
"Apa yang terjadi?"
Lio pun menghampiri anak buahnya yang sedang berkumpul di dekat gerbang.
"Pimpinan"
"Tuan Kevin terluka. Kami tidak tau siapa yang menyerangnya. Saat kami terbangun, kami sudah terikat di pohon dan mendapati tuan Kevin sudah terluka"
"Hem, jadi begitu. Baiklah segera obati dia" kata Lio.
"Masalahnya, mobil kita masih di perbaiki tuan. Di sini juga jauh dari rumah sakit. Kita juga tidak membawa peralatan pengobatan''
"Hah, bilang saja kalian ini menyuruh ku untuk mengobati dia" gumam Lio lirih sambil berjalan ke arah Kevin.
Ia pun mengamati Kevin yang tergeletak di sana dan melihat semua lukanya.
"Ck, bawa dia ke dalam''
Para anak buah itu pun khawatir melihat wajah lio yang cukup serius. Mereka berpikir sesuatu mungkin terjadi kepada Kevin.
Tak berselang lama, mereka menaruh tubuh Kevin di atas sofa.
"Jika lukanya sangat parah, habis lah kita"
"Entah siapa yang melukainya. Tuan pasti sangat kesulitan tadi"
"Kita harus mencari tau siapa penyerang ini. Berani-beraninya dia melukai tuan Kevin. Dia juga mengikat dan menaruh kotoran ayam ke wajah kita"
"Cih, kita harus membalasnya"
"Apa kalian sudah selesai di sana?" kata Lio sambil berjalan ke arah mereka membawa beberapa kain di tangan nya.
"Pimpinan"
"Huh, lukanya tidak parah. Dia hanya tergores di beberapa tubuhnya. Sedikit kehilangan darah, tapi tidak akan sampai membuat dia mati" jelas Lio.
"Huh syukurlah"
Mereka pun merasa lega.
"Dan ... Aku ada satu perintah untuk kalian" kata Lio.
"Kami akan siap melaksanakan tugas dari anda pimpinan" ucap mereka sambil menegakkan badannya.
"Jauh-jauh dari ku sana. Bau kalian sangat busuk. Aku tidak tahan" kata Lio sambil mengibaskan tangannya.
"Eh? Ini ..."
"Tidak dengar? Ini perintah"
"Baiklah pimpinan"
__ADS_1
Mereka semua pun pergi dari sana.
"Huh, bagaimana bisa anak buah tapi bau seperti kandang begitu? Apa Kevin tidak menyuruh mereka mandi dan hanya berjaga saja?" gerutu Lio.
Lio pun merobek beberapa pakaian Kevin dan melihat lukanya.
"Hanya luka gores saja, payah sekali" gumamnya sambil membalut luka Kevin. "Tapi, anak ini lumayan juga. Bisa melawan para anak buahnya tanpa melukai mereka, ini pekerjaan yang tidak mudah juga"
"Ugh" gumam Kevin saat Lio menekan luka tusuk yang ada di perutnya.
Semua luka Kevin pun sudah di tangani. Namun ia tak kunjung juga sadar.
"Kenapa juga aku melakukan ini?" gerutu Lio.
Ia hendak meninggalkan Kevin, namun terbesit perasaan aneh di dalam hatinya. Ia seperti merasa tak tega melihat Kevin yang tengah sekarat.
"Hah, merepotkan sekali" gumam Lio.
Ia pun kembali menghampiri Kevin. Sesaat kemudian ia pun memejamkan matanya dan tiba-tiba tubuh Kevin mendadak di kelilingi lautan api warna biru milik dewa Lodra.
Seperti sebuah keajaiban, wajah Kevin yang tadinya pucat kini kembali seperti semula.
"Huh, kenapa lelah sekali? Uggh" Lio menggeliatkan tubuhnya yang belum istirahat seharian penuh itu.
Ia pun memutuskan untuk tidur di sofa. Ingin mengejar iblis itu namun ia rasa tak mungkin. Iblis itu pasti sudah pergi jauh dari sini sedari tadi.
"Iblis itu tadi mengatakan bahwa memberikan separuh kekuatannya kepada iblis yang ada di kota Regoon waktu itu. Apa itu artinya jika aku membunuhnya maka dia juga akan mengeluarkan batu seperti iblis kupu-kupu itu?" gumamnya.
Keesokan harinya, Kevin membuka mata karena cahaya matahari menyilaukan. Ia mengedarkan pandangannya ke segala arah.
