
"DIAM!!" teriak iblis itu terdengar marah. "Kalian semua akan mati. Akan mati" ucapnya lagi. "Kau, kau. Aku akan membunuhmu terlebih dulu. Beraninya kau membakar ku dengan api busuk mu itu. Hiaaa"
Iblis itu menjatuhkan dirinya ke arah mereka namun sebelum ia jatuh ke bawah, sebuah belati menancap di dada kirinya.
"Akkkhh"
iblis itu pun terpental jatuh kebelakang.
"Semuanya, mendekat dan tundukkan kepala kalian" kata Lio.
"Sebenarnya apa yang ingin kau lakukan?" kata Kenan sambil menggendong Nada yang sudah pingsan.
"Membakar pohon ini. Dan kalian masuklah ke dalam lingkaran bola apiku. Jika kalian keluar sebelum aku memberi aba-aba, jangan salahkan aku jika kalian juga ikut hangus terbakar"
Semua anggota D'hunter pun menuruti kata-kata Lio dan mendekat ke arahnya dan menundukkan kepalanya seperti yang di perintahkan Lio.
"Uhuk"
Viro pun kembali muntah darah.
"Kau, kalau muntah lihat-lihat bodoh. Sepatuku jadi kotor" gerutu Ardan sambil membopong Viro.
"Hehe, setidaknya. Setelah aku mati aku akan puas karena telah mengotori sepatumu" gumam Viro lirih. Ia pun mulai kehilangan kesadarannya sama seperti Nada.
"Cih, kalau kau mati akan aku lemparkan kau ke sana"
Setelah mereka berkumpul, tiba-tiba pandangan mereka menjadi gelap. Ya, semuanya tertutup api biru pekat yang mengelilinginya.
Sedangkan Lio sendiri terlihat berada di luar api itu, ia berlutut mengarahkan kekuatannya ke akar pohon itu.
"ARRGGHH"
Jerit iblis itu melengking. Benar saja, menyerang pohon itu sama dengan menyerang titik vitalnya.
Iblis itu berusaha mendekati Lio namun dia tidak bisa. Perlahan-lahan dari tubuhnya muncul api naga dari dalam tubuhnya.
"Hentikan! Akkkhh. Sakit sekali" jerit iblis itu meraung-raung.
Sama halnya dengan iblis itu, kupu-kupu besar yang menyerang mereka tadi juga terlihat tergeletak di tanah dan menggeliat geliat. Ulat-ulat bulu pun juga begitu.
"Aakhh. Ampun. Tolong hentikan"
Perlahan-lahan, pohon itu mulai terbakar. Benar yang dipikirkan Lio, pohon itu menjulur begitu luas. Api naga mulai merambat kemana-mana dan iblis itu pun perlahan berubah menjadi abu. Semua hewan di sana pun juga perlahan menjadi abu.
__ADS_1
"Akkhh, kau ... Kau ... Dia tidak akan memaafkan mu. Dia pasti akan membalasmu atas kematian ku" kata iblis itu yang kini tinggal kepalanya yang berada di atas tanah. Perlahan-lahan kepala itu pun juga ikut lenyap.
Semua hewan di sana pun juga ikut lenyap berubah menjadi abu. Lio masih tetap berdiri di tempatnya, mengamati api naga nya yang mulai melahap habis pohon itu.
"Dia? Apa 'dia' yang kalian maksud adalah orang yang sama?" gumam Lio. "Menarik, sepertinya perjalanan ku tidak akan mudah untuk menemukan 'dia' ini"
Sedangkan di tempat lain, walikota Regoon kini hendak melihat mereka di ruang bawah tanahnya.
"Ayo cepat. Aku tidak sabar melihat mereka menjadi santapan makanan tuan. Setelah itu akan mendapatkan imbalan" ucapnya pada diri sendiri sambil berjalan riang keluar dari pintu.
Namun saat ia membuka pintu, betapa terkejutnya dia. Ruang bawah tanahnya kini sudah hangus terbakar menjadi abu.
"A-Apa yang terjadi?" gumamnya.
"Itu dia. Pintunya ada di sebelah sana" kata Ardan sambil menunjuk ke arah tempat wali kota itu.
"Ka-kalian?" ucapnya tak percaya. Manusia yang seharusnya menjadi santapan iblis kini malah masih hidup dan melenyapkan tuannya. Sadar bahwa dia akan terkena masalah. Pak tua itu pun mencoba melarikan diri. Ia berlari ke arah pintu yang seperti lift itu dan hendak menutupnya.
"Sial kau pak tua. Mau lari kemana kau hah?" kata Ardan sambil berlari mengejarnya.
