mu. Mungkin karena tempatnya"


"Mungkin saja, atau mungkin aku tidak bisa mengeluarkan kekuatan di tempat tertentu yang bisa menyegel kekuatan ku"


"Bisa jadi, bukankah tadi kau bilang bertemu iblis wanita di sana? Bisa jadi tempat itu memang sudah di segel sebelumnya"


"Heemmm ... Kalau begitu, aku harus mencari cara agar bisa melepaskan segel itu"


"LIO!!" teriak Kevin sambil membanting pintu dengan keras.


Saking kagetnya, kunang pun segera menghilang menjadi cahaya halus seketika.


"Kau lagi" gumam Lio. Dia pun tidak sadar, bahwa pedang yang dia pegang tadi sudah menghilang.


"Kau belum mandi? Cepat mandi, dan segera makan malam"


Kevin pun pergi dari sana.


Sesaat, Lio pun mengendus-endus sesuatu.


"Bau apa ini?" gumamnya. Batang hidungnya pun berakhir di ketiaknya sendiri. "Hah, manusia bau sekali"


Lio pun berdiri dari tempatnya lalu pergi menuju ke kamar mandi. Setelah masuk, Lio pun memandangi wajahnya di depan cermin.


"Heemmm ... Memang sangat mirip denganku. Bagaimana dewa gila itu bisa menemukan wajah yang mirip denganku? Hah, tapi masih lebih tampan aku"

__ADS_1


__ADS_2