"Hah, jadi aku belum mati?"
Kevin melihat Lio yang kini sedang tertidur dengan posisi duduk di sofa sebelahnya.
"Lio?" ucapnya lalu mencoba bangun dari tempatnya. "Ugh, apa dia yang membalut lukaku?" lanjutnya. "Dia menjagaku sepanjang malam?"
Kevin terus memandangi wajah kakaknya itu yang sedang tertidur pulas.
"Huaaa" tangis Kevin menjadi-jadi.
Lio pun terbangun karenanya. Lio merasa kesal sekali karena tidurnya telah di ganggu.
"Pagi-pagi sudah berisik, mau mati?" kata Lio ketus.
Ia merasa bingung melihat Kevin yang kini sedan menangis seperti anak kecil di sebelahnya.
"Huaaa, Lio''
Kevin berhambur ke arah Lio. Ia pun memeluk dengan erat kakaknya itu. Lio merasa aneh dengan Kevin saat itu.
"Apa yang kau lakukan? Lepaskan tangan mu''
__ADS_1
'Huhuhu, Lio. Aku tau kau menyayangiku. Meskipun sikapmu begitu dingin kepadaku tapi kau masih mencintaiku'' kata Kevin sambil memeluk erat tubuh Lio.
"Apa maksudmu? Lepaskan aku! Menjijikan sekali"
Lio berusaha melepaskan diri, namun Kevin malah semakin menangis menjadi-jadi.
'Sejak kecil kau selalu cuek denganku, tapi aku tidak marah. Aku tau kau perhatian kepadaku. Huhuhu. Lio, aku tau kau sangat menyayangiku. Kau juga membalut lukaku dan menjagaku semalaman. Punggung mu pasti sakit karena tidur di sini''
Lio mulai jengah, ia pun menghempaskan Kevin kembali ke sofa.
"Apa kah otak mu juga bermasalah? Siapa yang perhatian denganmu? Aku membalut lukamu karena tidak ada rumah sakit di sini. Aku menjagamu semalaman? Jangan mimpi! Aku tidur di sini karena di dalam kamar kotor sekali'' jelas Lio dengan kesal. "Dasar gila. Bagiamana bisa dia berpikir seperti itu?" gumam Lio kesal.
"Aku tau kau tidak akan mengakuinya. Tapi aku tau perasaanmu yang sebenarnya. Huhu, kakakku sayang"
Lagi-lagi Kevin berhambur ke arah Lio. Sebelum Kevin berhasil memeluk Lio. Lio dengan cepat menendang perutnya membuat dia kesakitan.
"Akh"
"Dasar gila. Jangan dekat-dekat denganku" kata Lio lalu pergi meninggalkan Kevin.
"Akh, Lio" teriak Kevin yang kini sedang terduduk di lantai.
"Sebaiknya kau bersihkan tubuhmu yang bau busuk itu. Setelah itu segera pergi dari sini" kata Lio sambil berjalan.
Kevin meringis kesakitan di sana.
"Kenapa semua manusia di dunia ini aneh sekali. Ada apa dengan si tolol itu? Menjijikkan sekali"
Siang itu, mobil mereka sudah di perbaiki. Kevin dan Lio memutuskan untuk segera pergi melanjutkan perjalanan mereka.
"Kita belum sarapan, dan aku lapar sekali sekarang" gumam Kevin.
"Jangan cerewet, sarapan saja ketika sudah sampai di markas"
"Kau kejam sekali. Kau ingin membunuhku? Lihat, aku masih terluka"
"Jangan manja, lukamu itu hanya tinggal luka luar saja"
"Bagaimana kau tau? Aku bahkan masih merasa sakit"
"Tentu saja aku tau, aku menggunakan tenaga dalam ku unyuk memulihkan mu. Kalau tidak, kau pasti sudah mati sekarang. Tapi melihat caramu berbicara sepertinya kau memang sudah sembuh"
"Tidak, aku masih sakit. Oh ya, bagaimana dengan iblis itu? Apa dia sudah mati?" kata Kevin penasaran.
"Dia kabur"
"Apa? Kabur? Itu berarti dia masih bisa mengejar kita. Ihh, kenapa dia tidak mati saja. Aku jijik sekali melihat wajahnya" gumam Kevin bergidik ngeri saat mengingat wajah iblis itu.
Perjalanan mereka masih panjang, dan mobil juga tidak di izinkan untuk berhenti oleh Lio.
"Setelah sampai, aku akan tau dalang dari semua ini"
__ADS_1