Dor
Sebuah tembakan dari Ardan pun melesat ke arah wali kota tersebut dan mengenai kakinya. Ia pun terjatuh ketika hendak menutup pintunya.
"Kau pikir bisa lari begitu saja? Dasar tua bangka sialan" kata Ardan lalu memborgol tangan wali kota tersebut.
"Huh, kita harus menyerahkannya kepada ketua. Semua kekacauan di kota ini adalah ulahnya" kata Ardan kesal.
Luna yang sedari tadi memasang wajah datar kini menekan tombol lift itu dan segera membawa mereka keluar dari sana.
"Aakkh, kakiku, kakiku" teriak pria paruh baya itu kesakitan.
"Satu tembakan saja kau mengeluh kakimu sakit? Bagaimana dengan keluargamu yang kau ubah menjadi monster itu hah? Dasar orang biadab"
"Kalian semua bodoh. Kalian telah membunuhnya itu berarti tidak ada penawar bagi warga kota Regoon dan juga keluargaku" kata wali kota tersebut dan membuat mereka semua terdiam.
Benar saja, jika iblis itu mati siapa yang akan memberinya penawar?
"I-ini-" gumam Ardan.
"Tidak ada penawar" kata Lio singkat tanpa menoleh. "Sejak awal kau sudah di tipu oleh iblis itu. Sejak awal tidak ada penawar"
"Siapa kau? Dasar pembohong. Iblis itu yang menciptakan semua ini, dia juga yang memiliki penawar" sela pria itu.
__ADS_1
"Hem, lalu katakanlah. Apa ada penawar bagi manusia yang sudah mati kehilangan darah dan tubuhnya sudah membusuk? Jika iya, apakah mereka bisa kembali seperti semula? Menjadi manusia biasa lagi? Apa kau yakin jika ada penawar mereka tidak akan cacat?" kata Lio.
Benar saja, para warga kota Regoon yang sudah menjadi mayat hidup itu sudah kehilangan darahnya. Tubuhnya juga perlahan membusuk. Dengan begitu organ-organ penting mereka juga pasti sudah rusak.
"A-Apa ..." gumam pria itu.
"Dia, sudah menipumu dari awal. Kau berpikir jika mengorbankan keluargamu akan menjadi penguasa di dunia ini? Salah besar, kau hanya membuat mereka mati dengan mengenaskan. Apa kau tau akibat dari mengirup serbuk yang ada di tubuhnya itu?" kata Lio yang kini masih tetap menatap ke depan. "Itu seperti alat pencabut nyawa yang mengambil paksa roh dalam tubuh dan menghancurkannya. Meskipun iblis itu bisa mengembalikan keluargamu seperti semula, tapi tidak bisa mengembalikan roh mereka yang sudah hancur"
"Tidak mungkin" gumamnya sambil terduduk lemas.
"Itu berarti, kota Regoon benar-benar tidak bisa di selamatkan?" kata Kenan.
"Hem"
"Lalu mayat-mayat hidup itu, bagaimana?" lanjut Ardan.
"Hanya bisa memusnahkan mereka semua agar tidak menjalar ke kota lain" jelas Lio.
Ting
Pintu pun terbuka dan mereka sudah berada di ruang kerja wali kota tersebut. Lio dan lainya keluar dari sana, tak terkecuali pria paruh baya itu yang kini di seret oleh Ardan.
Saat mereka berjalan keluar, para pelayan dan penjaga yang melihat mereka menyeret wali kota itu tidak menghentikan malah terisak melihatnya.
"Tuan, terimakasih banyak" kata beberapa pelayan yang kini sedang bersujud di hadapan Lio dan anggota D'hunter.
"Apa maksud mereka?" gumam Ardan.
"Terimakasih tuan semua telah membebaskan kami dari penjara ini"
"Bangunlah" kata Kenan.
Mereka semua pun terbangun menatap Lio dan yang lainnya.
"Apa maksud kalian?"
"Kami sudah bertahun-tahun di paksa melayani iblis itu. Kami di ancam akan di bunuh jika berhianat. Hari ini tuan sekalian telah berhasil menangkap wali kota, kedepannya tidak akan ada masalah lagi"
"Dasar pelayan rendahan, beraninya kau- Aakhh" teriak pria paruh baya itu saat Ardan menendang kakinya.
"Apa masih ada manusia lain lagi yang berada di sini?" kata Lio.
"Tidak ada tuan. Hanya kami bersepuluh yang masih menjadi manusia. Sisanya sudah di jadikan mayat hidup oleh wali kota"
__ADS_1
"Lio, kita juga harus mengevakuasi mereka" bisik Kenan.
"Hem, jika tetap tinggal di sini, kalian akan jadi bahan makanan mayat-mayat itu. Apakah ada mobil lain di sini?"